Wednesday, 3 March 2021

Buka-bukaan 10 Kesalahan Penulis Pemula dalam Menulis Novel

Hai semuanya...

Tidak terasa kita sudah memasuki bulan ke-3 tahun 2021 ini. Padahal rasanya baru kemarin kita berganti tahun, eh tau-tau sudah mau masuk triwulan kedua. 😆

Seperti biasanya, setiap bulan saya akan share tulisan mengenai Tips Menulis. Kali ini tips yang akan saya share masih kolaborasi bersama Dimas Abi seperti postingan sebelumnya.

Baca juga 5 Tips Menerbitkan Buku di Penerbit Indie Vs Penerbit Mayor
Pada postingan kali ini saya dan Abi akan membahas tentang 10 kesalahan yang sering dilakukan oleh penulis pemula dalam menulis novel. Ada yang sadar melakukan kesalahan ini, tapi sayangnya banyak juga yang tidak.

Oiya, ini sebenarnya kesalahan yang dibahas lebih untuk penulis yang memang ingin naskah novel karyanya dilirik penerbit yaa.. Jadi, mungkin tidak begitu relevan dengan kamu yang biasa menerbitkan karya di media online seperti blog atau platform menulis. Karena seperti saya sendiri, kalau nulis di blog lebih seneng yang suka-suka, jadi suka lupa dengan kaedah kepenulisan yang benar 😆😅.


Apa saja kesalahan itu? Mari kita bahas satu per satu...

1. Terlalu percaya diri dengan naskah pertama

Setiap penulis pasti merasa tulisannya bagus dan luar biasa. Bahkan saat ide cerita datang dan dituangkan menjadi sebuah novel dengan mengebu-gebu, rasanya karya itu akan menjadi sebuah masterpiece. Mereka membayangkan cerita yang ditulis akan menjadi best seller, bahkan bisa mengalahkan Ika Natassa atau Tere Liye. Salahkan itu? Tentu saja tidak...

Saat ide itu datang, tuangkan saja semua yang ada di kepala langsung ke sebuah cerita. Langsung selesaikan sebelum semangatnya padam.

Langsung tulis semua, sebelun semangatnya padam.

Yang salah itu adalah, saat cerita itu baru jadi kamu langsung mengirimkan ke penerbit. Untung-untung kalau diterima, tapi kalau tidak? Jangan sampai saat semangat sedang tinggi-tingginya, ternyata kamu malah menerima penolakan demi penolakan. Akhirnya malah membuat kamu down dan tidak bersemangat.

Saya punya tiga tips untuk kamu yang sedang menyelesaikan naskah, apalagi naskah pertama:

a. Atur Ekspektasi
Jujur saja, persaingan untuk bisa menjadi penulis yang dilirik editor itu sangat-sangat ketat. Hanya sebagian kecil orang yang berhasil menjadi penulis best seller, apalagi langsung di karya pertama. Jadi, lebih baik atur ekspektasi dari awal. Kalau naskah pertama kamu ditolak, jangan menyesal karena sudah menulis itu. Jadikan itu ajang kamu untuk belajar lagi untuk dapat menulis dengan lebih baik.

b. Diamkan naskah setelah selesai ditulis
Setelah kamu selesai menulis sebuah novel sampai tamat, diamkan naskah seminggu atau dua minggu. Sementara itu, lakukan hal lan yang tidak berhubungan dengan menulis. Nonton film, baca buku, jalan-jalan, apapun yang menyenangkan. Setelah itu, baru baca lagi naskah pertama yang kamu buat. Dengan pikiran yang lebih segar, kamu akan menemukan kekurangan-kekurangan dari cerita yang mungkin sebelumnya tidak terlihat.

Atau bisa sambil ngemil cemilan enak kiriman temen-temen blogger 😍

Makasi Mba Jane, rindu sama Bali bisa sedikit terobati dengan cemilan ini. 
And thank you for the sweet notes 💖💖

Makasi cemilannya Mba Eno, tau aja saya orangnya manis kaya brownis #eh 😆 Lebih manis yang ngirimin padahal yaa..


c. Beta Reader
Selain mendiamkan naskah, kamu juga memerlukan beta reader. Beta reader adalah orang yang dapat kamu percaya pendapatnya untuk memberikan masukan dengan cerita, sebelum naskah novel kamu dipublikasikan. Dengan dibaca orang lain, bisa jadi ada masukan perbaikan yang mungkin buat kamu sendiri tidak terpikirkan sebelumnya.

