Sunday, 21 March 2021

Seberapa Terbuka Kah Kalian dengan Uang?

Pernahkah teman-teman membeli buku karena covernya? Baru-baru ini saya membeli sebuah buku non fiksi karena tertarik melihat covernya saat lagi ada diskonan di sebuah toko buku impor, tanpa tahu review orang-orang tentang isinya. Bukunya hard cover (saya lagi suka banget buku-buku hard cover πŸ˜†), desainnya simple dengan sedikit aksen timbul dan berkilau, warnanya nuansa pastel yang saya suka banget, dan judul bukunya menarik yaitu Open Up : The power of talking about money by Alex Holder. 



Saat membaca buku ini, saya dapat banyak pandangan baru tentang uang. Walaupun penulisnya sendiri bukanlah financial advisor, Alex Holder bahkan pernah berada pada saat kondisi keuangan yang mengkhawatirkan. Dari situ ia belajar banyak tentang mengatur pandangan tentang uang, salah satunya bahwa kita harus terbuka dan jujur dengan uang, Open Up

Hiding from money is no longer an option - page 269

Buku ini dibagi jadi beberapa bagian, mulai dari terbuka dengan diri sendiri sampai terbuka dengan orang-orang sekeliling. Saya akan masukkan beberapa hal menarik menurut saya di postingan ini. Kayaknya bakal agak panjang, tapi semoga bermanfaat. Saya tulis di sini sebenarnya juga sebagai pengingat buat diri sendiri juga biar yang udah dibaca tidak menguap begitu saja dari kepala πŸ˜„ 

1. Be honest with yourself about money

Pada buku ini, Alex menceritakan bahwa banyak orang yang takut mengetahui sebenarnya berapa uang atau hutang yang ia miliki. Mereka terus menggesek kartu sampai ada pemberitahuan over limit, dan bahkan tidak berani membuka tagihan yang masuk. Kalau kita mau mulai mengatur keuangan, kita harus siap dengan kenyataan berapa sebenarnya pemasukan dan pengeluaran kita, dan harus berusaha menyeimbangkannya. Selain itu beberapa tips bermanfaat lainnya adalah: 

  • Mulailah susun budget yang dibutuhkan. Ah, ngapain susun budget, ntar juga meleset? Pasti banyak yang kayak gini, kan. Saya pun begitu πŸ˜… Justru kata buku ini, disitulah seninya. Kita susun budget, meleset, kita rebugeting, begitu terus sampai kita paham sebenenrnya mana pengeluaran yang selalu ada mana yang insedentil
  • Pengelolaan uang itu ilmu turun temurun. Bagaimana mengelola keuangan bisa sangat dipengaruhi oleh orang tua dan sekeliling kita. Jadi, mulailah terbuka dengan orang tua dan tanya bagaimana mereka mengelola uang saat kamu kecil. Ambil yang baiknya, buang yang buruknya.
  • Persiapkan dana pensiun sedini mungkin. Jangan sampai kita membebani anak cucu kita untuk menanggung hidup kita saat tua nanti.
  • Catat belanja apa yang kamu sesali di bulan ini. Termasuk barang yang kamu beli hanya karena ingin, bukan karena butuh. Agar jadi pengingat untuk tidak melakukannya lagi
  • Reward yourself. Di tengah kebiasaan menyusun budget, menabung, investasi dan melunasi hutang-hutang, tidak ada salahnya juga memberikan reward kepada diri sendiri. Menyisihkan uang untuk membeli buku baru, atau menabung untuk keliling Eropa setelah pandemi berakhir, dan berbagai reward lainnya. 

Belanja asal masih on budget gpp kok 😁

2. Be a great friends

Pernah ga sih kamu sedang ingin berhemat, tiba-tiba teman ngajak nongkrong di tempat yang harganya lumayan? Atau ngomporin kamu buat beli sesuatu yang sebenarnya kamu ga butuh? Mulai sekarang, jadilah teman yang bisa memperngaruhi temannya mengelola uang dengan baik. Ini beberapa contoh bermanfaat pada buku ini: 

  • Kalau teman bingung mau beli sesuatu, jangan dikomporin "Mending menyesal karena beli dari pada menyesal karena ga beli πŸ˜†πŸ˜‚". Lebih baik ajak mereka terbuka dan jujur dengan pertanyaan "Kamu bener-bener butuh, ga?" atau "Budget kamu cukup, ga?" Jangan sampai mereka terpaksa beli karena dikomporin temen-temen, tapi abis itu bikin nyesel...
  • Split bill pas lagi jalan bareng. Termasuk kalau kamu tinggal bareng temen, dari awal harus jelas pembagian kewajiban siapa bayar tagihan yang mana.
  • Mengurangi atau bahkan memutus pertemanan dengan teman yang berpengaruh buruk seperti hobi minum-minum, bahkan drugs. 
  • Stop asking friends' price! Kalau memang teman, harusnya saling support dengan bisnis temannya. Hehehe.. Bukannya malah minta diskon, atau minta gratisan 😁.

Jangan sampe kita bikin temen kita menyesal karena belanja abis dikomporin, ya 😊

3. Money and relationship

Waktu itu seorang junior saya di kantor akan menikah. Yang saya tahu, orang tuanya udah lama meninggal, jadi dia lebih banyak hidup sendiri. Karena mungkin tidak ada yang akan memberikan wejangan kepada dia seperti dulu saya sebelum nikah, saya merasa berkewajiban sedikit membuka matanya tentang keuangan setelah menikah. Sedikit sharing dari saya buat dia waktu itu adalah, sudahkah kamu membicarakan tentang keuangan dengan sang calon?

Saya tahu menikah adalah urusan cinta. Tapi tidak ada salahnya juga mulai membicarakan keuangan. Tidak hanya gaji, tapi juga hutang dan cicilan, termasuk keluarga yang harus disupport. Siapakah nanti yang bertanggung jawab mengelola keuangan? Salah satu atau masing-masing?

Saya cukup sering mendengar keluarga yang bermasalah karena tidak terbukanya pasangan dalam mengelola keuangan. Apakah mereka tidak cinta? Bukan.. Tapi masalah uang ini nanti bisa merembet ke trust issue dengan pasangan.

Pada buku ini kurang lebih juga menggambarkan hal yang sama. Betapa pentingnya jujur kepada pasangan, bahkan kalau bisa sejak awal nge-date. Ga usah lah maksain nge-date ke tempat keren kalau keuangan tidak memumngkinkan. Saat udah menikah juga apa lagi, masing-masing harus tahu keondisi keuangan pasangannya.

Cari pasangan yang menyukai kamu apa adanya, bukan karna uang yang dimiliki atau fancy clothes you wear πŸ˜†πŸ˜†

4. Getting paid what you are worth

Poin berikutnya adalah masalah pekerjaan. Beberapa poin menarik pada bagian ini adalah: 

  • Jangan mau disuruh kerja suka rela. Misalnya kamu ditawarin kerja magang yang tidak berbayar. Kalau itu tidak memberikan nilai tambah (misalnya ujung2nya cuma disuruh bikin teh atau fotocopy dokumen), maksimal cukup 3 bulan, abis itu tinggalkan. 
  • Learn to say no. Mungkin ini mirip sama isu tentang rate card blogger yang sempat rame dibahas teman-teman seperti Mba Rey atau di forum Kafe MM. Kalau memang bayarannya tidak sesuai dengan  jerih payah yang dikeluarkan, beranilah bilang tidak. 
  • Defenisikan kembali sukses menurut kamu. Jangan sampai jumlah uang, pekerjaan, jabatan atau bahkan jumalh like & follower mendefinisikan sukses kamu. 

