Friday, 4 December 2020

3 Rekomendasi Novel Ringan Penuh Pesan Moral

Tidak terasa kita sudah memasuki bulan terakhir dari tahun ini. Bagaimana dengan target membaca teman-teman tahun ini? Apakah sudah melampaui atau justru kalian tipe casual aja yang tidak menargetkan membaca?

Buat kamu yang masih mau menamatkan buku di tahun ini, saya punya rekomendasi tiga buku ringan yang bisa dibaca. ‘Ringan’ di sini bukan dari sisi isi ya, karena itu bisa sangat subjektif. Tapi ringan di sini maksud saya novel yang tidak terlalu tebal karena kurang dari 200 halaman. Hehehe.. Jadi kamu tidak perlu lama untuk menamatkannya. Walaupun bukunya ringan, saya rekomendasikan buku dengan banyak pesan moral di dalamnya. Ini dia listnya: 

 

1. Ten Years Challenge by Mutiarini



Blurb

Agastya Renandi merasa hidupnya hancur. Pada usia 27 tahun, ia diputuskan sepihak oleh Diga, pacarnya sejak SMA. Otomatis, ia juga kehilangan pekerjaannya di perusahaan milik Diga. Atya merasa sendirian dan nyaris tak punya uang sepeser pun.

Reuni SMA yang diharapkannya bisa sedikit menghibur, malah berakhir dengan buruk setelah Atya melabrak Diga yang membawa pacar baru. Atya mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang dari reuni. Saat membuka mata dan melihat cahaya menyilaukan, ia berpikir dirinya pasti sudah mati. Namun, ia justru mengalami hal ajaib dan mendapatkan kesempatan untuk menjalani kembali masa SMA-nya.

Atya harus memperbaiki semua kesalahan yang diperbuatnya saat remaja. Ia pun berfokus mencari cara agar tidak kehilangan pacarnya yang sempurna. Namun, hidup selalu punya rencana tak terduga. Atya bimbang saat hatinya mulai terbuka pada pilihan lain yang terbentang di hadapannya.

Buku pertama yang saya rekomendasikan adalah karya penulis lokal bernama Mutiarini. Ini adalah karya debutnya yang baru terbit pertengahan tahun 2020 ini. Cerita mengisahkan tentang Agastya yang hidupnya sangat berantakan di umur 27 tahun. Diputuskan pacar, tidak punya pekerjaan dan tidak tahu harus melakukan apa dengan hidupnya. Beruntungnya, sebuah keajaiban terjadi yang membuat ia bisa mengulang kembali hidupnya 10 tahun yang lalu. Di saat kesempatan kedua itu lah ia mencoba memperbaiki hal-hal yang salah pada hidupnya. 

Secara alur sebenarnya buku ini menurut saya terlalu cepat, terutama saat awal Agastya kembali ke masa SMA. Semua terasa terburu-buru membuat tidak ada konflik berarti yang membuat kita bisa menduga endingnya. Namun pesan moralnya dapet banget, tentang bagaimana kita harus menjadi diri sendiri tanpa ikut-ikutan orang lain, apalagi pacar. Jangan sampai mengorbankan mimpi yang kita punya demi orang lain yang belum tentu menjadi jodoh kita. Buku ini cocok sekali dibaca baik oleh pembaca yang masih SMA atau sampai ke pembaca yang sudah berumur, karena dari kisah Agastya kita belajar banyak tentang bagaimana hidup bergulir. Hal yang kita anggap sangat berarti saat sekolah bisa jadi sebenarnya tidak berguna, dan ada juga hal yang kita anggap tidak penting ternyata sebenarnya berdampak besar pada hidup kita. So, be wise with your time...

2. Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) by Murata Sayaka



Blurb

Dunia menuntut Keiko untuk menjadi normal, walau ia tidak tahu “normal” itu seperti apa. Namun di minimarket, Keiko dilahirkan dengan identitas baru sebagai “pegawai minimarket”. Kini Keiko terancam dipisahkan dari dunia minimarket yang dicintainya selama ini...

