Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

Sunday, 30 April 2023

Perbedaan Lockwood & Co Buku dan Film

Halooo semuanyaa!

Bagaimana libur lebarannya? Udah jalan2 kemana aja? Kalau aku udah cukup banget kemaren rasanya recharge enegi dengan libur hampir 2 minggu. Jadi udah siap menghadapi segala kesibukan kembali.. 😊
Bahagianya liburan kemaren, aku akhirnya berhasil nonton Netflix guuuyss! 🤣 Dengan segala kesibukan dengan keluarga, anak2, pekerjaan kantor, kuliah, dan nulis buku, buat aku bisa nonton itu adalah privilege luar biasa. Hahaha.. Apalagi bisa beresin nonton series. 😍 

Nah, film pilihan aku jatuh pada adalah Lockwood & Co yang diadaptasi dari novel seri fantasi karya Jonathan Stroud. Total ada 5 buku di series ini, dan ini adalah salah satu novel fantasi favorit aku banget..


Film Seri Lockwood & Co season 1

Film Lockwood & Co season 1 terdiri dari 8 episode, dan ini diangkat dari buku pertama dan kedua. Buku pertama berjudul The Screaming Staircase. Mengisahkan 3 orang remaja agen pembasmi hantu bernama Anthony Lockwood, George Cubbins, and Lucy Carlyle.



Latar tempatnya adalah London yang sedang ada "Masalah". Yaitu hantu yang tiba2 banyak dan berkeliaran, dan dibutuhkan agen khusus untuk mengusirnya. Biasanya agen yang mengusir adalah anak-anak dengan kemampuan supranatural khusus yang bisa mendengar, melihat atau merasakan hantu.
Jangan bayangkan mereka mengusir hantu dengan semacam ritual ya. Mereka adalah agen terlatih dengan sertifikasi, dan mengusir dengan menyegel 'sumber'. Sumber biasanya bisa dilawan dengan besi, ledakan dan garam.


Pada Screaming Staircase, kasus yang diangkat adalah saat trio ini mendapatkan job untuk membasmi hantu pada haunted mansion bernama Combe Carey Hall. Sementara mereka bertiga juga mencoba memecahkan misteri terbunuhnya salah satu artis teater.

Buku kedua, berjudul The Whispering Skull. Awalnya mereka hanya disuruh mengusir hantu di salah satu pemakaman.  Awalnya terlihat seperti kasus biasa yang tinggal segel sumber, tapi ternyata berlanjut dengan terjadi pencurian salah satu 'sumber' artifak penting. Dan berakhir mereka bertiga harus kejar-kejaran dengan pedagang relik gelap, berlomba dengan tim lain, dengan kondisi nyawa mereka hampir terancam.

Beda Buku dan Film

Secara keseluruhan, sebenarnya kasus yang diangkat itu sama. Tapi filmnya kerasa lebih buru-buru ya.. Dan ada beberapa adegan yang agak berbeda saat di film, misalnya gimana mereka pertama kali ketemu Flo Bones, atau keluarga Winkman, atau malah yang pertama kali Penelope Fittes yang super terkenal itu.
Romance antara Lucy dan Lockwood juga udah mulai kerasa sejak awal-awal. Padahal, kalau di buku itu baru kerasa di akhir-akhir series, itupun romance tipis-tipis banget. 


Kalau kena sentuhan hantu, bisa bikin hidup berakhir. Makanya Lockwood khawatir banget sama Lucy di sini 😍

Walau agak banyak perbedaannya, tapi karena kecil-kecil, menurut aku ga terlalu berubah signifikan ke ceritanya. Apalagi nih, pemilihan karakter Lockwood-nya cocok banget 😍.  Kalau kata Mba Ira, (yang aku setuju banget), semua kekurangan film ini ketutup karena kegantengan Lockwood. Hahaha..

Kebayang ga sih, bocah kaya gini dipaksa dewasa karena keadaan. Dia udah ga punya orang tua, bikin perusahaan pembasmi hantu sendiri, dan memikirkan gimana agency nya tetep jalan walau sering kena cobaan bertubi-tubi

Senyum tipis sombongnya persis kaya yang aku bayangin pas baca bukunya. Apalagi saat Lockwood mengayunkan rapier, sambil pake jas gitu, yaampun kereeen 💖.


Tapi, aku tetep mau bahas perbedaan buku dan film Lockwood & Co signifikan yang bikin aku greget banget, yaitu KARAKTER!

Perbedaan Karakter Lockwood & Co  antara buku dan film

1. George


2. Joplin


3. Skull


4. Kipps


5. Dan masiiih ada lagiii..


Selain perbedaannya, yang bikin aku suka sama series ini baik buku atau film adalah persahabatan trio Lockwood-George-Lucy. Mereka bertiga itu punya karakter jauh berbeda. Lucy si introvert tapi punya daya dengar hantu luar biasa, Lockwood dengan daya lihat dan karakter haus spotlight-nya 🤣. George si paling tekun buat nyari informasi dan literatur setiap mereka akan menjalankan kasus. Trio favorit aku setelah Harry-Ron-Hermione 😁


Diantara semua perbedaan itu, yang mana yang paling bikin kamu greget? 😆

Cerita di kolom komentar ya 😁

Eh satu lagi deh ini gif Lockwood buat mencerahkan hari 💖😍

big hug 🥺


Tuesday, 30 November 2021

Reportase Asik : Layangan Putus dan Kisah Nyata

Sudah akhir bulan lagi guys 😆😆 Artinyaaa, sudah waktunya reportase asiik (resik) lagii.. Hehehe. Reportase asik November 2021 kali ini akan membahas cerita yang sempat viral tahun 2019 lalu, dan sekarang difilmkan dan diperankan Reza Rahardian dan Putri Marino. Wuaaaa.... 

layangan putus kisah nyata

Layangan Putus, Bermula dari Grup Kepenulisan

Ada yang tau KBM (Komunitas Bisa Menulis) yang dikembangan oleh Asma Nadia dan suaminya? Sebelum KBM berbentuk platform menulis berbayar seperti sekarang, KBM adalah grup Facebook yang isi ceritanya tipikal cerita favorit ibu-ibu berkeluarga 😉. Pada tahun 2019, akun Facebook bernama Mommy Asf menerbitkan cerita bersambung berjudul Layangan Putus dengan tagar #kisahnyata #truestory

Ceritanya tentang seorang istri yang tiba-tiba ditinggalkan suaminya. Padahal ia dan suaminya telah memilki 5 anak, yang kecil masih baby lagi 😭😭.  Pada suatu hari suaminya menghilang beberapa hari, istrinya ngira suaminya mungkin ke Timur Tengah untuk jihad, apalagi suaminya memang tipe yang taat beragama gito loh. Ternyata dia abis nikah dan malah honeymoon sama istri mudanya ke Capodacia Turki doongg. Kesel ga tuh? Apalagi Capodacia kan salah satu bucket list saya.. #eh 😂😂 

Ceritanya sudah banyak berhamburan di internet, jadi saya tidak akan cerita lebih banyak lagi. Tanpa embel-embel kisah nyata saja, cerita seperti ini udah pasti banyak peminatnya di KBM. Ditambah lagi ada tagar #truestory, langsung viral lah cerita ini. Netizen juga dengan kekuatannya langsung bisa menemukan siapa suaminya dong, termasuk media sosialnya dan istri mudanya, dan akun Youtube suaminya yang isinya banyak kajian agama. Fuiiff. Luar biasa memang netizen Indonesia ini 😁.

Dijadikan Buku Berjudul Layangan Putus

Cerita Layangan Putus ini akhirnya diterbitkan menjadi sebuah novel dengan judul sama. Diterbitkan oleh penerbit RDM Publisher. Saya tidak tahu sesukses apa bukunya, karena saya sebenarnya belum baca semua. Cuma sempat intip awal-awalnya saja. Menurut saya lumayan rapi kok penulisannya. Settingan waktunya juga menarik karena bergantian saat ia masih sama suaminya, dengan kondisi setelah berpisah. 

Yang pasti, bukunya tidak membuat saya mengernyit bacanya kayak waktu baca cerita bersambung yang di KBM. Yang tanda baca dan Peubi-nya bikin jiwa saya meronta-ronta. Hehehe.. 😆😆 

Difilmkan dengan Pemeran Aktor Ternama

Tidak cukup diangkat menjadi buku saja, Layangan Putus akhirnya juga diangkat jadi mini seri oleh WeTV dan sekarang udah tayang 3 episode (dari yang rencananya 10 episode). Pemainnya juga nama besar semua, mulai dari Reza Rahardian, Putri Marino dan Anya Geraldine. 

Tapi kalau diliat-liat, jalan ceritanya agak beda sih. Kalau di bukunya, sang suami kan cukup agamais ya. Istrinya juga berkerudung. Anaknya udah 5. Sedangkan yang di film, suaminya lebih ga banget deh kelakuannya. Anaknya baru satu dan sekarang istrinya lagi hamil anak kedua. 

Layangan Putus dan Netizen

Viralnya ceritanya ini pasti tidak terlepas dari peran netizen. Mulai dari cerita ini di KBM, komennya udah penuh dari ibu-ibu yang kesal dengan sang suami dan prihatin dengan Mommy Asf. 

Mommy Asf padahal sudah sempat menghapus postingannya. Tapi apa yang sudah ada di internet akan selalu abadi 😆. Screenshoot-nya masih beredar dimana-mana. 

Ketika cerita ini difilmkan, netizen kembali heboh menyumpah-nyumpah sang suami. Bahkan postingan film ini di Facebook banyak dikasi emoticon anger 😆. 

Dan yang saya sayangkan sebenarnya adalaahh, tulisan ini: 

Mommy Asf bilang di ig story nya, cerita film ini banyak yang tidak sesuai kenyataan. Jadi netizen tidak seharusnya menghakimi suaminya, atau malah sampai memampang foto anak-anaknya 😢. Sedih ga siiihh... Bayangkan nanti anak-anaknya besar akan selalu diikuti oleh cerita masa lalu ayahnya, yang di-capture sebagai tukang selingkuh dan beradegan panas di kamar mandi seperti film Layangan Putus. Huhu..