True success is the freedom to make choice - page 192


A freedom to shop #eh πŸ˜‚πŸ˜…

Itu dia beberapa poin yang bisa saya tuliskan di sini. Padahal di buku ini ada lebih banyak lagi pembahasan menarik lainnya. Lengkap dengan contoh orang-orang yang mengalaminya. Salah satu kekurangan buku ini menurut saya hanya tulisannya terlalu kecil buat saya dan minim pointer. Jadi berasa novel karena isinya paragraf-paragraf, padahal kalau nonfiksi bahasa inggris saya itu lebih seneng yang banyak poin-poinya biar memudahkan mengerti isinya. Hehehhe.. πŸ˜†

Selain empat poin di atas, pada bab terakhir berjudul Why we must not ignore money and mental health, dibahas ternyata permasalahan keuangan ini erat juga kaitannya dengan mental health

People who have mental health problems, are three times as likely to be in problem debt. And of those with problem debt, half will have a mental health problem - page 259

Jadi, sebelum permasalahan keuangan ini berpengaruh buruk dengan kesehatan mental, lebih baik mulailah lebih terbuka dengan uang dan lebih bijak mengatur keuangan. 4 bintang untuk buku Open Up : The power of talking about money

Open Up : The power of talking about money by Alex Holder
Serpent's Tail London publisher
First published in Great Britain in 2019
ISBN : 978 1 78816 187 9
274 pages
Bagaimana dengan kamu, adakah tips keuangan menarik dan bermanfaat yang kamu terapkan? Share di komen yaaa... πŸ’–πŸ’–

32 comments:

  1. Mbak Thesaa makasih udah sharing buku bahasa inggris ini jadi lebih dimengerti hehe
    Sebenernya persoalan menyusun budget ini emang penting tapi emang kadang mikirnya, ya... ngapain disusun toh bakalan banyak hal2 nggak terduga yang bikin rencana meleset dan akhirnya ngeluarin uang udah kayak ninja hatori pas ngeluarin shuriken, cepet banget habisnya.

    Alex Holder ini juga ngerti banget ya sama kebiasaan orang yang nggak berani liat utangnya berapa malah asik gesek2 terus. Sama kayak saya, bedanya kalau saya pakenya Spaylater, suka nggak mau liat utangnya tinggal berapa tapi belanja belanja terus, ntar akhir bulan tinggal gemeteran aja pas liat laporan utangnya hahaha

    Nah, poin nomer empat. hahaha
    Saya dulu kerja diiming-imingi doktrin mengajar adalah ibadah, pokoknya kita kerja tujuannya ibadah, ibadah dan ibadah. Nggak boleh nuntut gaji tinggi, nanti kalo nggak ikhlas, ngajar kita sia-sia, nggak jadi dapet pahala. Sebegitu kerennya persoalan pahala sampai saya mikir, ini kira-kira pahala saya bisa dipake buat bayar grabfood nggak ya? :-D

    Sementara itu, para yayasan yang ngomong kayak gini semuanya PNS~ hahaha
    Padahal sih ngajar disitu betah banget, tapi..... ya itu~~

    Akhirnya saya kemarin ikut tes biar bisa jadi guru SD negeri. Demi apapun, waktu itu beneran tak niatin banget demi keluarga yang lebih layak. Alhamdulillah ternyata kejadian, setidaknya sekarang tiap nyicil Spaylater udah nggak sambil gemeteran lagi :-D
    Duh, maap nih komennya kayaknya jadi kepanjangan hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Edot, aku seneng loh malahan baca komen cerita temen2, sepanjang apapun. Hehehe.. Jadi makasi yaa Mas Edot udah ikut berbagi cerita di sini πŸ˜„

      Sepertinya memang banyak orang berada di masa itu, masa saat deg2an liat tagihan. Terutama saat baru2 kerja, udah ga disupport orang tua krna dianggap udah mandiri, trus terkaget2 dg pengeluaran yg ternyata banyak macemnya, sementara first job itu ga semua orng bisa dapet yg lngsng sesuai baik dr gaji maupun kerjaannya. Namanya sebuah fase ya, dan seneng bgd fase itu buat Mas Edo udah berlalu, sekrang lbh enak udah jd guru SD negri, dan yg namanya berbagi ilmu itu kan ibadah, tidak harus pas di SDIT πŸ˜„πŸ˜„ Tinggal dinikmati, asal jangan lupa nyimpen rapor anak2 dimana aja Mas Edo. Hahahhaha...

