Monday, 13 September 2021

Wonderstruck, Rekomendasi Novel Ilustrasi Karya Brian Selznick

Akhirnya akhir Agustus kemaren, saya berhasil menyelesaikan naskah novel untuk lomba TWS 2021. Selama menyelesaikan itu, saya menjaga mood dengan hanya membaca novel bertema sama. Selain juga karena waktu sudah banyak tersita untuk menulis, di waktu baca yang terbatas saya hanya memilih bacaan yang kita-kira bisa menambah insight saya dalam menulis. Selain itu, bacaan lain saya baca saat ada job untuk review buku. Jadi, rasanya sudah lama sekali (padahal baru beberapa bulan sih 😅) saya tidak membaca buku sesuka hati.

Berhubung job review sedang tidak ada, dan naskah novel saya sudah selesai, sekarang saatnya baca buku suka-suka 😁 Dan pilihan jatuh pada buku yang udah saya punya sejak lebih dari 5 tahun lalu, tapi kondisinya masih rapi tersegel karena belum dibaca sama sekali. Hahahha.. 

Sekitar tahun 2016, saya pernah memenangkan buku pada event yang diselenggarakan Penggemar Novel Fantasi Indonesia (PNFI). Karena liat bukunya cukup tebal, saya udah keder duluan buat baca. Maklum lah, sejak punya anak saya agak pesimis bisa namatin buku tebel 😅. Sampai suatu ketika saya baca review di Goodreads yang bilang kalau ini buku ilustasi. Saya langsung buru-buku buka segel bukunya (yang udah lima tahun tak tersentuh) dan ternyata bener dong ini buku ilustasi. Hahahha... Coba kalau tau dari dulu, kan saya udah baca dari dulu-dulu. Mana gambarnya kece banget. 

Mulai lah saya membaca

Dan ga berhenti sampai beres saking bagusnya

Dan tamat hanya dalam sehari

Sungguh pencapaian buat saya bisa beresin buku setebal ini dalam sehari 😆

dan bukunya adalah.... 

Wonderstruck
(Saya belum sempet fotoin bukunya, 
jadi kita ambil cover dari Goodreads dulu aja 😁)

Dua cerita berbeda

Cerita awalnya disuguhkan tentang seorang anak bernama Ben. Ben baru saja kehilangan ibunya karena sebuah kecelakaan. Karena tidak pernah mengenal ayahnya, Ben  akhirnya tinggal dengan paman dan bibi, serta sepupunya yang tidak menyenangkan. Pada suatu malam, Ben menemukan petunjuk tentang ayahnya di tumpukan buku milik ibunya. Sayangnya, pada malam itu juga Ben tersambar petir yang membuat telinganya tuli. 

Dari situ mulailah petualangan Ben untuk mencari sang ayah, dengan kondisinya yang tuli.

Setiap beberapa halaman cerita Ben, kita akan disuguhkan gambar yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan cerita Ben. Gambar-gambar tentang kehidupan gadis kecil yang tampak kesepian, dan sering kabur dari rumah.

Seorang gadis yang tampak sedih dan kesepian

Awalnya saya sempat bingung hubungan antara cerita dan gambar. Namun, cerita tentang gadis kecil dan Ben nanti pada akhirnya akan terhubung. Dan hubungannya sangat menghangatkan hati. Tadinya saya kira karena dapet buku ini dari PNFI dan yang menerbitkan adalah Mizan Fantasi, buku ini akan kental nuansa fantasinya. Ternyata ga juga, malah nyaris tidak ada hal magical yang ada di cerita fantasi di buku ini. Walaupun begitu, saya tetap sangat-sangat suka buku ini.

Perpustakaan dan Museum

Yang menarik lagi dari buku ini adalah profesi yang diangkat pada ceritanya. Ibu Ben adalah seorang pustakawan, dan ia senang menempelkan quote-quote menarik dari buku yang dibacanya di kulkas. Ben sendiri selain  suka membaca, juga suka mengumpulkan barang-barang, seperti seorang kurator. 
Anak kecil satu lagi, lebih kental dengan latar museum yang digambarkan cukup detail pada buku ini. Bagaimana tentang pekerjaan sebagai kurator, pembuat diorama di meseum, dan berbagai hal lain tentang museum lainnya. 


Museum yang digambarkan pada Wonderstruck

Ditulis oleh Brian Selznick

Buku ini adalah karya penulis dari Amerika bernama Brian Selznick. Tidak hanya sebagai penulis, ia sekaligus adalah ilustrator dari buku ini. Ada yang tau buku Hugo Cabret? Saya sih belum baca, cuma tahu filmnya aja. Dan ternyata Hugo Cabret adalah buku Brian Selznick sebelum Wonderstruck ini, dan itu juga buku ilustrasi. Wuaaa, saya jadi penasaran juga pengen bacaaa.

Film Hugo yang diangkat dari buku karya Brian Selznick

Rating

Dua cerita yang saling terhubung ini terasa menghangatkan hati. Ilustrasinyanya pun bagus banget. Ceritanya ringan, tapi penuh pesan moral, dan bisa dibaca untuk umur berapa pun. Buat anak-anak pun cocok. Saya aja nanti rencananya mau ngomporin anak saya Titha buat baca ini. Hehehhe.. Jadi, 4.5 bintang tentu saja buat Wonderstruck, sebuah novel ilustrasi karya Brian Selznick



WONDERSTRUCK
Penulis : Brian Selznick
Penerjemah : Marcalais Fransisca
Penerbit : Mizan Fantasi
Cetakan November 2013
643 Halaman
Demikian cerita saya menemukan harta karun buku bagus dari rak buku sendiri. Apakah kamu juga pernah punya pengalaman serupa? Lama membiarkan sebuah buku di timbunan, dan ternyata saat dibaca bukunya bagus banget?
Share cerita kamu yaaa... 😉

Thursday, 9 September 2021

Sekong!, Novel Bertema Homoseksual Karya Stebby Julionatan

Kapan terakhir kali teman-teman membaca buku dengan tema homoseksual? Atau buku yang mengangkat isu LGBT? Saya pribadi sudah cukup lama tidak bersentuhan dengan buku bertema ini, terakhir itu saat membaca buku karya Alexander Thian beberapa tahun yang lalu.

Bukan saya anti dengan cerita tipe ini ya. Saya malah masih suka menonton film-film yang mengangkat tema hubungan sejenis. Salah satu cerita hubungan sejenis yang tidak membuat 'meh' saat menonton dan saya suka, ada di film komedi serial Schitt's Creek. Selain so sweet, hubungan David dan Patrick itu super kocak menurut saya. Tapi memang keseluruhan, serial ini memang kocak dan menghibur banget sih 🤣. Hehehe.. Ada yang udah nonton?