Ini jadi pelajaran buat kita semua, sekali kita mengumbar cerita pribadi ke ranah publik apalagi internet, selamanya itu akan abadi. Kemaren saya sempat cerita tentang buku cerita tentang tim Buzzer yang bisa merusak hidup seseorang. Segitu besarnya memang dampak internet. Itu dilakukan orang lain. Apalagi jika dilakukan diri sendiri yang harusnya bisa mencegah hal itu. Jangan sampai emosi sessaat membuat kita gelap mata membagi cerita yang harusnya bukan milik publik. 

Ya, inti postingan Resik sekarang sebenarnya di bagian bawah ini, bukan review buku atau filmnya 😆. Saya bahkan tidak membaca buku Layangan Putus, filmnya pun hanya liat trailernya. 

Saya hanya ingin mengeluarkan uneg-uneg karena prihatin sama orang yang berkarya, tapi malah berujung dengan merugikan hidupnya. Saya tau banyak penulis (baik yang amatiran seperti saya, atau yang pro) main ke blog ini. Melalui postingan ini saya hanya mencoba mengingatkan, pikirkan baik-baik sebelum melempar karya ke publik. Pikirkanlah efek jangka panjangnya, buat kita dan anak-anak kita, buat keluarga kita. Misal kita sudah tidak ada di dunia ini, akankah karya itu malah membawa dampak baik atau buruk? 🤔

Demikian postingan Resik kali ini. Cerita yuk di kolom komen pendapat kamu, sebatas apa sih cerita pribadi yang bisa diceritain ke publik?

Saturday, 24 October 2020

8 Film yang Diangkat dari Buku Karya Roald Dahl

Ada yang udah nonton remake film The Witches yang keluar minggu lalu? Sebuah film fantasy anak yang diperankan oleh Anne Hathaway.
Melihat cuplikan film ini membawa memori saya ke beberapa tahun silam saat pertama nonton film The Witches di TV waktu saya masih SD. Dulu rasanya merinding sekali melihat wanita-wanita yang ternyata penyihir merubah seorang anak menjadi tikus. Beberapa tahun setelah menonton filmnya, saya menemukan buku dengan judul yang sama, The Witches karya Roald 
Dahl. Dari situ lah saya tahu ternyata film yang sudah saya tonton dari kecil ini diangkat dari sebuah buku.

Perkenalan saya dengan Roald Dahl berlanjt tidak hanya dengan buku The Witches, tetapi juga dengan buku Roald Dahl yang lain. Saya bahkan punya book set buku Roald Dahl dengan ilustrasi dari Quentin Blake. Buku itu duluu banget dibelikan suami saat masih pacaran. Saat dia liat ekspresi kagum saya melihat book set ini di Gramedia, dia langsung mengangkut bukunya ke kasir (tanpa nanya-nanya saya), bayar dan memberikan ke saya. 😍😍 Waktu itu saya pengen banget beli pastinya, tapi saya kok berasa sayang mau beli karena saya udah punya beberapa bukunya yang sama. Sedangkan si pacar waktu itu tahu banget kalau saya ga beli bukunya pasti kepikiran. Hahaha.  Kalau dipikir-pikir, ternyata dia memang sudah bakat so sweet dari dulu 😍 

buku film roald dahl
Book set Roald Dahl dari sang pacar 💖💖

Back to topic, buku-buku Roald Dahl itu imajinatif banget menurut saya. Sebagai pencinta fantasi dan buku anak, karya Roald Dahl wajib banget dibaca. Sebut saja ada kisah anak yang ke pabrik coklat yang ternyata sangat ajaib, atau saat kita bisa ke luar angkasa dengan elevator ajaib, berpergian menyebrangi lautan dengan buah peach raksasa, jari ajaib yang bisa merubah apapun, raksasa yang bisa menangkap mimpi dan banyaaak lagi yang lain.

Who is Roald Dahl?
Roald Dahl adalah penulis berkebangsaan Inggris. Ia lahir pada tahun 1916 dan meninggal di usianya yang ke 74 tahun. Salah satu yang  saya kagumi darinya adalah karena ia tidak saja berprofesi sebagai penulis, tapi dia juga adalah pilot pesawat tempur saat perang dunia. Ia juga sempat bekerja pada perusahaan minyak Shell di berbagai belahan dunia. Dan ia juga seorang atase. Wow! Jadi siapa bilang orang yang berprofesi lain tidak bisa menjadi penulis kan?

buku film roald dahl
Roald Dahl saat book signing bersama anak-anak di Amsterdam (1988)

Pada sela-sela waktunya bersama istri dan anak-anaknya, Roald Dahl menulis cerita-cerita luar biasa. Beberapa bukunya bahkan dikatakan memang terinspirasi dari anak-anaknya sendiri. Puluhan tahun sejak kematiannya, karyanya masih mendapat tempat istimewa di hati orang-orang. Sampai sekarang, bukunya telah diterjemahkan ke puluhan bahasa di dunia. Karya-karyanya juga banyak yang memperoleh penghargaan bergengsi.

