Showing posts with label Tips Menulis. Show all posts
Showing posts with label Tips Menulis. Show all posts

Wednesday, 19 March 2025

Cara Menulis Sinopsis Novel yang Menarik Editor: Tips & Contoh

Halo semuanyaaa! 😊

Kembali lagi ke tips menulis. Kali ini saya akan membahas tips menulis sinopsis novel untuk nanti dikirim ke editor dan dipilih untuk diterbitkan 😎. Udah tau kan ya, kalau kamu mengirim naskah novel ke editor, wajib hukumnya menyertakan sinopsis yang menceritakan dari awal sampai akhir cerita. Ingat, sinopsisnya harus ada ending-nya, jangan cuma singkat kayak blurb di belakang buku. 

Cerita tentang sinopsis ini pernah juga saya tulis di sini: Tips Menulis Sinopsis Novel untuk Penerbit

The Pixar Story Spine

Walaupun dulu sudah pernah nulis tentang ini, sekarang saya akan lebih detail menjelaskan menulis sinopsis menggunakan salah satu metode yang banyak digunakan oleh penulis-penulis, baik penulis novel, screen play, film, drama dan lain-lain. Metodenya bernama Pixar Story Spine.

The Pixar Story Spine is a storytelling structure or template, often used in screenwriting, that helps distill a story into its core elements and ensures a logical progression of events, using a series of sentence starters

tips sinopsis novel



7 Struktur Pada Pixar Story Spine

Agar lebih memudahkan, Pixar Story Spine memiliki tujuh langkah:

1. Once upon a time (Suatu ketika)

Setiap cerita selalu dimulai dengan memperkenalkan dunia dan karakter utama. Siapa dia? Apa yang membuatnya unik? Apakah dia seorang siswa yang naksir sama bad boy di sekolahnya, atau wanita muda yang hidup seorang diri? 😁 Di sini, kita membangun fondasi cerita dengan mengenalkan siapa karakter ini sebelum hidupnya berubah. Gunakan sudut pandang orang ketiga dalam sinopsis, walaupun  naskah novel kammu menggunakan sudut pandang orang pertama. Ini akan membuat sinopsis terasa lebih objektif dan profesional.

2. Every day (Setiap hari)

Bagian ini adalah cuplikan singkat dari kehidupan sehari-hari karakter utama sebelum sesuatu mengubah segalanya 😊. Kalau kamu mengikuti struktur Save the Cat, ini adalah bagian pembuka yang memperlihatkan rutinitas karakter. Apakah dia menghabiskan harinya di perpustakaan, bekerja di kantor yang membosankan, atau berkelana tanpa tujuan? Jangan lupa untuk tidak hanya fokus pada apa yang dia lakukan, tapi juga tentang apa yang dia rasakan—apakah dia nyaman, bosan, atau diam-diam merindukan sesuatu yang lebih besar? Bagian ini penting karena membantu pembaca memahami titik awal sebelum cerita mulai bergulir.

3. But one day (Tetapi suatu hari)

Nah, inilah saat di mana semuanya berubah! Ini adalah titik katalis—momen yang membuat karakter tidak bisa kembali ke kehidupannya yang lama. Mungkin dia menemukan surat yang mengatakan dia adalah penyihir, menemukan dingdong ajaib yang dapat mengabulkan keinginan 😁, kehilangan seseorang yang berharga, atau tiba-tiba dikhianati oleh sahabatnya. Apapun itu, katalis ini harus cukup kuat untuk mendorong karakter yang kamu tulis untuk keluar dari zona nyaman. 

Bagian ini biasanya menjadi hook utama yang membuat pembaca (atau editor!) ingin tahu lebih banyak tentang cerita yang kamu tulis 😁. Kalau bagian ini tidak menarik, mereka mungkin tidak akan lanjut membaca.

4. Because of that (Karena itu)

Sekarang, kita masuk ke akibat pertama dari perubahan yang terjadi. Bagaimana reaksi karakter terhadap katalis tadi? Apakah dia langsung menerima perubahan itu atau justru menolaknya? Mungkin dia mencoba menghindari konflik, tapi malah semakin terjerat. Ini adalah awal dari petualangan (atau penderitaan) yang akan dialaminya. Bagian ini penting untuk menunjukkan bagaimana karakter mulai menghadapi dunia baru yang terbuka di hadapannya.

5. Because of that (Karena itu)

Jungkir balik kehidupan karakter setelah katalis jadi mulai kerasa di bagian ini 😆. Karakter mulai menyadari bahwa masalahnya tidak sesederhana yang ia kira. Bisa jadi ada tantangan baru yang muncul, musuh yang tak terduga, atau kesalahan besar yang justru memperburuk situasi. Di sinilah cerita mulai terasa "bergerak," dengan ketegangan yang semakin meningkat. Jangan biarkan semuanya berjalan terlalu mulus karena karakter perlu diuji hingga dia hampir menyerah. Ibaratnya nih, jangan selamatkan dia sampai dia bener-bener di tepi jurang banget. Hehehe 😁

6. Until finally (Hingga akhirnya)

Akhirnyaaaa, ini adalah momen klimaks di mana semua yang sudah dibangun sejak awal akhirnya mencapai titik baliknya 😎. Bisa berupa pertempuran besar, konfrontasi emosional, atau keputusan sulit yang harus diambil karakter. Apa pun bentuknya, ini harus menjadi momen yang berkesan dan memuaskan. 

7. And ever since then (Dan sejak saat itu)

Setiap perjalanan harus punya akhir, dan bagian ini adalah kesimpulan dari semuanya. Bagaimana dunia karakter telah berubah sejak awal cerita? Apakah dia akhirnya menemukan kedamaian, memahami makna hidupnya, atau justru menerima bahwa dunia tidak selalu seperti yang ia harapkan? Yang penting, ada perubahan nyata yang terjadi, baik pada karakter maupun dunianya. Ini bisa berupa akhir yang bahagia, menyedihkan, atau bahkan menggantung, asalkan terasa memuaskan bagi pembaca.

Contoh Sinopsis Novel untuk Editor

Gimana? Penjelasan di atas udah mulai bikin kebayang untuk membuat sinopsis atau belum? Agar kamu lebih kebayang, ini contoh beberapa sinopsis (hanya sepertiga awal agar menghindari spoiler) yang pernah saya tulis untuk editor, siapa tau bisa jadi referensi kamu 😉.

Pada malam hari yang cerah di kota Paris, Riana mendapat pesan putus dari sang pacar. Riana patah hati, padahal ini bukan pertama kalinya Riana diputuskan. Tahun 2019 baru berjalan lima bulan dan Riana sudah putus tiga kali, dengan orang yang berbeda.

Riana beruntung work trip-nya ke Paris kali ini bersama Ardi, sahabatnya yang juga teman kantornya sebagai marketing di perusahaan farmasi besar di Jakarta. Saat Ardi mencoba menghibur Riana, wanita itu mulai merasakan getaran cinta yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Namun Riana tahu ia tidak boleh memupuk rasa itu, karena Ardi telah bertunangan dengan Vanka dan akan segera menikah.

Saat kembali ke Jakarta, sebuah pernyataan dari sahabatnya Clarisa membuat Riana menumbuhkan harapan palsu. “Gue selalu ngerasa lo sama Ardi itu cocok banget loh. Kadang gue mikir, kalau di dunia paralel yang berbeda dan lo kenal duluan sama Ardi dibanding Vanka, gue yakin lo berdua bakal jodoh.”

Di tengah patah hati dan krisis percaya diri karena tidak pernah menemukan orang yang tepat, Dewi Fortuna memutuskan berpihak pada Riana. Saat perjalanan bisnisnya ke Hong Kong, Riana menemukan mesin dingdong ajaib yang dapat mengabulkan keinginan.

Ini adalah contoh bagian awal sinopsis yang saya kirim ke editor untuk novel saya: If I Met You First. Dimulai dengan menceritakan siapa karakter dan kesehariannya, sehingga kamu bisa tahu bahwa Riana adalah orang yang sering putus sama cowok, kerjaannya menharuskannya sering keluar negeri dan ia memiliki teman dekat Ardi dan Clarisa. Kemudian sinopsis dilanjutkan dengan katalis, yaitu menemukan mesin dingdong ajaib. Gimana? Kira-kira dari bagian awal sinopsis sudah bikin kamu tertarik buat baca ga? 😁

Ini contoh lain sinopsis yang pernah saya tulis. Cerita ini masuk dalam 40 besar lomba novel yang diadakan oleh Gramedia Writing Project x Penerbit BIP pada tahun 2024 lalu:

Rafaya mengira hidupnya telah sempurna. Pekerjaannya sebagai brand manager di Nusantara Food berjalan dengan baik, dan ia yakin akan segera dipromosi menjadi Vice President di Divisi Marketing. Apalagi Rafaya sudah mengorbankan begitu banyak waktu dan tenaga di pekerjaannya itu. Namun, ternyata perusahaan malah memilih mempekerjakan orang dari luar Nusantara Food untuk posisi itu. Orang itu adalah Ardhan, pria gila kerja yang akhirnya menjadi bos baru Rafaya. 

Ketika kecewa dengan kegagalan promosinya, Rafaya malah menerima kabar bahwa kakaknya sebentar lagi akan menikah. Yang lebih parah, Rafaya ternyata baru tahu bahwa ternyata tidak ada yang menyukainya di kantor. Semua orang bersikap baik di depannya, tapi sibuk menjelek-jelekkannya di belakang. Rafaya mengeluhkan hidupnya, karena di saat orang lain memperoleh keberuntungan, ia merasa hanya dirinya yang terus bernasib sial.

Ketika dalam kondisi terbawah, Rafaya secara tidak sengaja menemukan iklan sebuah aplikasi Tomodachi yang menyediakan teman dengan teknologi Artificial Intelligence (AI) melalui aplikasi berbasis chat online. Rafaya yang tidak pernah memiliki teman untuk bercerita, akhirnya mencoba aplikasi itu.

Dari awal sinopsis itu, saya menggambaran kepada pembaca bagaimana kehidupan Rafaya sebagai seorang workaholic dan berujung dengan katalis saat dia menemukan teman dengan kecerdasan buatan. Cerita ini masih lengkap di gwp.id dan bisa kamu baca di SINI 😁

***

Demikian tips menulis kali ini. Semoga bermanfaat yaaa 😁 Buar latihan, kamu juga bisa coba-coba bikin sinopsis dari buku-buku yang kamu baca, itung2 latihan kaann..

Sampai ketemu di tips menulis lainnya yaaaa 😊

Wednesday, 5 March 2025

Menyelami Karakter Arc dalam Menulis Novel

 Lagi bulan puasa bagusnya berbagi hal-hal bermanfaat nih 😊. Sekarang saya akan berbagi tips menulis novel tentang Karakter Arc. Pastinya kamu tahu dong kalau karakter adalah faktor utama yang menentukan cerita kamu akan seperti apa. Jadi, alur cerita yang luar biasa tidak akan lengkap dengan karakter yang kuat. Karakter yang kuat ini lah yang bisa membuat cerita lebih hidup, realistis dan memikat pembaca. 

Karakter Arc adalah perjalanan perubahan atau perkembangan yang dialami karakter sepanjang cerita. Arc ini bisa berupa perubahan emosional, psikologis, atau ideologis yang membuat karakter berkembang dari titik awal ke titik akhir yang berbeda. 
Tips Karakter Arc Novel

Ada beberapa macam Karakter Arc yang bisa gunakan, tergantung dari jenis cerita dan genre yang kamu tulis, yaitu: 

Positive Arc (Perubahan Positif)

Dalam arc ini, karakter mengalami perkembangan yang membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik. Biasanya, karakter memulai dengan kekurangan atau keyakinan yang salah, lalu melalui berbagai tantangan, ia belajar dan berkembang.

Arc ini paling umum dan banyak digunakan di novel-novel populer. Bahkan di metropop yang saya tulis dan sering saya baca bukunya, juga hampir semuanya menggunakan Positive Arc ini. Jadi, tipe ini biasanya digunakan dalam cerita coming-of-age, fantasi heroik, atau kisah perjuangan yang membangun semangat pembaca. 

@thessalivia Replying to @tinyinfinity_ Terima kasih banyak yaa, Kak 🥲😍 Terharu banget saat tau kisah Ve dan Tante Sasa memberikan tempat spesial di hati Kak Tinyinfinity 💖. Anak2 ini adalah sumber inspirasi dalam menulis kisah2 keluarga seperti Semangat, Tante Sasa! #gramedia #penulisnovel #penulis #fyp ♬ original sound - JomTravel

Sebut saja buku Laskar Pelangi (Andrea Hirata), Agensi Rumah Tangga (Almira Bastari), novel saya yang If I Met You First dan Semangat, Tante Sasa! juga menggunakan positif arc. Buku-buku fantasi dan distopia favorit saya juga hampir semuanya menggunakan positif arc juga, seperti Hunger Games, Maze Runner, Harry Potter, Darren Shan dan banyak lagi contoh lainnya. 

Tips: Gunakan katalis yang membuat karakter kamu berubah menjadi lebih baik. Ingat, kunci katalis adalah tidak ada jalan balik untuk karakter selain menjalaninya dan berubah.


Negative Arc (Perubahan Negatif)

Kebalikan dari positive arc, karakter dalam arc ini mengalami perubahan ke arah yang lebih buruk. Bisa karena trauma, kekalahan, atau obsesi yang membuatnya kehilangan kemanusiaan. Biasanya digunakan dalam novel yang lebih gelap, psikologis, atau kritik sosial.

Tidak banyak buku yang saya baca menggunakan ini. Salah satu yang saya inget itu adalah karakter Kaleshi di film Game of Thrones, adaptasi dari buku George RR Martin. Daenerys Targaryen, alias Khaleesi, dalam Game of Thrones mengalami negative arc yang sangat kuat dan tragis. Awalnya, dia adalah seorang pemimpin muda yang bermimpi membawa keadilan dan membebaskan orang-orang dari perbudakan. Namun, seiring berjalannya cerita, ambisi dan rasa percaya dirinya yang berlebihan mengubahnya menjadi seorang tiran yang kejam.

Tips Karakter Arc Novel
Awalnya savior, akhirnya malah jadi tirani 😆

Selain itu, dari beberapa sumber yang saya temukan, novel terkenal yang menggunakan negative arc ini antara lain: The Picture of Dorian Gray (Oscar Wilde), 1984 (George Orwell). Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari), dan Cantik Itu Luka (Eka Kurniawan).

Tips: Gunakan negatif arc kalau kamu ingin cerita yang lebih tragis dan gelap. 


Flat Arc (Tidak Ada Perubahan, tetapi Mengubah Dunia Sekitarnya)

Dalam arc ini, karakter tetap pada prinsipnya sejak awal hingga akhir, tetapi justru dunia di sekitarnya yang berubah karena pengaruhnya. Biasanya terjadi pada tokoh yang sudah memiliki keyakinan kuat sejak awal dan membantu orang lain melihat kebenaran. Sering digunakan dalam cerita pahlawan yang tidak butuh perubahan internal tetapi memengaruhi orang lain.

Flat Arc banyak digunakan di buku-buku atau komik series dimana karakter sudah memiliki keyakinan atau prinsip yang kuat sejak awal dan tidak perlu berkembang secara drastis. Jadi Ceritanya lebih berfokus pada bagaimana karakter mempertahankan keyakinan itu dan mengubah dunia di sekitarnya. Selain itu juga plot lebih episodik, dengan karakter menghadapi berbagai kasus atau tantangan yang berbeda, tetapi tetap konsisten dalam kepribadian dan moralitasnya.

Contoh-contohnya antara lain Detektif Conan, Detektif Kindaici, Doraemon, Kungfu Komang dan lain-lain. Walaupun karakternya tidak banyak perubahan, ceritanya tetap menarik diikuti dari awal karena masing-masing karekter sudah memiliki keunikan dari awal. 

Tips Karakter Arc Novel
Saking uniknya setiap karakter di film Doraemon,
 kita sampai hapal semua keunikannya 😁

Tips: Kalau kamu menggunakan flat arc, jangan lupa beri masing-masing karakter keunikan dan khas tersendiri sejak awal.  

Demikian tips menulis kali ini. Selamat ngabuburit dan menunggu adzan magrib ya guys 😊

Saturday, 1 June 2024

Tips Menulis Percakapan Novel yang Memikat

Kembali lagi ke label Tips Menulis guyyysss...

Kali ini kita akan membahas tentang dialog percapakan dalam novel. Dialog percapakan memegang peranan penting dalam sebuah novel. Cerita yang terlalu naratif, bisa dibuat lebih hidup dengan mencantumkan dialog para tokohnya. Tapi dialog yang terlalu banyak tanpa diselingi naratif juga bisa membuat cerita terasa bertele-tele. Ribet juga yaa 😆

Tips Dialog Percakapan Novel

Dari pada bingung, kita bahas satu per satu ya tentang dialog dalam novel. Ini dia tips membuat dialog percakapan dalam novel yang memikat: 

1. Perhatikan tanda baca dalam dialog tag

First thing first, tanda baca. Sebelum membahas tips, kita bahas hal teknikal dulu. Ini hal simpel, tapi kalau tidak dipraktekkan akan cukup mengganggu. Apalagi kalau kamu menargetkan buku yang bisa tembus di penerbit mayor. 

Tips Dialog Percakapan Novel
katanya mau terbit di penerbit mayor, jadi perhatikan ini yaa.. 

Tanda baca mungkin terlihat sepele, tapi dalam dialog, mereka sangat penting! Tanda baca yang benar membuat pembaca lebih mudah memahami alur percakapan dan membedakan mana bagian dialog dan mana yang menjadi penjelasan penulis. Selain tanda kutip, kamu harus perhatikan juga tanda koma sebelum dialog tag seperti “kata” atau “ujar” adalah kunci. 

Kalau kamu menulis, “Aku tidak setuju,” kata Maya, tanda koma di akhir dialog menandakan bahwa kalimat itu berlanjut dengan dialog tag. Kalau malah titik, seperti ini: “Aku tidak setuju.” Kata Maya, kalimatnya jadi terputus dan terlihat kurang rapi.

“Aku tidak setuju,” kata Maya 👉BENAR

“Aku tidak setuju.” Kata Maya 👉SALAH

“Aku tidak setuju.” Maya berkata 👉BENAR

Tips Dialog Percakapan Novel
Gimana, kebayang ga penggunaannya?

Selain itu, perhatikan juga penggunaan tanda tanya dan seru. Tanda ini menunjukkan emosi karakter, jadi kalau karakter sedang marah atau bingung, jangan ragu untuk memasukkan tanda seru atau tanya. Yang penting, tanda baca membantu pembaca ‘mendengar’ intonasi dan emosi dalam dialog, sehingga mereka bisa lebih terhubung dengan karakter yang sedang berbicara.

2. Variasikan dialog tag

Mengulang-ulang dialog tag yang sama, seperti “kata” atau “ujar,” bisa bikin dialog terasa monoton dan kurang hidup. Cobalah untuk memvariasikan dialog tag dengan kata-kata yang mencerminkan perasaan atau tindakan karakter saat berbicara. Misalnya, kamu bisa menggunakan “bisik,” “teriak,” atau “keluh” untuk menambahkan warna ke dalam percakapan. Dengan variasi ini, pembaca bisa lebih mudah membayangkan bagaimana karakter berbicara, apakah sedang berbisik penuh rahasia atau marah-marah dengan lantang.

Berikut adalah beberapa contoh dialog tag yang bisa kamu gunakan untuk variasi:

  1. bisik - “Jangan sampai ada yang tahu,” bisik Rina.
  2. teriak - “Hati-hati di sana!” teriak Johan dari jauh.
  3. keluh - “Kenapa semua ini begitu rumit,” keluh Sita.
  4. gumam - “Aku rasa ini bukan ide yang bagus,” gumam David pelan.
  5. sindir - “Wah, kamu hebat sekali, ya,” sindir Nadia dengan nada sinis.
  6. ujar - “Kita harus segera pergi,” ujar Arya tegas.
  7. seru - “Ayo cepat, kita hampir terlambat!” seru Dina sambil berlari.
  8. tanya - “Apa kamu yakin dengan keputusan ini?” tanya Budi ragu-ragu.
  9. sahut - “Aku sudah menyelesaikannya,” sahut Andre tanpa menoleh.
  10. rintih - “Tolong... aku nggak kuat lagi,” rintih perempuan itu dengan napas tersengal.


Tips Dialog Percakapan Novel
"Cepat pulang," perintah We Ze ming 😂

Tapi hati-hati, jangan berlebihan dalam penggunaan dialog tag yang bervariasi. Kalau setiap dialog diikuti oleh tag yang terlalu kreatif, justru bisa bikin pembaca merasa jenuh. Gunakan variasi ini dengan bijak dan sesuaikan dengan suasana cerita. Yang paling penting adalah memastikan dialog tetap mengalir alami dan tidak mengganggu fokus pembaca dari interaksi karakter.

3. Kombinasikan dialog dan narasi

Sebuah dialog yang bagus bukan hanya soal kata-kata yang keluar dari mulut karakter, tapi juga suasana di sekitar mereka. Menambahkan narasi di antara dialog bisa memberi gambaran lebih jelas tentang apa yang sedang terjadi. Misalnya, alih-alih hanya menulis, “Aku sudah muak,” kata Tom, kamu bisa menambahkan narasi seperti, “Aku sudah muak,” kata Tom sambil memukul meja, matanya memerah karena amarah. Narasi ini membantu menggambarkan emosi karakter dan situasi di sekitar mereka, sehingga pembaca bisa lebih terlibat.

Tips Dialog Percakapan Novel
Kalau ekspresi ini cocoknya narasi yang menggambarkannya apa yaa?

Kombinasi dialog dan narasi juga membantu mengatur ritme cerita. Kalau dialog terlalu banyak tanpa diselingi narasi, ceritanya bisa terasa terlalu cepat dan kurang mendalam. Sebaliknya, jika terlalu banyak narasi tanpa dialog, ceritanya bisa terasa lambat. Jadi, mencampur dialog dengan narasi membuat cerita lebih seimbang dan menarik untuk dibaca.

4. Hindari penggunaan kata yang menyerupai suara (onomatope)

Menggunakan kata-kata yang menyerupai suara seperti “hiks” untuk tangisan atau “hahaha” untuk tawa memang sering kita temui, terutama dalam percakapan sehari-hari atau di media sosial. Namun, saat menulis novel, sebaiknya hindari penggunaan kata-kata ini secara berlebihan. Mengapa? Karena mereka bisa terasa kurang halus dan mengurangi kedalaman emosi karakter. Misalnya, daripada menulis “hiks” untuk menggambarkan tangisan, lebih baik deskripsikan suasana yang membuat pembaca benar-benar merasakan kesedihan karakter, seperti “Air mata membasahi pipinya, napasnya tersendat di antara isak tangis yang sulit ditahan.”

Tips Dialog Percakapan Novel
Matanya ikut berbinar saat ia tertawa kecil. 
(aseeekk 😂)

Selain itu, menggunakan onomatope seperti “hahaha” untuk menggambarkan tawa sering kali terasa dangkal dan tidak memberi pembaca gambaran yang jelas tentang bagaimana karakter tersebut tertawa. Sebaliknya, coba deskripsikan bagaimana karakter tertawa—apakah mereka tertawa terbahak-bahak, menahan tawa, atau mungkin tertawa dengan suara rendah. Ini tidak hanya membuat dialog lebih hidup, tapi juga membantu membangun karakter yang lebih mendalam. Dengan cara ini, kamu menghindari dialog yang terdengar seperti obrolan ringan di chat dan menggantinya dengan narasi yang lebih kaya dan imersif.

***

Kalau kamu sendiri, lebih suka menulis naskah novel yang banyak naratif atau yang banyak dialog ya? 

Monday, 25 December 2023

Belajar Menulis Karakter Novel dengan Film Wonder dan Film lainnya


Ada yang sudah nonton film Wonder?
Sebuah film box office yang diangkat dari buku terkenal berjudul sama dari R.J. Palacio. Filmnya sebenernya sudah tayang cukup lama, sejak tahun 2017. Sedangkan bukunya sendiri telah terbit sejak tahun 2012.


Pada tips menulis kali ini, kita akan membahas tentang tips menulis karakter yang kuat di sebuah novel, dengan belajar dari film Wonder dan film lainnya. Oiya, postingan ini akan berisi banyak Spoiler yaa dari filmnya.


Buat yang belum tau, "Wonder" mengisahkan tentang seorang anak laki-laki bernama August Pullman atau Auggie, yang lahir dengan kelainan yang membuat wajahnya berbeda dari anak-anak lain pada usianya 🥲. Cerita ini memperlihatkan perjuangan Auggie dalam menjalani kehidupan sekolah dan bagaimana dia berinteraksi dengan teman-teman barunya. Kisahnya juga menggambarkan perspektif orang-orang di sekitarnya, termasuk keluarganya dan rekan-rekan sekolahnya.

Dari film Wonder, ada beberapa catatan yang bisa saya ambil dalam belajar menulis karakter novel, yaitu:

1. Berikan karakter kita alasan atas perilakunya

Film dan buku Wonder, tidak hanya bercerita dari point of view Auggie.
Kita tentu sudah tau cerita Auggie, dia telah berjuang dengan beberapa kali operasi. Hidupnya hanya rumah dan rumah sakit, bahkan sekolah pun ia selama ini Homeschool dengan ibunya. Pada kelas 5, Auggie dan keluarganya akhirnya menutuskan untuk masuk sekolah umum. Di situ cerita naik turun kisah Auggie untuk memperoleh teman dan bahkan mengindari bullying.

How he will survive in the school? 😭

Selain dari sisi Auggie, kita juga akan melihat sisi Jack Will: Salah satu teman Auggie di sekolah yang berperan penting dalam perkembangan Auggie.
Jack Will awalnya satu geng dengan cowok populer kaya di sekolah. Tapi kemudian, dia berteman dengan Auggie. Agak mencurigakan memang, Jack Will itu beneran mau temenan atau karena ada maunya aja 🤔. Ketika pertengahan cerita, kita akan tau alasan Jack Will mau berteman dengan Auggie. Karena obrolan dengan ibunya sebelum sekolah dimulai.
"Jadi jika anak baik seperti adikmu saja menangis melihat dia (Auggie), menurutmu pengalaman apa yang dia akan dapat di sekolah?"
Ibunya tau Jack Will adalah anak baik, dan pasti tidak akan membiarkan Auggie di-bully. His mother was right, Jack Will bahkan menghajar anak yang mengejek Auggie 😍.

Jack Will itu so sweet banget loh ternyata 🥰

Kesimpulannya, berikan dan ceritakan alasan atas sikap karakter yang kalian buat. Kalau dia bad boy, apa alasannya? Kalau dia orang yang tidak pedean, apa alasannya? Kalau dia orang yang emosian, kenapa? Ceritakan alasan itu agar orang merasa attach dengan karakter yang kalian ceritakan.

2. Selalu ada dua sisi dari sebuah cerita

Menyambung poin pertama, dengan menemukan alasan atas sikap karakter, kita akan menemukan dua sisi dari sebuah cerita. Seperti film Disney, walaupun seorang tokoh adalah villain di sebuah cerita, ada cerita menarik dari sisi mereka. Salah satu contoh cerita paling terkenal adalah Maleficent. Awalnya kita tau dia sangat jahat dan berhati dingin. Tapi ternyata, dia pernah sangat tersakiti sampai tidak percaya lagi dengan siapa pun🥲.

Pada film Wonder, salah satu contoh menarik adalah teman Via (kakak Auggie) bernama Miranda. Via dan Miranda awalnya adalah sahabat baik, nyaris seperti saudara. Suatu ketika setelah libur musim panas, Miranda tidak mau lagi berteman dengan Via. Apa yang Via lihat, dan juga kita sebagai penonton lihat adalah Miranda ingin berubah menjadi orang populer dan tidak mau lagi berteman dengan orang biasa seperti Via.
Tapi seiring berjalannya film, alasan Miranda menjauhi Via terungkap. Ternyata dia merasa berbohong dan sebenarnya dia sedih hidupnya tidak sesempurna Via, dengan orang tua yang menyayangi dan rumah bagus. Small plot twist, Via yang ternyata merasa hidupnya menderita ternyata di mata orang lain adalah sangat sempurna.

Keluarga sempurna yang diimpikan Miranda

Saat menulis tokoh utama, biasanya penulis jarang ketinggalan menuliskan alasan dan masa lalunya. Tapi untuk tokoh pendukung, kadang penulis sering melupakannya. Sehingga tokoh pendukung jarang mendapat tempat di hati pembaca. Dengan menerapkan ada dua sisi di setiap cerita, pembaca tidak hanya akan mengingat tokoh utama, tetapi juga bersimpati pada tokoh pendukung.

Salah satu contoh dua sisi lainnya adalah di film terbaru Wonka. Ada yang ingat tokoh orange dengan rambut hijau si Oompa Loompa? Dari sisi Wonka, kita hanya tau makluk itu adalah pencuri coklat milik Wonka selama bertahun-tahun. Tapi dari sisi si Oompa Loompa, kita baru tau ternyata Wonka lah yang pertama mencuri coklat mereka, dan ia hanya membalas itu. Di aturan Oompa Loompa, soalnya wajib membalas barang yang dicuri sebanyak seribu kali lipat 🤣. So, Oompa Loompa is not so bad afterall.

3. Pentingnya karakter memiliki backstory

Menghidupkan karakter di sebuah cerita ternyata tidak segampang itu ya. Apalagi kalau kita memiliki banyak karakter. Nah, biar gampang, sebelum menulis cerita, tulis backstory lengkap dari karakter yang kamu angkat. Mulai dari fisik, sifat, keunikan, masa lalu, dan lainnya. 

Biar orang tepuk tangan semua waktu baca karakter yang kalian tulis 😁

Baca juga tips menulis backstory: 

Sunday, 20 November 2022

Nulis Novel Idenya dari Mana? Tips Mencari Ide Dalam Menulis Novel

Halo semuanya, kali ini saya hanya akan menulis singkat. Demi tidak didepak dari klub menulis 1minggu1cerita 🤣 Padahal tulisan sebelumnya udah dibantu Talitha, tapi sekarang anaknya pun juga lagi sibuk mau persiapan pentas seni. Jadi emaknya ga bisa memanfaatkan. Hahaha..

Kembali lagi ke tag tipsmenulis. Kali ini saya akan membahas tips tipis-tipis saja, tentang ide dalam menulis novel.



Nulis novel biasanya dapet ide dari mana sih? Pertanyaannya ini yang sering ditanyakan orang-orang kepada saya. Dan saya akan memberikan salah satu tips yang mungkin bisa teman-teman pake, yaitu: 


"Mulailah menulis dari hal yang membuat kalian tertarik, excited dan bahkan menggebu-gebu!"


Hal yang membuat kita tertarik tentu banyak kan, bisa orang, cerita, tempat, lagu, dan berbagai hal lainnya. Karena begitu kita tertarik dengan sesuatu, kita akan ingin sesuatu itu tetap hidup di diri kita. Begitu kita menuangkan itu dalam bentuk tulisan, kita seperti memberi nyawa tulisan itu. 

Contoh simpelnya, waktu saya melihat beberapa tingkah anak saya yang menggemaskan, saya begitu menggebu-gebu ingin mengabadikan kisahnya. Saya ingin cerita itu tetap hidup. Dan mulailah saya menuliskannya sedikit demi sedikit, agar memori itu tidak menguap begitu saja dr ingatan saya. The later you know, kisah itu dirajut menjadi novel "Semangat, Tante Sasa!" 

Pernah juga saya jatuh cinta dengan karakter salah  satu pada sebuah film romance. Saking cintanya, saya ingin karakter itu selalu hidup 😆. Maka jadilah dia menjelma menjadi Aji di novel Nikah Muda, my forever fiction crush 🥰.

Tempat-tempat pun berlaku seperti itu. Banyak tempat yang saya kunjungi yang membuat hati saya berdecak kagum. Sayangnya mungkin bertahun-tahun lagi ingatan tentang tempat itu akan memudar. Jadi sebelum hilang, saya tulis detailnya pada kisah-kisah jelmaan saya…

Bertemu dengan orang pun begitu. Saking banyaknya karakter orang yang saya temui, pasti ada beberapa yang menarik untuk ditulis. Mungkin sepotong kisah hidupnya, mungkin kebiasaan kecilnya, atau bahkan hanya sekadar kalimat singkat yang pernah terucap dari mulutnya. 

Jadi, menulis novel adalah tentang excited, gairah mengabadikan sekeliling dan imajinasi menjadi sebuah cerita. Stop menulis saat kamu udah mulai merasa terbebani, dan mulailah mencari hal-hal yang membuat hati kamu membuncah semangat. Setelah itu, baru mulailah kembali menulis. Dengan begitu kamu akan memberikan nyawa pada tulisan itu💖💖

 


Monday, 9 May 2022

Tips Riset dalam Menulis Novel : Seberapa Penting Kah Riset dalam Menulis Novel?

Halo Semuanya! 

Mumpung lagi liburan dan sempat menulis, saya mau posting tentang Tips Menulis Novel, nih. Ga kerasa, udah cukup lama ternyata saya tidak update lagi di label ini. Kali ini saya akan membahas tentang riset dalam menulis novel, memang perlu?

Oiya, postingan kali ini tidak akan banyak cerita tentang teori ya. Hanya sekedar berbagi pengalaman saya sebagai penulis amatiran dalam menyelesaikan novel 😁. 

Let's get started... (dibaca dengan nada youtuber favorit anak2 saya 😅)

Beberapa waktu lalu, saat saya drafting naskah novel Adamina dan Akamu, salah satu teman sesama penulis Kak Nara Lahmusi mengirimkan WA ke saya, "Thes, itu film Ikatan Cinta kan baru ada selama masa pandemi. Sedangkan setting novel kamu kayaknya bukan ngambil kondisi pandemi." 

Saya waktu itu memang sempat mention novel Ikatan Cinta, hanya karena sebatas it ryhmes with the sentence 😅. Saat menerima komen ini, saya langsung searching keseuaiannya. Dan ternyata bener dong, jadi ga inline.. Hahaha.. Mana saya kan ga pernah nonton sinetorn, cuma tahu dari orang-orang yang ngomong doang. Saya langsng mengganti wording di draft itu. Moral of the story : jangan menulis apa yang kamu tidak paham 😁. 

Contoh lainnya, waktu editor saya mengedit naskah saya yang banyak mengambil setting beberapa tempat di luar negri, ia memberikan komen : "Deskripsi semua tempat di cerita ini, mungkin dari pengalaman Mbak Thessa sendiri sudah pernah berkunjung ke tempat-tempat itu, atau bukan? Editor kan tidak tahu. Jadi tidak ada salahnya dipastikan keakuratannya."

Ada lagi contoh pada buku terbaru saya, Semangat, Tante Sasa! atas masukan dari editor, waktu itu saya harus memastikan kesamaan waktu antara jadwal keberangkatan haji, jadwal akademik sekolah SD, dan hal simpel seperti kapan premier Lion King di bioskop.

Jadi, kebayang kan riset itu sepenting apa? 

Kurang riset juga bisa bikin pembaca greget loh. Saya pernah membaca salah satu naskah di wattpad yang mengambil setting negara 4 musim. Tapi setahun berlalu, cuaca yang digambarkan selalu auntumn 😆. Otomatis saya yang baca jadi mengernyitkan dahi, ini kok musim gugur sepanjang tahun yaa.. Hehehe.. 


Kalau tidak mau pembaca kamu mengernyitkan dahi membaca cerita kamu, riset itu sangat-sangat penting. Apalagi kalau kamu ingin cerita yang masuk ke hati pembaca saking riil-nya. 

Beberapa tips yang kamu bisa pake saat riset novel adalah: 

1. Jangan sungkan untuk ngobrol langsung dengan narasumber

Tahu kah kamu, dalam membuat novel Heartbreak Motel, Ika Natassa langsung ngobrol dengan artis kenamaan untuk menghidupkan karakter Ava. Salah satunya dengan Reza Rahardian loh. Pada naskah novel saya yang berjudul If I Met You First, dengan karakter seorang marketing pegawai perusahaan farmasi, saya juga ngobrol langsung dengan teman yang berprofesi sama. 

Jangan sungkan ngobrol dengan narasumber, ya..

Ngobrol langsung ini tidak hanya untuk riset karakter, tetapi juga bisa untuk riset tempat dan hal lainnya. Ngobrol langsung dengan orang yang pernah mengunjungi Gunung Himalaya buat kamu yang ingin menggunakan latar itu ke cerita misalnya 😁. Atau ngobrol dengan anak SMA jaman sekarang, saat kamu ingin mengangkat cerita teenlit sedangkan kamu mungkin udah angkatan kolonial. hehehe.. 😅

2. Kunjungi berbagai tempat

Mengunjungi berbagai tempat itu bagus banget loh buat refresh otak. Mengunjungi berbagai tempat baru juga memberikan tambahan ide-ide baru yang bisa kamu ambil untuk naskah yang kamu tulis. Sebagai contoh, saat akan membuat novelisasi Bung di Banda, Sergius Sutanto sampai tinggal sementara di Banda Naira untuk merasakan dan melihat langsung tempat Bung Hatta dan Bung Syahrir saat diasingkan Belanda. 

Oiya, kamu ga perlu khawatir, tempat untuk riset tidak harus jauh dan mahal kok. Contohnya aja, di Heartbreak Motel bahkan Ika Natassa memasukkan salah satu warung uduk di Kebon Kacang untuk bukunya. 

Kamu juga bisa mengambil tempat2 wisata yang unik, kota tua atau wisata budaya. Kalau kamu suatu saat berkesempatan keluar negri, ambil foto tempat sebanyak mungkin, rasakan ambiencenya, dan kapan-kapan jadikan latar di cerita kamu. 

Liburan dulu sambil healing guys 😁

Bagaimana kalau kamu tidak punya waktu atau budget untuk mengunjungi berbagai tempat? Tidak masalah, manfaatkan saja teknologi 😁. Kamu bisa browsing tentang pengalaman orang saat mengunjungi tempat itu. Kamu bisa nonton video youtube tentang orang yang jalan2 di sana. Suprisingly, di youtube ada banyak video hanya sekedar jalan -bahkan ada yang 3D- mengelilingi tempat2 wisata loh, di berbagai tempat di dunia. Setelah itu jangan lupa searching juga suhu di daerah itu. Banyangin deh kamu jalan2 di sana dengan suhu sedingin, atau sepanas itu 😁.  

3. Perhatikan kembali generation gap

Ada yang familiar dengan kata bokis, atau cembokur? Fiks kalau kamu tau, kita seangkatan 😂 Jadi beberapa kata ini adalah bahasa gaul anak tahun 90an. Dan biasanya setiap angkatan punya bahasa gaulnya sendiri. Misalnya kamu pake istilah 'healing' di cerita latar 90an pasti ga akan cocok. Termasuk pake kata bokis dengan latar anak sekolahan jaman sekarang. 

Ups, salah bahasa nih kayaknya 😆

Tips berikutnya adalah, perhatikan kembali generation gap di cerita kamu. Riset mendalam mulai dari bahasa, kebiasaan, sampai ke tempat. Misalnya, jaman dulu kalau udah ke Taman Ria Senayan, udah asik banget. Kalau sekarang mungkin akan beda.. Taman Ria nya aja juga udah ga ada sekarang kan 🤣. 

4. Banyak baca buku

Membaca buku dengan genre sejenis, atau latar sejenis dengan naskah yang kita, bisa sangat-sangat membantu riset kamu loh. Kamu bisa juga baca buku non fiksi untuk riset novel kamu, misalnya buku sejarah untuk novel yang mengambil setting tempo dulu, atau buku psikologi populer untuk pendalaman karakter yang kamu bikin.


Opa Stephen King bahkan bilang 'If you want to be a writer, you must do two things above all others: read a lot and write a lot.' Berdasarkan pengalaman saya, membaca tidak hanya dibutuhkan untuk riset, tapi juga bisa untuk mengatasi kebuntuan ide.  

5. Manfaatkan teknologi informasi

Kita beruntung berada di era teknologi informasi seperti sekarang. Kalau ada yang ingin kita cari, kita tinggal mengetikkan di google. Tidak akan ada nge-judge, se-silly apapun pertanyaan kamu. Hehehe.. Tapi sayangnya nih, masih banyak aja yang katanya pengen jadi penulis, tapi males banget buat riset. Kamu jangan gitu ya, guys 😁 


Demikian postingan tentang tips riset dalam menulis kali ini. Intinya, riset bisa dari mana saja. Asal ga males aja. hehehe.. Tetap semangat yaa buat kamu yang lagi mencoba membereskan naskah 😊


Sumber gambar baby gemes : giphy.com


Thursday, 2 September 2021

Rekomendasi Buku saat Swasunting Naskah Novel

Menulis novel tidak sekedar menuangkan ide menjadi sebuah cerita yang menarik. Menulis novel tidak lepas dari teori menulis itu sendiri, bagaimana membuat kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa yang baik, menulis kalimat yang efektif, kata yang tidak salah tulis dan berbagai teori kepenulisannya.

