Sunday, 17 August 2014

The Kite Runner by Khaled Hosseini

Beberapa hari yang lalu di HBO baru menanyangkan kembali film The Kite Runner. Menonton film ini mambawa memori saya ke salah satu buku terbaik yang pernah saya baca lebih dari 7 tahun yang lalu.

Pernahkan teman2 membaca suatu buku, bahkan sudah lama sekali, tapi masih merasakan kesan yang ditinggalkan bukunya? Menurut saya buku2 yang bagus itu bukan berarti membuat kita tidak pernah lupa dengan ceritanya, tapi kita tidak lupa dengan kesan yang ditinggalkan. Itulah yang saya rasakan ketika melihat judul The Kite Runner di tv. Meskipun sudah cukup lama membacanya dan tidak begitu ingat dengan detail ceritanya, tetapi saya masih merasakan kesan yang ditinggalkan buku ini, yaitu sedih dan memilukan. Seolah dada saya kembali sesak mengingat bagaimana sedihnya hidup Hassan, dari kecil sampai akhir hayatnya. Hati saya berkecamuk mengingat teganya Amir menghianati Hassan, sahabat yang sangat mencintainya dan rela melakukan apapun untuknya.. 

Buku ini menceritakan tentang tokoh utamanya Amir, seorang anak Afganistan yang menjalani masa kecilnya di masa damai di Afganistan. Amir memiliki pembantu dan anaknya yang sebaya denggan Amir yang bernama Hassan. Hassan dan bapaknya berasal dari golongan yang disana di anggap sebagai golongan bawah. Anggapan masyarakat di sana, 'tidak level' untuk bermain bahkan berteman dengan golongan yang 'beda kasta' seperti Hassan. 

Cerita dimulai dengan cerita masa kecil Amir. Amir yang berusaha untuk menjadi kebanggan ayahnya, berusaha tampil terbaik dalam suatu permainan layang2. Dimana di sana diceritakan bahwa perlombaan layang2 adalah hal yang ditunggu2 dan menjadi kebanggan apabila berhasil memenangkannya. Sedangkan Hassan, pada perlombaan ini berperan sebagai pengejar layang2 putus, sesuai judul buku ini, The Kite Runner. Amir yang malu mengakui bahwa dia berteman dengan Hassan membiarkan hal yang 'sangat buruk' dilakukan teman2nya ke Hassan saat Hassan mengejar layang2 untuknya. Hal yang kemudian dia sesali seumur hidupnya. Berikut cover buku yang saya baca, yang menggambarkan Amir hanya bersembunyi layaknya pengecut saat teman2nya menganiaya Hassan : 



Hari2 setelahnya menghantui Amir dengan perasaan bersalah, diperparah dengan sikap Hassan yang tidak menunjukkan kemarahan atau dendam kepada Amir. Karena tidak dapat menanggung rasa bersalah, Amir membuat skenario untuk menuduh Hassan mencuri agar Hassan di usir. Cerita terus berlanjut sampai mereka dewasa. Berlanjut dari saat kondisi Afganistan aman sampai berubah ke pendudukan Taliban. 

Seperti saya sampaikan di atas, ini adalah salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Kita ditawarkan klimaks2 tanpa henti. Saat kita merasa cerita sudah mencapai puncak, kita disuguhkan kembali kejutan2 lainnya. Dan ceritanya sangat mengharu biru. Saya rasa ini adalah satu2nya buku yang membuat saya berkaca2 hampir disetiap ceritanya. Sediiiih, sambil mikir "kok tega banged siiihh" T.T 

Sedangkan filmnya, seperti kebanyakan film yang berasal dari buku, alur cerita tidak semuanya persis sama. Sedapat mungkin flim ini berusaha tetap seperti buku, tetapi entah kenapa saat menontonnya saya tidak merasakan emosi yang saya rasakan saat membaca bukunya. Dan itu lumayan membuat saya kecewa, buku seindah The Kite Runner seharusnya bisa lebih baik jika difilmkan. Berikut salah satu scene pada filmnya : 

Saat Amir merasa bersalah, dia melemparkan buah pome bekali2 kepada Hassan, berharap Hassan akan marah kepadanya, karena membiarkannya, karena melemparinya dan karena hal2 lain yang menghantui Amir dengan rasa bersalah. Tetapi bukannya membalas Amir, Hassan malah mengambil buah pome dan memukulkannya ke kepalanya sendiri. (Mewek.. T.T) 



Jadi jadi, buku ini sangat recommended bagi teman2 yang sedang mencari bahan bacaan. Believe me, this book is really really good! Sampai sekarang pun, karena termasuk buku best seller, The Kite Runner masih dijual di toko2 buku seperti Gramedia, Gunung Agung, dll. Tetapi sekarang diterbitkan dengan cover seperti ini : 





Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment