Sunday, 27 October 2019

Novel Nikah Muda dan Paris, mimpi yang menjadi kenyataan


Pernahkah kalian memiliki sesuatu yang ingin diwujudkan paling tidak sekali seumur hidup? Saya punya beberapa. Sebut saja, menerbitkan buku sendiri, memilki perpusatakaan pribadi, mengunjungi berbagai negara di dunia, dan berbagai keinginan lainnya.

Menerbitkan buku, sudah dari kecil saya bercita-cita memiliki buku dengan nama saya tertulis sebagai pengarangnya. Sejak SD saya sudah menulis cerita sendiri, diketik dengan mesin tik punya orang tua. Beberapa cerita saya kirim ke Majalah Bobo melalui kantor pos di depan rumah, walaupun belum pernah ada yang dimuat 😅. Saat SMP saya masih menulis dan salah satu cerpen yang saya tulis pernah dimuat di koran lokal. Ingat masa itu rasanya seneeeng banget waktu tau akhirnya cerita yang saya tulis berhasil dimuat. Saat SMA saya relatif jarang menulis, pas kuliah sering menulis tapi cerita-ceritanya hanya kadang tayang di sosmed atau malah tersimpan di folder komputer saja.
Saat kerja, waktu untuk menulis semakin menipis, nyaris tidak terpikir waktu itu buat menulis. Sampai suatu ketika saya memperoleh ide tentang cerita novel. Menulis cerpen saja saya sudah lama tidak, apalagi menulis novel. Apakah bisa? Tapi entah ilham dari mana waktu itu saya bersemangat sekali ingin ngejadiin novelnya.
Saya akhirnya menghubungi seorang teman yang penulis novel, Dimas Abi. (Klik di sini untuk profil lengkapnya). Boleh dikatakan, Abi adalah orang yang paling berjasa buat saya dalam menyelesaikan novel ini. Jadi awalnya saya cerita ke Abi tentang ide novel saya, dan dia langsung memandu saya untuk menyelesaikannya.
Step pertama : membuat kerangka cerita dan membaginya setiap bab
Step ke dua : membagi timeline setiap bab. Waktu itu saya ditarget Abi untuk menyelesaikan 1 bab dalam seminggu.
Step ke tiga : menulis bab terakhir sampai selesai, tujuannya agar kita kebayang cerita kita akan di bawa kemana.
Step ke empat : mulai menulis setiap bab per minggu.
Tanpa alasan apapun saya setiap Senin harus mengirimkan 1 bab k Abi. Editing masalah belakangan. Pesan Abi adalah tulis saja dulu apa yang dipikirkan, jangan pikirkan tata bahasa dan penulisan yang tidak sesuai, yang penting ceritanya.
Kurang lebih dalam 4 bulan di akhir 2015 saya berhasil mengirimkan sampai selesai satu naskah utuh ke Abi. 

Kapan nulisnya? Itu adalah pertanyaan yang sering ditanyakan teman-teman. Pekerjaan sibuk sebagai RM kredit korporasi di sebuah bank besar dan saya tidak pernah nulis di kantor. Di rumah punya anak kecil, walau baru 1 tapi kalau di rumah ga mungkin dicuekin kan? Pasti pengennya ngajak main apalagi sehari-hari udah ditinggal kerja. Jadi, saya nulisnya adalah di perjalanan pergi dan pulang kantor. Pergi kantor bisa 40an menit, pulang bisa 1 jam lebih. Waktu itu belum jaman gojek jadi saya masih naik bus patas Ac dari arah Petukangan Jakarta Selatan ke Jakarta Pusat. Nulis di hp dan bener aja, dalam seminggu bisa beres 1 bab. Tinggal pas weekend minta waktu sama suami diem di kamar ga boleh diganggu 1-2 jam buat edit yang udah diketik di hp ke komputer. Kemudian kirim ke Abi. 