2. Terlalu menganggap ide bagus adalah segalanya, dan mengabaikan tata bahasa


Banyak penulis yang mengeluhkan, "ide saya sangat bagus, cerita saya sangat bagus, tapi kenapa selalu ditolak penerbit?"

Salah satu kesalahan yang banyak sekali terjadi adalah mereka lupa kalau editor itu tidak hanya melihat ide cerita saja tetapi juga eksekusi ide itu sendiri, termasuk salah satunya tata bahasa yang baik.
Sehebat apapun ide cerita kamu, kalau bahkan baru halaman pertama typo sudah bertebaran dimana-mana, kalimat tidak lengkap subjek dan prediketnya, dan tanda baca tidak pada tempatnya, yakin deh baru halaman pertama editor udah males duluan buat lanjutin baca 😆 Boro-boro editor bakal baca sampe ke klimaks cerita...
Baca juga Tips Menulis Sinopsis Novel untuk Penerbit
Parahnya lagi, para penulis pemula ini ketika diberi masukan terkait ini, mereka merasa itu bukan masalah yang besar. Saya bukan ngomongin orang lain ya (walau banyak juga tulisan yang saya kasi masukan ini tapi malah dianggap angin lalu sama yang nulis, dan mereka lebih tertarik nanya masukan terkait isi cerita) , karena saya sendiri juga pernah di posisi ini 😂😂

Waktu saya belum memulai menulis novel, dulu saya suka menulis cerita pendek. Waktu itu saya pernah meminta Abi buat baca cerpen saya, dan komentar pertama Abi adalah "Masih banyak typo-nya, ya..." 
Inget ga, Bi? Dan bodohnya saya dulu tidak menganggap itu hal yang krusial 😅. Padahal Abi yang udah menerbitkan banyak buku di penerbit mayor pasti lah udah lebih paham masalah ini..
Makin saya belajar, saya mulai mengerti kalau ingin menjadi seorang penulis yang baik tidak cukup hanya dengan memiliki ide-ide fantastis, tetapi juga bagaimana mengerti cara menulis yang baik dan benar itu sendiri.
Oiya, salah satu tips kalau kamu merasa belum mumpuni untuk tata bahasa ini, kamu bisa hire editor independen dulu... Sambil kamu tetap belajar menjadi lebih baik.

3. Malas nenambah ilmu

Dulu saya pernah posting di tips menulis plot di sini, sebuah quote yang menurut saya cocok sekali dengan poin ini, yaitu:
The more you know, the more you learn, the more you realize how much you don't know.
Menulis sama dengan banyak hal lainnya, butuh belajar untuk menjadi lebih baik. Blessing in disguise, selama pandemi ini banyak banget kelas menulis online. Dari yang gratis sampai berbayar. Salah satunya kamu bisa ikut pantengin instagram alumni GWP 3 di @expertclassproject, atau ada juga tips yang suka dibagikan di instagram salah satunya ini: 




Selain itu, kamu juga bisa memanfaatkan clubhouse, media sosial yang lagi hits untuk mendengarkan sharing dari penulis-penulis terkenal.

Sedikit cerita, saya kebetulan punya grup alumni GWP 3. Banyak di situ penulis yang udah nerbitin banyak buku di penerbit mayor. Belum lagi setiap ada lomba, grup selalu tidak pernah sepi dengan ucapan selamat karena selalu ada anggota grup yang menang. Walaupun begitu, setiap minggu itu mereka selalu bikin dan ikut sharing session, kelas menulis, dll. Di situ kadang saya mikir, mereka yang sudah hebat-hebat aja masih semangat belajar lagi dan lagi. Masa saya yang cupu gini ga mau nambah ilmu, kan? 😆😅

Jadi tips nya, tetap low profile dan jangan merasa hebat duluan. Dengan begitu kamu akan merasa perlu untuk menambah ilmu terus.
Baca juga Backstory: Tips Menulis Novel dengan Karakter yang Kuat

4. Kurang membaca


If you want to be a writer, you must do two things above all others: read a lot and write a lot. - Stephen King

Menurut saya, penulis bisa banyak belajar dari membaca. Mulai dari gaya bahasa, eksekusi konflik, dan bahkan mengenal tipe tulisan-tulisan yang dilirik oleh masing-masing penerbit. Selain itu, membaca juga bisa memberikan inspirasi saat kamu mengalami writers blocks

Sayangnya, banyak orang yang bercita-cita menjadi seorang penulis, tapi paling males membaca. Bahkan bisa jadi sudah tidak menamatkan buku selama berbulan-bulan. Ironic...