Buat kamu yang tidak terlalu suka membaca, tenang saja. Kamu masih bisa kenalan dengan karya-karya Roald Dahl yang sudah banyak diangkat menjadi film. Yang terbaru tentu saja The Witches yang saya sebut di awal postingan ini.

Apa saja karya Roald Dahl yang sudah difimkan? Ini dia daftarnya :

1. The Witches

Buku ini mengisahkan tentang Charlie yang tidak sengaja mengetahui ada konferensi penyihir di hotel tempat ia dan neneknya menginap. Kebetulan nenek Charlie adalah orang Norwegia, dan orang Norwegia sangat tau tentang penyihir. Kata neneknya, salah satu hal menakutkan tentang penyihir adalah mereka sangat membenci anak-anak. Sehingga mereka sering menculik anak-anak untuk dilenyapkan atau diubah menjadi binatang. Jadi agar anak-anak tidak diincar oleh penyihir, lebih bagus untuk tidak mandi agar penyihir tidak bisa mencium bau anak-anakmu 😆
Pada konferensi penyihir di hotel itu, Charlie ketahuan dan kemudian diubah menjadi tikus, dan dimulai lah petualangan Charlie sebagai tikus untuk melawan para penyihir jahat.


buku film roald dahl

Film pertama tayang tahun 1990 dan sangat berkesan bagi saya karena penyihirnya digambarkan sangat tidak enak untuk dilihat. Seperti ciri-ciri pada bukunya, penyihir (yang pasti perempuan) mempunyai kepala yang botak, kaki yang kotak dan kuku kuku yang panjang. Waktu dulu menonton film ini waktu kecil, saya sempat takut dengan wanita berkepaka botak karena takut ia adalah seorang penyihir 😅

buku film roald dahl

Film ramake terbarunya tayang bulan ini dan katanya banyak menuai kritik akan kualitasnya. Bahkan akting Anne Hathaway pun dikatakan tidak maksimal. Tetapi saya tetap penasaran buat nonton. Ada yang udah nonton?

buku film roald dahl

Lebih serem ratu penyihirnya di film yang dulu sebenernya dari pada Anne Hathaway 


2. Matilda

Kisah ini menceritakan tentang seorang anak perempuan yang sangat pintar bernama Mathilda. Ia sangat senang membaca, namun dianggap aneh oleh keluarganya yang lebih suka menonton televisi. Walaupun anak kandung, dia selalu diperlakukan seperti anak angkat oleh orang tua bahkan juga oleh kakak laki-laki. Orang tuanya bahkan lupa untuk menyekolahkan dia saat umurnya sudah 7 tahun.  Parah memang orang tuanya 😂

Baca juga : 

Selain pintar dan suka membaca, ternyata Matilda mempunyai kekuatan ajaib seperti telekinesis. Awalnya di sekolah dia tidak diperlakukan dengan adil, sampai suatu saat dia bertemu dengan seorang guru yang baik hati bernama Miss Honey. 
Secara umum kisahnya seru, menggambarkan bahkan keluarga kandung juga bisa menjadi toxic loh. 
Film Matilda pertama kali tayang tahun 1996, dan bahkan sampai sekarang saya tidak pernah bosan menonton film ini.


buku film roald dahl

3. Charlie and the Chocolate Factory

Charlie and the Chocolate Factory bisa dikatakan adalah salah satu karya Roald Dahl yang paling populer. Bahkan sampai saat ini, film dari buku ini telah tayang dalam berbagai versi. Buku ini mengisahkan tentang petualangan Charlie, seorang anak yang miskin namun beruntung mendapatkan Golden Ticket dari coklat yang dibelinya. Ia dan 4 anak yang juga mendapatkan Golden Ticket kemudian diundang untuk factory tour di pabrik coklat milik Willy Wonka. Disinilah petualangan dimulai karena pabrik coklat Willy Wonka bukanlah seperti pabrik coklat pada umumnya. Coklat-coklat tumbuh dari pohon bahkan sungai yang penuh dengan coklat, rumput-rumputnya pun juga bisa dimakan 😍 Para pekerjanya pun bukan orang biasa tetapi kurcaci yang disebut dengan umpa lumpa. Membaca buku ini (dan menonton filmnya), membuat saya membayangkan andai ada pabrik coklat seperti milik Willy Wonka benar-benar ada, pasti seru sekali berpetualang di sana 😍😍
Film terakhir Charlie and the Chocolate Factory diproduseri oleh produser animasi terkenal Tim Burton dan dibintangi oleh Johnny Depp sebagai Willy Wonka


buku film roald dahl

Kelanjutan petualangan Charlie di pabrik coklat sebenernya dilanjutkan pada buku Charlie and The Great Glass Elevator, tapi sampai sekarang buku ini belum diangkat menjadi film.