"Eh, yang penting kan cerita saya menarik, tata kepenulisan itu sih nggak penting..." 

"Penulis sih urusannya nulis aja, masalah tata bahasa sih serahin ke editor aja..."

Jangan sampai berpikiran seperti ini ya. Karena persaingan untuk menjadi penulis itu sangat-sangat ketat. Jadi, jangan lupa untuk selalu memberikan yang terbaik, salah satunya dengan menyelesaiakan naskah dengan minim kesalahan kepenulisan.

Sayangnya, teori menulis untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar itu sendiri jarang ditemukan. Banyaknya buku-buku biasanya membahas cara eksplorasi ide menjadi sebuah novel, atau membuat kerangka novel itu sendiri. Ilmu kepenulisan akhirnya harus didapatkan dengan mencari ceceran informasi dari berbagai website atau postingan orang, atau bahkan langsung dari KBBI.

Dari berbagai infomasi itu, biasanya dapat digunakan untuk swasunting dari naskah novel yang sudah dimiliki. Beruntungnya, walaupun tidak banyak, ada buku-buku menarik yang bisa kamu gunakan untuk pegangan saat swasunting naskah novel kamu. 

Baca juga postingan cara menulis novel dengan metode Save The Cat di sini

Berikut rekomendasi buku yang dapat menjadi pegangan saat swasunting naskah novel: 

 1. Recehan Bahasa oleh Ivan Lanin

Buku pertama yang saya rekomendasikan adalah buku ringan karya Ivan Lanin, berjudul Recehan Bahasa, Baku Tak Mesti Kaku. 

Pada buku ini, terdapat pembahasan tanda hubung yang benar, kata-kata yang mirip tapi artinya jauh berbeda, kata serapan baru yang masuk KBBI, dan berbagai hal menarik tentang bahasa lainnya. Menariknya, semua disajikan dengan ilustrasi yang membuat kita tidak bosan saat membacanya. 

"Kepintaran tenggelam karena keterampilan bahasa. Kedunguan gemerlap berkat kepiawaian bahasa. Kuasai Bahasa, Kuasai Dunia." Hal-75

Sebagai contohnya, pada salah satu bagian dijelaskan tentang beda penggunaan Namun dan Tetapi. Singkatnya, 'namun' digunakan untuk penghubung antar kalimat dan harus disertai koma. Sedangkab 'tetapi' adalah kata hubung dalam kalimat. 

  • Anak itu sebenarnya pandai. Namun, ia malas.
  • Anak itu sebenarnya pandai, tetapi malas. 
Kebayang kan bedanya? 

Selain contoh di atas, banyak lagi penjelasan yang berguna sekali saat kamu melakukan swasunting novel. Kekurangannya menurut saya, beberapa penjelasan terlalu singkat. Jadi agak susah untuk memahaminya. 

Baca juga : Hindari Hal Ini di 3 Bab Awal Novelmu!

Dengan manfaat cukup besar, harga buku ini juga cukup terjangkau. Di 50an ribu kalau saya beli waktu itu. Kalau saya, untungnya waktu itu beli pake hadiah bonus giveaway tebak-tebakan di blog Mas Rahul waktu itu 😁 Terima kasih banyak ya, Mas Rahul...

2. Editing 101 : Panduan Menyunting Naskah Novel oleh Jia Effendie


Buku berikutnya yang saya rekomendasikan adalah karya seorang editor senior, Jia Effendie berjudul Editing 101 : Panduan Menyunting Naskah Novel. 


Buku ini hanya tersedia versi ebook yang bisa didapatkan di playbook dengan harga 30an ribu kalau ga salah. Menurut saya, dengan harga segitu worhted banget sih, karena isinya 'daging' semua. 
Baca juga tulisan tentang Jia Effendie di : 3 Rekomendasi Blogger yang Suka Berbagi Tips Menulis
Walaupun bukunya tidak tebal, semua diulas lengkap tentang apa saja yang perlu diperhatikan dalam editing naskah. Tidak hanya dari tata bahasa, bahkan awalnya dibahas tentang tokoh, adegan, plothole, dan bagaiman membuat buku yang memunculkan simpati dan empati pembaca. 

Setelah itu baru dibahas tentang kepenulisan, seperti membuat kalimat efektif, pilihan kata yang tepat, ejaan, konjungsi dan banyak lagi yang lainnya. 

3. 101 Dosa Penulis Pemula oleh Isa Alamsyah


Buku berikutnya yang saya rekomendasikan adalah buku karya Isa Alamsyah, suami Asma Nadia yang sudah berpengalaman sebagai editor dan penulis selama bertahun-tahun. Ia juga merupakan founder dari platform menulis yang sedamg hits banget, KBM (Komunitas Bisa Menulis). Buat teman-teman yang tidak tahu, KBM ini sejenis wattpad tapi versi lokal. Buku yang saya maksud adalah 101 Dosa Penulis Pemula.



Buku ini dibandrol cukup lumayan ya, 90an ribu. Tebalnya pun sampai 318 halaman. Beda sama buku di atas yang hanya setebal 100an halaman. Sayangnya saya nyari versi ebook baik di playbook atau iPusnas juga belum ada. Dengan harga segitu, isinya super lengkap. Benar-benar membahas 101 kesalahan yang sering ditemukan dalam menulis novel.

  • Lima Dosa Utama: Pengulangan Kata atau Gaya yang Sama;
  • Lima Dosa Akibat Kalimat Tidak Efektif atau Tidak Selektif;
  • Empat Dosa dalam Ide;
  • Delapan Dosa dalam Judul;
  • Delapan Dosa dalam Opening;
  • Sembilan Dosa dalam Konflik
  • Sembilan Dosa dalam Ending;
  • Tiga Dosa dalam Detail;
  • Lima Dosa dalam Narasi atau Deskripsi;
  • Sebelas Dosa dalam Karakter;
  • Lima Dosa dalam Diksi dan Kosa Kata;
  • Tiga Dosa dalam Setting;
  • Sembilan Dosa dalam Dialog;
  • Empat Dosa dalam Poin of View;
  • Empat Dosa dalam Alur dan Plot;
  • Empat Dosa dalam Pesan; dan
  • Lima Dosa Terkait Mental dan Sikap Penulis
Semua ditotal jadi ada 101 Dosa 😆 Banyak yaa..  Super lengkap isinya. Kekurangannya, entah kenapa saya ga terlalu suka sama covernya aja. Hahahaha 😅 Subjektif sih ini.. 
Baca juga :  Buka-bukaan 10 Kesalahan Penulis Pemula dalam Menulis Novel
Banyak yang menggunakan buku ini sebagai panduan dalam menulis. Tapi saya pribadi lebih merekomendasikan buku ini saat swasunting. Karena kalau kita belum nulis, kadang suka ga akan sadar dengan dosa ini. Jadi teori sebatas teori dan cepat menguap. Tapi kalau kita sudah punya naskah, bisa sambil bolak balik bandingkan dengan teori yang ada di buku ini.

💖💖💖

Demikian rekomendasi buku yang bisa kamu gunakan saat swasunting naskah novel. Dari tiga buku di atas, mana yang paling menarik menurut kamu?

Saturday, 10 July 2021

Menulis untuk Bahagia, dan Manfaat Menulis Novel lainnya

Pada postingan terdahulu, sempat saya mengatakan bahwa 'setelah pandemi ini berakhir, ketika melihat ke belakang saya ga mau menyesali waktu luang yang dimiliki terbuang percuma tanpa menghasilkan atau belajar apa-apa'. Soalnya selama WFH, saya jadi memiliki waktu lebih yang semula harus menghabiskan hampir 2 jam di jalan setiap harinya untuk dialihkan melakukan hal lain. Lumayan kan...