      Delete
  2. Terima kasih atas sharing bermanfaat ini Tante thessa, dan berbicara menyusun anggaran keuangan itu penting banget tak hanya disaat sudah berkeluarga saat masih single pun juga penting makanya setiap saya ingin beli apa - apa saya catet dulu kira - kira nanti habis berapa ya??? Dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 Mba Tari, terima kasih juga udah menyempatkan baca postingan ini 😊😊
      Setuju mba, mau single atau udah bekeluarga, penyusunan budget itu penting. Tp yg lbh susah itu sbnrnya mempraktekkan budget itu sedniri setelah menyusunnya. Hehehe..

      Delete
  3. Meski ngga terlalu expert soal budgeting, prinsip saya cukup sederhana. Uang masuk lebih besar dari uang keluar. Jadi meski ngga detil, saya ngga pernah berpikir panjang soal "kok uang saya abis ngga ada yang diliat?"

    Meski begitu, saya tetap spend kepada beberapa hal yang mungkin bisa dikategorikan reward juga. Saya membeli buku, atau barang-barang lain ketika uang jajan masih dalam batas aman.

    Terimakasih kak Thessa, karena sudah men-sarikan buku ini jadi lebih simpel dan mudah dipahami

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 Mas Rahul, terima kasih juga sudah membca postingan ini. Semoga bermanfaat yaa 😊

      Keren Mas Rahul, memang harus seperti itu antara pemasukan dan pengeluaran. Semoga bisa terus konsisten ya Mas. Yg mulai agak susah itu sebenarnya kalau udah ada kebutuhan besar untung jangka panjang n harus nambah cicilan ini itu. Hehehe..
      Nah reward itu perlu, karena kan kita perlu menyenangkan diri sendiri juga kan πŸ˜„, selama on budget itu ga ada masalah sama sekali, malah jd penyemangat tersendiri..

      Delete
  4. bagusss isi dari buku ini mbak, aku suka nih yang ilmu ilmu finance kayak begini
    ini kenapa isinya berasa nampar aku hahaha, bener bener nih buku membaca pengalaman aku, ehh pengalaman kebanyakan orang juga ya
    kayak tadi niat nabung nyimpen duit ehh ada ajakan temen buat nongkrong, alhasil narik lah beberapa duit dari simpenan tadi, itu sering bangettt hahahaha
    sekarang kalau udah merasa banyak jajan, berusaha buat ngurangi juga
    tapi emang godaan temen ini emang racun wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju Mbaa Ainun, isinya baguus. Aku juga lg suka nih hal2 berbau finance gini, membuka mata bgd buat ngatur keuangan pribadi dan keluarga. Apalagi kita sejak jaman sekolah kan ga pernah dikasi pelajaran terkait ini yaa..

      Hahaha, ambyar ya mba uang tabungan malah jd kepake yaa.. Mungkin alternatifnya bisa dibudget buat hubungan sosial mba, jd tidak mengganggu budget lainnya. Jadi racunnya udah dibudgetin setiap bulannya. Klo ga ada racun, bisa masuk jd tabungan tambahan. πŸ˜„πŸ˜„

      Delete
  5. Ngomongin ngatur keuangan, cukup related sama aku nih skrng.
    Kmren2 ketika masih di rumah, masih kuliah, dan tinggal sama orangtua, rasa-rasanya aku hidup cukup boros. Hahahaa.
    Nmun saat ini, udah jadi anak kosan, jadi agak pelit, bahkan untuk makan sendiri hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang paling kerasa itu saat udah mulai hidup sendiri, jd harus ngatur sendiri pengeluaran biar pas dg pemasukan. Hehehe.. Semangat Mas Dodo, pas baru lulus kuliah memang hrs banyak penyesuaian jadinya. Insya Allah it will get better soon.. 😊😊

      Delete
  6. Aku serem baca yg sampe ga mau buka lembar tagihan hahahaha. Gilaa sih itu :D. Justru kita hrs tahu jumlah hutang berapa, jgn sampe exceed dari 20% total income, itu kalo aku.

    Soal keuangan, aku dan suami terbuka. Kami tahu income berapa, aset berapa, investasi mencapai target ato ga, hutang berapa. Di antara kami berdua, memang aku sih yg LBH kuat mengatur keuangan, Krn basicku dari dulu akuntansi :p.