Kembali cerita ke buku karya Stebby Julionatan yang akan saya review kali ini. Sesuai judulnya, Sekong!, jadi pasti teman-teman sudah bisa menebak kalau cerita ini tentang para sekong, atau gay, atau homo, atau malah orang-orang lebih banyak lagi bilang banci 😆


Blurb
Pepatah berkata malang tak dapat ditolak. Kala perselingkuhan suaminya makin terkuak, Surti harus menerima kenyataan bahwa suaminya seorang sekong. Pengembaraan lain pun mempertemukan Surti pada ruang-ruang gelap manusia. Ada begitu banyak cangkang yang dibangun oleh orang-orang di sekitarnya agar mereka tampak sesuai dengan masyarakat dan nilai-nilai di dalamnya.
Stebby, setelah novelanya yang terdahulu, Rumah Ilalang, kembali menyeret pembacanya ke dalam pergumulan antara identitas gender dan relijiusitas serta nilai-nilai tradisional yang kadung mendarah daging. Dalam Sekong!, Stebby mempertemukan kita dengan tiga sosok pria: seorang penyiar, seorang pemimpin tur dan seorang penyuluh keluarga berencana. Tiga sosok pria yang terperangkap pada kontruksi sosial masyarakat mengenai kaum homoseksual.

Diawali dengan laporan perselingkuhan

Cerita dimulai dari seorang penyiar di kota Probolinggo, yang sampai akhir cerita tidak disebutkan nama aslinya, memperoleh telpon dari pendengarnya. Pada salah satu segmen siarannya, Laporo, rek!, warga Probolinggo dapat mengirimkan pengaduan tentang apa pun, dan nanti akan ditindaklanjuti oleh Pemda. Ini (seharusnya) merupakan salah satu program Pemda setempat untuk membantu masyarakat. Walaupun berujung, laporan hanya sebatas laporan tanpa tindak lanjut.

Penelpon kali ini adalah Surti, yang curhat kalau suaminya selingkuh dengan perawat yang dikenalnya di tempat kerja. Surti sudah menangkap basah suamianya berduaan dengan pacarnya di sebuah hotel. Tapi siapa sangka, ternyata perselingkuhan itu adalah skenario oleh suamianya sendiri, karena suaminya sekong 😅. Ia sengaja agar dituntut cerai Surti. Kalau udah cerai, kan dia jadi bisa pergi dengan pacar sekongnya. Wuaaaa......

Kehidupan Homoseksual di Probolinggo

Salah satu yang unik dari buku ini, adalah begitu banyak tokoh yang diceritakan. Tidak hanya perselingkuhan suami Surti, tetapi juga ada pacar sekong suaminya Surti, ada juga tentang si penyiar itu sendiri yang ternyata juga sekong. Kisah cinta sang penyiar juga ikut diceritakan, bagaimana ia pernah dikecewakan. Dan banyak lagi tokoh lainnya. Dan diceritakan, para homo ini biasanya saling mengenal, apalagi kalau tinggal di satu kota yang sama. Dalam hal ini Probolinggo.

Walaupun jumlah halamannya tidak terlalu tebal, hanya 208 halaman, ceritanya cukup kompleks dan buat saya butuh konsentrasi lebih. Karena kalau tidak, bisa-bisa bingung sendiri ini sedang menceritakan yang mana, dan ini cerita tokoh yang mana. Hehehhe.. Apalagi di beberapa halaman, ada editing yang kelewat karena salah menyebutkan nama. Untung saja itu tidak mengurangi keasyikan saat membaca ini.

Aku pernah baca di buku-buku, eh, di Internet, kalau umumnya ada 6 penyebab seorang cowok, yang seharusnya normal, bisa menjadi gay. Pertama, karena memang kelainan mental; kemudian trauma masa kecil; pergaulan; kelainan genetik; terlalu sering diporotin cewek, dan terakhir karena sering fitnes. Amit-amit jabang bayi ya, cowok-cowok fitnes itu. - hal 126

Membaca cerita Penyiar dan kenalannya ini, membuka mata saya juga tentang bagaimana berat dan kompleksnya kehidupan para gay. Kadang penuh gemerlap, tapi juga penuh kekelaman. Kita juga dibawa mengenal istilah-istilah yang sering digunakan di dunia gay. Ada yang baru kenal istilah top, bot, dan versatile juga seperti saya? 😅 (mama Ica sok lugu... hahaha..)

Kritik sosial lainnya

Salah satu hal yang menarik dari buku ini adalah, banyak isu sosial lain yang diangkat. Tentang bagaimana pemerintahan bisa begitu bobroknya, isu perbedaan agama, isu perkembangan ekonomi, isu bagaimana cap baik mayarakat masih berpegang teguh pada kerja sebagai PNS, atau kuliah kedoteran, abis itu nikah dan punya anak.

Sangat menarik bagaimana Stebby Julionatan menyelipkan kritik-kritik sosial tersebut di tengah cerita tanpa terkesan menggurui. Tidak ketinggalan, penulis juga memberikan inisial tokoh-tokohnya dengan nama-nama yang akrab di telinga (karrna masalah mereka), misalnya Gayus, Setnov, Saipul Jamil, dan lain-lain.

Rating

Membaca buku Sekong! karya Stebby Julionatan ini memberikan warna berbeda dari bacaan saya selama ini. Dan menarik sekali mengetahui hal yang tidak saya ketahui selama ini melalui novel. Walaupun mengangkat isu yang berat, cerita disajikan dengan ringan dan sangat menghibur. Jadi, tentu saja saya rekomendasikan buku ini buat teman-teman yang sedang mencari novel bertema LGBT. 3,5 bintang untuk buku Sekong! karya Stebby Julionatan.

Sekong!
Penulis : Stebby Julionatan
Penerbit : Basabasi
208 halaman
Terbit pertama, 1 Juli 2021
ISBN : 9786233053369

Demikian postingan kali ini. Bagaimana menurut kamu buku dengan tema-tema LGBT seperti ini? Apakah kamu pernah juga membacanya? Share cerita kamu di komen yaaa 😉




Monday, 6 September 2021

'Semangat, Tante Sasa!' Buku Terbaru Saya Akhirnya Terbit

Halo semuanya!
Hari ini saya super excited, karena editor kesayangan saya di Gramedia Pustaka Utama (GPU) mengabarkan kalau naskah saya udah ready dan siap meluncur ke aplikasi Gramedia Digital bulan ini 😍😍 

thessalivia

Pas denger kabar ini, saya rasanya pengen loncat-loncat dan teriak Aaaaaaaaaaa!!!! 😆


Buat teman-teman yang pernah baca di blog ini, mungkin sempat ingat waktu itu saya bilang naskah 40 Hari Menjadi Ibu udah dipinang sama GPU. Setelah melalui proses editing, naskah ini terbit dengan wajah baru berjudul Semangat, Tante Sasa! 😍 Buat yang sudah sempat baca di platform GWP, jangan ketinggalan untuk baca ulang lagi ya. Karena cerita versi terbit ini lebih kompleks, ada yang mengandung bawang, ada juga yang bikin ketawa-ketawa 😁

thessalivia
Blurb
Demi apa Sasita yang seorang wanita karier tiba-tiba diminta menjaga anak kecil? Sudah cukup hidupnya disibukkan dengan pekerjaan, sekarang harus memikirkan anak kecil pula. Sasita terpaksa mengorbankan kebiasaannya bersenang-senang sampai larut malam, kadang sampai mabuk, dengan teman-teman kantornya. Belum lagi Mama yang tidak memercayai Sasita sanggup mengurus Velisa, keponakannya, anak almarhum Kak Vania.
Mama tahu kebiasaan Sasita pulang malam, hura-hura, apalagi Sasita malah dekat dengan laki-laki beristri! Sasita sama sekali bukan contoh yang baik bagi Velisa. Kalau sudah begini, apakah tugas yang terpaksa Sasita emban justru akan semakin meretakkan hubungannya dengan Mama? Apakah Sasita sanggup memenuhi janjinya kepada Kak Vania?