Saat saya menuliskan novel If I Met You First lalu, saya menamatkan membaca sampai 6 novel saat writer's block 😆 Waktu itu saya mengalami kebuntuan ide karena konflik sudah beres tapi jumlah halamannya masih kurang dari yang disyaratkan penerbit. Dan ternyata dari banyak membaca, saya mendapat beberapa inspirasi tambahan dan akhirnya naskah bisa beres juga sesuai target. Yey 😆😆.

5. Gampang nyerah

Gampang menyerah ini bisa dalam banyak hal. Tidak hanya gampang menyerah dalam menemukan penerbit yang mau menerima naskah, tetapi yang sering terjadi justru adalah cepat menyerah dalam menyelesaikan novel.

Mungkin salah satu cara untuk mengatasi perasaan gampang menyerah adalah dengan ada support system yang bisa menyemangati. Baik keluarga maupun teman-teman.

Ide ada, semangat nulis di awal, eh abis itu naskah ga beres-beres 😆. Terasa familiar? Hehehe..

Ini biasanya karena menyerah duluan saat ada hambatan dalam menyelesaikan naskah. Mulai dari hambatan writer's block, atau yang lebih sering terjadi, hambatan berupa rasa malas yang sering saya alami 😆😅. 

Jadi, yuk kita semangat terus menulis. Jangan pernah menyerah mewujudkan mimpi 💖💖.

🐰🐰🐰

Setelah bahas 5 kesalahan penulis pemula dalam menulis novel di sini, kita lanjut membahas 5 kesalahan lainnya di blog Dimas Abi ya. Yuk, saya udah penasaran juga apa saja kesalahan lain yang sering saya lakukan sebagai penulis pemula. 
Baca juga tulisan di blog Dimas Abi: 10 Kesalahan Penulis Pemula 

 ðŸ°ðŸ°ðŸ°

Demikian tips menulis kali ini. Terima kasih sudah membaca 😉. Kalau menurut kamu, apa kesalahan yang paling krusial dilakukan oleh penulis? Share di komen yaaa 💖💖

 
 

31 comments:

  1. Wah, kafah sekali tulisan Thessa. Keren. Itu waktu aku komen banyak typo-nya, kamu pasti KZL. Wakakak.

    Kesalahan no 1 dan 2 tuh aku banget. Jadi inget, dulu draf pertamaku adalan novel remaja 250 halaman A4 spasi 1.5. Terkejut juga bisa nulis sebanyak itu dan langsung over pede, berasa bakal jadi the next Hilman. Hasilnya jelas sekali ditolaknya sodara-sodara. Alhamdulillah penerbitnya baek, berkenan ngasih reviu kekurangannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga kesel kok, Bi. Waktu itu heran aja, kok Abi malah fokusny ke typo, bukan ke ceritanya. 🤣🤣 Maaf ya bi, masih jaman jahiliah itu 😅

      Ngakak baca yg next Hilman, ca pun gt. Ngerasa bisa jd next Ika Natassa atau Ilana Tan 🤣🤣 Kita aminkan dulu aja bi. Hahahha..

      Makasi buat kolabs n sharing ilmunya yg seru ini bi 😊

      Delete
  2. Poin 3, 4 dan 5 saya banget tuh, jangankan nulis novel nulis cerpen aja kalau mentok langsung nyerah..hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau aku ngalamin dr poin 1 sd 5 semua Mas Herman 🤣🤣
      Ayo semangat Mas Herman, udah lama nih ga tayang cerpen baru. Aku menantikan update terbarunya nih, dan pasti banyak pembaca lain jg yg nungguin 😁

      Delete
  3. Jujur mbak, mksh byk ya, dari tulisan mbak ini setidaknya memberi saya masukan utk lbh baik lagi dalam menulis... soalnya saya jg punya rencana pengen bgt nerbitin yg namanya novel. ampe skrg naskah yg udh jadi msh saya pendam, blm punya keberanian utk mengirimnya ke penerbit...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 Mas, makasi juga udah baca yaa. Semoga bermanfaat 😊
      Wah keren Mas mau nerbitin novel. Mungkin bs cari beta reader buat baca naskahnya dulu sebelum dikirim ke penerbit, siapa tau abis itu keberanian buat ngirim jd makin tumbuh. Semangat 😁

      Delete
  4. Cepat puas memang racun. Bukan hanya untuk nulis novel, tapi untuk segala pekerjaan dan kegiatan.