    Jd yg ngatur aku. Tp kami bagi tugas juga masing2. Aku fokus dalam hal pengembangan investasi dan aset, sementara suami handle hutang dan kewajiban :D , alias tiap bulan dia yg bertanggung jawab membayar tagihan CC, listrik, air, internet dll.

    Kalo ttg temen ngomporin sesamanya dlm soal belanja, itu jujur aja aku sesekali pernah. Krn prinsip mending nyesel beli drpd ga, itu aku bangeeetttt hahahhaa.

    Tapi aku berani pegang prinsip itu, Krn aku memang udah membudgetkan utk itu. Tiap bulan uang yg masuk pertama2 pasti utk zakat, sedekah, investasi, emergency fund. Itu dulu. Sisanya baru utk having fun. Jd kalo memang uang yg ada udh sesuai Ama plan, sisanya ga ada masalah mau dihamburin sekalipun :).

    Tapi aku cuma ngomporin temen yg memang aku tahu keuangannya bagus yaaa. Aku tahu dia punya investasi, keuangan sehat, naaah ga ada salahnya ngomporin yg sesama prinsip gini :p. Tapi kalo aku tahu dia msh punya banyak utang, investasi ga jelas apaan, aku ga bakal jerumusin pake kata2 mending nyesel beli drpd ga :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kenyataannya banyak yg pada kondisi itu mba. Pemasukan dan pengeluaran ga seimbang. Huhuhu.. kalau memang pengeluaran ga bisa ditekan, satu2nya cara brarti pemasukan yg hrs ditambah. Dan sayangnya ga semudah itu juga kan..

      Keren Mba Fanny! πŸ’–πŸ’– Melek finansial banget. Mudah2an aku juga bisa kaya gitu. Krna sama mba, di rumah jg aku yg dikasi amanat mengatur keuangan sama suami, karna mrnt dia aku lbh ngerti yg kaya2 gt. Hehehe.. Investasi juga aku dikit2 belajar, walaupun blm optimal setidaknya pelan2 lah mulai dulu..

      Cocok brarti mbaa. Kita ngomporin hrs paham kondisi temen. Jangan sampe bikin dia ngerasa terbebani brarti yaa. Hehehe.. πŸ˜„πŸ˜„

      Delete
  7. Kak Thessa, thank you for sharing 😭 aku langsung bookmark post ini supaya nanti bisa re-read terusss πŸ˜†
    Sama kayak Kak Inun, aku juga suka dengan ilmu-ilmu finance dan budgeting gitu. Terus pas banget baca ini soalnya beberapa bulan kebelakang ini aku lagi nggak budgeting mode on #plakk
    terus baca ringkasan dari Kak Thessa, langsung merasa tertampar 🀣. Suka bangettt, dilanjutin lagi untuk part 2nya boleh lho 😝

    Btw, aku juga lebih suka nonfiksi yang bentuknya point-point atau paragraf singkat dan suka juga sama buku yang berhardcover apalagi kalau desainnya lucu bingitss 🀣 rasanya ingin dibawa pulang tapi takut berakhir dengan nggak dibaca wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 Lia. Makasi jg udah baca, sampe di bookmark πŸ’–πŸ’– . Mudah2an bermanfaat yaaa...

      Aku juga seneng nih hal2 yg berbau finance gini. Hehehe.. Buat belajar mengelola keuangan, krna selama ini sejak sekolah kan kita ga pernah dapet ilmu ini yaa.
      Ntr ga usah part 2 yaa, aku tulis tntng buku finance lain yg aku baca. Siapa tau bs bermanfaat juga. hehehe πŸ˜„

      Tau ga Lia, krna ngelihat covernya yg unyu n hard cover, aku ngira isinya jga bakal banyak poin n ilustrasi2 lucu. Yaampun ternyata tulisan semua, paragraf banyak2 dan tulisan kecil2. 🀣🀣 Untung bahasanya ga terlalu berat, klo ga yg ada bisa ga beres2 aku bacanya. Hahhaha..

