Tidak terasa kita sudah memasuki bulan terakhir dari tahun ini. Bagaimana dengan target membaca teman-teman tahun ini? Apakah sudah melampaui atau justru kalian tipe casual aja yang tidak menargetkan membaca?
Buat kamu yang masih mau menamatkan buku di tahun ini, saya punya rekomendasi tiga buku ringan yang bisa dibaca. ‘Ringan’ di sini bukan dari sisi isi ya, karena itu bisa sangat subjektif. Tapi ringan di sini maksud saya novel yang tidak terlalu tebal karena kurang dari 200 halaman. Hehehe.. Jadi kamu tidak perlu lama untuk menamatkannya. Walaupun bukunya ringan, saya rekomendasikan buku dengan banyak pesan moral di dalamnya. Ini dia listnya:
1. Ten Years Challenge by Mutiarini
Blurb
Agastya Renandi merasa hidupnya hancur. Pada usia 27 tahun, ia diputuskan sepihak oleh Diga, pacarnya sejak SMA. Otomatis, ia juga kehilangan pekerjaannya di perusahaan milik Diga. Atya merasa sendirian dan nyaris tak punya uang sepeser pun.
Reuni SMA yang diharapkannya bisa sedikit menghibur, malah berakhir dengan buruk setelah Atya melabrak Diga yang membawa pacar baru. Atya mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang dari reuni. Saat membuka mata dan melihat cahaya menyilaukan, ia berpikir dirinya pasti sudah mati. Namun, ia justru mengalami hal ajaib dan mendapatkan kesempatan untuk menjalani kembali masa SMA-nya.
Atya harus memperbaiki semua kesalahan yang diperbuatnya saat remaja. Ia pun berfokus mencari cara agar tidak kehilangan pacarnya yang sempurna. Namun, hidup selalu punya rencana tak terduga. Atya bimbang saat hatinya mulai terbuka pada pilihan lain yang terbentang di hadapannya.
Buku pertama yang saya rekomendasikan adalah karya penulis lokal bernama Mutiarini. Ini adalah karya debutnya yang baru terbit pertengahan tahun 2020 ini. Cerita mengisahkan tentang Agastya yang hidupnya sangat berantakan di umur 27 tahun. Diputuskan pacar, tidak punya pekerjaan dan tidak tahu harus melakukan apa dengan hidupnya. Beruntungnya, sebuah keajaiban terjadi yang membuat ia bisa mengulang kembali hidupnya 10 tahun yang lalu. Di saat kesempatan kedua itu lah ia mencoba memperbaiki hal-hal yang salah pada hidupnya.
Secara alur sebenarnya buku ini menurut saya terlalu cepat, terutama saat awal Agastya kembali ke masa SMA. Semua terasa terburu-buru membuat tidak ada konflik berarti yang membuat kita bisa menduga endingnya. Namun pesan moralnya dapet banget, tentang bagaimana kita harus menjadi diri sendiri tanpa ikut-ikutan orang lain, apalagi pacar. Jangan sampai mengorbankan mimpi yang kita punya demi orang lain yang belum tentu menjadi jodoh kita. Buku ini cocok sekali dibaca baik oleh pembaca yang masih SMA atau sampai ke pembaca yang sudah berumur, karena dari kisah Agastya kita belajar banyak tentang bagaimana hidup bergulir. Hal yang kita anggap sangat berarti saat sekolah bisa jadi sebenarnya tidak berguna, dan ada juga hal yang kita anggap tidak penting ternyata sebenarnya berdampak besar pada hidup kita. So, be wise with your time...
2. Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) by Murata Sayaka
Blurb
Dunia menuntut Keiko untuk menjadi normal, walau ia tidak tahu “normal” itu seperti apa. Namun di minimarket, Keiko dilahirkan dengan identitas baru sebagai “pegawai minimarket”. Kini Keiko terancam dipisahkan dari dunia minimarket yang dicintainya selama ini...