Ada yang tertarik untuk baca? 😍 Karena kondisi, awalnya buku saya akan terbit versi ebook terlebih dahulu. Yang bisa kamu baca di aplikasi Gramedia Digital atau beli di Play Book. 

Buat kamu yang langganan Gramedia Digital, dan berminat membaca buku Semangat, Tante Sasa!, saya punya penawaran menarik buat kamu. Syaratnya cukup posting review buku ini di blog atau instagram, dan beri bintang di aplikasi Goodreads. Kalau kamu beminat mendapatkan tawaran menarik dari saya, komen aja alamat email atau akun instagram kamu ya. Nanti saya akan email penawarannya 😊.

Sekarang segitu dulu yaa.. Saya masih antara percaya ga percaya akhirnya bisa juga terbit di penerbit impian 😆 Kapan-kapan saya akan cerita proses lengkapnya (siapa tau aja ada yang penasaran kan 😅)

Ditunggu komen email atau instagramnya, yaa.. Atau komen-komen lain juga boleh banget. Hehehe.. 💖💖

(Postingan ini juga diikutkan posting bareng 1minggu1cerita dengan tema Congkak 😁)

Thursday, 2 September 2021

Rekomendasi Buku saat Swasunting Naskah Novel

Menulis novel tidak sekedar menuangkan ide menjadi sebuah cerita yang menarik. Menulis novel tidak lepas dari teori menulis itu sendiri, bagaimana membuat kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa yang baik, menulis kalimat yang efektif, kata yang tidak salah tulis dan berbagai teori kepenulisannya.

"Eh, yang penting kan cerita saya menarik, tata kepenulisan itu sih nggak penting..." 

"Penulis sih urusannya nulis aja, masalah tata bahasa sih serahin ke editor aja..."

Jangan sampai berpikiran seperti ini ya. Karena persaingan untuk menjadi penulis itu sangat-sangat ketat. Jadi, jangan lupa untuk selalu memberikan yang terbaik, salah satunya dengan menyelesaiakan naskah dengan minim kesalahan kepenulisan.

Sayangnya, teori menulis untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar itu sendiri jarang ditemukan. Banyaknya buku-buku biasanya membahas cara eksplorasi ide menjadi sebuah novel, atau membuat kerangka novel itu sendiri. Ilmu kepenulisan akhirnya harus didapatkan dengan mencari ceceran informasi dari berbagai website atau postingan orang, atau bahkan langsung dari KBBI.

Dari berbagai infomasi itu, biasanya dapat digunakan untuk swasunting dari naskah novel yang sudah dimiliki. Beruntungnya, walaupun tidak banyak, ada buku-buku menarik yang bisa kamu gunakan untuk pegangan saat swasunting naskah novel kamu. 

Baca juga postingan cara menulis novel dengan metode Save The Cat di sini

Berikut rekomendasi buku yang dapat menjadi pegangan saat swasunting naskah novel: 

 1. Recehan Bahasa oleh Ivan Lanin

Buku pertama yang saya rekomendasikan adalah buku ringan karya Ivan Lanin, berjudul Recehan Bahasa, Baku Tak Mesti Kaku. 

Pada buku ini, terdapat pembahasan tanda hubung yang benar, kata-kata yang mirip tapi artinya jauh berbeda, kata serapan baru yang masuk KBBI, dan berbagai hal menarik tentang bahasa lainnya. Menariknya, semua disajikan dengan ilustrasi yang membuat kita tidak bosan saat membacanya. 

"Kepintaran tenggelam karena keterampilan bahasa. Kedunguan gemerlap berkat kepiawaian bahasa. Kuasai Bahasa, Kuasai Dunia." Hal-75

Sebagai contohnya, pada salah satu bagian dijelaskan tentang beda penggunaan Namun dan Tetapi. Singkatnya, 'namun' digunakan untuk penghubung antar kalimat dan harus disertai koma. Sedangkab 'tetapi' adalah kata hubung dalam kalimat. 

  • Anak itu sebenarnya pandai. Namun, ia malas.
  • Anak itu sebenarnya pandai, tetapi malas. 
Kebayang kan bedanya? 

Selain contoh di atas, banyak lagi penjelasan yang berguna sekali saat kamu melakukan swasunting novel. Kekurangannya menurut saya, beberapa penjelasan terlalu singkat. Jadi agak susah untuk memahaminya. 

Baca juga : Hindari Hal Ini di 3 Bab Awal Novelmu!

Dengan manfaat cukup besar, harga buku ini juga cukup terjangkau. Di 50an ribu kalau saya beli waktu itu. Kalau saya, untungnya waktu itu beli pake hadiah bonus giveaway tebak-tebakan di blog Mas Rahul waktu itu 😁 Terima kasih banyak ya, Mas Rahul...

2. Editing 101 : Panduan Menyunting Naskah Novel oleh Jia Effendie


Buku berikutnya yang saya rekomendasikan adalah karya seorang editor senior, Jia Effendie berjudul Editing 101 : Panduan Menyunting Naskah Novel. 


Buku ini hanya tersedia versi ebook yang bisa didapatkan di playbook dengan harga 30an ribu kalau ga salah. Menurut saya, dengan harga segitu worhted banget sih, karena isinya 'daging' semua. 
Baca juga tulisan tentang Jia Effendie di : 3 Rekomendasi Blogger yang Suka Berbagi Tips Menulis
Walaupun bukunya tidak tebal, semua diulas lengkap tentang apa saja yang perlu diperhatikan dalam editing naskah. Tidak hanya dari tata bahasa, bahkan awalnya dibahas tentang tokoh, adegan, plothole, dan bagaiman membuat buku yang memunculkan simpati dan empati pembaca. 

Setelah itu baru dibahas tentang kepenulisan, seperti membuat kalimat efektif, pilihan kata yang tepat, ejaan, konjungsi dan banyak lagi yang lainnya. 

3. 101 Dosa Penulis Pemula oleh Isa Alamsyah


Buku berikutnya yang saya rekomendasikan adalah buku karya Isa Alamsyah, suami Asma Nadia yang sudah berpengalaman sebagai editor dan penulis selama bertahun-tahun. Ia juga merupakan founder dari platform menulis yang sedamg hits banget, KBM (Komunitas Bisa Menulis). Buat teman-teman yang tidak tahu, KBM ini sejenis wattpad tapi versi lokal. Buku yang saya maksud adalah 101 Dosa Penulis Pemula.



