Showing posts with label Patrick Suskind. Show all posts
Showing posts with label Patrick Suskind. Show all posts

Monday, 3 August 2020

5 Buku Berlatar Paris yang Wajib Kamu Baca



Akhir-akhir ini saya lagi suka banget dengerin lagu country, salah satunya lagu Home yang dinyanyikan oleh Blake Shelton. Video klip nya menggambarkan kota Paris dan Menara Eiffelnya yang cantik. Coba deh liat video klipnya, pasti deh bikin pengen buru-buru ke Paris 😆
Paris selalu mendapat tempat spesial tersendiri di hati saya.. Favorit saya adalah saat jalan-jalan santai bersama suami menyusuri kota Paris sampai tengah malam, kemudian duduk memandangi light show menara Eiffel. 
Jadi, karena saya sedang suka banget dengan Paris, saya akan rekomendasikan buku-buku berlatar Paris yang wajib banget kamu baca. Semua buku saya rating 4, jadi memang ini buku bagus menurut saya ya.

buku paris

1. Paris Letters by Janice Macleod

Goodread Rating 3.84

buku paris

Blurb
Berapa banyak uang yang kaubutuhkan untuk berhenti kerja?
Dalam kondisi lelah lahir batin, Janice mengajukan pertanyaan itu kepada dirinya sendiri sembari mencoret-coret gambar di notesnya. Ternyata jawaban pertanyaan itu tidak seheboh yang semula diduganya. Dengan sedikit hitung-hitungan dan keteguhan hati yang besar, Janice mulai hidup berhemat dan menabung untuk membiayai dua tahun hidup penuh kebebasan di Eropa.
Beberapa hari setelah menginjakkan kaki di Paris, Janice bertemu dengan Christophe, tukang daging tampan yang bekerja di dekat tempat tinggalnya—pria pujaan yang tak bisa berbahasa Inggris. Dengan campuran bahasa isyarat dan Franglais, kisah asmara mereka pun bersemi. Tak lama, Janice menyadari bahwa dia tidak akan bisa kembali ke kerja kantoran. Maka dia menyemai harapannya pada tiga hal yang dia cintai—kata-kata, lukisan, dan Christophe—demi mewujudkan akhir kisah cinta yang bahagia di Paris.

Paris Letters adalah buku New York Times best sellers yang terbit pada tahun 2014. Buku terjemahannya juga sudah diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2017. Tapi entah mengapa di Indonesia bukunya tidak begitu best seller.
Buku ini menceritakan tentang pengalaman penulis, Janice, yang ingin keluar dari rutinitasnya sebagai karyawan kantoran. Akhirnya ia mengumpulkan uang agar bisa tinggal di Eropa. Janice yang telah berumur pertengahan 34 tahun, tidak memperoleh kebahagiaan dengan segala rutinitasnya. Walaupun ia mempunyai pekerjaan yang sangat bagus, tetapi ia kelehan dengan seluruh kesibukan dan segala deadline. Menariknya, ia berangkat dengan menjadi orang lebih baik. Ia membereksan semua tagihan kartu kredit, tagihan pajak, hidup minimalis, dan lebih rajin berolah raga, hidup berhemat, mencari cara mendapatkan uang lebih, semua untuk bekal ia berpetualang dan keluar dari pekerjaannya. Kita bukan bicara liburan seminggu dua minggu ya, tetapi Janice memperisapkan uang untuk dia hidup setidaknya 2 tahun tanpa perlu bekerja kantoran. Bahkan sebelum berangkat pun ia sudah bertransformasi menjadi orang yang lebih baik. 😍
Sebenarnya ini bukan buku motivasi, tapi entah bagaimana saya merasa buku ini banyak memberikan pesan-pesan tanpa terasa menggurui. Selama ini banyak buku motivasi menyuruh kita keluar dari zona nyaman, seperti keluar dari pekerjaan untuk menggapai mimpi, entah sekolah lagi atau malah menjadi pengusaha sukses. Sedangkan pada cerita ini, Jenice keluar dari kehidupan lamanya hanya untuk memperoleh jeda dalam hidupnya, bukan menjadi orang hebat atau apapun itu yang digadang-gadang buku motivasi. 
Perjalananannya di beberapa negara, dan berakhir di Paris membawa Janice menjadi orang yang lebih baik dalam memandang banyak hal, plus memperoleh keberuntungan dengan bertemu jodoh. Dan tentu saja, ia menjadi orang yang jaauhh lebih bahagia. Bahkan saat membaca buku ini kita seperti ikut merasa bahagia dengan pengalaman Janice.
Tidak ketinggalan buku ini membawa kita terasa ikut berpetualang di setiap pojok kota Paris. Tidak hanya tempat terkenal seperti Menara Eiffel atau Museum Louvre atau Notre Dome, tetapi juga betapa romantisnya kota ini dengan kafe-kafe dan kebiasaan minum orang Paris, toko buku, taman-taman, menyusuri sungai Seine, Metro, bahkan patung-patung yang menghiasi setiap pojok Paris. 