Saya pikir-pikir, dengan bakat saya yang ala kadarnya ini, paling apa yaa karya bisa dibikin 😅 Trus, saya jadi teringat cita-cita sejak kecil untuk menjadi penulis. Nah, kenapa saya ga realisasikan saja selama pandemi ini, kan? Itu lah yang membuat saya wkatu itu bersemangat untuk mulai kembali menulis novel.

Awalnya saya berhasil menyelesaikan satu draft novel untuk diikutkan lomba TWS 2020, kemudian satu lagi untuk ikut Author Rising Katadepan 2020. Memang dua-duanya tidak berhasil masuk sebagai pemenang, tapi lomba-lomba itu saya jadikan motivasi deadline menyelesaikan naskah. Setelah naskah selesai, berbulan-bulan kemudian saya masih sibuk mengedit, baik swasunting maupun memperbaiki sesuai dengan masukan dari editor.

Baca juga cerita tentang naskah yang saya tulis di postingan : Jadi Jawabannya Adalah 

Tidak terasa, hampir setahun saya mulai membiasakan diri menulis novel. Ketika tidak bisa WFH, saya bahkan menulis di perjalanan pulang dan berangkat kantor dengan HP. Saya juga nulis sambil tiduran saat anak-anak udah pada tidur (maklum emak-emak, gerak dikit aja anaknya malah ikut bangun 😅) dan weekend sambil menenamin anak-anak main. Dan tanpa saya sadari, menulis novel menjadi kebiasaan buat saya. Bahkan saat editing sudah mulai masuk ke editor dan tidak ada yang bisa saya tulis lagi dengan naskah lama, saya mulai memikirkan ide-ide lain untuk ditulis. 

Beruntungnya, ada lomba TWS 2021 yang bisa menjadi target saya untuk kembali membereskan naskah. Sekali lagi, saya ikut lomba mah bukan ngejar menang. Hehehe.. Tapi kalau ga ada lomba, saya susah masang target beresin naskah. 😁 Jadi doakan naskahnya beres sebelum deadline akhir bulan ini yaa...

Baca juga naskah saya di TWS 2021 : Adamina dan Akamu

Kebiasaan baru ini, tanpa saya sadari ternyata memberikan efek-efek positif. Efek ini sejak awal tidak sempat terpikirkan, bahkan tidak saya sadari. Karena awalnya menulis buat saya hanya sebatas menulis. Tanpa memikirkan efek-efek lainnya. Apa saja? 

Berikut adalah manfaat yang tanpa sadari saya peroleh dalam menulis novel: 

1. Menjauhkan diri dari pikiran negatif

Pandemi Covid-19 sedang parah-parahnya. Saya udah dua tahun ga mudik. Temen-temen deket saya juga udah banyak yang kena coivd, bahkan kemarin adik ipar saya juga sempat kena sekeluarga. Beberapa kali saya bahkan kehilangan teman, atau relasi di kantor. Rasanya? Ga bisa digambarkan. Kalau diturutin, bahkan bisa bikin saya murung, overthinking dan paranoid. Huhuhu...

Menulis draft novel sangat membantu saya untuk ga berlarut-larut memikirkan pandemi yang ga ketauan ujungnya ini. Kepala saya sibuk memikirkan, abis ini tokohnya ngapain ya? Eh, klo kayak gini, bakal logis ga ya? Mending riset lagi deh biar lebih meyakinkan, dan hal-hal sejenis lainnya. Dengan sibuk memikirkan itu, otomatis pikiran-pikiran negatif yang ada sebelumnya makin terdorong ke belakang. Alhamdulillah. 

Jadi, saya akan terus menulis, bukan sebatas untuk menghasilkan karya, tapi karena saya butuh menulis. 💖💖 

2. Mengurangi waktu sosial media

Harap digaris bawahi, saya tidak menganggap sosial media adalah hal yang buruk ya. Bahkan saya juga awalnya tidak berniat untuk mengurangi waktu bersosmed. Ini terjadi begitu saja saat saya banyak menulis. Waktu luang yang sebelumnya sering saya gunakan untuk scrolling sosmed, berubah menjadi  sibuk mengedit tulisan, membaca ulang tulisan, atau searching untuk riset bahan tulisan. 

Tanpa disadari, waktu sosmed saya jadi jauh lebih berkurang. Tadinya saya tidak mau detox sosmed karena takut ketinggalan info2 sekitar melalui update-an orang-orang. Namun, ternyata saya baik-baik saja loh tanpa tau update dari orang-orang 😍. Malah ada perasaan nyaman, seolah jadi berada di tempat tenang tanpa hiruk pikuk berbagai update. Pantas saja orang-orang sampai ada yang melakukan detox sosmed yaa...  

3. Belajar hal baru

Ini mungkin terdengar klise, namanya melakukan sesuatu yang baru ya pasti belajar hal baru ya. Hehehe.. 😁 Tapi saat kita menyukai sesuatu, kita akan berusaha menggali lebih banyak lagi. Saya bahkan ga sadar selama pandemi ini saya udah banyak ikut kelas kepenulisan. Mulai dari editor-editor terkenal, para penulis, atau sebatas dengerin ig live para penulis dan review buku. Beruntungnya sharing-sharing seperti ini selama masa pandemi tersedia banyak banget di online.  

Saat saya di jalan pulang dan berangkat kantor, dan terlalu capek untuk menulis, saya akan dengerin ig video sharing-sharing kepenulisan. Dan semakin saya belajar, semakin saya merasa ilmu saya itu ga seberapa.  Kalau saya memang mau menulis, saya harus belajar cara menulis itu sendiri. 

Selain materi kepenulisan, saya juga jadi banyak belajar hal-hal lain. Misal saat saya mengangkat tokoh yang berlatar belakang perusahan farmasi di naskah If I Met You First, saya jadi harus nanya-nanya ini itu ke temen yang kerja di sana. Atau saat naskah Adamina dan Akamu ini yang mengangkat brain disorder tertentu, saya bahkan mencari tahu banyak tentang penyakit ini. 

Buat teman-teman yang lain, pesan saya, jangan pernah berhenti belajar. Banyak ilmu menarik di luar sana, kita tinggal cari yang sesuai dengan passion kita. 

4. Menambah kenalan baru

Sudah hal yang lumrah kalau kita pasti senang apabila bertemu orang sefrekuensi dan sehobi. Sama halnya dengan menemukan teman-teman blogger di sini saat saya menulis blog. Rasanya seperti menemukan berlian di tengah lautan 😍😍. Lia, Mba Fanny, Mba Eno, Mba Jane, Mba Tika, Mba Reka, Mba Rey, Mbul, Mba Ghina, Mba Wening, Mba Ira, Mba Eya, Mba Endah, Mba Ainun, Mba Dini, Mas Agus, Mas Rahul, Mas Bayu, Mas Satria, Mas Dodo, Mas Rivai, Mas Himawant, Mas Edot, Mas Herman, Mas Cipu dan banyaaak lagi yang saya ga bisa sebutkan satu-satu.  

Dengan menulis novel, saya jadi kenal orang yang sebelumnya tidak saya bayangkan sebelumnya. 

Para editor kece, penulis-penulis yang telah menerbitkan banyak buku, atau kenalan yang masih hijau seperti saya. Anak kemaren sore di dunia tulisan dan masih berjuang untuk menyelesaikan naskahnya. Bersama mereka, saya bisa bercerita, meminta pendapat, bahkan meminta pompaan semangat. Dari mereka saya banyak belajar dan mendapat insight2 baru. Thanks so much, you guys!

5. Menulis untuk bahagia

Semua manfaat di atas, berujung pada satu hilir, BAHAGIA. Pernah dengar istilah, happiness is homade? Kebahagiaan itu kita yang bikin, dan saya menemukannya dengan menulis. 

Happiness is Homade

Kebahagiaan kecil seperti berhasil publish satu bab baru di GWP, atau tiba-tiba saya di-WA seseorang yang membaca naskah saya untuk memberikan masukan. Seseorang itu juga bukan kaleng-kaleng, penulis yang karyanya udah banyak, bahkan saya awalnya ga nyangka dia akan bisa meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya. Atau simple happiness saat saya dan suami have pillow talk about our senior prom, karena di naskah saya ada satu bab tentang prom. Atau kebahagiaan saat editor saya email kaya gini: 

Setelah bolak-balik editing beberapa kali, nashkah 40 Hari Menjadi Ibu alhamdulillah udah beres editing sama editor GPU. Sekarang udah mulai proofreader sambil nyiapin cover. Wuaa, so excited 😆😆! 