buku film roald dahl

4. James and the Giant Peach

James and the Giant Peach adalah buku Roald Dahl paling favorit saya. Buku ini mengisahkan tentang anak yatim piatu dan harus tinggal dengan kedua bibinya yang sangat kejam dan menyebalkan. Pada suatu hari, seseorang memberikan James sebuah magic bean yang kemudian tumbuh menjadi pohon peach raksasa. Pada buah peach raksasa terdapat beberapa serangga yang tinggal di dalamnya. James kemudian berpetualang mengarungi lautan menggunakan buah peach bersama teman-teman serangganya sampai mencapai kota New York. 


buku film roald dahl
Buah peach dan serangga mengarungi lautan, benar-benar kisah imajinatif 😍

Buku ini telah diangkat menjadi film dalam bentuk stop motion musical pada tahun 1996.

buku film roald dahl


5. The BFG

BFG merupakan singkatan dari Big Friendly Giant. Buku ini mengisahkan tentang raksasa yang bisa menangkap mimpi anak-anak. Tidak seperti raksasa-raksasa lainnya, BFG ini sangat baik dan tidak suka memakan manusia. Raksasa itu berteman dengan seorang anak kecil yatim piatu bernama Sophie yang diambilnya dari sebuah panti asuhan.

Baca juga film yang diangkat dari buku lainnya di postingan  :

The BFG telah diangkat menjadi film yang diproduseri oleh produser terkenal Stephen Spileberg pada tahun 2016. Filmnya sendiri menurut saya sebenarnya bagus tapi entah mengapa terasa terlalu suram dan gelap, berbeda dengan film-film Roald Dahl yang lainnya yang terasa lebih ceria.


buku film roald dahl


6. Fantastic Mr. Fox

Mr Fox adalah seekor rubah yang tinggal di bawah tanah bersama istri dan anak-anaknya. Petani yang sudah tidak sabar karena hewan ternaknya sering dicuri oleh sang rubah mulai merencanakan perangkap untuk menangkap sang rubah dan keluarganya. Namun Mr Fox yang cerdik bersama dengan binatang-binatang lainnya bahu-membahu untuk melawan petani tersebut. Sebenarnya buku Fantastic Mr. Fox termasuk lebih lebih tipis dibandingkan buku Roald dahl lainnya, tetapi tetap saya ceritanya menarik. 
Film Fantastic Mr. Fox realease tahun 2009 dalam bentuk film animasi stop motion.


buku film roald dahl


7. Danny, the Champion of the World

Berbeda dengan buku-buku Roald Dahl lainnya, pada buku Danny, the Champion of the World ini tidak terdapat hal-hal ajaib seperti makhluk ajaib atau kekuatan magic. Buku ini menceritakan petualangan Danny bersama sang ayahnya, karena sang ibu telah lama meninggal dunia. Danny dan ayahnya mencoba memberikan pelajaran kepada seorang pria kaya yang berkarakter buruk pada acara  berburu burung pegar. Buku ini disebutkan Roald Dahl terinspirasi dari kehidupannya sendiri. Termasuk salah satunya caravan yang dijadikan tempat tinggal oleh Danny terinspirasi dari caravan yang berada di halaman rumah Roald Dahl sendiri. Walaupun tidak ada hal magical pada buku ini,  menurut saya temanya tetap menarik karena mengangkat tema keluarga. Selain itu, hubungan Danny dan ayahnya yang saling menyayangi sangat menghangatkan hati untuk dibaca. 
Buku ini telah diangkat menjadi film pada tahun 1989.


buku film roald dahl

8. Esio Trot

Berbeda dengan buku Roald Dahl lainnya, karakter pada buku ini bukanlah anak-anak tetapi merupakan orang yang telah berusia lanjut. Ini merupakan buku terakhir yang dipublish oleh Roald Dahl semasa hidupnya. Menceritakan tentang seorang pensiunan bernama Mr Hoppy yang jatuh cinta pada tetangga bawah apartemennya Mrs Silver. Mrs silver mempunyai peliharaan seekor kura-kura dan dia sering mengatakan kepada Mr Hoppy kalau kura-kuranya susah sekali untuk tumbuh besar. Mr Hoppy kemudian mengatakan dia mempunyai mantra untuk membuat kura-kura membesar. Ia kemudian memberikan kertas berisi mantra yang harus dibisikkan oleh Mrs Silver kepada sang kura-kura tiga kali sehari. Apakah mantra itu benar-benar bisa berhasil? Silahkan baca bukunya atau kamu bisa nonton filmnya film ini telah tayang pada tahun 2015 yang diperankan oleh Dustin Hoffman.


buku film roald dahl

Dari sekian banyak karya Roald Dahl, ternyata sudah banyak juga ya yang telah diangkat ke layar lebar. Apakah kamu sudah menonton semuanya? Kalau belum, film mana yang penasaran untuk kamu tonton duluan?