Saking romantisnya Paris, saya banyak banget nemu pasangan yang sedang foto prewedding
-pinggir kali Seine-

Selain itu juga tidak ketinggalan kita diajak Janice menikmati berbagai cemilan khas Paris seperti macaroon, Meriunge, Baguette, chèvre dan berbagai jenis keju.
Buku juga dihiasi dengan lukisan Janice yang ia buat di dalam surat-suratnya, Paris Letters.
Jadi, tentu saja saya sangat merekomendasikan buku ini untuk kamu yang ingin berpetualang di Paris melalui kata-kata.

Jenice, satu-satunya cara untuk bahagia adalah memcari orang untuk diajak makan, minum dan tertawa bersama. Itu saja. Itu sudah segalanya. Dan sesendok Nutella setiap hari membuat hidup lebih indah. Itu obat anti depresan. Hal 121

Teman tertawa bersama saya 💖

2. Da Vinci Code by Dan Brown

Goodread Rating 3.85


buku paris

Blurb
Robert Langdon menerima telepon misterius yang mengundangnya ke Museum Louvre Paris pada tengah malam. Sesampai di sana, yang ditemui Langdon adalah mayat telanjang sang kurator museum dengan posisi dan tato aneh di perutnya.
Langdon terkejut ketika menyadari bahwa teka-teki itu mengarah ke misteri terbesar sepanjang sejarah yang petunjuknya tersembunyi dalam karya-karya Da Vinci. Misteri tentang persaudaraan rahasia yang melibatkan nama-nama besar. Persaudaraan yang menjaga sebuah fakta sejarah yang sangat mengejutkan. Fakta yang bisa mengguncang keyakinan miliaran manusia di dunia.
Dengan bantuan kriptolog Sophie Neveu, Langdon berusaha memecahkan misteri itu sambil berusaha menghindari kejaran polisi sepanjang Paris, London, dan kota lainnya. Langdon harus segera memecahkan misteri itu dan mengalahkan musuh tersembunyi yang menghadang di setiap langkah mereka dan mengancam nyawa.
Da Vinci Code adalah buku karya Dan Brown pertama yang saya baca, belasan tahun yang lalu. Buku yang melambungkan nama Dan Brown ini juga kemudian diangkat menjadi film box office.
Buku ini menceritakan pengalaman simbolog Robert Langdon memecahkan pembunuhan seorang kurator di Museum Louvre. Ternyata pembunuhan itu membawa mereka lebih dalam ke dalam kontroversi gereja, cawan suci dan ilumintai. Buku ini menarik karena kita seperti ikut kejar-kejaran memecahkan berbagai teka teki bak cerita detektif, walaupun Langdon bukanlah detektif. Buku ini juga terkenal karena kontroversialnya terkait rahasia gereja yang diungkap Langdon. Jadi buku ini ramai menuai banyak pujian dan juga kritikan.

Robert Langdon (Tom Hanks) di Louvre

Kalau kamu menyukai cerita petualangan, wajib banget baca buku ini. Saking memukaunya buku ini, bahkan Museum Louvre pun menyebut Da Vinci code dalam perkenalan di situs reminya loh.
Dulu, buku inilah yang pertama memperkenalkan saya dengan Museum Louvre. Sebelumnya saya tau Paris ya Menara Eiffelnya aja 😅 Dan tentu saja sukses membuat saya bertekad suatu saat bisa melihat piramida Louvre dengan mata kepala sendiri, yang akhirnya terwujud belasan tahun kemudian.

 


3. Call From an Angel by Guillaume Musso

Goodreads Rating 4.02


buku paris

Blurb
Di New York, tanpa sengaja ponsel Madeline dan Jonathan tertukar. Saat mereka menyadari kesalahan tersebut, mereka sudah terpisah hampir sepuluh ribu kilometer. Madeline adalah seorang floris di Paris, sedangkan Jonathan memiliki restoran di San Fransisco.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi keduanya untuk menyerah pada godaan dan menelusuri ponsel masing-masing. Namun, itu malah menguak sebuah rahasia yang ingin mereka berdua kubur selamanya. Sebuah rahasia yang bisa membunuh mereka berdua.