    Kalo nulis, saya sebisa mungkin tidak tertekan oleh banyak aspek diluar diri saya. Dengan begini, saya jadi lebih gampang untuk nulis. Merasa hebat dengan ide mungkin fase orang yang mau nulis kak Thessa. Sayapun juga pernah demikian, dan mungkin sampai saat ini.

    Tipsnya keren kak Thessa, lanjut ke blog mas Dimas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju Mas Rahul, kalau udah cepat puas, khawatirnya jadi males buat menambah ilmu lagi..
      Nah klo merasa hebat itu ada positif n negatifnya, asal bs jd penyemangat dan tetap terbuka dg masukan harusnya tdk masalah ya 😆😁

      Makasi mas rahul.. Semoga bermanfaat yaa. Cus lanjut ke blog Abi 😁

      Delete
  5. Low profile high profit itu lebih baik daripada sebaliknya ya mbak. Nggak cuma di dunia kepenulisan, tapi juga di bidang lainnya.

    Bicara soal ekspektasi, tampaknya tidak berharap banyak di naskah pertama itu lebih bijak ya. Setidaknya kalau kepleset nggak depresi2 amat.

    Begitu ya mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju Mas Prima, low profile itu memang penting, ga hanya di bidang kepenulisan, tp jg buat semuanya..
      Yg penting usaha yg terbaik, ekspektasi disesuaikan saja. Yg penting tdk kehilangan semangat 😊

      Delete
  6. Alhamdulillah dapat ilmu bermanfaat lagi dari mbak thessa. 😃

    Kalo nomor 1 kayaknya sih aku ngga karena aku justru tidak pede, kalo nomor 2-5 nah itu kekurangan ku.😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah kalau bs bermanfaat Mas Agus 😆 Sama klo gt kita. Hehehe.. Saya juga masih melakukan kesalahan di atas Mas agus 😆😁

      Delete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. Wah bacaan yang sangat bermanfaat nih Mbak Thessa 🤩

    Dulu pertama saya nerbitin buku di Grasindo, saya nggak punya ekspektasi apa2. Malahan baru dua bulan ternyata udah dikabarin naskahnya diterima.

    Tapi pernah juga, pas ekspektasinya udah tinggi bakalan ada penerbit yang ngelirik malah ditolak2 terus 😅

    Mungkin perlu ngeliat timing juga ya pas ngirim naskah ke penerbit, kalo biasanya penerbit baru aja nerbitin novel yang ternyata temanya nggak beda jauh sama punya kita, biasanya ga jadi dilirik. Kecuali bisa menunjukkan apa yang membedakan naskah kita sama lainnya.

    Oh iya, sama cari tahu info penerbitnya sering nerbitin genre yang apa juga.

    Setuju juga, emang kalau udah selesai nulis jangan langsung menganggap semua udah selesai. Perlu ditinggalin dulu beberapa hari baru dibaca lagi, biasanya nanti jadi pada ketemu tuh kata-kata yang kurang pas dan ada tulisan yang sepertinya bisa lebih dikembangkan lagi.

    Ini juga kebawa kalau saya kalau nulis di blog, nggak bisa selesai langsung publish, nunggu beberapa hari dulu, baca ulang lagi.

    Bahkan kadang udah tayang beberapa hari, pas dibaca ada yang kurang pas atau typo saya masih benerin lagi 😅
    Kadang kangen sama ngeblog jaman dulu yang nggak terlalu merhatiin sama hal2 beginian, nulis langsung publish gitu 😁

    Maap ya jadi kepanjangan dan ikut2an bahas tentang nulis 😅

    Btw, Mbak Thessa juga bentar lagi novel barunya mau terbit di penerbit mayor yaa....