Sumber gambar 
Buku : koleksi pribadi
Foto Roald Dahl : wikipedia
Film : IMDB

Friday, 24 July 2020

Hujan Bulan Juni dan Akhir Pada Bulan Juli


Sebulan lebih blog ini tidak di-update. Karena saya sedang disibukkan dengan proyek menulis. Jangankan menulis blog, bahkan membaca buku saja saya tidak sempat. Saya akan menceritakan tentang proyek ini di postingan lain nanti. Kali ini saya mau menulis karya seorang sastrawan Indonesia, Sapardi Djoko Damono.

Akhir-akhir ini dunia literasi kembali berduka. Salah seorang penggiat sastra Indonesia, Sapardi Djoko Damono telah berpulang pada tanggal 19 Juli 2020. Seorang sastrawan yang sangat produktif sejak muda, sampai menutup usia di 80 tahun. Semasa hidupnya, ia aktif menjadi redaktur berbagai media, menerbitkan berbagai buku, menulis banyak sekali puisi, dan mengajar di beberapa universitas (guru besar UI dan mengajar di UKJ). Berbagai penghargaan pun banyak diperolehnya, baik dalam maupun luar negri.

Buku Sapardi Djoko Damono

Buku Sapardi Djoko Damono : Hujan Bulan Juni
Berita duka ini membawa saya kembali kepada buku karya beliau yang saya telah saya beli hampir 5 tahun yang lalu, Novel Hujan Bulan Juni. Buku yang diterbitkan saat beliau berumur 75 tahun. Wah, saya berharap bisa seproduktif itu nanti di usia senja.

Hujan Bulan Juni sudah terbit sebelumnya dalam bentuk puisi pada tahun 1994. Pada tahun 2015, Sapardi membuat novel yang terinspirasi dari puisi itu. Novel menceritakan kisah kasih Sarwono dan Pingkan. Sarwono adalah seorang pemuda Jawa yang menjadi dosen di UI. Pingkan adalah adik teman masa kecil Sarwono, juga dosen di tempat yang sama.

Buku Sapardi Djoko Damono


Konflik utama yang diangkat sebenarnya tidak banyak, intinya tentang Pingkan yang beda agama dengan Sarwono. Ada juga konflik lain tentang orang ketiga, tetapi menurut saya itu tidak terlalu berarti karena kuatnya cinta mereka berdua.

Konflik yang mungkin tidak banyak itu berhasil diramu menjadi cerita yang cukup panjang karena diselingi pemikiran-pemikiran tokoh yang puitis, penuh perumpamaan. Beberapa bagian bahkan saya tidak mengerti maknanya. Memang mungkin karena selama ini bacaan saya hanya dangkal-dangkal saja 😅 Selain itu juga banyak puisi-puisi karya Sapardi yang diselipkan di ceritanya. Buku tipe ini sebenarnya di luar zona nyaman saya, apalagi dari dulu saya tidak pernah bisa memahami puisi. Tapi ternyata, saya sangat menikmati membaca buku ini. Saya kagum bagaimana eyang bisa meramu cerita sederhana menjadi begitu kaya dan penuh selipan yang bisa menjadi bahan renungan.

Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar saputangan yang telah ditenunnya sendiri.
Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang.
Bagaimana mungkin. -halaman 66
Ending buku ini agak menggantung, karena memang buku ini sebenarnya adalah buku pertama dalam trilogi. Buku kedua berjudul Pingkan Melipat Jarak dan buku terakhir berjudul Yang Fana Adalah Waktu.

Hujan Bulan Juni juga sudah difilmkan pada tahun 2017 yang dibintangi oleh Velove Vexia (sebagai Pingkan) dan Adipati Dolken (sebagai Sarwono). Kurang lebih seperti bukunya, alur film terasa lambat. Durasinya pun cukup panjang, 1,5jam. Mungkin buat kamu yang suka film menantang tidak terlalu cocok dengan film ini. Sedangkan buat kamu yang suka hal romantis, pasti suka dengan film ini. Adipati pun melantunkan puisi karya Eyang Sapardi dengan sangat manis.

Buku Sapardi Djoko Damono

Untuk jalan cerita, terdapat beberapa perbedaan antara buku dan film. Di film konflik orang ketiga lebih ditonjolkan, seperti dengan Toar dan Katsuyo. Selai itu yang saya suka di filmnya adalah tempat-tempat indah di Manado, Gorontalo dan Jepang ditampilkan sangat cantik di scene nya.

Buku Sapardi Djoko Damono
Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Pada rintik bulan Juni, Sarwono terbaring tak berdaya. Pada bulan Juli, Sapardi Djoko Damono terbaring untuk selamanya. Terima kasih Eyang, sudah mewarnai jagat sastra Indonesia dengan indah.

Bonus video tiktok eyang dengan tim GPU 😁



Sumber foto :
Foto Sapardi Djoko Damono dari ig, edited by me.
Foto buku koleksi pribadi
Foto film dari imdb 


Sunday, 19 April 2020

Heidi dan Pegunungan Swiss yang Indah

Tempo hari saya berhasil menyelesaikan buku klasik berjudul Heidi. Buku yang telah terbit lebih dari 100 tahun yang lalu, dan mendapat tempat istimewa di hati orang-orang di dunia.