      Delete
    2. Boleh banget Kak Thessa. Apapun tulisan Kakak nantinya, pasti akan tetap aku baca kok 🀭

      Kok kita sama banget mikirnya Kak 🀣. Kalau lihat hardcover + cover lucu, langsung mikir isinya banyak ilustrasinya nih 🀣. That's why ngeri-ngeri kalau mau beli buku non-fic tapi nggak bisa intip dulu dalemnya, takut zonk dan jadi nggak kebaca wkwk

      Delete
  8. Mbak Thessa makasih banyak sudah berbagi tentang keuangan, memang kalo masalah uang kalo kurang kontrol nantinya besar pasak daripada tiang.

    Biasanya itu karena memang di kompor-kompori oleh temen. Yuk beli hape ini, mumpung lagi ada diskon, padahal hapenya sebenarnya masih bagus.

    Tapi kalo soal gesek gesek terus rasanya aku belum pernah kebobolan sih, soalnya ngga punya kartu kredit gimana bisa kebablasan.😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 Mas Agus, makasi juga yaa udah meluangkan waktu untuk membaca ini . Hhehee..
      Kompor2 dari temen memang sering bgd terjadi yaa. Yg awalnya ga rencana beli jadi ujung2nya beli. Sukur2 klo masih on budget, klo udah diluar budget kan terpaksa makan budget dari pos lain. Berantakan kan jadinya...
      Lbh bagus gt Mas Agus, jd ga kebablasan gesek2 terus kan 🀣🀣

      Delete
  9. Setuju sama buku ini soal jujur dengan keadaan keuangan. Sejak berkeluarga, saya mulai susun budget karena ga bisa lagi seenaknya berfoya-foya, wkwkwk. Awalnya memang takut, tapi lama-kelamaan jadi terbiasa dan saya malah senang karena bisa jujur kalau saya sanggupnya bisa beli berapa buku bulan sekian dan tidak kalap lagi, hihihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mantab Mba Ira, keren udah mempraktekkan budgeting buat keluarga. Jadi semua pengeluaran bs terkontrol, bahkan buat beli reward diri sendiri kaya buku gitu udah dibudgetin yaa..
      Aku juga hrs mulai praktekin nih, biar lama lama bisa terbiasa kayak Mba Ira 😁

      Delete
  10. Haloo Mba Thessa... Apa Kabar??
    Wahh postingan ini luar biasa sekali Mba Thessa. Karena jujur, saya skrang lagi agak ribet sama hal beginian semenjak bapak nggak ada. hehe

    Tapi, Alhamdulillah aku tumbuh dengan didikan dari orang tua untuk selalu melek dengan keuangan. Jadi yah semenjak gaji pertama, sampai gaji yang skrang selalu aku coba buat tak bagi2 berdasarkan tujuan yg aku perlukan mulai dari yg jangka pendek hingga yang jangka panjang..

    Dan setuju banget ttg pernyataan "Stop askin Friend's price" astaga.. sering banget soalnya aku dpet pertanyaan kaya begini semisal ada teman yg minta harga spesial dari orderan desain yg mereka pesan.. hhmmm

    Masalah keuangan penting banget sih menurut saya buat saling jujur. Terutama ke diri sendiri karena kudu pandai-pandai berhitung buat kemudahan kedepannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baiiik.. Semoga Mas Bayu juga dlm keadaan sehat2 selalu yaa..

      Memang paling ribet klo kebagian yg ngatur masalah keuangan gini di keluarga ya. Apalagi sebelumnya orang tua yg udah bereskan semua, dan kebanyakan tdk ikut melibatkan anak2. Jadi kita hrs belajar otodidak sendiri buat mengatur keuangan gini. Mas Bayu beruntung orang tuanya memberikan contoh yg baik terkait mengatur keuangan ini. Keren!

      Hahahha.. Memang ini sering kejadian yaa. Katanya mau support temen, eh malah minta harga temen, yg ada ntr malah temennya bukannya untung malah rugi yaa. Awarness ini nih yg masih kurang disekeliling kita yaa πŸ˜†πŸ˜†.

      Semula bermula dg jujur ke diri sendiri. Klo udah jujur ke diri sendiri, mudah2an bs lbh gampang ke depannya..