    Selamaaaat 🎉🎉🎉🎉

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah alhamdulillah klo bermanfaat Mas Edot 😊

      Terimakasih tipsnya Mas, dan udaah sharing n berbagi pengalamannya ya Ma Edot. Jd memang selain mengatur ekspektasi, kita hrs coba sesuaikan juga dg penerbitnya yaa.

      Aku malah senang jd bs berdikusi tntng kepenulisan. Apalagi dpt insight dr penulis keren kaya Mas Edot. Jd feel free untuk nulis sepanjang apapun 😆😁

      Amiin, doakan lancar ya Mas Edot. Udah dilirik n ttd kontrak, mudah2an bisa terbit dlm tahun ini 😆 Mas Edot jg selamat yaa bntr lg juga udah mau terbit karya baru..

      Delete
  9. saya belum berani mbak kalau nulis novel
    masih belajar nulis cerpen
    tapi memang cepat puas adalah bahaya
    terutama puas dengan alur ya
    pun saat menulis cerpen rasanya udah pas eh pas dibaca lgi ada aja yang bikin janggal
    dan tentunya mau belajar terus adalah kunci

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat Mas Ikrom.. Saya pun dulu juga mulainya dr nulis cerpen 😁
      Sama bangeet mas, pas ditulis kayanya udh pas. Eh waktu dibaca ulang ada aja kurangnya 😆 itulah pentingnya mendiamkan naskah dulu sblm dipublish 😁

      Delete
  10. Mba Thessaaa, aku mau nanya dong boleh nggak? XD

    Akutu seringnya begini nih. Udah nulis beberapa halaman naskah terus aku stop, niatnya untuk dilanjutkan besok. Nah, saat ingin melanjutkan cerita kembali, aku sering banget baca ulang dari awal terus salfok ngedit yang di awal cerita. Akhirnya naskah nggak lanjut-lanjut karena keseringan ngedit. Kalau udah begini ada tipsnya nggak sih, Mbaa? 😂 Soalnya greget juga sih padahal ingin melanjutkan cerita XD

    Terus masalah berikutnya adalah ketika aku malah kebanyakan baca buku. Pikirnya kalau banyak baca, ide saat menulis nanti pasti akan bertambah. Ehhh, yang ada malah nggak nulis-nulis karena terlalu banyak masukan dari buku-buku yang dibaca 🤣 ini penyakit normal apa gimana sih, Mbaaa? wkwkwk maaf yaa aku jadi curhat 😆

    Btw, aku simpan yaa tips dari Mba Thessa ini hihi <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuaa yg pertama itu aku bangeet mbaaa 😆😆 Apalagi bab awal itu bisa sampe berkali2 direvisi krna pas baca ulang ada aja yg ga pas.. hehehe..

      Tips aku buat dua hal itu ini Mba Jane : punya time keeper dan kerangka cerita.
      Kalau Mba Jane udah punya kerangka yg kuat, biasanya ga akan terlalu terpengaruh sama buku2 yg dibaca. Trus aku jg biasanya pas beresin naskah, buku yg dibaca yg setem biasanya buat ngejaga vibe hati pas nulis biar senada seirama 😆
      Klo time keeper itu bisa siapa aja. Misalnya suami, tiap minggu hrs setor satu bab. Jdnya walau kita masi suka edit2 yg lama, bab baru jg ttp maju krna hrs setor k time keeper. Hehehhe..
      Klo aku pake dua cara itu Mba Jane, siapa tau bermanfaat 😊😘

      Semangaat beresin naskahnya yaa Mbaa 💖💖

      Delete
  11. Wah wah dapet lagi tips bagus dari kak Thessa. Poin terakhir ngena banget. Aku suka gampang nyerah di tengah, entah nyerah karena tulisanku gak bikin aku semangat atau niat aku bikin cerita masih setengah-setengah. Ini pengaruh ke tulisannya gak sih kak? Niatnya tuh kayak masih ngegantung,kadang masih terbawa mood, nulis suka-suka aja hahaha. Tapi emang niat aku bikin cerita belum sampe ada terbesit untuk nerbitin buku juga sih 😅