Buku ini dibandrol cukup lumayan ya, 90an ribu. Tebalnya pun sampai 318 halaman. Beda sama buku di atas yang hanya setebal 100an halaman. Sayangnya saya nyari versi ebook baik di playbook atau iPusnas juga belum ada. Dengan harga segitu, isinya super lengkap. Benar-benar membahas 101 kesalahan yang sering ditemukan dalam menulis novel.

  • Lima Dosa Utama: Pengulangan Kata atau Gaya yang Sama;
  • Lima Dosa Akibat Kalimat Tidak Efektif atau Tidak Selektif;
  • Empat Dosa dalam Ide;
  • Delapan Dosa dalam Judul;
  • Delapan Dosa dalam Opening;
  • Sembilan Dosa dalam Konflik
  • Sembilan Dosa dalam Ending;
  • Tiga Dosa dalam Detail;
  • Lima Dosa dalam Narasi atau Deskripsi;
  • Sebelas Dosa dalam Karakter;
  • Lima Dosa dalam Diksi dan Kosa Kata;
  • Tiga Dosa dalam Setting;
  • Sembilan Dosa dalam Dialog;
  • Empat Dosa dalam Poin of View;
  • Empat Dosa dalam Alur dan Plot;
  • Empat Dosa dalam Pesan; dan
  • Lima Dosa Terkait Mental dan Sikap Penulis
Semua ditotal jadi ada 101 Dosa 😆 Banyak yaa..  Super lengkap isinya. Kekurangannya, entah kenapa saya ga terlalu suka sama covernya aja. Hahahaha 😅 Subjektif sih ini.. 
Baca juga :  Buka-bukaan 10 Kesalahan Penulis Pemula dalam Menulis Novel
Banyak yang menggunakan buku ini sebagai panduan dalam menulis. Tapi saya pribadi lebih merekomendasikan buku ini saat swasunting. Karena kalau kita belum nulis, kadang suka ga akan sadar dengan dosa ini. Jadi teori sebatas teori dan cepat menguap. Tapi kalau kita sudah punya naskah, bisa sambil bolak balik bandingkan dengan teori yang ada di buku ini.

💖💖💖

Demikian rekomendasi buku yang bisa kamu gunakan saat swasunting naskah novel. Dari tiga buku di atas, mana yang paling menarik menurut kamu?

Tuesday, 31 August 2021

Bung di Banda, Novel Berlatar Sejarah karya Sergius Sutanto

Halo semuanyaa...

Bagaimana bulan Agustus teman-teman semua? Tidak terasa bulan Agustus sudah mau berakhir ya. Sebagai bulan kemerdekaan, banyak hal menarik di bulan ini. Yang paling membanggakan tentu saja perolehan emas oleh Greysia Polii dan Apriyani Rahayu di Olimpiade Tokyo 2020. 😍 Yang ikut nangis waktu lagu Indonesia Raya berkumandang di Olimpiade Tokyo tunjuk tangaann... ☝ 

Selain itu, ada beberapa lagu bertema Indonesia yang keren banget menurut saya tayang di Youtube di Agustus 2021 ini, seperti lagu This is Indonesia by Atta Halilintar dkk, dan Wonderland Indonesia by Alffy Rev (ft. Novia Bachmid). Sumpah ya, Indonesia itu indah banget... 

Bulan Agustus juga kurva covid udah semakin melandai, setelah bulan sebelumnya rumah sakit pada penuh. Belum lagi berita kehilangan silih berganti di terima, bahkan dari circle terdekat. Huhuh.. Mudah-mudahan Indonesia akan kembali bangkit yaa, dan berhasil keluar dari pandemi ini...

Karena masih dalam nuansa bulan kemerdekaan, saya punya rekomendasi buku bagus berlatar sejarah. Beberapa hari yang lalu saya beruntung dikirimi buku bagus oleh Penerbit Gagasmedia sebelum bukunya dilempar secara luas ke pasaran. Saking bagusnya, saya sampai nggak rela waktu menamatkan bukunya dan langsung nyari-nyari buku karya penulis ini yang lain buat dibeli. Buku yang saya maksud adalah buku berjudul Bung di Banda, karya Sergius Sutanto


Bung di Banda buku Sergius Sutanto

Blurb
Dari pengasingan demi pengasingan, Digul hingga Banda Naira, bagi Sjahrir, memikirkan Maria Duchateau, sang istri yang terpaksa dipulangkan ke Belanda, adalah kemewahan tersendiri. Surat demi surat pun ditulis kepada Maria. 
Di tengah harapan cinta yang semakin menggunung, cita-cita Sutan Sjahrir atas Indonesia merdea tak kunjung surut. Di Banda Naira, bersama Bung Hatta, Dokter Tjipto Mangoenkoesoo, dan Iwa Koesoema Soemantri, mereka menggagas ide kebangsaan, dan mendirikan sekolah informal, dan mereka mendidik masyarakat Banda untuk melihat dunia lebih luas.
Tidak mudah bagi keempat tokoh ini menjalani kehidupan di 'tanah pembuangan' Banda Naira. Mesi dikenal memiliki alam dan pantai yang indah, Banda Naira di era kolonial tak ubahnya 'Kota Mati' yang mengimpan misteri dan sejarah kelam serta serangkaian musibah yang mengintai. 
Bung di Banda menceritakan pergulatan empat tokoh menghabiskan waktu di sebuah pulang pengasingan-tempat sunyi untuk menyeam diri sendiri dengan persoalan masing-masing dan tak lupa bersama-sama memikirkan masa depan bangsa. 

Novel Berlatar Sejarah

Dari dulu, saya sangat lemah di pelajaran sejarah. Saya tidak betah berlama-lama membaca sejarah dan menghapalkan nama-nama, tempat dan tahun-tahun kejadian sejarah. Sekarang saya sadar akar permasalahannya, hal ini terjadi karena sejarah dulu dibungkus sebagai suatu hapalan rentetean peristiwa semata. Entah di sekolah lain, tapi di sekolah saya itu lah yang terjadi. Andai pelajaran sejarah lebih fokus menceritakan kejadiannya, penyebab dan latar belakangnya, apalagi dibungkus seperti novel, pasti akan pasti banyak anak yang berminat dengan sejarah.

Itulah yang ada pada buku Bung di Banda ini. Buku ini menceritakan kisah pengasingan Sutan Sjahrir dan Bung Hatta di Banda Naira, Maluku Tengah setelah dipindahkan dari pengasingan di Digul. Kisah dituturkan dari sudut pandang pertama, Sutan Sjahrir dalam bentuk sebuah novel. Walaupun novel, mayoritas kisah pada buku ini adalah kisah nyata. Bahkan terdapat selipan surat-surat yang memang ditulis Sutan Sjahrir sendiri selama di Banda. 