Setelah naskah selesai, ternyata perjalanan masih panjaaang. Apalagi saya selama ini sebagai penikmat buku cukup terganggu apabila ada editing dan tata bahasa yang tidak rapi. Jadi saya lumayan perfeksionis masalah editing padahal kemampuan editing saya sangat tidak mumpuni (terlihat dari banyaknya typo di blog ini 😅). Mulai dari self editing dan akhirnya memutuskan pake jasa editor lepas, yang kebetulan juga teman sendiri 😊. Selanjutnya mencari-cari penerbit, tapi dibatalkan kirim penerbit karena mau ikut Gramedia Wiriting Project tahun 2017 dan alhamdulillah masuk finalis dan ikut training penulisan. Sampai akhirnya saya memutuskan menerbitkan secara indie pada tahun 2018 silam. Kenapa akhirnya saya memilih penerbit Indie dibanding penerbit Mayor? Nanti saya akan bahas di postingan lain ya.

Rasanya memegang sendiri hasil karya kita berbentuk buku benar-benar tidak terlukiskan. Setiap kata, setiap halaman, bahkan sampai covernya yang saya desain sendiri (dan direalisasikan oleh ilustrator tentunya). Seperti ini ternyata rasanya dream comes true. Rasanya ga percaya dulu bisa segitu meniatkan diri ngetik-ngetik sambil goyang-goyang di bus 😁 Apalagi tau ternyata tanggapan dari orang-orang yang membaca cukup bagus, wuaa rasanya benar-benar menyenangkan..

Ini foto novel saya waktu jalan-jalan ke The Voyage Bogor sama suami. 

Jadi setahun yang lalu, saya sempat jalan-jalan dengan suami ke The Voyage Bogor. Itu teman wisata yang ala-ala mini Eropa, ada kincir-kincir Belanda, rumah-rumah mini ala Eropa dan tidak ketinggalan Menara Eiffel.

Lanjut cerita tentang mimpi saya yang lain ya. Melihat dan mengunjungi negara-negara lain itu selalu menjadi cita-cita saya sejak saya pertama kali keluar negri waktu SMA dulu. Waktu itu saya hanya ke negera tetangga, Malaysia. Yang ada di pikiran saya waktu itu, "Malaysia aja sudah begitu berbedanya dari Indonesia, apalagi kalau saya berhasil mengunjungi negara-negara lain" dan mulailah saya bermimpi untuk dapat melihat negara-negara lain.

Salah satu negara yang ingin saya kunjungi tentu saja adalah Paris, yang katanya negara paling romantis. Tapi hilal untuk mengunjungi Eropa sama sekali belum terlihat, selain karena masalah kesibukan karena baru punya bayi, belum lagi budget dan skala prioritas lainnya. Jadi diajak jalan sama suami ke The Voyage pun saya sudah senang. 
Walaupun saya tidak pernah benar-benar mengungkapkan betapa saya ingin jalan ke negara lain, tapi jauh di lubuk hati mimpi itu tetap ada.
Sampai suatu ketika suami di bulan ulang tahun saya tahun ini, April 2019 membawa kejutan. Bulan Mei 2019 dia akan ada work trip ke Jerman. Kalau saya mau ikut, dia akan sekalian mengajak keliling ke beberapa negara ke Eropa. Mumpung tiket suami dan akomodasi selama di Jerman sudah ditanggung kantor. Best birthday suprise ever 😁 Akhirnya tanpa direncanakan sebelumnya, dalam waktu singkat (kurang dari sebulan! 😆) kita harus membereskan semua persiapan. Dimulai dengan pertama mengajukan cuti panjang di kantor, menyusun itenerary, budget (terutama yang ga ditanggung kantor suami, yang kalau ditotal ternyata lumayan juga karena semuanya serba dadakan 😅), mengkondisikan anak-anak untuk ditinggal selama 2 minggu, visa dan segala persiapan yang lainnya. 