    Bahahaha aku sama kayak kak Jane soal masalah yang kedua. Sama banget. Tapi kalo aku kadang ditulis ide kasarnya spt apa tapi setelah itu yaudah aja, malah bingung sendiri. Btw kak izin simpan tipsnya ya, bahasanya kak Thessa enak banget dibaca hihihi 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga kadang gitu Mba Reka.. Kadang tiba2 blm ada mood buat beresin. Nah klo gt aku biasany loncat nulis k bab yg aku suka. Hehehe.. Atau baca banyak buku, dengerin musik yg setema, dll. Ntr klo mood udah balik baru lanjut lg.
      Tp tau ga Mba Reka, selama ini aku baru berhasil beresin 3 naskah novel, dan semuanya karena ada lomba 😁😅 Jadi hrs diberesin sebelum deadline lomba. Hahaha.. Klo ga ada deadline itu jg aku blm tentu bs beresin 😁
      Feel free to save mbaa, semoga bermanfaat yaaa 💖💖 Makasi Mba Reka 😊😊

      Delete
  12. Poin kedua. Aku setuju banget mbak... Jujur aja, kadang gatel liat tulisan yg bnyak typo nya, banyak yg ga sesuai kaidah Bahasa Indonesia. Masih ada yg ga bisa bedain. Mana di yg pake spasi, mana yg tidak. Padahal, alur ceritanya bisa dibilang cukup bagus..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama bangeet Mas Dodo, tooooss 😁 Kadang greget sendiri klo ada banyak typo di buku. Aku sendiri jg jauh dr sempurna, nulis di blog ada aja ketinggalan typo nya 😂😂 Tp klo buat naskah, sedapat mungkin hindari dan sesuai poin 3, jangan males belajar kaedah penulisan yg bener..

      Delete
  13. Jujur saya belum pernah menulis novel,..pasti capek banget ya mba karena novelkan banyak tuh tulisannya, kecuali memang hobi, tulisan mba ini bisa jadi panutan nih untuk penulis muda yang ingin menerbitkan novel, asik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cukup melelahkan memang mas, tp krna hobi jd aku malah menikmati prosesnya. Hehehe..
      Iya mas, mudah2an bermanfaat yaa 😊

      Delete
  14. Ulasan menarik nih mbak thessa untuk menambah wawasan tentang tata cara membuat novel atau cerpen.😊😊

    Meski saya pribadi bukan seorang penulis...Cuma ingin iseng menulis.🤣🤣🤣

    Ok thanks mbak Thessa tentang tips menariknya.😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 Mas Dahlan, semoga bermanfaat yaaa tulisan ini buat Mas dahlan yg iseng menulis 😁 Semoga keisengannya menghasilkan tulisan yg keren2.. hehehe..

      Delete
  15. Tips-nya menarik.
    Aku ikutan baca aja, karena merasa nulis cerita, apalagi novel bukan ranahku.
    Semoga berguna ya untuk yang sedang berjuang membuat karya lewat tulisan dalam bentuk buku.
    Nice share mbak Thessa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi Mba Dini, mudah2an bermanfaat buat yg lg berjuang sama tulisannya kaya aku. Hehehee.. 😁

      Delete
  16. Memang ya, yang namanya mau ngapain pun, termasuk nulis novel, gampang menyerah itu beneran bikin orang nggak pernah bisa mencapai apa yang diimpikan.

    Baru ditolak sekali, langsung mutung.
    Baru nemui kesulitan sekali, langsung ambil jalan lain.

    Hanya pejuang sejati yang mau berjuang hingga tuntas :D

    Btw, yang lucu juga, penulis tapi malas baca, trus apanya yang mau ditulis ya? :D

    Bahkan bukan penulis aja, kalau rajin baca, apa yang dia pikirkan maupun tertulis, selalu bagus dan anti mainstream :D

    Thanks ulasannya yaaa :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju Mba Rey. Pantang menyerah itu salh satu kunci dlm berbagai hal. Apalagi yg namanya hidup, pasti ga akan mulus2 aja, ada aja halangannya kan 😅

      Banyak loh mba, yg suka nulis tp ga terlalu suka baca. mereka nulis biasanys bener2 dr imajinasinya aja. Tp klo soal hasilnya mungkin akan beda ya sama yg suka nulis. walaupun itu ga bs dijadikan patokan juga. Hehehe..

      Masama mba reey. Makasi juga udah mampir yaa 😊

      Delete