Monday, 1 March 2021

Asmayani Kusrini, Penulis Novel Tentang Keluarga Campuran Etnis dan Agama

Halo semuanya! Bagaimana weekend kamu? Semoga akhir pekan kamu semua menyenangkan dan senantiasa diberikan kesehatan yaa πŸ’–πŸ’–

Akhir pekan saya juga menyenangkan karena berhasil menyelesaikan ngobrol santai dengan salah satu penulis. Kalau tempo hari saya posting tentang penulis luar, sekarang postingannya tentang penulis lokal, walaupun dia tinggal di luar negri. Yeeey, jadi kembali lagi di tulisan dengan label author 😁

Asmayani Kusrini

Sesuai janji pada postingan sebelumnya, kali ini kita akan ngobrol santai bareng dengan penulis Novel Siri' yaitu Asmayani Kusrini, atau yang pada wawancara ini akrab kita panggil Kak Rini.
Terima kasih untuk respon teman-teman pada postingan sebelumnya. Sekarang kita akan ngobrol santai membahas komen dan rasa penasaran teman-teman kemaren 😁. 
Baca juga postingan sebelumnya di : Novel SIRI', Sebuah Kisah Rumit tentang Cinta dan Kehidupan
Sebelum mulai ngobrol, yuk kita intipin dulu profile Kak Rini :

Asmayani Kusrini


Halo Kak Rini 😊
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk mengobrol 😁. Kita mulai dengan membahas novel Siri dulu, yuk.

Menurut Kak Rini sebagai penulisnya, sebenarnya novel SIRI' itu genre-nya apa sih? Karena ceritanya yang cukup kompleks, di postingan review tempo hari banyak yang main tebak-tebakan tentang genre-nya. πŸ˜† Ada yang menduga-duga mirip seperti cerita Detektif, ada juga yang bilang seperti genre thriller, bahkan ada yang menduga seperti history fiction. Aku sendiri menduga ini seperti drama dengan sedikit balutan romance. Jadi, genre novel Siri' itu apa dan sekaligus pertanyaaan dari Mba Eno, kenapa Kak Rini memutuskan untuk memilih genre ini?

Menurut saya, Siri' ini drama keluarga. Waktu menulis, saya tidak berpikir untuk memilih genre tertentu. Saya ingin menulis tentang keluarga campuran (etnis dan agama) dan masalah-masalah yang timbul karena keputusan-keputusan mereka.
Segala yang terjadi di Siri' (baik itu latar belakang sejarah, atau peristiwa yang dialami tokoh-tokohnya) ada karena tuntutan cerita dari tokoh-tokoh ini. Misalnya, mengapa kedua keluarga Bahjan dan Mayang menentang pernikahan mereka.
Tantangan ini tidak melulu karena mereka beda agama beda etnis, tapi juga ada alasan yang lebih berakar pada sejarah etnis Tionghoa di Indonesia, maka mau tidak mau, saya harus riset tentang etnis Tionghoa khususnya di Sulawesi Selatan. Demikian juga yang terjadi dengan Arimbi dan Samuel atau Arsyad dan Johanna, dan seterusnya.

Menceritakan kisah keluarga yang cukup kompleks ya, Kak Rini πŸ˜†πŸ˜†.

Dengan segala macam karakter, latar tempat yang beragam, kejadian-kejadian yang bersinggungan dengan dunia nyata, pasti dibutuhkan banyak sekali riset. Lanjut dengan pertanyaan dari Mbak Eno dan Mbak Ainun, berapa lama sih yang Kak Rini butuhkan untuk riset buku ini? Apa saja kendala saat melakukan riset?

Risetnya dilakukan sambil menulis. Jadi agak susah menghitung berapa lama waktu yang dihabiskan untuk riset. Saya mulai berpikir untuk menulis novel ini sebelum melanjutkan pendidikan master saya sekitar tahun 2014-2015. Sambil menulis sambil riset, khususnya tentang Papua dan komunitas etnis Tionghoa di Sulawesi Selatan. Kendala terbesar karena tidak banyak referensi buku tentang komunitas Tionghoa di Sulawesi Selatan dan karena saya tinggal di Brussel, saya harus merepotkan beberapa orang untuk bisa mendapatkan referensi yang saya butuhkan. 

Riset berarti memegang peranan penting dalam menyusun sebuah buku ya. Apalagi kalau kita ingin mengambil isu terkait kisah nyata. Setelah riset dan kemudian melanjutkan menulis, saya dan Mba Eno penasaran nih, apakah Kak Rini pernah mengalami writers block saat menyelesaikan novel ini?