Sekarang saya merekomendasikan buku karya penulis  Jepang yang berjudul Gadis Minimarket. Mengisahkan Keiko yang berbeda dari orang lain, dari kecil pun jalan pikirannya sudah ‘unik’ dan berbeda sendiri, membuat ia dicurigai mengalami masalah kejiwaan. Sampai ia disuruh ikut konseling. Saat dewasa pun Keiko tetap memiliki pemikiran yang berbeda, seperti bagaimana ia memutuskan tetap menjadi pegawai part time minimarket walau sudah berumur dan lulus kuliah. Bagaimana Keiko juga menganggap hubungan dan pernikahan itu tidak diperlukan, apalagi sampai punya anak.

Pada kisah Keiko ini kita diajarkan bagaimana stereotip sukses menurut orang pada umumnya. Hanya karena Keiko bekerja part time dan tidak menikah, membuat teman dan keluarganya mengira ia tidak bahagia dan ada yang salah dengan dirinya. Itu juga seolah-olah memberikan orang-orang itu hak untuk mendikte hidup Keiko yang seharusnya. Saya sedih sebenarnya membaca kisah Keiko, padahal ia hidup tidak pernah mengganggu dan merepotkan orang lain, tapi selalu aja dinyinyirin. Apa salahnya sih jadi berbeda? 

Saya rekomendasikan buku ini tentu saja agar orang-orang dapat lebih peka dengan perbedaan. Tidak perlu memaksakan hal yang menurut kita bagus ke orang lain, mungkin saja kebahagiaan mereka memang sesimpel itu, kan? Seperti Keiko, bahagianya sesimpel mendengar pintu minimarket di buka pelanggan, atau bunyi gemercing mesin kasir.

3. Kim Ji-Yeong, Lahir 1982 (Kim Ji-Yeong, Born in 1982) by Cho Nam-Joo



Blurb

Kim Ji-yeong adalah anak perempuan yang terlahir dalam keluarga yang mengharapkan anak laki-laki, yang menjadi bulan-bulanan para guru pria di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diganggu anak laki-laki dalam perjalanan pulang dari sekolah di malam hari.

Kim Ji-yeong adalah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah mendapat promosi, dan istri yang melepaskan karier serta kebebasannya demi mengasuh anak.

Kim Ji-yeong mulai bertingkah aneh.

Kim Ji-yeong mulai mengalami depresi.

Kim Ji-yeong adalah sosok manusia yang memiliki jati dirinya sendiri.

Namun, Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia.

Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 adalah novel sensasional dari Korea Selatan yang ramai dibicarakan di seluruh dunia. Kisah kehidupan seorang wanita muda yang terlahir di akhir abad ke-20 ini membangkitkan pertanyaan-pertanyaan tentang praktik misoginis dan penindasan institusional yang relevan bagi kita semua.


Buku berikutnya adalah karya penulis Korea Selatan. Mungkin sudah banyak yang baca bukunya, bahkan udah nonton filmnya. Saya sendiri belum menonton filmnya jadi belum tahu perbedaannya dengan bukunya. Namun membaca buku ini, rasanya nano-nano banget. 

Buku diawali dengan kisah Kim Ji-yeong yang telah memiliki suami dan anak. Ia tiba-tiba saja sering bertingkah aneh dengan bersikap menirukan orang-orang disekelilingnya. Sebelum keanehan terjawab, kita dibawa flash back dengan masa lalu Kim Ji-yeong  yang bisa dikatakan cukup berat. Mulai dari ayahnya yang pilih kasih dengan adik lelakinya, kondisi sekolah yang juga berat sebelah dengan murid laki-laki, sampai kondisi yang tidak jauh berbeda saat ia mulai bekerja. Membaca ini membuka mata saya, ternyata kesenjangan gender itu nyata adanya. Wajar sekali kalau Kim Ji-yeong sampai depresi dibuatnya. Beruntunglah kita dilahirkan dengan kondisi yang jauh lebih baik. Keluarga yang tidak membeda-bedakan, atau mungkin buat teman-teman wanita yang sudah bekerja tapi memperoleh perlakuan setara sesuai kinerja (bukan gender), dan hal-hal lainnya. Jadi tentu saja buku ini sangat saya rekomendasikan agar kita bisa lebih bersyukur dengan kondisi kita yang sudah ada. 

πŸ’–πŸ’–πŸ’–

Demikian tiga rekomendasi saya kali ini. Apakah ada diantara buku di atas yang tertarik untuk kamu baca? Atau mungkin kamu sudah baca semuanya? Share di komen yaa..