      Delete
  11. Wooww!! Hebat juga pengarang buku Alex Holder ini, Meski seorang penulis setidaknya beliau mengajarkan tentang tata cara memperlakukan uang secara bijak...Dengan cara mengkaryakannya pada sebuah buku.😊

    Bicara soal Duit...Ehh salah uang maksudku..πŸ˜†πŸ˜† Ada pepatah mengatakan Waktu Adalah Uang (Time is Money). Dalam ungkapan tersebut tersirat pentingnya uang, sehingga menyia-nyiakan waktu sama dengan membuang-buang kesempatan untuk memperoleh uang pun semakin sedikit..Dan uang memang menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan setiap individu. Terlebih pada era sekarang segala sesuatu baik barang maupun jasa harus dibeli dengan uang.😊😊

    Dan jika Didefinisikan secara umum uang adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai alat tukar. Alat tukar sendiri dalam ekonomi memiliki makna segala sesuatu yang diterima oleh masyarakat secara luas...Definisi lainnya tentang uang kata pakar ekonomi si Anu..😊😊terbagi menjadi dua bagian yaitu secara tradisional dan modern.

    Jika tradisional, Fungsi uang dimanfaatkan menjadi alat tukar dengan syarat benda tersebut diterima oleh masyarakat umum di suatu wilayah tertentu.😊

    Jika secara modern, Uang berwujud benda yang diterima secara umum sebagai alat pembayaran transaksi jual beli atas barang atau jasa serta kekayaan atau aset berharga lainnya, dan sekaligus sebagai alat pembayaran utang.... Ijoo mata kalau ngomongin uang yaa mbak Thessa.🀣 🀣 🀣

    Meski pada kenyataannya uang tidak dibawa mati... Tetapi tanpa uang orang seperti mau mati.🀣 🀣 🀣


    ReplyDelete
    Replies
    1. Rangkuman tentang uang dr Mas Satria ini pas banget semuanya.. Ahli banget nih kayanya mas satria klo tntng uang. Hehehhe..
      Uang itu memang bukan yg paling penting, tp sayangnya banyak masalah bisa bermula dr uang klo ga pinter2 mengaturnya. Sampai mau mati klo kata mas satria yaa 🀣🀣
      Semoga kita termasuk orang2 yg bisa menggunakan uang dengan bijak yaa..

      Delete
  12. Aloo mba Thessa, sehat iyaaa...
    Angkat 2 jempol untuk buku Alex Holder ini mba.. dan, terima kasih atas sharingnya. Sangat bermanfaat.

    Dulu sblm menikah, aku sangat gak punya aturan tentang keuangan. Bukan karena gak tahu/melek finansial, tapi, prinsipku uang hasil kerja pokoknya mau aku nikmatiiiii... gak mau mikir yg lainπŸ˜‡

    Aku pikir, ada waktunya nanti untuk aku bijak dgn keuangan..
    Nah, Pas nikah barulah semua prinsip keuanganku diubah..

    Mba Thessa aku tunggu part 2 nya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah sehat Mba Ike. Semoga Mba Ike juga sehat2 selalu yaa 😊😊

      Ini aku banget dulu mba, sampe bingung klo diinget2, gaji aku waktu sblm nikah abis kemana aja yaa. Ga ada yg berbentuk jadi aset 🀣🀣
      Sekarang juga ga yg jadi jago ngatur keuangan sih. Masih belajar pelan2 biar bisa lbh baik ngatur keuangan, apalagi keuangan di rumah skrng aku yg disuruh suami buat ngatur semuanya, kaya Mba Ike. Hehehe. Semoga kita makin bijak buat ngatur keuangan ya Mbaa πŸ˜‡

      Delete
  13. Wah Mba Ica makasih lho udah resume dan nulis dengan lebih enak dibaca. Gak cucok aku baca bacaan berat gini terus isinya paragraf semua wakakakak. Sejak pernah terjebak kartu kredit tahun 2018 lalu, aku sama Mas Gepeng ketat banget urusan utang menghutang apalagi pas traveling. Diusahain banget gak pakai cc, debit aja. Terus memang budgeting itu susah, tapi manfaat banget kalau udah bisa. Aku dan Mas Gepeng tipe yang bikin budget satu templet, terus tiap bulan ngikutin itu terus. Kalau akhir bulan ada yang ngaco, kita evaluasi. Aku paling boros itu soal perkucingan, jadi kadang memang banyak evaluasinya wakakakak.

