I. Majib sebelumnya saya kenal sebagai penulis wattpad dari Sumatera Utara. Genre yang diangkat cerita-ceritanya biasanya seputar misteri, pembunuhan, dan thriller. Salah satu cerita wattpadnya yang memenangkan The Wattys 2020 pernah saya tulis di sini. (Pölzl, Pemenang The Wattys Genre Thriller)
Waktu ia menerbitkan buku, saya sudah tertarik untuk membaca. Dari judulnya saja sudah mematik rasa penasaran, Perawan Tak Boleh Pulang. Maksudnya apa perawan ga boleh pulang?
Blurb
Marhara mendadak gila pada suatu sore, membuat gempar warga kota, kemudian hilang dibawa pergi laki-laki. Sang ayah kemudian meminta tolong kepada tiga sahabat Marhara untuk membantu mencarinya, yaitu : Yunika, gadis yang tak punya pekerjaan dan keahlian lain kecuali melarikan diri dari rentenir dan mengajak kawin kekasihnya. Alea, si mucikari yang kerap berurusan dengan pria-pria kaya hidung belang. Lalu Dinda, si gadis virilis yang masa remajanya banyak dihabiskan dengan urusan orang mati.
Ketiga gadis itu kemudian melakukan ekspedisi pencarian ke sebuah pulau bernama Habubuhan bersama Boy, teman mereka yang bisa diandalkan. Begitu banyak hal ganjil yang mereka temui di pulau itu. Dimulai dari banyaknya perempuan gila berkeliaran, laki-laki yang menyantroni mereka, larangan keluar malam hari, hingga ritual sesat yang tak punya ujung pangkal.
Hingga mereka dihadapkan pada dua pilihan: mati, atau beranak-pinak di Habubuhan.
Awalnya...
Novel ini langsung dibuka dengan cerita yang membuat pembaca bertanya-tanya. Mengambil tempat di Sumatera Utara pada tahun 1995. Sebuah kerumuman orang berkumpul di sekitar gedung penangkaran burung walet berlantai 4. Mereka semua heboh karena melihat seorang wanita sedang duduk di atas lantai 4 itu tanpa baju sehelai pun. Wanita itu adalah Marhara, seorang gadis baik-baik, cantik, dan kesayangan banyak orang.
Sungguh mencengangkan ia bertingkah seperti orang gila seperti itu. Segala bujukan keluarganya dan orang-orang untuk turun dan memakai baju, tidak diindahkannya. Ia baru mau menurut saat Togi datang, pria yang baru saja dikenalnya di tempat kerjanya di sebuh hotel.
Sayangnya setelah dibujuk Togi itu, Marhara menghilang dan tidak pernah pulang ke rumah.
Ketika sudah dua minggu berlalu, dan tidak kunjung diketahui juga keberadaan Marhara, keluarganya meminta bantuan kepada teman-temannya untuk mencari.
Tim Pencari
Akhirnya 4 orang teman Marhara pergi mencari temannya yang menghilang itu. Mereka terdiri dari 3 wanita dan seorang pria. Yunika, gadis yang tampak tidak punya masa depan karena kerjanya hanya berhutang sana sini. Namun, ternyata memiliki seorang kekasih yang sangat mencintainya walaupun mereka terhalang restu keluarga. Alea, wanita cantik yang bekerja sebagai caddy girl di sebuah lapangan golf, walaupun sebenarnya ia juga mennjadi mucikari yang kerap berurusan dengan pria-pria kaya hidung belang. Alea juga mempunyai indra keenam dan bisa berkomunikasi dengan makluk halus. Dinda, gadis tomboy yang berakhir menjadi seorang mudin, pengurus mayat di kampungnya. Sedangkan Boy adalah teman mereka yang telah lama menyimpan rasa suka kepada Alea.
Yang saya suka adalah setiap karakter terasa hidup, apalagi dengan latar belakang kisah mereka yang unik. Membuat kita tidak kesulitan menikmati ceritanya walaupun banyak karakter yang disajikan pada novel ini. Setelah selama ini bacaan saya seputar masyarakat perkotaan, membaca karakter dengan latar Sumatera Utara ini terasa fresh. Belum lagi percakapan, kebiasaan, pekerjaan dan keseharian mereka, sangat menggambarkan kearifan lokal.
Pulau Habubuhan yang membuat penasaran
Dari info yang diperoleh, Marhara dibawa oleh Togi ke Habubuhan. Sebuah pulau yang harus ditempuh menggunakan kapal ferry dari Riau. Setibanya di Pulau Habubuhan, banyak keanehan yang mereka lihat. Mulai dari betapa terbelakangnya kemajuan teknologi dibandingkan tempat mereka, banyaknya wanita gila yang berkeliaran di pulau itu, kepala adat yang mencurigakan dan orang-orang pulau yang sepertinya menyimpan rahasia.
Dari awal saat tahu Marhara hanya mau menurut kepada Togi, saya sudah mengira kalau Togi pasti menjampi-jampi Marhara. Saya kira alasannya hanya sebatas cinta tidak terbalas. Tapi ternyata, banyak hal misteri di pulau Habubuhan yang melatarbelakangi perbuatan Togi. Termasuk latar belakang kenapa banyak sekali wanita gila di pulau itu. Sayangnya saat empat sekawan itu menyadarinya, semua sudah terlambat. Pilihannya hanyalah, menjadi gila di Habubuhan atau berusaha kabur dengan taruhan nyawa.
Tempo cerita dibuat dengan banyak kejutan, membuat kita selalu penasaran dengan kelanjutannya. Sampai-sampai 217 halaman buku ini terasa cepat sekali diselesaikan. Ketegangan demi ketegangan, selain membuat penasaran, juga membuat greget, sedih, lega, jijik, mual semua campur aduk menjadi satu.
Salah satu yang membuat saya mual adalah saat salah satu dari mereka diperkosa oleh beruk di tengah hutan 😭😭. Takut buat lanjut, tapi saya penasaran... Belum lagi adegan berdarah bacok sana sini. Untung saja yang hubungan intim ga dibuat terlalu gamblang oleh penulisnya.
Saya kagum sekali dengan penulis yang bisa meramu cerita sekeren ini. Kak Jid, you rock!
Apakah akhirnya mereka berhasil keluar dari pulau terkutuk itu? Silahkan baca sendiri yaa.. Saya tidak mau ngasi spoiler. Hehehe.. Tapi yang pasti saya suka dengan ending yang disajikan karena semua masalah terselesaikan dan tidak bersifat open ending.
Terinspirasi dari kisah nyata
Pulau Habubuhan itu memang hanya tempat fiktif. Nanum, ternyata kisah buku ini terisnpirasi dari kisah nyata. Walaupun juga banyak ditambahkan dengan bumbu fiksi. Kisah 4 sekawan yang pernah mengalami hal tidak mengenakkan. Sang penulis, Kak Jid, bahkan memberikan kepada saya foto empat sekawan Dinda, Marhara, Alea dan Yunika (bukan nama sebenarnya). Otomatis membuat saya merinding disko membayangkannya. Huhu...
The Rating
Secara keseluruhan, saya sangat menikmati mebaca buku Perawan Tak Boleh Pulang ini. Bahkan dibandingkan dengan cerita-cerita I Majid lain yang pernah saya baca. Jujur saja, buku ini melebihi ekspektasi awal saya. Ketegangannya, hal-hal magisnya, persahabatan mereka, semua menyatu membentuk cerita yang luar biasa.
Kekurangan buku ini paling menurut saya, saya agak sulit membayangkan para wanita memutuskan pergi ke suatu tempat yang mereka tidak tahu kondisinya. Entah kenapa, saya merasa alasan mereka untuk berangkat, termasuk keluarga mereka mengijinkan pergi, agak kurang kuat. Kecuali Yunika, yang memang dalam kondisi sangat membutuhkan uang dan dijanjikan akan memperoleh bayaran yang setimpal. Namun, dengan kekurangan itu, saya akan tetap memberikan 4 bintang untuk Perawan Tak Boleh Pulang karya I Majid ini. Ini adalah novel lokal terbaik yang saya baca tahun ini.


