Writer's block sering banget saya alami tapi menurut saya karena methode menulis saya yang serampangan. Saya menulis tidak memakai peta, tidak memakai rencana dan tidak terstruktur. Jadinya sering tersesat. Kalau tersesat, ya kena deh writer's block.

Pertanyaan dari Lia, apa yang menjadi inspirasi Kak Rini dalam menulis buku ini?

Saya selalu tertarik dengan isu-isu sosial budaya khususnya tentang identitas dan pertemuan / benturan / perbedaan budaya. Karena itu inspirasi saya bersumber dari ketertarikan terhadap isu-isu ini, Tokoh-tokoh dalam buku Siri' hampir semua mengalami dan menghadapi isu identitas yang berhubungan dengan lingkaran sosial budaya mereka.

Dengan mengambil inspirasi dari isu sosial budaya di sekeliling, Kak Frisca penasaran, adakah itu artinya cerita novel ini yang diangkat dari kisah nyata?

Sebenarnya setiap tokoh terinspirasi dari kisah nyata. Sebagian besar berdasarkan kisah dari teman-teman atau cerita yang aku dengar.


Wuaa, ternyata kejadian seperti Bahjan dan anak-anaknya ini memang ada kejadian yang mirip-mirip di dunia nyata yaa πŸ˜†

Pertanyaan berikutnya, apa alasan Kak Rini memilih Siri' untuk judul novel ini? Karena banyak yang salah, menduga Siri' yang dimaksud disini adalah nikah siri atau bahkan ada yang menduga siri yang ada di iphone πŸ˜‚

Seperti yang tertulis di kamus bahasa Indonesia, Siri' bagi masyarakat bugis adalah nilai-nilai mempertahankan harga diri dan martabat sebagai bagian dari anggota masyarakat. Nilai-nilai masyarakat yang dilanggar akan dianggap siri' (membuat malu, mencoreng nama keluarga).

Apa yang dialami keluarga Bahjan dan isu-isu yang diangkat dalam buku Siri' (termasuk kawin lari, ingkar janji karena menolak menikah dengan perempuan pilihan orang tua, hamil di luar nikah, korupsi, nepotisme, etc) adalah keadaan tertimpa malu itu. Karena itulah judulnya Siri'.
Menurut saya, menikah siri itu juga dilakukan untuk mencegah aib / menutup malu (siri') dan sering digunakan oleh banyak orang (walaupun tidak bisa disamaratakan) sebagai jalan mudah / jalan pintas untuk berhubungan dengan sah, setidaknya menurut agama.

Berarti kalau ada yang menebak tentang Nikah Siri' berarti tidak sepenuhnya salah juga yaa...
Sekarang saya mau menanyakan sesuatu yang agak personal, semoga Kak Rini tidak keberatan πŸ˜‰. Beberapa kali saya sempat melihat orang yang menyerah untuk menyelesaikan membaca novel ini, karena mereka menganggap terlalu berat. Saat mengetahui itu, apakah pernah Kak Rini merasa down atau menjadi tidak semangat untuk berkarya lagi?

Merasa down sih tidak. Saya maklum. Tanggapan-tanggapan pembaca justru jadi bahan renungan agar karya selanjutnya bisa lebih mudah dicerna walaupun mengangkat isu-isu sosial yang berat. Saya sedang belajar mengolah cerita dengan lebih baik lagi berdasarkan tanggapan dan kritikan yang saya terima.

Semangat terus Kak Rini!

Kak Rini, penerbit buku Siri' ini adalah MCL publisher yang merupakan penerbit Mayor baru, dan Siri' bahkan menjadi buku pertama yang diterbitkannya. Kalau boleh tahu, apa sih yang membuat Kak Rini yakin untuk menerbitkan buku di sebuah penerbit baru? Termasuk cerita singkatnya bagaimana bisa buku ini dipinang penerbit mayor sampai dengan terbit.
Karena pembaca blog ini selain teman-teman blogger yang senang menulis di blog, juga banyak temen-temen lain yang sedang berjuang menyelesaikan naskahnya agar bisa diterbitkan oleh penerbit. Jadi cerita Kak Rini bisa menjadi inspirasi mereka untuk semangat menembus penerbit mayor 😊