    Oh ada yang lucu Mba Ica soal money and relationship. Teman-teman dekatku, khususnya yang dulu di Corpu, itu paham banget kondisi keuanganku. Aku kadang suka gak ngeh betapa aku seterbuka itu sama orang terhadap kondisi keuangan. Nah salah satu temenku, Sinyo, itu pernah bilang 'Justin saking iritnya, kalau makan bareng dia gak pernah pesen minum, untung temennya pada baik baik mau ngasih pas dia minta,' gitu cobaaaa HAHAHA. Aku emang gak pernah pesen minum kalau makan di luar karena pasti nyisa banyak, kan mubadzir plus rugi, mending minta saja (cuman sekarang kan pandemi, gak boleh minta wkwk). Kadang aku ya bingung apakah terlalu terbuka itu baik atau gak perlu gitu gitu amat yah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah, thank you for open up in here, Justin 😊😊 Cerita sampe ga pesen minum pas pergi2. Tp memang loh, lebih hemat kita bawa tumler minum sendiri klo makan di luar. tp sayangnya banyak restoran ga ngebolehin bawa masuk minuman dari luar yaa..

      Jujur, aku pribadi sbnrny kagum loh dg orang yg bisa ngatur budget se tight itu, dan akhirnya berhasil menyisihkan uang buat jalan2 keliling dunia. Keren!
      Jadi bikin budget itu berguna yaa.. Aku bakal coba juga buat lbh rajin budgeting. Makasi inspirasinyaa Justin.
      Btw, ngomong2 soal kucing, aku termasuk yg selalu menantikan cerita2 kucing di ig story jutin. Soalnya aku ga pernh bs melihara binatang, ga kuat dg komitmen n kerempongannya. Hehehe.. Jadi suka amaze dg orng yg melihara binatang, apalagi kucing sebanyak Justin. Sampe bantuin kucing jalannnya juga.. Super luv..

      Delete
  14. Di aku lebih baik nyesal ga beli daripada nyesal beli, Ca...
    Kalau nyesal beli, udahlah duit berkurang, PR juga nyimpan barangnya, belum kalau liat tu barang jadi keingat lagi kenapa dulu sampe tergoda membeli, gitu... ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naaah itu konsep yg bagus chaaa. Apa karena hicha sempat lama tinggal di Jepang jd pelan2 udah mulai menerapkan minimalis? Hehehhe..

      Delete
  15. Belajar mengatur uang sedari dini emang penting ya mbak. Apalagi kalau udah nikah. Saya pun juga lagi belajar ngatur uang, walaupun emang belum bisa terbuka sama pasangan tapi nanti harus berani ngomongin juga ya. Jangan sampai salah paham.
    Saya lebih sering mau beli, mau beli tapi nggak jadi beli mbak, karena eman alias sayang uangnyaπŸ˜‚ mending ditabung walaupun pada akhirnya harus dipakai beli yang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mas Astria, apalagi klo istri dikasi tanggung jawab ngelola keuangan keluarga kaan.
      Yaampun aku pun samaa mbaa, kadang suami nyuruh beli ya beli aja, eh aku nya malah yg sayang eman eman sama duit. Heheheh.. :D

      Delete
  16. Wah aku banget tu yang mikir "ngapain buat list budget, kalau ujung-ujungnya meleset" :(. Tapi ternyata walaupun listnya meseleset justru disitulah pembelajaranya ya, setidaknya dengan melihat budget yang meleset kita bisa ada penyesalan haha dan syukur-syukur bisa berusaha buat memperbaikinya di priode berikutnya. Lama-lama mungkin kalau bakalan lebih rapi dan tertata ya.

    Makasih mbak tulisannya, kalau gak baca dari blog atau review gini aku tipikal orang yang mungkin gak akan tersentuh dengan buku-buku gini padahal penting banget.

    ReplyDelete