32 comments:

  1. Dari semua rekomendasi cuma yang ke-3 yang belom aku baca hahaha. Itupun karena aku udah nonton duluan filmnya jadi emang sengaja aku skip sih bukunya. Tapi emang ke tiga2nya ini jalan ceritanya itu bagus2 sih lumayan buat nemenin akhir tahun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klo aku malah sengaja ga mau liat filmnya soalnya penasaran sama bukunya, Mba Tika 😁
      Setuju, lumayan buat dibaca mana ga terlalu tebel lagi kan..hehehe.. πŸ˜†

      Delete
  2. Hmm kalau nggak salah ingat aku sering liat cover buku yang kuning itu di gramed tapi nggak pernah niat buat nyentuh, pas baca disini malah jadi penasaran ingin baca ceritanya juga🀧 Kebetulan lg butuh bacaan buat nemenin waktu2 senggang, tapi suka takut nggak selesai kalau halamannya terlalu tebal (belajar dari pengalamanπŸ˜‚). Hehehe.

    Makasyi rekomendasinya mbak Thessaa😍😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba Awl, buku Gadis Minimarket memang baru terbit tahun ini terjemahannya n sempet hype di Gramed πŸ˜† Unik mba ceritanya, dan ga terlalu tebel, cuma 150an halaman. Hehehhe.. Baca deh Mba 😊

      Sama2, makasii juga udah baca rekomendasi aku Mbaaa πŸ’–πŸ’–

      Delete
  3. Dari ketiga novel itu aku belum baca semuanya mbak, maklum ngga hobi koleksi novel.

    Kalo boleh disuruh memilih, mungkin aku ingin membaca Ten Year Challenge, soalnya aku suka genre kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahan. Mungkin agak mirip film happy death day kali ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 10 years challenge mnrt aku paling ringan ceritanya Mas Agus, santai. Nah klo Happy Death Day kan horor Mas, thriller bikin ketakutan, klo buku ini ga sama sekali. Hehehe.. πŸ˜†

      Delete
  4. Aku udah baca yang Gadis Minimarket, Kak πŸ™ˆ. Tapi bukunya kurang cocok buatku. Tipe-tipe kritik sosial gini, banyak hal yang tersirat jadi aku yang terbiasa membaca hal-hal yang gamblang, nggak terlalu mendapatkan "sesuatu" dari buku ini πŸ˜‚
    Kalau Kim Ji Yeong udah tahu isinya walaupun belum pernah baca karena udah kebanyakan baca ulasannya 🀣
    Tinggal Ten Years Challenge aja yang belum nih~ nanti kalau aku lagi ingin baca yang ringan-ringan, sepertinya buku ini cucok hahahaha. Terima kasih atas rekomendasinya, Kak Thessa πŸ₯°

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener Lia, walau bukunya tipis, cerita Gadis Minimarket banyak ngasi kritik sosial dan tersiratnyaa πŸ˜†πŸ˜†

      Aku krna berencana baca bukunya, ulasan2nya sering aku skip krna takut spoiler πŸ˜‚πŸ˜‚ Jadi pas baca buku Kim Ji Yeong lumayan bs menikmati. Banyakan keselnya malah, berasa greget gitu bgd kondisi cwek2 di Korea. Huhu..

      Iya Lia, 10 Years Challenge lumayan lah buat bacaan ringan, di Gramedia Digital ada kok 😁

      Delete
  5. Saya belum pernah baca yang pertama mba, hehehe, kalau yang dua dan tiga sudah semua 🀣 By the way, yang ke dua meski bukunya nggak begitu tebal tapi isinya lumayan berats 😁 However, justru saya sangat suka, mungkin karena saya pernah punya cita-cita mau kerja di minimarket hahahaha.

    Lucunya, sampai sekarang masih sering saya bahas ke pasangan πŸ™ˆ Entah kenapa, rasanya satisfying setiap bisa scan barcode barang. Makanya setiap di Korea, kalau belanja groceries, maunya scan sendiri, nggak ke cashier (ada bagian kita bisa scan mandiri), dan itu membuat saya jadi semakin ingin kerja di minimarket, minimal punya pengalaman. Though I know, it's hard πŸ˜†

    *Eh kok jadi curhat* hahahahaha. Eniho, terima kasih rekomendasinya mba, nanti jika ingin baca yang ringan (sama seperti Lia), saya akan coba baca yang pertama πŸ₯³πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuaaa aku baru taau.. Mba Eno ternyata punya kesenangan tersendiri dg minimarket yaa 😍 Wah keren di Korea bs scan sendiri ya? Kalau di sini kan kita cma bs nungguin kasirnya..