Cerita Heidi
Buku ini mengisahkan kehidupan anak yatim piatu bernama Heidi sejak ia berumur 5 tahun sampai kurang lebih berumur 8 tahun. Sejak ditinggalkan kedua orang tuanya meninggal saat Heidi bayi, ia dirawat oleh tantenya sampai berumur 5 tahun di Maienfeld, Swiss. Tetapi saat Heidi berumur 5 tahun, tantenya memperoleh tawaran pekerjaan di Jerman. Tante Dete kemudian mengantarkan Heidi untuk tinggal dengan kakeknya di sebuah pondok sederhana di Pegunungan Alm, di sebuah desa bernama Dorfli.
Sampai sini saja saya sudah agak baper, maklum saya kan punya anak kecil 3 orang. Dan ngebayangin dia harus dioper sana sini aja rasanya kok sedih. Huhuhu. Apalagi di awal ini diceritakan kalau kakek Heidi (yang dipanggil oleh orang-orang di Dorfli dengan sebutan paman Alm) dikenal oleh penduduk desa sebagai orang yang tidak ramah. Hanya tinggal sendirian di pondoknya dan tidak pernah turun untuk bersosialisasi dengan penduduk. Ia hanya turun saat membeli kebutuhan atau menjual keju kambing buatannya. Saya jadi tidak bisa membayangkan bagaimana nasib anak umur 5 tahun bisa bertahan dengan kakek tua seperti itu.
Saat ditinggalkan begitu saja oleh Tante Dete di rumah Paman Alm, Heidi akhirnya memulai petualangannya di Puncak Alm. Di luar dugaan, Heidi sangat suka tinggal di sana. Kakek Alm juga sangat baik kepada Heidi. Walaupun ia harus tinggal di pondok yang sederhana, dan tidur di kamar dengan tempat tidur yang terbuat dari jerami, Heidi sangat bahagia tinggal di sana. Kakek merawatnya dengan sangat baik, dan Hedi selalu kenyang dengan susu segar dari kambing-kambing kakek, keju kambing buatan kakek dan roti.
Selain itu Heidi juga bertemu dengan orang-orang baik seperti temannya Peter yang mengajak Heidi menggembala kambing. Heidi membawa keceriaan dan kehangatan kepada kakek dan orang-orang di Dorfli.
Setelah 2 tahun lebih Heidi tinggal bahagia bersama kakek, Tante Dete kembali datang dan membawa Heidi ke Jerman. Di sana Heidi tinggal bersama Clara dan keluarganya. Heidi diajak tinggal di sana untuk menemani Clara yang cacat. Di sana Heidi tinggal di rumah yang bagus, diberi makanan yang enak-enak, tempat tidur besar, dan Clara serta keluarganya beriskap sangat baik kepada Heidi. Tetapi Heidi tidak bahagia karena ia sangat merindukan kakek dan puncak Alm.

Buku Heidi
Buku Heidi yang saya baca adalah versi terjemahan terbitan Gramedia


Blurb 
Si kecil Heidi dititipkan Bibi Dete kepada kakeknya yang tinggal di Pegunungan Alm. Mulanya para tetangga mengira Heidi tidak akan kerasan tinggal bersama Kakek yang pemarah, tapi ternyata mereka bisa hidup rukun. Heidi berteman dengan Peter, si gembala kambing, dan setiap hari ikut menggembala di padang rumput. Suatu hari, Bibi Dete datang lagi hendak mengambil Heidi untuk dibawa ke kota, bekerja di rumah majikannya, untuk menemani Clara yang cacat. Heidi merasa iba dan ingin menolong Clara. Lambat laun Clara mulai membaik. Setelah beberapa waktu tinggal di kota, Heidi merindukan kampung halamannya, juga Kakek, Peter, nenek Peter, dan kambing-kambing Peter. Dia ingin pulang, tetapi keinginannya ditolak Bibi Dete. Heidi yang ceria mulai menjadi pemurung. Sementara itu, di rumah keluarga Clara ada kehebohan, sebab ada hantu yang konon suka bergentayangan pada malam hari


Menurut saya buku ini :

Membaca buku ini sangat menhangatkan hati. Bagaimana sikap polos dan positif Haidi akhirnya membawa banyak perubahan positif bagi orang-orang di sekelilingnya. Banyak kebahagiaan bahkan keajaiban terjadi karena Heidi. Baik itu kepada Kakek, Peter, Clara, Neneknya Peter, dan banyak lainnya. Selain itu juga banyak pesan-pesan baik tersurat pada buku ini yang membuat kita berpikir, "Hmm, iya juga yaa"

Salah satu bagian yang saya suka adalah pada suatu saat ketika Heidi tinggal di rumah Clara. Ia sebenarnya sedih ingin pulang ke Puncak Alm, tetapi ia tidak mau memperlihatkan itu karena ia tidak mau dianggap tidak tahu terima kasih. Sudah disediakan dan dilayani sedemikian rupa tetapi malah bersedih. Akhirnya anak kecil 7 tahun itu hanya bisa mengadu kepada Tuhan dengan berdoa setiap hari. Huhuhu. Pengen meluk Heidi rasanya pas baca itu. Waktu Heidi sedih, Oma (neneknya Clara) menghibur Heidi dengan berkata : 


Karena Dia (Tuhan) tahu apa yang terbaik untukmu, maka Dia berkata "Ya Heidi akan mendapatkan apa saja yang diinginkannya tetapi pada saat yang tepat nanti" Hal - 144

Bukankah kita begitu sering tergesa-gesa untuk dikabulkan doa kita, tanpa tahu apakah benar itu akan menjadi yang terbaik kepada kita atau tidak. Jadi percayalah, semua akan dikabulkan pada saat yang tepat. 