Buku Call From an Angel adalah karya penulis Prancis favorit saya, Guilaume Musso. 
Ponsel yang tertukar, tadinya saya kira bukunya akan kental dengan nuansa romance tantang cinta jarak jauh antara Madeline dan Jonathan. Saya udah membayangkan, orang yang sama sekali belum kenal satu sama lain tiba-tiba menjadi dekat karena ponselnya tertukar. Tapi ternyata ceritanya sangat kaya, penuh kejutan dan lebih kental unsur thrillernya. Dengan latar kota Paris dan New York, seru juga pelan-pelan menguak masa lalu Madeline yang tidak terduga. Paris di sini digambarkan melalui Madeline sebagai soerang tukang bunga, bagaimana ia pagi-pagi berburu bunga-bunga segar dan wangi di pasar bunga Paris. Dan Paris malalui masa lalu Jonathan yang mewah sebagai koki kondang di Paris. 
Buku ini sangat saya rekomendasikan bagi kamu pencinta genre thriller ringan 

Baca juga review lengkap Call From An Angel saya di sini

4. Perfume : History of Murderer by Patrick Suskind

Goodreads Rating 4.01

buku paris

Blurb
Di lingkungan kumuh Prancis abad delapan belas, Jean-Baptiste Grenouille lahir dengan anugerah penciuman yang luar biasa. Semasa kecil, dia telah mengenal dan menguraikan segala macam bau-bauan di Paris, lalu dia bekerja pada ahli pembuat parfum yang mengajarinya seni kuno mencampur minyak-minyak dan rempah berharga. Tetapi Grenouille tidak berhenti sampai di situ. Dia ingin menangkap bau-bauan berbagai objek. Suatu hari dia menghirup wangi yang membuatnya makin terobsesi---aroma gadis muda yang cantik. Dan obsesi ini menyeretnya ke dalam eksperimen yang semakin mengerikan.

Jujur dari semua buku yang saya rekomendasikan, ini satu-satunya yang belum saya baca. Tapi saya sudah nonton adaptasi movie Jerman dari buku ini yang keluar tahun 2006 dengan judul yang sama. Dua kata saya untuk cerita Perfume ini, Bizzare and Masterpiece. Bizzare, jalan ceritanya benar-benar aneh. Jean-Baptiste Grenouille digambarkan bisa mencium berbagai bau. Tetapi ia seperti hidup dalam  kutukan, karena siapapun yang dia tinggalkan akan mati mengenaskan. 😆 
Awalnya Jean-Baptiste Grenouille sejak lahir tinggal di panti asuhan. Ketika sudah cukup dewasa unutk bekerja, dia bekerja di penyemakan kulit dan berakhir bekerja sebagai pembantu di toko parfum. Saat itulah ia menyadari, begitu banyak bau yang indah. Jean akhirnya berpetualang mencari bau yang terindah, dan dia mendapatkan itu dari wangi wanita cantik perawan. Mulailah kemudian petualangan Jean-Baptiste Grenouille mengekstrak bau dari perempuan-perempuan para korbannya. 
Endingnya juga aneeh banget, saya sampai terheran-heran karena tidak menduga itu. Tapi seruu, ini cerita bener-bener masterpiece. Saya sangat kagum kepada Patrick Suskind yang bisa membuat cerita sebagus ini. Pantas sejak buku ini terbit pertama tahun 1985, sampai sekarang masih setia nongkrong di toko buku karena banyak penggemarnya. Buku ini juga  sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia.

Jean-Baptiste Grenouille yang psikopat

Berbeda dengan buku sebelumnya, Paris di buku ini digambarkan sebagai kota yang kumuh, penuh bau pesing. Belum lagi Jean-Baptiste Grenouille dibesarkan di lingkungan pasar ikan yang penuh bau amis.
Buku ini saya rekomendasikan buat kamu yang suka genre psikologi horor, itupun kalau kamu tidak terganggu dengan adegan vulgar dan memuakkan ya.

5. Autumn In Paris by Ilana Tan

Goodreads Rating 4.09

buku paris

Blurb 
Tara Dupont menyukai Paris dan musim gugur. Ia mengira sudah memiliki segalanya dalam hidup... sampai ia bertemu Tatsuya Fujisawa yang susah ditebak dan selalu membangkitkan rasa penasarannya sejak awal.
Tatsuya Fujisawa benci Paris dan musim gugur. Ia datang ke Paris untuk mencari orang yang menghancurkan hidupnya. Namun ia tidak menduga akan terpesona pada Tara Dupont, gadis yang cerewet tapi bisa menenangkan jiwa dan pikirannya... juga mengubah dunianya.
Tara maupun Tatsuya sama sekali tidak menyadari benang yang menghubungkan mereka dengan masa lalu, adanya rahasia yang menghancurkan segala harapan, perasaan, dan keyakinan. Ketika kebenaran terungkap, tersingkap pula arti putus asa... arti tak berdaya... Kenyataan juga begitu menyakitkan hingga mendorong salah satu dari mereka ingin mengakhiri hidup....