      Btw, buat isi dua terakhir memang lebih berat dibanding buku pertama. Apalagi bukunya semacam ngasi kritik sosial gt kaan..

      Masamaa Mba Eno, terima kasih juga udah baca πŸ˜‰

      Delete
  6. teteh ... makasih udah rekomendasikan blog aku ya
    love banget deh!
    salam semangat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 teeeh, aku udah lama jg nih ga mampir ke blog teh dewi.. Salam hangat jugaa 😘😘

      Delete
  7. Dari tiga buku di atas belum ada yang pernah saya baca dan sepertinya buku yang terakhir itu sangat enak buat dibaca

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa Mas, buku terakhir menurutku menarik banget buat kita tahu kondisi di Korea yg ternyata ga seindah K-Drama πŸ˜†πŸ˜†

      Delete
  8. baca novel di masa pandemi ini memang cocok banget yahh.. apalagi kalo ada versi ebook nya, makin betah deh walo di rumah aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener Mas. Itu aku semua bacanya ebook, ga punya buku fisiknya 😁 Aku baca di Gramedia Digital. Selain di Gramedia Digital, baca ebook juga bs diaplikasi Ipusnas walau jarang ada buku2 baru di sana..

      Delete
    2. walo begitu, jangan lupa untuk istirahat mata mba. nanti keasikan baca berjam jam bahaya juga Hehe

      Delete
    3. Iya nih Mas, terima kasih sudah mengingatkan Mas Intan. Kalau udah keasyikan baca memang suka lupa waktu nih. Hehe..

      Delete
  9. Aku dah lama nih gak baca" novel karna gak adanya waktu yang pas hehe
    Tapi kayaknya bakal di sempatin deh baca salah 1 novel di atas, biar nambah pengetahuan hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah cocok berarti mas, ini bukunya ga terlalu tebal. Jadi kalau berminat siapa tau bisa disempatkan. Hehehe.. ^^

      Delete
  10. Waaahhh saya pengen banget baca Kim Ji-young.
    Dari waktu filmnya masih beredar, saya udah kepengen banget, tapi pas waktu itu nyari di Gramed online nggak ada.

    Saya udah nonton sih filmnya, bagus, meski nggak bagusnya kebangetan.
    Beberapa orang bilang, filmnya agak beda dengan bukunya.
    Dan biasanya memang, bagusan bukunya hahaha.

    Oh ya, menarik banget nih reviewnya.
    Saya selalu suka membaca review buku dari seorang penulis buku, rasanya tuh lebih ke dalamnya pun dibongkar, meski hanya direview sekilas :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku inget pernah baca review film Kim Ji-young ini di blog Mba Rey.. Aku inget waktu itu Mba Rey juga sekalian menceritakan masalalu Mba Rey juga kan? dan bbrapa kesamaannya dg kisah Kim Ji-Young. Pada akhir buku ini memang disebutkan, banyak bgd yg merasa related dg kisah Kim, nah Mba Rey bisa salah satunya :)

      Nah kalau aku malah blm nonton filmnya, jd ga tau bedanya Hehehe..

      Wuaa, makasi banyak Mba Rey. Ini sebenarnya review singkat karena pengen berbabgi aja.. Alhamdulillah klo dianggap menarik.. ^^

      Delete
  11. Nomor satu aku sudah pernah baca...Yang belum 2 dan 3 tapi sepertinya saudaraku punya semua deh. Nah lumayankan jadi aku nggak perlu nyari2 lagi untuk membacanya Haahaaa..😁😁

    Makasih Mbak Thessa atas info novel menariknya😊😊 Karena terkadang baca Novel bisa jadi bahan inspirasi juga lho buat postingan blog. Meski yang kita posting bukan novel... Karena banyak sudut pandang yang berbeda dari buku kalau kita mau telusuri..😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah mantab klo ga perlu nyari2 lagi Mas Satria. Hehhe.. Aku malah ketiga buku ini ga punya fisikinya semua Mas, soalnya baca ebooknya di Gramedia Digital aja. :D

      Bener banget mas, baca novel itu bisa menambah inspirasi tulisan, ga hanya inspirasi nulis review tapi juga bisa inspirasi tulisan lain. Aku juga klo lg stuck nulis novel, aku pasti bakal baca banyak bgd buku untuk dpt inspirasi.. :D

      Delete
  12. Gadis minimarket aku penasaran :D. Ntr mau cari deh.