Jadi, apa inti tulisan ini sebenarnya? Hehhehe.. Sebenernya ini hanya sebatas sharing aja agar teman-teman bisa menemukan hal yang bisa bikin bahagia. Di tengah pandemi gini, kita harus ningkatin imun. Ga hanya dengan vitamin, tapi juga dengan perasaan bahagia. 😊 

Oiya, giveaway Diary Teacher Keder masih berlangsung ya, buruan dapetin buku gratisnya di postingan ini 

Kalau saya menemukan kebahagiaan dengan menulis, bagaimana dengan kamu? Share dong hal-hal yang bikin kamu bahagia akhir-akhir ini...



Friday, 7 May 2021

Hindari 5 Hal Ini di 3 Bab Awal Novelmu!


Ga kerasa lebaran tinggal dikit lagi ya guys. Dan kusediiih ga bisa mudik 😭😭. Padahal para asisten sudah pada mudik. Jadi sekarang di rumah lagi hectic banget sama anak-anak, kerjaan rumah, sampai kerjaan karena saya dan suami belum mulai cuti. Sampai Papa Tommy bilang, kayaknya abis lebaran kita bakal kurusan 🤣🤣.

Jadi dari pada pusying, mending nulis aja lah yaa 😆. Apalagi nulisnya sekarang bareng Abi lagi. Berbagi sedikit Tips Menulis yang mungkin udah banyak yang tau, tapi bisa jadi juga masih ada yang belum tau kaan..

Baca juga tulisan tips menulis kolaborasi saya dengan Dimas Abi 

Seperti yang pernah saya cerita di postingan Tips Menulis Sinopsis untuk Editor, jadi biasanya editor tidak akan membaca semua dari awal sampai akhir setiap ada naskah yang masuk. Untuk memutuskan sebuah naskah diterima atau ditolak, editor hanya akan membaca sinopsis dan 3 bab pertama. Itu artinya, 3 bab pertama novel kamu benar-benar berperan penting untuk menentukan nasib draft novel kamu berikutnya 😆.


Baca juga Tips Menulis Sinopsis Novel untuk Penerbit
Jadi, pada postingan kali ini, saya dan Abi akan membahas tips agar 3 bab awal novel bisa memikat editor. Kita mulai dari, 5 hal yang tidak boleh ada di 3 bab awal novel, yaitu:

1. Jangan Awali Novel dengan Hal Klise

Apa itu hal klise? Dari wikipedia, saya mendapatkan arti sebagai berikut: 
Klisé atau klise adalah ekspresi, ide, atau elemen karya seni yang terlalu sering digunakan sehingga makna atau efek aslinya memudar, bahkkan sampai terdengar menyebalkan, apalagi ketika elemen tersebut awalnya dianggap bermakna atau baru.
Kalau saya tidak salah menyimpulkan hal klise di sini, kalimat pembuka atau kalimat pertama di draft novel diusahakan menyajikan sesuatu yang berbeda, bukan hal itu-itu saja. Saat mengikuti Bootcamp Gramedia Writing Project, Mba Didiet (editor GPU)  memberikan contoh-contoh kalimat pembuka yang klise seperti : menggambarkan cuaca (angin berhembus, burung berkicau, ...) dan suasana bangun pagi yang diawali dengan weker berbunyi. 

Kabarnya, kalau editor membaca draft novel dimulai dengan kata-kata ini, mereka jadi agak ogah-ogahan untuk melanjutkan membaca 😆.
Buat contoh-contoh lain sebenarnya saya juga belum terlalu kebayang 😆😅. Kalau kamu punya contoh kalimat klise lain, share di komen yaa..

2. Jangan bikin bingung pembaca karena terlalu banyak detail

Sebagai penulis, kadang kita sudah punya banyak adegan menari-nari di kepala, lengkap dengan detail tempat, adegan dan orang-orang yang berperan pada cerita kita. Tapi itu bukan berarti kita harus langsung menjelaskan semuanya pada awal cerita.
Susun plot serapi mungkin, agar 3 bab pertama tidak terlihat loncat-loncat karena semua pengen diceritain tapi ujung-ujungnya malah membuat pembaca bingung ceritanya akan dibawa kemana 😆.

Ceritakan secukupnya dan seperlunya, tidak perlu semuanya dijelaskan di awal cerita.
Contohnya, kamu tidak perlu menghabiskan sampai  sehalaman penuh untuk menceritakan detail lokasi latar dari novel itu.

Salah satu quote menarik dari training yang saya ikuti dari Rosi Simamora (editor dan penulis) adalah: 
Jangan terlalu banyak pindah setting. Pembacamu perlu dibuat “betah” dan penasaran dalam 3 bab pertama naskahmu dan bukannya dibuat bingung dan mengalami disorientasi karena tidak tahu harus fokus ke karakter atau peristiwa yang mana.

3. Menceritakan aktivitas yang tidak bermakna

Walaupun novel adalah sebuah cerita fiksi, tetapi setiap adegan yang muncul pada novel kita adalah sesuatu yang bermakna. Setiap kejadian harus ada tujuannya dan menggerakkan cerita kedepannya. Oleh karena itu, hindari adegan yang tidak ada maknanya apalagi di 3 bab awal novel. 
 
Apa saja contoh aktivitas yang tidak bermakna?
Misalnya obrolan basa-basi para tokoh bertukar kabar yang bisa mengambil tempat setengah halaman sendiri 😆 Mungkin bisa disingkat menjadi "Setelah saling menyapa, Ardi pun bertanya ..."(langsung masuk ke tujuan kenapa para tokoh ketemu).

4. Belum ada konflik yang muncul

Buat teman-teman yang sudah pernah membaca postingan saya tentang membuat plot novel menggunakan Save The Cat, Jessica Brody  menyebutkan kita harus memunculkan katalis maksimal pada 20% awal novel. Jadi lebih baik, pada bab 3 itu sudah muncul katalis dari cerita ditulis.
Apa itu katalis? Katalis adalah sesuatu yang merubah hidup si tokoh utama, katalis juga menjadi alasan orang memilih membaca novel kita. 
Katalis bisa macem-macem, kalau di romance bisa seperti kemunculan anak baru di sekolah, atau diputuskan setelah sekian tahun pacaran. Kalau di genre fantasi mungkin dapat berupa masuk ke tempat ajaib. Kalau genre misteri mungkin bisa berupa pembunuhan di tempat tertutup.
Baca juga pembahasan tentang katalis novel pada Save The Cat! Cara Jitu Menulis Novel   

5. Hanya berisi perkenalan tokoh

Pada sebuah cerita, biasanya ada tokoh utama (protagonis), antagonis (yang menghalangi protagonis mencapai tujuannya), dan beberapa pendamping lainnya. Nah, pada 3 bab awal, lebih baik kamu fokus ke karakter-karakter penting dulu aja dan apa yang terjadi pada hidupnya.

Tidak perlu sampai segala orang di rumahnya, atau teman sekolahnya diceritain semua. Ini kesalahan umum biasanya dari penulis pemula, bab awal hanya diisi dengan pengenalan banyak tokoh.
Dari pada begitu, lebih baik fokus pada karakter kunci saja dan kejadian-kejadian yang menimpa dia. Tokoh lain bisa pelan-pelan diceritakan seperlunya setelah itu.

Contohnya dari pada sibuk memperkenalkan nama, tempat tinggal, sifat, dan pekerjaan protagonis, sampai siapa teman kantor dan bosnya, lebih baik bab awal novel langsung diisi dengan protagonis sedang marah-marah di kantornya. Ini akan menjelaskan secara tidak langsung sifat dan pekerjaan sang protagonis.
😊😊😊  

Demikian 5 hal yang harus kamu hindari dalam menulis 3 bab pertama novel. Setelah membahas apa yang harus dihindari, adakah yang penasaran apa saja yang justru harus ada di 3 bab pertama novel? Semua akan dikupas tuntas oleh Abi pada postingan :

TIGA BAB YANG MENENTUKAN


Sampai ketemu di tips menulis berikutnya yaaa.. Adakah yang punya ide, tips menulis apa enaknya yang saya dan Abi bahas di postingan berikutnya? Share di komen yaaa 😊