Kalau buku-buku sebelumnya adalah karya penulis luar, sepertinya tidak lengkap kalau saya tidak merekomendasikan buku lokal ya. Saya rekomendasikan karya penulis romance lokal favorit saya, Ilana Tan.

Berlatar musim gugur di Paris, kita dibuai kisah kasih Tara Dupont. Awalnya terasa manis, tetapi ternyata banyak rahasia terungkap tentang Tatsuya yang membuat Tara Dupont kecewa. 
Sayangnya pada buku ini, Paris tidak terlalu tereksplore dengan detail. Bahkan pada beberapa tempat lebih terasa seperti tempelan nama-nama tempat di Paris, membuat kita susah membayangkan kota Paris dimaksud. Tetapi terlepas dari itu, ini adalah novel paling favorit saya di seri Tetralogi Empat Musim nya Ilana Tan. Jadi tentu saja saya merekoemndasikan buku ini untuk kamu yang suka kisah cinta semanis permen kapas

Baca juga tulisan saya tentang buku Tetralogi Empat Musim Ilana Tan di sinisini dan sini.

quote paris

Baca juga cerita saya ke Paris di sini

My Story In Paris
Selain kisah di atas, saya juga mau share sedikit cerita saya dan suami saat di Paris ya. Paris waktu itu jadi kota terakhir yang kami kunjungi saat di Eropa. Kami menyewa flat cantik yang hanya walking distance dari Menara Eiffel di Rue Spontini melalui Airbnb. Jadi hari-hari kami habiskan dengan berjalan-jalan santai di kota Paris. Duduk santai memakan bekal di pinggir sungai Seine, piknik di rumput taman dekat Menara Eiffel, dan tentu saja mengunjungi landmark kota Paris. 



Sayangnya sepanjang hari di sana saya sering merasa eneg kaya masuk angin dan mulut berasa pahit. Sedih juga kok bisa masuk angin, padahal kota Paris relatif lebih hangat dari kota lain yang kota kunjungi sebelumnya di Eropa. Jadi saya sering ajak suami mampir ke supermarket cuma buat jajan yogurt. Entah kenapa makan yang asem-asem bikin mulut jauh lebih enak. Hari terakhir saat kita mau pulang, kita berencana naik Metro ke Charles de Gaulle Airport. Masalahnya stasiun Metro di Paris itu banyak yang ga koper friendly, jadi kita harus angkat-angkat koper buat naik atau turun tangga. Saat saya sedang ngangkat koper, perut bagian bawah saya tiba-tiba sakit, rasanya kayak kontraksi abis lahiran. Saya sampai nunduk karena rasanya ga enak banget. Suami yang liat saya kaya gitu, langsung otomatis ngajak naik taxi aja ke bandara. Btw, taxi ke bandara di Paris itu fix price, jadi jangan takut di ajak muter-muter karena ga tau jalan. Hehe. Taxinya bersih dan wangi, drivernya juga pake jas rapi. Bener kata Janice di buku Paris Letters, orang Paris kemana-mana pasti berpakaian rapi. Bahkan cuma buat ke supermarket depan rumah aja mereka ga akan mau pake baju tidur. 

Singkat cerita, beberapa hari nyampe Jakarta saya masih sering ngerasa kayak masuk angin terus-terusan. Perut eneg, mulut pahit, mual-mual kecil gitu. Seminggu berlalu akhirnya saya baru kepikiran, kok ini rasanya sama kayak waktu hamil Kakak Tara 😆😆 Sambil mikir, mungkin ga ya hamil, padahal kan pake IUD. Akhirnya sambil deg2an saya memutuskan beli test pack, dan bener garis dua 😍😍 Pikiran pertama saya langsung, mudah-mudahan calon bayi di perut sehat walau udah diajak penerbangan panjang dan angkat-angkat koper.. 

Alhamdulillah sekarang dia tumbuh jadi anak sehat dan ceria. Saya dan suami memberi nama Tafiya, yang artinya Journey. Dia adalah hadiah mengagumkan yang tidak kami sangka-sangka 😍😍


Tafiya sekarang udah 8 bulan, bersama kakak-kakaknya selalu menceriakan hari-hari saya dan suami 💖💖


Jadi kalau ditanya pas Paris ingetnya apa, ingetnya ternyata ada bayi ikut jalan-jalan di perut 😁 

Bonjour!

Dari 5 buku di atas, kamu tertarik baca buku yang mana? Atau malah kamu udah baca semua?

Sumber gambar film dari Imdb, gambar lainnya semua koleksi pribadi dan edited by me.