    Target baca buku ku tahun ini Alhamdulillah sih sesuai target :D. Setiap Minggu baca 1. Jadi optimis sampe tutup tahun bakal sesuai Ama targetnya.

    Utk THN depan mau ditingkatin, tapi ga berani juga sih mba. Krn walopun udah ga ngantor, tapi kegiatan lainku masih ada, takutnya malah keteteran baca bukunya :D. Tetep ajalah seminggu 1 buku :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gadis Minimarket bagus Mbaa. Aku feelingnya Mba Fanny kayaknya suka deh sama ceritanya. Soalny kaya bikin kita mikir gt.. πŸ˜†πŸ˜†

      Wah keren banget bs konsisten seminggu 1 buku Mba. Brarti klo dihitung2, setahun bisa 50an buku yaa.. Keren!
      Lanjutkan Mbaa.. Semoga thn depan ttp bs konsisten kaya gt 😍😍

      Delete
  13. Mba Icaaaa mau pinjem dong yang Gadis Minimarket, boleh gaaak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Justiiin maafkaan, tiga buku ini ca baca di Gramedia Digital πŸ˜†πŸ˜† Ca skrng soalnya langganan GD. Hahaha.. Ca pinjemin buku yg lain aja ya, bbrapa buku traveling yg kayanya Justin bakal syuka πŸ’–πŸ’–

      Delete
  14. Huaaa tertarik banget baca judul pertama dan yang kedua pastinya, karena udah direkomendasikan sejak bulan kemarin. Sayangnya pas event 12.12 di Gramedia aku kehabisan novel Gadis Minimarket hikss.

    Btw, tau nggak Mba Thessa. Aku tuh pernah kepikiran lho nulis plot cerita yang hampir sama dengan novel pertama πŸ˜‚ karena aku selalu ngerasa menyayangkan awal usia 20anku, jadi kalau ada kesempatan bisa mengulang tentu ingin diusahakan sebaik mungkin. Kalau dari review Mba Thessa, sepertinya untuk novel yang baru debut isinya cukup oke yaa. Aku catat dulu deh buat bacaan berikutnya :D

    Terima kasih banyak untuk rekomendasinya, Mbaa πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 Mba Jane, terima kasih juga udah baca rekomendasi aku yaa 😊

      Gadis Minimarket memang smpt hits bgd ya, wajar klo sampe kehabisan Mba. Hehehe. Soalnya ceritanya unik. Jarang2 kisah yg mengangkat orang dg karakter seperti Keiko.

      Wah Mba Jane smpet menulis cerita setipe 10 years challenges ini ya? Mnrt aku tema kembali k masa lalu ini memang banyak peminatnya ya. Dr film sampe buku2. Tp tiap cerita dikisahkan dg eksekusi beda2 jd ttp menarik buat diikutin. Ayo Mba Jane, semangat buat beresin ceritanyaaa 😍😍

      Delete
  15. Kalo acuannya ketebalan, kayaknya agak meragukan. Soalnya ada buku yang tipis, tapi isinya berat. Tapi saya yakin, standar kak Thessa pasti ngerti.

    Buku pertama sama sekali belum pernah saya dengar, buku yang kedua dan tiga sudah sering saya dengar tapi belum saya baca. Kayaknya cerita buku yang ketiga itu mayan depressed. Tapi ngga tau juga, belum baca soalnya 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener Mas rahul, jd ringan di sini bener2 harfiah, dr berat bukunya yg halamannya ga terlalu tebel. 🀣🀣 Abis klo dr isi, pasti tiap orang punya pendapat berbeda kaan..

      Iya sih Mas, agak depressed buku ketiga. Walau mnrt aku malah lbh depressed buku Gadis Minimarket. Karena dia bner2 dituntut menjadi orang lain n mnjadi sesuatu yg dia ga ngerti sama sekali.. Hehehe..

      Delete