Selamat malam semuanyaa 😄,
Selamat datang kembali di postingan racun buku di blog ini. Hehehe.. Semoga ga pada bosen setiap kesini selalu diracuni berbagai bacaan, ya 😆.
Kali ini, saya akan membahas buku lama tapi baru diterbitkan kembali oleh penerbit berbeda, berjudul Atas Singgasana karya Abidah El Khalieqy. Ada yang familiar dengan penulis ini? Ia adalah penulis buku Wanita Berkalung Sorban yang sudah difilmkan oleh Hanung Bramantyo lebih dari satu dekade lalu.
Blurb
Masalahnya, Pembaca, aku lahir oleh udara dengan jutaan kekuatan yang mengejekku selalu untuk meruntuhkan langit. Di manakah bumi tak berdebu. Adakah langit biru selalu? Kuhitung siang dan malam dengan irama jantungku. Aku maju menatap langkahmu. Darahku bergolak. Ingin kuraup seluruh kerak bumi dan menimpukkannya di kuasa langitmu.
Semua. Seluruhnya!
Sampai hitam cakrawalamu! Hingga pekat jagatmu!Barangkali di sana tak akan lagi kudengar gonggongan para algojo mengajari perempuan arti kehidupan. Tak ada auman harimau yang menunjuk-nunjuk muka ibuku sambil berteriak memaki: "Dasar otak kerbau!" Tak ada seorang kekasih yang mengganti wajahnya, bagai dokter ahli bedah hendak mengoperasi pasien sekaratnya, membidikkan kata maut dengan tekanan suara sedalam gua minotaur: "Sekarang, apa maumu?!"
Jujur saja, saya agak bingung mengulas buku ini. Karena konflik yang diambil, dan sikap yang diambil oleh tokoh utamanya membuat kepala saya berdenyut-denyut. Bawaannya kesel 😅 Eh, apa itu artinya penulisnya berhasil meramu konfliknya sampai membuat saya sebagai pembaca ikut baper, ya?
Pada dasarnya semua laki-laki itu sama. Keinginan dan cita-cita mereka adalah merampok dan memerkosa, lalu membinasa. Mereka merampok uang dan perhiasan, kehidupan perempuan dan anak-anak, merampok negara dan pengetahuan. Agama pun dikuasainya. -Hal 64
Salah satu quote di atas sepertinya paling menggambarkan isi buku ini. Kisah kehidupan seorang wanita bernama Kamila yang selalu bertaut dengan lelaki brengsek.
Masa Kecil Kamila
Masa kecil Kamila di Balikpapan sama sekali tidak menyenangkan. Bapaknya tukang judi, main perempuan, suka KDRT, dan tidak punya pekerjaan. Sehingga ibunya harus banting tulang menghidupi mereka sekeluarga. Di usia yang belum genap 10 tahun, Kamila jadi taruhan judi bapaknya, membuatnya nyaris saja dibawa paksa laki-laki hidung belang saat sang bapak kalah taruhan. Bikin kesel, kan? Arrgg...
Beruntungnya, ibu Kamila langsung gercep dan berhasil menemukan keluarga yang mau mengadopsi Kamila. Hidup Kamila menjadi lebih baik, walau orang tua angkatnya juga bukan prang kaya raya. Setidaknya mampu mencukupi kebutuhan Kamila sampai membiayai kuliah Kamila di Jogjakarta.
Kamila dan laki-laki
Hidup Kamila tidak lantas jadi bahagia selamanya. Saat mulai kuliah, ia didekati beberapa laki-laki, salah satunya teman sekampungnya Haidar. Walaupun Haidar pernah hampir melecehkan Kamila, mereka berakhir menjadi sepasang kekasih. Ini sepotong percakapan Kamila dan Haidar :
"Berapa jam sehari merinduiku, Haidar?"
"Jam terlalu pendek untuk mengukur kerinduanku, Mila."
"Dua? Tiga?"
"Bilangan hanyalah angka. Tetapi, kerinduanku meliputi seluruhnya, waktu, bilangan, galaksi, bintang-bintang, mawar, melati, semuanya indah. Semuanya!"
"Sekarang kamu mirip Plato."
"Untuk pertanyaan Hypatia of Alexandria, hanya Plato yang tepat menjawabnya."-Hal 97
Salh satu yang bikin kepala saya nyut-nyutan baca Atas Singgasana itu adalah bagaimana Kamila seperti menjadi magnet laki-laki nyebelin, ga bener dan suka melecehkan wanita. Mulai dari kecengannya, bosnya saat Kamila mulai kerja paruh waktu untuk membiayai kuliahnya, tamu-tamu hotel saat Kamila jadi MC di acara hotel itu, dan banyaaak lagi yang lainnya.
Isu yang diangkat
Saya tidak mengerti isu apa sebenarnya yang mau diangkat oleh sang penulis sampai sebegitunya ia menggambarkan lelaki. Apakah ini salah satu bentuk feminisme? Saya juga tidak paham sebenarnya... Bagi saya, karena beruntung dikelilingi oleh para pria yang baik hati, dengan lantang saya akan mengatakan banyak lelaki baik di dunia ini.
Namun, buku ini adalah pengingat yang baik bahwa tidak semua wanita seberuntung kita. Banyak yang harus hidup dengan pelecehan dan tidak memiliki keberanian untuk berbicara, atau banyak yang dipaksa menikah dengan bukan dengan lelaki pilihannya bahkan di usia muda. Jadi membaca ini, tentu saja membuat kita makin banyak bersykur dengan hidup.
Isu dan konflik yang diangkat di buku ini cukup menarik. Namun, saya sebenarnya agak kesusahan saat awal membaca buku ini karena penulis banyak menggunakan metafora dalam ceritanya. Cara berceritanya tidak lugas dan tidak to the point. Mungkin buat pencinta sastra akan menyukai cara bercerita seperti ini. Sedangkan buat saya yang sukanya baca cerita anak dan young adult, butuh energi lebih buat memahami maksud ceritanya 😅. Belum lagi gaya percakapannya yang terasa kaku, dan di beberapa bagian tidak konsisten. Misal di satu kalimat yang sama kata gantinya bisa kadang 'aku' dan kadang berubah jadi 'saya'. Atau di Balikpapan tapi malah pake logat Jawa 😆.
Overall, buku ini saya rekomendasikan untuk kamu yang ingin mencari variasi bacaan terutama yang mengangkat isu hak-hak perempuan. 3.5 bintang untuk buku Atas Singgasana karya Abidah El Khalieqy.
Judul : Atas Singgasana
Penulis : Abidah El Khalieqy
Penerbit : Buku Bijak
ISBN : 978-623-94476-6-3
Tahun terbit : 2021
204 Hlm
Giveaway Buku Gratis
Bagaimana dengan penjabaran di atas? Cukup bikin penasaran kan dengan nasib Kamila? Apakah ia akhirnya bisa bahagia dan menemukan lelaki yang baik hati?
Nah, buat kamu yang ingin baca buku ini, kebetulan saya bekerjasama dengan penerbit Buku Bijak (imprint Penerbit ArruzzMedia) mau ngasi buku ini gratis buat satu orang yang beruntung. Caranya gampang, langsung klik saja postingan instagram saya di bawah ini, ya 😊.
Sampai jumpa semuanya...
Buat kamu yang ikut giveaway, semoga beruntung 😉