Mungkin penulis ingin tetap menyebut ini novel karena ada beberapa dialog atau penceritaan merupakan rekaan agar membuat cerita semakin mengalir. Agar tidak dianggap biografi juga mungkin ya.. 😆

Novelisasi kisah pengasingan Sutan Sjahrir bersama Muhammad Hatta, Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Iwa Koesoema Soemantri di Banda Naira, 1936-1942 
Cerita berdasar catatan dan dokumentasi tulisan para tokoh. Sebagian nama, tempat dan kejadian adalah nyata. Namun, sebagian lagi telah disesuaikan untuk kepentingan cerita.


Menariknya latar sejarah pada buku ini, membuat kita paham bagaimana pergerakan para pejuang sebelum Indonesia merdeka. Ternyata memperoleh kemerdekaan tidak melulu dengan mengangkat senjata dan perang kolosal yang saya bayangkan seperti di film-film. Ternyata Belanda justru lebih takut dengan pergerakan menggalakkan pendidikan seperti yang dilakukan oleh Hatta dan Sutan Sjahrir, gerakan agar pribumi memiliki hak yang sama untuk mengenyam pendidikan. 

Baca jugaPerawan Remaja dalam Cengkraman Militer by Pramoedya Ananta Toer

Pada buku ini kita juga akan mendapat gambaran bagaimana paham kolonial itu dilakukan. Bagaimana mereka menjadikan kita golongan rendah di tanah air sendiri. Sementara mereka dengan seenaknya mengambil kekayaan alam kita untuk kemakmuran mereka sendiri. 

Inlanders en honden geen toegang!  itu adalah kata-kata yang banyak bertebaran dimana-mana dulu di tanah air di masa kolonial. Menggambarkan betapa diskiriminatisnya kondisi di jaman kolonial. Kata-kata ini selalu membuat Sutan Sjahril mendidih saat mendengarnya. Artinya, anjing dan pribumi dilarang masuk. 

Kamu senang jika bangsamu dianggap sama dengan hewan? - hal 202

Bajak Patah Bantiang Tarambua

Bajak Patah Bantiang Tarambua adalah pepatah Minang yang sempat disebut Sutan Sjahrir di halaman 24, artinya kemalangan yang datang bertubi-tubi, dan harus disikapi dengan sabar. Itulah yang terjadi dengan Sutan Sjahrir. Baru saja ia menikah dengan Maria Duchateau, seoarang wanita berdarah Belanda-Prancis, ia harus mengalami kemalangan bertubi-tubi. Mulai dari penolakan dari pemerintahan Belanda yang mengatakan perkawinan mereka tidak sah, celaan dari kaum beragama tanah air karena ia menikah dengan orang luar. Maria akhirnya dipaksa balik ke Belanda, tidak lama setelah itu, Sutan Sjahrir ditangkap masuk penjara, kemudian diasingkan ke Digul, tidak lama setelah Hatta yang sudah duluan ditangkap. 

Saking jongkoknya pengetahuan sejarah saya, saya baru tahu kalau Sutan Sjahrir dulu sampai diasingkan 😅. Dulu saya kira, kalau ada yang bersebrangan dengan Belanda, maka akan masuk penjara. Tapi ternyata tidak seperti itu, mereka justru diasingkan ke tempat jauh dari Jawa. Bahkan diberi santunan untuk biaya hidup. Bukan, bukan karena Belanda itu baik, tapi agar mereka yang diasingkan tidak perlu bekerja dan banyak berinterksi dengan orang lain. Agar tidak menyebarkan paham-paham yang tidak diinginkan Belanda. Menurut mereka, itu adalah cara untuk membungkam orang-orang pergerakan tersebut. 

Belajar dari Orang Besar

Hal menarik dari membaca kisah nyata itu adalah bagaimana kita bisa mencuri hal-hal baik dari tokoh yang diceritakan. Pada buku ini, Hatta dan Sjahrir menjadi orang besar tidak semata-mata tiba-tiba muncul begitu saja. Begitu juga dengan Dr Tjipto dan Iwa, yang sudah duluan diasingkan sejak 8 tahun sebelumnya ke Banda Naira. 

Mereka menjadi hebat karena semua buah dari kerja keras, belajar dan pengorbanan mereka. Kalau mereka memilih mengikuti Belanda, mereka bisa banget hidup makmur sebagai antek kolonial. Tapi mereka memilih mempertahankan ideologi mereka karena mereka percaya Hindia Belanda itu layak merdeka. 

Selama proses pengasingan, mereka menyisihkan uang untuk membeli buku-buku mulai dari buku politik, ekonomi, sasta, ensiklopedia yang dikirim melalui kapal dari Batavia, Belanda, dan daerah-daerah lainnya. Bahkan waktu dari Digul ke Banda, Bung Hatta sendiri membawa 16 koper berisi koleksi bukunya. Itu masih banyak juga yang ditinggal di Digul untuk bisa dibaca teman pengasingan di sana. Mereka juga rajin menulis dan menjadi kontributor berbagai media cetak. Kok saya kebayang mereka itu di rumah aja, jauh dari Jawa, kayak kita yang sekarang yang lagi WFH ya 😁  Bedanya, mereka selama pengasingan membaca beratus-ratus buku, belajar berbagai hal, mengembangkan masyarakat Banda dan tetap berkontribusi untuk negara. Sedangkan saya? #eh 😅

Baca juga Mengajak Anak ke Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Bukittinggi 

Pengasingan juga tidak menyurutkan semangat mereka untuk berkontribusi untuk pendidikan. Mereka bahkan membuka sekolah informal untuk anak-anak di Banda. Mengajarkan berbagai macam hal, sampai berbagai bahasa asing. Karena kalau mau bersaing dengan kolonial, kata Hatta dan Sjahril kita harus paham dengan bahasa mereka.


Bung di Banda buku Sergius Sutanto
Buku Bung di Banda, dengan koleksi perangko Indonesia klasik dan gambar tema kemerdekaan bikinan anak saya Talitha

Sumpah saya kagum banget sama semangat para pahlawan ini 😭 I'm craving more about their stories...

Feodal dan kolonial sama-sama biang kerok penderitaan rakyat. Dalam masyarakat feodal, keturunanlah yang menentukan nasib seseorang, bukan keahlian dan kemampuannya. Hingga ana desa akan tetap terbelakang dari anak bupati atau kaum ningrat lainnya - hal 83

Film Dokumenter Bung di Banda

Penulis buku ini, Sergius Sutanto, adalah penulis dan sutradara film. Sebelum buku Bung di Banda, ia telah menerbitkan buku-buku lain berlatar sejarah yaitu HATTA: Aku Datang Karena Sejarah (Penerbit Mizan, 2013, terbit ulang 2018), MANGUN: sebuah novel (Penerbit Elex Media Komputindo-Gramedia, 2016), dan CHAIRIL: Ini Kali Tak Ada Yang Mencari Cinta (Penerbit Mizan, 2017). Membaca kisah Sutan Sjahril ini, saya juga makin tertarik dengan Hatta. Mudah-mudahan segera kesampaian untuk membaca bukunya yang lain. 