Saya kurang paham soal kategori penerbit mayor ini heheheh. Saya penulis baru dengan naskah yang (menurut banyak orang) tidak mudah dicerna. Ada penerbit (siapapun itu) yang mau menerbitkan buku ini saja saya sudah senang. Jadi saya tidak dalam posisi bisa memilih-milih penerbit. Naskah Siri' sampai di Mcl publisher itu sebetulnya kebetulan. Seorang kawan saya (yang punya synopsis dan tiga bab awal dari Siri') kenal dengan Ibu Ida pemilik Mcl publisher yang memang sedang mencari naskah baru. Ibu Ida membaca synopsis dan tiga bab itu, lalu meminta seluruh naskahnya. Beberapa hari kemudian beliau langsung bilang ingin menerbitkan. Syukuralhamdulillah.

Itu artinya memang rejeki bisa datang dari pintu mana saja ya. Jadi kita jangan pernah berhenti untuk berharap dan kerjuang πŸ˜‰

Apakah hal terberat dalam menyelesaikan novel ini. Apakah dalam proses riset, penulisan, mencari penerbit atau malah proses editing, atau justru proses promosi setelah terbit?

Seperti yang saya bilang di atas, walaupun memulai karir sebagai jurnalis, menulis fiksi adalah dunia baru bagi saya. Sebagai penulis baru, semuanya berat hahahaha. Menulisnya berat, mencari penerbit apalagi, dan promosi bahkan jauh lebih berat lagi karena saya pada dasarnya tidak suka bicara di depan publik dan saya tidak menyangka bahwa saya harus menjelaskan tentang karya saya setelah terbit. Hal yang paling berat juga (semuanya berat πŸ˜‚) menghadapi keraguan dan ketidakpercayaan diri terhadap naskah yang saya tulis.

Setelah ngobrolin buku, sekarang kita lanjut ngobrolin tentang kesibukan Kak Rini. Saya yakin banyak pembaca yang kepo siapa sih sebenarnya wanita hebat dibalik buku berjudul Siri ini 😁. 
Jadi, cerita dong tentang kesibukan Kak Rini sekarang...

Saya sebetulnya lebih suka disebut sebagai wartawan. Sampai sekarang saya masih menulis untuk media di Indonesia (walaupun sekarang makin jarang sejak pandemi). DI Brussel, saya kerja mengurus administrasi di sebuah perusahaan swasta. Selebihnya, saya biasa beraktivitas / mengurus / mengelola kegiatan seni di http://iniitu.net

Pertanyaan yang selalu saya tanyakan saat wawancara penulis di blog ini, please kasih kita 5 kata yang paling menggambarkan Kak Rini 😁


Asmayani Kusrini


Pertanyaan penutup nih Kak, apakah Kak Rini mempunyai pesan-pesan kepada pembaca blog ini baik tentang dunia literasi ataupun tentang perjuangan meraih mimpi?

Hmm, apa ya? Saya juga masih berjuang meraih mimpi hahahaha, jadi mari sama-sama berjuang πŸ˜‚πŸ’ͺ. 

Perbanyak referensi dengan membaca, menonton, mendengarkan, dan mengamati lingkungan sekitar, karena saya selalu yakin, selalu ada yang bisa dipelajari dari manapun.
Sebagai penutup, berikut salah satu tempat pada buku Siri'. Seperti yang pernah saya sampaikan di postingan sebelumnya, Buku Siri' banyak mengambil tempat, baik di dalam negri seperti Papua, Kepulauan Aru dan tentu saja, Buttabella di Sulawesi. Ada juga di luar negri seperti Yunani, pantai di Denmark, dan Amsterdam. Foto ini adalah sebuah tempat di Skagen (Denmark), tempat Ali Topan berada. Di pantai itu terdapat sebuah gereja yang sudah ratusan tahun tertimbun pasir. 


Demikian postingan author kali ini 😊 Kalau kamu, siapa penulis terkakhir yang kamu baca karyanya? 

26 comments:

  1. Yeyyy first komen lagi wowkwok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah keren juga yaa mbak Thessa bisa ajak ngobrol2 penulis novelnya. Kapan2 boleh deh aku ajak wawancara penulis Novel Nikah Muda πŸ˜€πŸ˜€

      Terus, dari wawancara ini aku bisa ambil kesimpulan. Bahwa si penulis ingin mengangkat isu ke masyarakat luas. Gini loh yg terjadi dgn etnis Tionghoa, dari sisi lain yang mungkin banyak orang awam sepertiku tidak mengetahuinya..

