Wednesday, 12 October 2016

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin By Tere Liye


 “Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji-janji masa depan yang lebih baik. Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini. Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua. Sekarang, ketika dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah… biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun… daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya”

Setelah cukup lama tersimpan di timbunan sejak beli dulu, akhirnya saya memutuskan untuk membaca buku Tere Liye ini. ^^ Pamor Tere Liye dalam menerbitkan buku-buku romance cukup membuat saya yang really craving for love story ini berharap banyak. Saya tidak akan menceritakan isi bukunya karena Blurb di atas sepertinya sudah cukup menggambarkan cerita buku ini. Pada 264 halaman, kita dibawa mengikuti flash back masa lalu Tania, mulai sejak dia pertama mengenal Danar di umur 11 tahun sampai dengan saat Tania dewasa, lulus kuliah dan bekerja. Buku ini sepertinya cukup banyak peminatnya, karena sejak pertama diterbitkan pada 2010 sampai sekarang telah naik cetak ulang sampai belasan kali. Tapi tapiii, buku ini sepertinya kurang cocok dengan saya, not my cup of tea >.<. Mungkin pengaruh buku2 romance yang saya baca belakangan selalu bernuansa 'manis' jadi  saya merasa tidak sefrekuensi dengan buku yang agak suram ini. Saya pun tidak bisa menyukai tokoh-tokoh yang diceritakan, entah karena Tere Liye yang tidak mengeksplor karakternya dengan detail atau memang sayanya yang gagal paham. Tania, pinter banget dan cantik, sisanya hambar. Danar, baiik banget, tetapi kok kayak belum mengena aja gitu ke hati, dan saya benci Danar yang tidak memperjuangkan cintanya. (I think you've got my point, my kinda fav man character in romance story is the one who put best effort for his love). Dede, adiknya Tania, karakter yang awalnya lumayan sreg di hati. Ceria, kritis, tetapi saya berlahan kehilangan minat karena dari awal masuk SD sampai kuliah yang dibahas Dede ke Tania itu lego lagi lego lagi. ^.^

Jadi, 3 bintang untuk buku ini karena saya tetap bisa menyelesaikannya sampai akhir tanpa terpaksa.


Judul                    : Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Pengarang            : Tere-Liye

Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
C
Jumlah halaman    : 264 halaman
ISBN  978-979-22-5780-9
Reaksi:

12 comments:

  1. *tosss* saya jg kurang suka buku ini dan buku2 tere liye lain yg temanya cinta2an.... Tp favorit bgt sm seri cerita anak2 mamak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaaa, ga sefrekuensi sepertinya saya.. ^^

      Delete
  2. Kok persis ane ya danurnya :D

    bukannya gak perjuangkan ..kita punya taktik tersendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahha, tiap orang punya caranya sendiri2 soalnya yaa

      Delete
  3. Well, denger-denger sih penerbit luar tertarik untuk nerbitin buku dengan judul ini dlm bahasa dewa, walaupun sejujurnya saya lebih berharap Sang Penandai yang go international. Sebagai penyuka novel fantasi ketimbang romance, tentunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku malah belum pernh baca yg Sang Penandai. Baru baca buku2nya yg romance. Masih blm berani keluar zona nyaman buat baca fantasi yg karya pengarang luar soalnya. Hohoho.. πŸ˜†

      Delete
  4. Nah, kalau yang ini...salah satu novel yg saya baca jaman dahulu kala..haha sekitar 2013 apa 2015 ya? Saya lumayan suka sih ini karena ya 'perubahan status' itu ga mudah. Antara dari 'mengayomi' sejak kecil, dan ngerasa harus mengubah menjadi mencintai saat si cewek menjadi gadis. Transisi antara menyayangi yang 'pure' membantu, ke fase menyayangi 'untuk menikah' memang berat ya. Kayak jatuh cinta sama anak angkatnya. :)
    Mungkin dari seri romance Tere Liye yang lain, buku ini yang saya suka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah mungkin itu yg tidak mudah.. jd akhirnya dibuat serealistis mungkin yaa. Maklum saya pencinta romance picisan yg happly ever after. Hehehe πŸ˜„πŸ˜„

      Delete
  5. Wah, ternyata kita beda selera soal cerita romance ya. Saya justru suka sama yang seperti itu, maksudnya kisah cintanya nggak usah terlalu menggebu-gebu. Saya juga suka temanya yang nggak biasa-cinta beda usia haha-itulah kenapa saya tertarik buat baca. Minusnya menurut saya paling di ending yang nggantung dan setting tempat kuliah Tania yang kurang dieksplor, jadi seakan cuma tempelan aja.

    ReplyDelete
  6. Sebenernya aku jg ga masalah cerita cinta beda usia. Tp mungkin bener, aku lebih suka romance yg menggebu2, pokoknya rasa sayang hrs diungkapin aja jangan dipendam. Hehehe..

    ReplyDelete
  7. Selirik, saya suka judul bukunya, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Harapan saya sudah tinggi ketika memulai membaca novel ini. Fyi, saya pecinta karya Tere Liye. Halaman demi halaman saya baca, tapi entah kenapa semakin lama saya merasa bosan, padahal ketika membaca karya Tere Liye yang lain saya selalu, ayo cepat, cepat, saya sudah tak sabar bagaimana akhirnya. Tapi ketika membaca novel ini, entah kenapa perasaan itu tidak ada sehingga saya yang biasanya bisa menyelesaikan membaca novel sekali duduk, jadi berkali-kali duduk :" hehe. Saya bisa menerima segala akhir cerita, entah bahagia entah tragis. Tapi benar, mungkin ada beberapa hal pada novel ini yang saya kurang mengerti dan akhirnya gagal paham. Terlalu banyak hal yang diceritakan kurang detail dan akhirnya terkesan hanya sebagai hiasan. Padahal setau saya, apa yang dibawa ke permukaan oleh Tere Liye selalu ada kelindan entah itu masa lalu, sekarang atau masa depan, dan saya kurang menemukan itu di novel ini. Sampai saat ini, saya hanya membaca novel ini dua kali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaa, aku jg ekspektasinya tinggi awalnya. Huhuhu.. entah kenapa berasa ada yg kurang n ga terlalu ngena di hati. Bukan krna novelnya ga bagus sih ya, tp kaya bukan tipe bacaan yg aku suka aja πŸ˜„

      Delete