Selain buku-buku itu, ternyata Sergius Sutanto sudah sempat merilis film dokumentar Bung di Banda. Buat kamu yang penasaran dengan buku ini, bisa juga nonton film dokumenter ini. 


Rating

Wuaa, tidak terasa udah panjang aja tulisan ini 😀😆. Kalau nulis tentang buku bagus itu memang semangat sih, sampai semuanya ingin ditulis. Hehehhe..

Kesimpulannya, buku Bung di Banda ini sangat saya rekomendasikan untuk siapa pun agar bisa meningkatkan rasa cinta pada tanah air. Buku ini mengajarkan kita, begitu banyak orang yang telah berjuang dan berkorban agar negeri ini dulu bisa bersatu melawan kolonial untuk berhasil memperoleh kemerdekaan. Mereka saja dengan segela keterbatasannya tidak pernah patah semangat, apalagi kita di kondisi semua telah serba mudah ini. Semangat! Merdeka!! 

Selain tentang jejak kebangsaan, ada kisah kasih tak sampai Sutan Sjahrir dengan istrisnya Maria yang membuat pilu. Banyak yang mereka korbankan untuk bisa memperjuangkan bangsa, termasuk pasangan hidupnya. 

Jadi, 4.5 bintang untuk buku Bung di Banda karya Sergius Sutanto




Bung di Banda
Penulis : Sergius Sutanto
Penerbit : Gagasmedia
Cetakan pertama, 2021
ISBN 978-979-780-974-4

Demikian postingan buku bertema sejarah kali ini. Apakah teman-teman punya rekomendasi buku sejenis yang bisa saya baca berikutnya?


Saturday, 28 August 2021

Reportase Asik: Menjejak Literasi di Toko Buku London dan Edinburgh

Halo semuanya! Apa kabar? 😊

Ketemu lagi di postingan berlabel Resik, Reportase Asik Dunia Literasi. Yang akan membawa cerita seru tentang dunia literasi. Kali ini ada yang berbeda, karena kontributor Resik kali ini jauh-jauh dari United Kingdom 😍 Perkenalkan, Citra, teman saya yang luar biasa baik sampai mau direpotkan untuk berbagi cerita pada Resik kali ini. #pelukjauh

Baca juga: 
1. Reportase Asik Dunia Literasi Mei 2021
2. Reportase Asik Dunia Literasi Juni 2021
3. Reportase Asik Dunia Literasi Juli 2021

Sudah hampir setahun ini Citra tinggal di Edinburgh bersama keluarganya. Awalnya dalam rangka menemani sang suami yang menempuh studi di sana. Tak mau ketinggalan, sekarang pun Citra ikut kuliah S2 di Edinburgh 😍. Ternyata banyak cerita menarik selama meraka di UK, seperti tempat-tempat yang dikunjungi lengkap dengan sejarahnya, sampai pada kebiasaan orang-orang yang mereka temui. 

Kali ini Citra akan mengajak kita jalan-jalan ke toko buku menarik yang pernah dikunjunginya di Edinburgh dan London 😍. Yuk, kita simak...

Menjejak Literasi di Toko Buku London dan Edinburgh

Apakah benar masyarakat di negara maju suka membaca dan punya literasi tinggi?

Ada beberapa cara untuk mengetahuinya. Saya pribadi suka mengukurnya dengan cara mengamati perpustakaan umum dan toko buku yang ada di suatu daerah.

Kali ini, saya akan membahas mengenai toko-toko buku yang ada di UK (khususnya London dan Edinburgh).

Jumlah toko di UK yang didaftarkan secara resmi sebagai toko buku (tidak termasuk toko yang menjual buku hanya sebagai salah satu bagian/section) adalah 967 (lebih dari tiga kali lipat Indonesia). Tinggi sekali, ya?

Angka ini sebenarnya agak turun dibandingkan tahun 1995 yang menyentuh 1.894 buah toko. Mungkin karena beberapa tahun belakangan lebih banyak orang yang berbelanja secara daring (online).

Selama tinggal di UK, saya sering keluar masuk toko buku. Namun ada beberapa toko buku yang sangat berkesan sehingga saya abadikan di gawai. Berikut catatan saya:

1. Armchair Books, Edinburgh

Toko buku pertama adalah yang bertempat di West Port, Edinburgh.  Armchair Books adalah surga bagi mereka yang cinta buku namun tidak ingin menghabiskan uang banyak untuk membeli buku baru. Dari luar, ia tampak kecil. Namun ternyata menyimpan banyak koleksi, mulai dari buku modern sampai buku yang umurnya sudah lebih dari usia negara Indonesia.


Dengan koleksi buku klasik sebanyak ini, 
kira-kira kamu akan menghabiskan waktu berapa lama di sini? 😍

Bau khas buku tua langsung semerbak ketika kita membuka pintu toko. Saya teringat pada koleksi buku milik almarhum kakek yang sudah ada di surga.

Mata saya tertarik pada satu buku yang pernah (bahkan masih sampai saat ini) dilarang beredar di Indonesia: The Satanic Verses karya Salman Rushdie. Tapi koleksi toko ini tidak melulu klasik dan serius. Saya juga melihat edisi lengkap komik favourit masa kecil: Asterix.

2. Till’s Bookshop, Edinburgh

Toko buku second hand lain yang berkesan adalah Till’s Bookshop. Salah satu toko buku bekas tertua, yang bertempat di Newington, Edinburgh. Bangunannya cukup modern dan menarik dengan lay out yang sangat eye-catching. Para pecinta buku dijamin akan menghabiskan waktu lebih lama dari rencana. Bonusnya adalah penjaga buku disini sangat ganteng seperti Michael Buble!


Reading nook yang sangat nyaman

Seperti kebanyakan toko buku di UK, section utama adalah literature yang dipajang secara mencolok di bagian depan. Namun jangan terkecoh karena ada ruangan di belakang yang tak kalah menakjubkan. Di sini, kita dapat menemukan koleksi history, science dan psychology. Suasanya sangat homy, bahkan terdapat perapian lengkap dengan sofa dan bantal. Benar-benar membuat kita tidak ingin pulang.

3. Waterstone, Edinburgh

Kalau yang ini toko buku baru, Waterstone. Letaknya sangat strategis di pusat kota Edinburgh (Princess Street) dan berhadapan langsung dengan Edinburgh Castle. Jadi berkunjung ke toko ini memuaskan hasrat membaca sekaligus wisata!

Waterstone adalah jaringan toko buku besar yang tidak hanya ada di Edinburgh tetapi juga ada di berbagai kota lain di UK. Buku-buku disini tertata rapi sesuai dengan kategori. Ada empat lantai penuh buku yang siap memanjakan book lovers. Oya, di lantai teratas, ada cafe yang memiliki daya tarik tersendiri. Tips dari saya, beli secangkir kopi lalu duduk di kursi dekat jendela. Anda akan terpesona dengan pemandangan indah dari seberang.