      Delete
    2. Asik Mas Dodo pertamax lagii. Yeeyy 😁😁 Memang gercep nih mas Dodo. Hehehe..

      Boleh mas, walau mungkin klo wawancara aku jawabannya ga akan sekeren penulis ini. Maklum ku masih penulis pemula πŸ˜†πŸ˜†

      Iya loh mas, keadaan dg etnis tionghoa apalagi saat kerusuhan 97 98 itu cukup menyedihkan sbnrnya. Dan penulis bs ngeramu itu jd konflik keluarga yg menarik..

      Delete
  2. Kak Rini sekarang tinggal di Brussels ya, pasti agak berat untuk riset buat novelnya karena jauh.

    Agar jalan ceritanya terasa realistis memang harus ada riset mendalam, baca buku buku dan lainnya. Berat juga jadi novelis, mendingan jadi blogger saja ya mbak.πŸ˜„

    Untuk mbak Rini, terus semangat dalam berkarya ya.πŸ˜€

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas Agus, lumayan buar riset masalah lokal klo lg tinggal di luar gitu yaa..

      Nah aku pun mikir gt mas agus, lbh enak jd blogger πŸ˜†πŸ˜‚πŸ€£ Nulis tinggal nulis, trus tinggal posting jg ga pake editor segala macem. Hidup blogger! Hahaha..

      Makanya aku suka kagum sama novelis2 dg karya mereka seperti Mba rini ini. Makasi mas agus, semangat juga buat mas agus dlm berkarya 😎

      Delete
    2. Entah mengapa, berkali baca Brussel, saya jadi ngiler pengen makan Magnum, wakkakakaka

      Delete
  3. huaaaa makin penasaran sama Bukunya, btw buku ini belum ada buku digitalnya ya kak? aku kira udah ada di iPusnas hehehe.

    Makin penasaran karena dari keseluruhan jawabannya cukup menjelaskan bagaimana cerita dalam buku ini, juga berkat ulasan yang udah kak Thessa sampaikan di postingan sebelumnya. Keren ya kak, sekalinya bikin novel, topik yang dibahas langsung berat kayak giniii.

    Terima kasih kak Thessa untuk tulisannya, aku banyak mendapatkan informasi baru seputar penulis dan proses mereka menerbitkan buku >< , segmen yang menarik banget kak! Nanti bakalan ada penulis lain yang mau kak Thessa wawancara gak? hehe

    oiya untuk penulis terakhir yang kubaca itu karyanya Albert camus ini baru banget selesai dibaca 2 minggu yang lalu. Kak Thessa pernah baca buku beliau?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya memang blm ada di Ipusnas Mba Reka, krna buku ini baru terbit akhir tahun lalu. Setau aku baru masuk di Ipusnas kalau udah agak lama terbitnya. Cmiiw πŸ˜†

      Iya, keren ya Kak Rini, novel pertama dan lngsng isu yg diangkat cukup berat.
      Masamaa Mba Rekaaa, aku jg makasi bgd Mba Reka udah ikut keseruan postingan ini. It means a lot for me. Jd makin semangat buat posting2 nih.
      Adaa, udah ada di antrian tp aku blm semper nulisnya 😭😭 Bocorannya, seorang penulis cerpen indie, akan berbagi tips menulis cerpen. Semoga segera bs nemu waktu buat nulisnya nih.. Hehehe..

      Albert Camus yg penulis jadul prancis itu bukan ya Mba Reka? Aku blm pernh baca karya2 dia.. Seperti menarik yaa buku2nyaa.

      Delete
    2. Woaah woah penulis cerpen indie?? Siapakah ini? Aku penasaran 🧐. Aku tunggu kak, semoga bisa cepat rampung ya kak hoho.

      Kak Thessa juga gak kalah keren lho, udah berani nerbitin buku itu keren banget! 😁
      Iyap kak betul dari Prancis. Bukunya tergolong absurd, berhubung dia juga filsuf sih. Aku juga baru pertama baca bukunya dia kak hahaha agak kaget sama tokoh utama dalam buku itu.




      Delete
    3. Amiin, makasii Mba Rekaaa. Jd maluu dibilang kereen, padahal aku mah apa atuh..Hhehehe πŸ˜†
      Wua lumayan absurb ya ternyata bukunya.. Jd penasaran jg pengen bacaa, tp mudah2an ga terlalu berat buat aku yg sukanya buku ringan2 aja. 😁😁

      Delete
  4. Waah keren Mba Thessa mewawancarai penulisnya jugaa πŸ₯Ί

    Aku jadi penasaran sama bukunya nih gara-gara baca-baca jawaban penulisnya nih. Apalagi dia tinggal di Brussels yang agak menyulitkan buat risetnya.