Dalam waktu kurang dari setahun sejak foto di replika menara Eiffel, saya akan foto dengan menara Eiffel beneran di Paris. 😆😆 My another dream will come true.. dan tau ga, ini adalah jalan-jalan kami pertama kali yang hanya ber 2 😂. Dulu waktu abis nikah, kita sempat kena musibah kecelakaan dan akhirnya semua rencana honeymoon dibatalkan. Abis nikah alhamdulillah langsung hamil jadi menjaga kandungan dengan ga jalan jauh kemana-mana. Setelah punya anak, setiap jalan-jalan pastinya bareng anak-anak, ga pernah jalan-jalan jauh berdua suami doank. Setelah 7 tahun menikah, akhirnya kami honeymoon juga 😂

Sayang banget waktu itu lupa banget bawa bukunya. Huhu.. Tapi ga masalah juga, karena sekarang Novel Nikah Muda juga sudah tersedia di Google Book dengan membeli pada link di sini

Jadi, jangan takut untuk bermimpi. Kita tidak akan tau kapan Allah akan mewujudkannya dan melalui jalan apa. Mimpi saya untuk menerbitkan buku diberi jalan melalui teman super baik. Mimpi saya untuk melihat Eifel Tower diwujudkan oleh suami tercintah.

Demikian postingan curhat kali ini. Sekali-kali ga posting ulasan buku tapi postingan curhat kaya gini juga gpp lah ya.. hehehe.. See you in my other random post.

Bonus foto saya dan suami di Menara Eifel 😁




Ga lupa menikmati Creme Brulee di cafe dekat Louvre. 
Creme Brulee, dessert manis yang dikasi Aji ke Kirana di Novel Nikah Muda, masih inget? 😁








13 comments:

  1. Masha Allah, dream come true ya.
    Banyak banget hal-hal yang dimulai dari mimpi, karenanya jangan pernah takut bermimpi :)

    Jadi semangat meraih impian deh ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, jangan takut bermimpi!
      Semangat terus menggapai setiap impian Mba Rey 😁

      Delete
  2. Saya juga punya banyak mimpi. Salah satunya menerbitkan buku sendiri. Mudah-mudahan bisa kesampaian juga. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah sama menerbitkan buku. Amin Insya Allah suatu saat kesampaian ya mba 😊😊

      Delete
  3. Saya juga banyak impian, hehehe
    Alhamdulillah, seneng banget kalau lihat kawan impiannya jadi nyata.
    Perlu jalan menuju kesana....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, makasi ya mba 😊 Semoga impian2 mba hanila juga tercapai yaa.. ❤❤

      Delete
  4. Mimpinya akhirnya jadi kenyataan ya mbak 😄. Bisa nerbitin novel sekaligus jalan" dan bulan madu ke ke dua bareng suami... Co cwiit banget yaa 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe iyaa, padahal ga ngiraa juga awalnya. Alhamdulillah 😁😁

      Delete
  5. Yuk kita berani bermimpi, karena mimpi itu ngak bayar. Namun semuanya berawal dari Impian.

    Nikah muda itu ngak masalah sih kalau menurut saya, asalkan sudah siap lahir bhatin, Yang jadi masalah itu adalah...mudah menikah, sebentar sebentar menikah, sebentar sebentar menikah.kan repot.Si Istrinya banyak MADU.hahhaha...Bercande.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selama ga ada yg mungut bayaran buat mimpi, mimpi lah setinggi2 nya ya kang 😁
      Waduh gawat kalau mudah menikah gitu, jangan sampe deh yaa.. 😆

      Delete
  6. Aku pun punya mimpi lho bisa nulis buku solo hahah tapi sampai sekarang belum diusahakan bangeeed. Oh ya aku belum pernah kle Devoyage Bogor nih. Seru ya itung2 keliling dunia. Refreshing sama kesayangan pasti menyenangkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga segera tercapai mimpi menerbitkan buku solo nya ya mba 😊

      Voyage tempatnya ga terlalu luas sebenarnya. Tapi seru buat foto2an banyak spot instagramable.. hehehe..

      Delete