Pilih buku atau cemilan? 
Atau dua-duanya? 😁

Waterstone memiliki loyalty progam untuk menarik pelanggan. Setiap pembelian akan diberi cap dan setelah mencapai kriteria tertentu Anda akan mendapatkan buku secara gratis. Wow, cara jualan yang wajib ditiru!

Baca juga tulisan tentang negara lain di:
1. Dari Rekomendasi Cerita Wattpad Sampai Cerita Tentang Jerman
2. 5 Buku Berlatar Paris yang Wajib Kamu Baca
3. Heidi dan Pegunungan Swiss Yang Indah
4. Menelusuri Kejayaan Islam di Spanyol Melalui Buku Menjejak Andalusia
5. Novel Nikah Muda dan Paris, Mimpi yang Menjadi Kenyataan

4. Hatchards, London

Jika berkunjung ke London, book lovers tidak boleh lupa untuk mengunjungi toko buku kebanggaan orang Inggris ini, Hatchards. Dengan usia 224 tahun (toko buku tertua di seluruh UK), tak heran jika banyak turis yang menyempatkan mampir ke toko ini. Bayangkan, toko buku namun terkenal sebagai tujuan wisata!

Mewah dan elegan adalah kesan pertama ketika mengunjungi Hatchards. Mungkin ini yang menjadi alasan mengapa royal family (halo Kate dan Meghan) menjadi pelanggan utama.

Toko buku langganannya royal family

Setiap kategori buku dikelilingi tulisan menarik. 
Biasanya kutipan dari tokoh terkenal yang terkait dengan topik di buku

Tak hanya kata-kata yang membuat melek mata, namun juga interior yang sangat indah. Tangga kayu yang kokoh nan rupawan menjadi pilihan saya untuk naik-turun toko (meskipun tersedia lift).

Oya, bagian buku anak-anak adalah favorit saya. Mengingatkan pada kamar tidur impian saya sewaktu masih sekolah SD.

5. Blackwells

Selain Waterstone, Blackwells juga merupakan toko buku yang lumayan terkenal dan gampang ditemukan di beberapa kota di UK. Yang berbeda dari toko buku ini adalah event rutin berupa book club dan bedah buku (dihadiri pengarang langsung). Sayangnya, selama lockdown kegiatan seperti ini dihentikan sementara karena mengundang kerumunan.

Namun belum lama ini saya melihat book club telah kembali hadir di toko buku Blackwells.

Salah satu event book club di Blackwells

📖📖📖

Saya amati bahwa hampir setiap rumah di UK memiliki mini library. Biasanya koleksi buku ini terlihat dari jendela ketika kita lewat di samping atau depan rumah mereka. Pemandangan seperti ini sangat mengesankan bagi saya orang Indonesia yang menganggap buku sebagai barang sekunder atau bahkan tersier.

Oya, satu lagi indikator kegemaran membaca warga Inggris. Mereka tak segan membagikan buku (secara gratis) ke siapa pun yang ingin membaca. Caranya adalah dengan mendirikan tiny library. Di sini, siapa pun boleh menaruh maupun mengambil buku tanpa dibatasi jumlah. Tentu saya tidak melewatkan kesempatan ini!

Dari semua pengamatan tersebut, saya akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa memang benar literasi di negara maju lebih tinggi. Hal ini kemudian berdampak pada pola pikir, tindakan dan pandangan masyarakat. Kebijakan pmerintah, misalnya, diambil berdasar pertimbangan logis dan ilmiah. Penduduk juga lebih taat peraturan karena paham maksud dan manfaat di balik aturan tersebut.

Semoga suatu saat nanti Indonesia juga bisa! 🇮🇩

📖📖📖

Bagaimana menurut kamu toko buku yang diceritakan Citra di atas? Seru sekali yaa 😍😍 Di antara semua daftar di atas, yang paling membuat saya penasaran adalah Hatchards, yang menjadi langganan keluarga kerajaan, dan koleksi buku klasik di Armchair Books.

Buat kamu yang penasaran cerita menarik Citra lain selama di UK, bisa kepoin Youtube Channelnya di sini atau instagramnya di @citra_dinie.

Kalau saya sih pengen ngomporin Citra buat bikin blog untuk menceritakan pengalamannya 😁. Hehhehe.. Apalagi baca tulisannya yang asik banget di atas. Yay or Nay? 

Sumber foto : koleksi pribadi Citra

Sunday, 8 August 2021

Adamina dan Akamu

Halo semuanyaa! 
Semoga semua dalam keadaan sehat selalu yaa..
Sekarang udah bulan Agustus, dan rencananya sampai akhir Agustus ini saya mau beresin naskah buat lomba TWS 2021 yang diadakan oleh Gramedia Writing Project. Sekarang ceritanya udah setengah lebih, dan saya mau spill bab 1 di sini 😁. Sekalian minta pendapat teman-teman semua dengan ceritanya ya..



Kisah dua orang remaja yang arti  namanya sama-sama 'bumi', dan sedang berjuang untuk masa depannya



Pertemuan Pertama

"Gue sih nggak masalah nikah muda. Bahkan kalau udah nemu yang cocok, nikah pas kuliah pun gue mau.”


Akamu sedang asik menggambar dengan ipadnya ketika mendengar suara cewek mengatakan itu. Ia otomatis berhenti menggerakkan stylus ipad dan menoleh ke arah sumber suara. Tidak jauh dari tempat duduknya, terlihat dua cewek sibuk menyusuri rak-rak novel remaja. Salah satu berambut pendek sebahu, dengan poni yang menurut Akamu terlalu tinggi. Membuat mukanya terlihat kekanak-kanakan. Akamu merasa aneh sekali cewek dengan muka baby face seperti itu sudah memikirkan pernikahan semenjak SMA.

 

No offense ya, Na. Gue itu agak skeptical gitu sama orang-orang yang mau nikah muda. Jaman sekarang gitu loh…” Teman di sebelah cewek itu menanggapi. Ia berambut panjang lurus dengan muka serba lancip. Semenjak Akamu menoleh beberapa detik yang lalu, setidaknya cewek itu sudah mengibaskan rambutnya tiga kali. Mudah-mudahan saja cewek itu tidak ketombean, bisa-bisa ketombenya berterbangan ke seluruh perpustakaan karena kibasan rambut bak iklan shampo itu.


Dua orang cewek itu terus berjalan semakin jauh menyusuri koleksi-koleksi novel. Saat suara mereka sudah tidak masuk ke radar pendengaran Akamu lagi, ia kembali menyibukkan diri dengan ipadnya. Jam pada ponsel Akamu di meja menunjukkan istirahat siang masih ada dua puluh menit lagi. Masih cukup waktu untuk menyelesaikan sketsa gambar hutan yang dibuatnya dengan aplikasi procreate di ipad.


Semenjak Akamu pindah ke SMA Gemilang enam bulan lalu, perpustakaan ini selalu menjadi tempat favoritnya. Ia tidak merasa perlu berbaur, selama memiliki tempat yang tenang untuk menggambar. Lagi pula, siapa juga yang mau berteman dengannya. Akamu, anak yang selalu dilabeli aneh oleh orang-orang sejak dulu.  


Akamu selalu duduk di tempat yang sama di jam istirahat. Kursi yang menghadap pintu masuk perpustakaan. Ia suka posisi itu karena dapat dengan bebas mengamati orang keluar masuk perpustakaan. Ia hapal siapa yang rutin ke perpustakaan untuk mencari buku, atau yang ke perpustakaan hanya untuk tidur ke pojokan. Atau beberapa siswa yang cekikikan bersama karena membaca buku dengan adegan dewasa yang tidak sengaja lolos dari seleksi pustakawan. Ada juga yang baru menginjakkan kakinya di perpustakaan pertama kali setelah sekian lama, seperti cewek berponi pendek tadi. Sedangkan temannya, Akamu tahu ia adalah penikmat novel-novel remaja dan setiap minggu rutin meminjam di perpustakaan. 


“Lo harus baca cerita-cerita jebolan Wattpad ini kalau lo memang berniat nikah muda. Gue tuh, literally baper banget baca buku-buku ini,” katanya sambil kembali mengibaskan rambut dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya kesusahan membawa lima novel. Mereka berdua muncul kembali, setelah hilang ditelan rak-rak yang tingginya sampai ke langit-langit perpustakaan.


“Mmm…” gumam si poni pendek. Tampak ia tidak terlalu memperhatikan karena sibuk dengan ponselnya. 


Mereka kemudian duduk di kursi sebelah Akamu dan meletakkan novel di meja di depannya.


Anggota perpustakaan hanya boleh meminjam dua buku dalam satu waktu, dan sepertinya mereka sedang sibuk memilih buku mana yang akan dibawa pulang. 


Si poni pendek akhirnya meletakkan ponsel di meja saat temannya memaksa untuk ikut membaca sinopsis di belakang buku. Tepat di sebelah ponsel Akamu. 


Which one ya, menurut lo yang gue pinjem sekarang?” Si muka lancip sepertinya anak Jakarta Selatan, yang ngomongnya suka dicampur-campur Bahasa Inggris. Gaya percakapan yang bisa bikin pendahulu Sumpah Pemuda menangis kalau mendengarnya. Padahal, apa susahnya sih pake bahasa ibu sendiri? 


Akamu kembali menggerakkan stylus di layar ipad. Bukan urusannya memikirkan dua cewek itu, apalagi memikirkan nasib keberlangsungan Bahasa Indonesia. Nyaris tenggelam dengan dunianya sendiri, Akamu sibuk tanpa terganggu dengan dua ocehan cewek di sebelahnya. Hutan ini harus terlihat gelap, sunyi, sekaligus juga magical. Jenis hutan yang akan membuat orang ketakutan, tetapi juga penasaran untuk memasukinya. Sekarang ia perlu mewarnai dulu setiap helai daun yang ada, untuk kemudian diberikan efek-efek kabut asap misterius. Akamu sedang menggoreskan warna hijau di pucuk-pucuk pohon ketika dikagetkan oleh suara tepat di belakang telinganya. 


“Wah, keren banget gambarnya!” 


Ketika menoleh ke belakang, Akamu lebih kaget lagi melihat si poni pendek berdiri sangat dekat tepat di belakangnya. Saking dekatnya, Akamu sampai dapat mendengar helaan napas cewek itu. Si poni pendek melihat ke layar ipad Akamu melewati bahunya.


Duh, apa tidak ada yang mengajarkannya bahwa tidak sopan untuk melihat punya orang lain tanpa izin?


Pandangan mereka bertemu, hanya sepersekian detik. Akamu panik, sedangkan cewek itu dengan santainya tersenyum kepadanya. Cewek itu juga tidak mengalihkan pandangan saat Akamu dengan gugup kembali menatap layar ipad. Seolah-olah menunggu Akamu mengatakan sesuatu setelah melontarkan pujian tadi.


Akhirnya, atas nama kesopanan, Akamu mengucapkan terima kasih atas pujiannya. Walaupun kata itu ia ucapkan dengan nada datar dan tanpa ekspresi. Bukan karena tidak suka dipuji, hanya saja ia tidak terlalu pandai menunjukkan ekspresi.


Cewek itu kembali tersenyum manis, kali ini sambil mengangguk. Ternyata selain wajahnya yang putih dan baby face, saat tersenyum semakin lebar ada lesung pipit yang muncul di kedua pipinya. 


“Na, kuy! Gue udah beres nih,” kata temannya dari meja pustakawan dengan dua buku di tangan. Tiga buku lain mereka biarkan berserakan di meja, tidak dikembalikan ke tempatnya.


Si poni pendek berjalan ke arah pintu keluar. “Gue duluan, ya,” katanya tersenyum ramah sambil melambai ke Akamu. 


Hati Akamu terasa tiba-tiba dialiri listrik saat melihat senyuman itu. Ada rasa yang ia tidak mengerti mengalir di darahnya saat jantungnya berdetak semakin kencang. 


Butuh beberapa menit bagi Akamu untuk mengumpulkan konsentrasinya kembali. 

Saat Akamu memberikan polesan bayangan warna gelap di daun-daun, -masih dengan dada berdebar tidak karuan-, seseorang kembali masuk ke perpustakaan. Akamu tidak menoleh karena jam istirahat segera habis dan masih banyak daun yang belum diselesaikannya. 


Sorry, hp gue ketinggalan…” suara si poni pendek itu lagi. Kali ini jantung Akamu nyaris copot dibuatnya. Sekali lagi cewek itu bersuara tiba-tiba begini, bisa-bisa Akamu harus segera mencari transplantasi jantung.


Sebenarnya Akamu tidak tahu cewek itu berbicara kepada siapa. Ia mengangguk pelan karena tidak ada orang lain di dekat situ. Jadi kemungkinan besar cewek itu memang berbicara kepadanya. Namun, Akamu mengutuk dirinya sendiri karena sepertinya anggukannya terlalu pelan karena kepalanya nyaris tidak bergerak. Entah cewek itu sadar atau tidak kalau ia sudah mengangguk. Ah, kenapa masalah anggukan bisa menjadi ribet seperti ini.


Cewek itu buru-buru menyambar ponsel di meja dan berlari ke pintu tempat temannya si wajah lancip menunggu.


“Kebiasaan deh lo, Na. Clumsy banget,” omel temannya.


Akamu sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi melanjutkan gambarnya. Ia akhirnya memasukkan ipad dan ponsel ke dalam tas, dan berjalan ke kelas. Tanpa sadar kalau yang dibawanya adalah ponsel yang salah. Ponsel cewek berponi pendek yang ternyata akan mengubah jalan hidup Akamu selamanya.  


💖💖💖


Demikian Bab 1, lengkapnya bisa dibaca di:

Adamina dan Akamu. Buat yang punya akun Gwp, saat baca sekalian minta bintang vote buat bab yang kamu suka yaaa 😘😘




Gimana menurut teman-teman Bab 1 ini? Apakah cukup membuat pengen lanjut baca bab selanjutnya? 😁