Sekarang saya merekomendasikan buku karya penulis Jepang yang berjudul Gadis Minimarket. Mengisahkan Keiko yang berbeda dari orang lain, dari kecil pun jalan pikirannya sudah ‘unik’ dan berbeda sendiri, membuat ia dicurigai mengalami masalah kejiwaan. Sampai ia disuruh ikut konseling. Saat dewasa pun Keiko tetap memiliki pemikiran yang berbeda, seperti bagaimana ia memutuskan tetap menjadi pegawai part time minimarket walau sudah berumur dan lulus kuliah. Bagaimana Keiko juga menganggap hubungan dan pernikahan itu tidak diperlukan, apalagi sampai punya anak.
Pada kisah Keiko ini kita diajarkan bagaimana stereotip sukses menurut orang pada umumnya. Hanya karena Keiko bekerja part time dan tidak menikah, membuat teman dan keluarganya mengira ia tidak bahagia dan ada yang salah dengan dirinya. Itu juga seolah-olah memberikan orang-orang itu hak untuk mendikte hidup Keiko yang seharusnya. Saya sedih sebenarnya membaca kisah Keiko, padahal ia hidup tidak pernah mengganggu dan merepotkan orang lain, tapi selalu aja dinyinyirin. Apa salahnya sih jadi berbeda?
Saya rekomendasikan buku ini tentu saja agar orang-orang dapat lebih peka dengan perbedaan. Tidak perlu memaksakan hal yang menurut kita bagus ke orang lain, mungkin saja kebahagiaan mereka memang sesimpel itu, kan? Seperti Keiko, bahagianya sesimpel mendengar pintu minimarket di buka pelanggan, atau bunyi gemercing mesin kasir.
3. Kim Ji-Yeong, Lahir 1982 (Kim Ji-Yeong, Born in 1982) by Cho Nam-Joo
Blurb
Kim Ji-yeong adalah anak perempuan yang terlahir dalam keluarga yang mengharapkan anak laki-laki, yang menjadi bulan-bulanan para guru pria di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diganggu anak laki-laki dalam perjalanan pulang dari sekolah di malam hari.
Kim Ji-yeong adalah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah mendapat promosi, dan istri yang melepaskan karier serta kebebasannya demi mengasuh anak.
Kim Ji-yeong mulai bertingkah aneh.
Kim Ji-yeong mulai mengalami depresi.
Kim Ji-yeong adalah sosok manusia yang memiliki jati dirinya sendiri.
Namun, Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia.
Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 adalah novel sensasional dari Korea Selatan yang ramai dibicarakan di seluruh dunia. Kisah kehidupan seorang wanita muda yang terlahir di akhir abad ke-20 ini membangkitkan pertanyaan-pertanyaan tentang praktik misoginis dan penindasan institusional yang relevan bagi kita semua.
Buku berikutnya adalah karya penulis Korea Selatan. Mungkin sudah banyak yang baca bukunya, bahkan udah nonton filmnya. Saya sendiri belum menonton filmnya jadi belum tahu perbedaannya dengan bukunya. Namun membaca buku ini, rasanya nano-nano banget.
Buku diawali dengan kisah Kim Ji-yeong yang telah memiliki suami dan anak. Ia tiba-tiba saja sering bertingkah aneh dengan bersikap menirukan orang-orang disekelilingnya. Sebelum keanehan terjawab, kita dibawa flash back dengan masa lalu Kim Ji-yeong yang bisa dikatakan cukup berat. Mulai dari ayahnya yang pilih kasih dengan adik lelakinya, kondisi sekolah yang juga berat sebelah dengan murid laki-laki, sampai kondisi yang tidak jauh berbeda saat ia mulai bekerja. Membaca ini membuka mata saya, ternyata kesenjangan gender itu nyata adanya. Wajar sekali kalau Kim Ji-yeong sampai depresi dibuatnya. Beruntunglah kita dilahirkan dengan kondisi yang jauh lebih baik. Keluarga yang tidak membeda-bedakan, atau mungkin buat teman-teman wanita yang sudah bekerja tapi memperoleh perlakuan setara sesuai kinerja (bukan gender), dan hal-hal lainnya. Jadi tentu saja buku ini sangat saya rekomendasikan agar kita bisa lebih bersyukur dengan kondisi kita yang sudah ada.
Demikian tiga rekomendasi saya kali ini. Apakah ada diantara buku di atas yang tertarik untuk kamu baca? Atau mungkin kamu sudah baca semuanya? Share di komen yaa..