Yang suka membca buku ini tidak hanya saya. Titha, anak sulung saya yang berumur 7 tahun juga ikut membca buku ini. Terus terang sayang cukup terkejut saat tau anak kelas 1 SD kaya Titha meminta membca buku novel dengan tebal lebih dari 300 halaman ini. Biasanya bacaan dia masih seputar novel paling banyak 100an halaman soalnya, itupun novel anak yang spasinya lebar-lebar.

Jadi, tentu saja 4 bintang untuk buku Heidi



Buku dan Film Heidi 
Buku Heidi adalah buku klasik karya Johanna Spyri yang pertama kali terbit pada tahun 1881. Buku Heidi ini telah diterbitkan lebih dari 100 tahun yang lalu, dan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Buku ini juga banyak menjadi literatur di sekolah-sekolah di luar negeri sana. Bahkan banyak buku anak yang juga terbit dengan gambar menceritakan kisah Heidi.
Buku ini juga telah beberapa kali diangkat menjadi film. Mulai dari layar lebar, serial, sampai film kartun. Beberapa kali cerita Heidi diangkat ke film layar lebar, dari tahun 1920an, dan terakhir pada tahun 2015. Selain movie, ada juga film anime Jepang yang menceritakan Heidi. Sebegitu besarnya pengaruh karakter Heidi ini di penikmat buku dan film ya.

Film dari Buku Heidi
Film Heidi (2015)

Film dari Buku Heidi
Heidi, Girl of The Alps


Heidi dan Swiss
Buku ini merupakan karya penulis yang berasal dari Swiss. Pada buku ini digambarkan Swiss sangaat indah. Puncak Alm yang tetap tertutup salju saat musim semi, kemudian bunga-bunga bewarna warni dan padang rumput yang hijau. Jadi wajar kalau Heidi sangat merindukannya saat ia berada di Jerman. Saat musim dingin, semua di puncak Alm tertutup salju. Heidi dan kakeknya sampai bisa naik kereta luncur untuk turun ke Dorfli.

Saking terkenalnya Heidi di Swiss dan dunia, sampai ada tempat wisatanya loh. Di kota Maienfeld itu ada tempat wisata Heidi namanya Heidi's Village (Heididorf). Jadi di sana ada replika pondok Kakek Heidi, dan banyak hal menarik lainnya.


Tempat Buku Heidi
Sumber Fb : Qanita H Syfutra

Tempat Buku Heidi

Tempat Buku Heidi

Film dari Buku Heidi
Gambar Heididorf dari Tripadvisor

Buat ke Heididorf kamu tinggal naik kereta ke stasiun Maienfeld (kurang lebih 2 jam dari Zurich Airport). Tiket masuk ke museumnya 25 CHF per orang.

Membaca Heidi membuat saya auto teringat saat ke Swiss tahun lalu. Dari beberapa negara Eropa yang saya kunjungi, Swiss adalah yang paling bagus. Waktu itu pas lagi saya ke sana di bulan Mei, di musim semi. Sama seperti musim saat Heidi pertama kali pindah ke Puncak Alm. Walaupun sudah musim semi, puncak pegunungan Alpen masih tertutup salju.







Bulan Mei di Swiss

Gunung yang puncaknya tertutup salju kayak iklan permen Alpenliebe, padang rumput tempat domba-domba, danau yang bersih berwarna hijau. Wuaa cantik pake banget. Kalau aja Swiss bukan termasuk negara termahal di dunia, saya bakal betah lama-lama di sana. Hahahha. Jiwa misqueenku memberontak kelamaan di sana, beli minum aja bisa ratusan ribu.

Buat kamu yang berencana jalan-jalan ke Eropa setelah pandemi Corona ini berlalu, Swiss adalah salah satu negara yang wajib dikunjungi. Transportasinya mudah, bersih, relatif lebih aman dibanding negara Eropa lainnya dan tentu saja, alamnya super super cantik. Penasaran Swiss itu sebagus apa, ini ada beberapa foto di Swiss yang aku suka banget : 


Sumber Fb : Qanita H Syfutra

Sumber dari sini 


Sumber ig @christofs70

Sumber ig @mblockk

Sumber di sini


Demikian postingan kali ini ya. Postingan kali ini aku banyak masukin foto karena rasanya adem aja liat foto pemandangan yang bagus gitu, seadem baca betapa so sweet nya Heidi 

With love
Thessa