    Aku pun baru ngeh arti kata siri itu sebenarnya apa. πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuaa makasii Mba Eyaa, kebetulan dpt kesempatan aja buat ngobrol santai dg penulisnya. Hehehe..
      Jd penasaran ya mbaa.. Memang oke kok buat aku bukunya, siapa tau mba eya juga suka πŸ˜„
      Eh samaaa, aku juga baru tau arti Siri' ini pas udah baca bukunya loh. πŸ˜†πŸ˜†

      Delete
  5. Wah udah terbit ya post wawancaranya saya lupa nitip pertanyaan..hihihi. Tinggal di Brussels tapi menulis buku tentang Indonesia dengan topik yang berat pastinya menghabiskan energi yang sangat banyak, salut saya sama para penulis novel.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih Mas Herman. Kmren sekalian aku tanyain titipan pertanyaan temen2 lain. Insya Allah berikutnya bakal ada lg ngobrol bareng penulis lainnya. 😁

      Sama Mas, aku jg salut dg penulis2 yg bs ngangkat tema berat kaya Kak Rini ini..

      Delete
  6. Selamat buat Kak Rini yang novelnya udah terbit dan banyak jadi perbincangan temen2 blogger πŸŽ‰πŸŽ‰

    Emang niat banget ya bikin risetnya, walaupun lumayan susah, akhirnya bisa dapet juga info tentang etnis Tionghoa di Sulawesi

    Walaupun novelnya banyak yang bilang temanya agak2 berat, tapi kayaknya tetep sukses juga banyak pembacanya πŸ˜πŸ‘

    Salut juga sama perjanan jodoh ketemu penerbitnya. Bakalan jadi sejarah nih nantinya, sebagai buku pertama yang diterbitkan sama penerbit MCL Publisher πŸ‘πŸ‘

    Terimakasih postingannya Mbak Thessa, ini bisa jadi motivasi buat orang2 yang juga lagi semangat nulis pengen nerbitin buku juga. Tentang penerbit baru juga yang suatu saat nanti siapa tahu juga bisa jadi jodoh dari naskah kita πŸ₯Ί

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masamaa, terima kasih juga Mas Edot. Semoga bs jadi motivasi untuk penulis2 lainnya juga 😊

      Iya mas, walau berat, saya liat rating goodreadsnya malah masih nangkring di atas 4. Keren!
      Buku perdana dr MCL Publisher, jd bersejarah.
      Setiap naskah memang punya jodohnya masing2 yaa. Seperti naskah Mas edot yg tiba2 dipinang penerbit baru2 ini. Mantaab! Sukses selalu ya Mas edot 😁

      Delete
  7. waah..mbak thesa keren. Bisa menwawancarai penulisnya langsung. Salut mbak..hehhehe
    akku sangat tertarik ketika di bagian mengamati lingkungan sekitar.

    Menurut pengalamanku, bagian ini membuat sebuah cerita menjadi lebih luas, unik, dan mendalam. Terkadang orang yang ditemui menjadi bagian lingkungan yang kita amati. Bahkan orang-orang yang kita temui bisa menjadi objek yang layak untuk diceritakan. Setiap orang bakal punya ceritanya masing-masing..hehhehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, kemaren ada kesempatan buat ngobrol santai sama penulisnya. Makasi ya Mas Rivai... 😁

      Setuju Mas rivai, dg mengamati sekitar, kita jd bs belajar banyak. Apalagi kan tiap orang n kondisi bs sangat beda2 dg yg kita alami. Makanya aku kadang suka denger cerita2 temen2 atau baca pengalamnnya di blog krna dr situ banyak yg bisa diamati.. 😁

      Delete
  8. coba wawancaranya direkam dijadikan podcast mbaaak thesss, jadi kayak podcastnya Laila chudori nanti,.. *kasihide

    suka nih sama novel yang membahas issu sosial di masyarakat, aku abis baca juga yg berjudul damar kambang, khas banget budaya maduranya. Cerita kayak gini bagus buat membuka mata kita lebih lebar pada kehidupan sekitar yaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entah kenapa aku lbh nyaman ditulis Mba Ghina. Hehehe.. Masih blm pede buat bikin podcast atau malah video πŸ˜†πŸ˜†

      Damar Kambang ya? Wuaa aku baru denger. Jd penasaran pengen nyari juga 😍 Setuju Mba Ghina, baca yg seperti ini membuka mata ternyata banyak kebiasaan budaya lain yg kita ga tau yaa..

      Delete
  9. Waah akhirnya tayang juga pos hasil wawancaranya!!! #telat baca

    Seruuu banget bacanya!!! Padahal aku belom baca novelnya tapi aku jadi makin penasaran pengen baca hahaha

    ReplyDelete
  10. Hi Kak Thessa, maaf baru bisa meninggalkan komentar di sini padahal udah baca dari awal tulisan ini terbit πŸ˜‚

    Kak, terima kasih udah menyampaikan pertanyaanku πŸ€—. Aku suka deh dengan segmen interview seperti ini, sebab aku jadi bisa lebih mengenal latar belakang sebuah buku dan malah bikin aku jadi penasaran dengan isi bukunya lho 🀣 tapi mengingat buku ini cukup berat, kayaknya aku belum siap untuk baca sekarang πŸ˜‚
    Sisi menarik lainnya, cerita yang diangkat ternyata terinpirasi dari kisah nyata ya 😱 menambah keseruan isi cerita deh kalau tahu based on true story πŸ˜†. Sekali lagi, terima kasih telah mengadakan sesi interview seperti ini, Kak Thessa. Ditunggu interview dengan penulis lainnya 🀭

    Kalau aku, buku terakhir yang selesai aku baca adalah Cantik Itu Luka πŸ™ˆ. Semoga besok-besok, Kak Thessa bisa mewawancarai Eka K. πŸ˜† #ngarep

    ReplyDelete
    Replies
    1. No need to say sorry Liaaa 😘 santai ajaa.. Lia udah baca n ikut nitip pertanyaan aja aku udah seneng, apalagi sampe menyempatkan berkomentar. Makasii yaa 😍😍

      Iyaa, ternyata banyak yg dr kisah nyata kata Kak Rini. Seru memang, walaupun agak berat bahasannya. Hehehe..

      Wuaa doakan smoga kapan2 bisa wawancara Eka Kurniawan yaa. Hehehe.. Aku juga pengeen soalnya. (Mimpi dulu aja walau ga tau gmna cara realisasinya πŸ˜‚πŸ˜‚) Abis baca kumcernya, dan suka bgd sama tulisannya. πŸ˜†

      Delete
  11. Omaygad, baru sadar kalau saya kelewat post ini dan pertanyaan saya dijawab semuaaa. AKKKK πŸ˜† Thank you so much mba Thessa yang sudah menyampaikan dan mba Rini yang sudah menjawab. Mwah mwah 😍

    Saya jadi punya gambaran lebih deep sekarang bagaimana proses kepenulisan mba Rini hingga akhirnya bisa membuat sebuah karya yang bagus bangettt dan disukai banyak pembaca πŸ˜† hehehehe. Apalagi buku ini based on real story kan mbaaa, jadi semakin menggugah πŸ™ˆ

    Terima kasih banyak sekali lagi mba Rini dan mba Thessa, ilmunya sangat bermanfaat πŸ₯³πŸŽ‰

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku yg makasii mbaa enooo, udah ikut seru2an ngasi pertanyaan buat ngobrol bareng sama Kak Rini 😍
      Aku pun jg kesenengan sndiri tiap tau gimana proses dibalik terbitnya sebuah buku kaya gini mba. Hehehe.. Dan pas tau ada yg dr kisah nyata jd makin excited πŸ˜†πŸ˜†
      Semoga menghibur dan bermanfaat yaa mba enoo πŸ’–πŸ’–

      Delete
  12. Btw ya, saya tuh bacanya, dengan banyak pertanyaan di kepala, trus pas ketemu gambarnya gukguk, kok jadi blank semua ya, hahaha
    Kenapa pula ada gukguk unyu di situ, mencuri perhatian banget sih hahahaha.

    baiklah, saya cuman bisa menggaris bawahi di kepala, bahwa salah satu sifat penulis itu adalahhhh TUKANG MENGHAYAL hahahaha.

    Nggak heran dulu saya sering nulis dan bisa, sementara sekarang sulit buat nulis buku yang jalan ceritanya berurutan gitu, soalnya sekarang sama sekali ga punya waktu even buat menghayal hahaha.

    Padahal menghayal itu asyik ya? :D

    Komen apa sih saya ini, gara-gara si gukguk lucu nih :D

    ReplyDelete