Thursday, 9 January 2020

Menelusuri Kejayaan Islam di Spanyol melalui buku Menjejak Andalusia

Akhirnya postingan pertama di tahun 2020 ini 😁 Sebagai postingan pembuka di awal tahun, saya bakal cerita tentang salah satu buku terbaik yang saya baca di tahun lalu, Menjejak Andalusia karya Riana Garniati Rahayu dan Ibrahim Kholilul Rohman.

Andalusia, ada yang ga tau ini makhluk sejenis apa? 😁 Andalusia adalah salah satu wilayah otonom di negara Spanyol. Tempatnya di Semenanjung Iberia, dan namanya sendiri berasal dari nama bahasa Arab "Al Andalus", yang merujuk kepada bagian dari jazirah Iberia yang dahulu berada di bawah pemerintahan Muslim.


Apa yang membuat Andalusia berbeda dibandingkan daerah lain di Eropa?
Bumi Andalusia merupakan saksi dari 7 abad lamanya Islam bercahaya di benua Eropa. Pada tahun 711 Panglima Tariq bin Ziyad menapakkan kaki di Giblatar. Dari situ mulailah masuk Islam ke Spanyol dan terus berjaya sampai tahun 1491 ketika akhirnya jatuh ke Ratu Isabella dan Raja Ferdinand. 7 abad bukan waktu yang singkat, jadi pastinya banyak jejak sejarah Islam yang tertinggal di Andalusia dalam bentuk bangunan-bangunan yang penuh cerita. Jejak sejarah ini lah yang dikunjungi oleh penulis, kemudian diceritakan pada buku ini. Tempat-tempat dideskripsikan detail, lengkap dengan foto-fotonya, dan juga diselipkan cerita dengan sejarah latar belakang tempat tersebut. Tempat yang diceritakan tidak hanya segitiga emas Sevilla, Cordoba, dan Granada. Tapi juga dari utara Toledo, kota kecil Jaen dan Ronda, hingga selatan Gibraltar.
Jujur tempat-tempat yang diceritakan membuat saya terpana, sebagus itu sampai saya merasa, yaampun kemana aja selama ini kok baru tau ada tempat seoke itu 🤣 (Tapi saya dari dulu memang buta sejarah sih 😅). Sayang foto di bukunya hitam putih, coba kalau fotonya berwarna pasti makin bikin mupeng lagi.
Ini salah satu tempat yang diceritakan di buku ini :


Buku yang cerita tempat wisata pasti udah banyak, tentang Andalusia juga udah ada, jadi apa yang membuat buku ini berbeda? Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis yang tinggal selama 3 tahun di Andalusia, jadi bukan traveller sebentar saja. Selama mereka di sana, mereka diberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan muslim Spanyol. Muslim Spanyol yang dimaksud di sini bukan orang-orang yang berasal dari negara Islam (seperti Indonesia, Arab, dll), tapi adalah penduduk pribumi asli Spanyol. 

Bayangkan, setelah 7 abad Islam berjaya di Spanyol, setelah itu Islam benar-benar menghilang di tanah Andalusia sejak pemerintahan Raja Phillip III sampai dengan masa masa Diktator Franco, karena agama selain Katolik dilarang di Spanyol. Kebebasan beragama baru ada saat saat pemerintahan Franco tumbang sekitar tahun 1975. Artinya Islam mulai muncul lagi setelah sekitar 300 tahun menghilang dari Spanyol.  Jadi rata-rata muslim Spanyol ini adalah generasi pertama atau generasi kedua yang menganut Islam di keluarganya.

Kehidupan muslim di Spanyol sangat menarik buat diikuti. Jujur saat menulis ini saya masih merasakan tingling di hati ini, betapa diri ini merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Mereka yang serba keterbatasan tapi tetap semangat menjalankan ibadah. Salah satu contohnya, karena di sana jumlah mesjid sangat-sangat terbatas, jadi ada yang bela-belain pulang pergi 80 KM untuk ke mesjid agar bisa ikut sholat tarawih berjamaah. Ada juga cerita tentang pemuda-pemuda di sana sudah biasa cuti sekolah untuk fokus menghapal Al Quran. Cuti setahun, setelah itu lanjut sekolah lagi. Tapi jangan kira sekolahnya asal-asalan ya, sekolah mereka bahkan ada yang kedokteran. Jadi habluminallah dan habluminannas seiimbang. (Langsung saya otomatis merasa remah rengginang pas baca bagian ini 😢) Favorit saya tentu saja cerita tentang Amir, pemuda yang mengabdikan dirinya menjadi pengurus mesjid. Diceritain ini pemuda super ganteng ya, dan ternyata masa lalunya dia adalah model terkenal di Eropa (ga hanya Spanyol!), yang honor modellingnya luar biasa. Sehari honornya bisa dipake buat hidup berbulan-bulan, bahkan setahun. Tapi dia rela melepaskan itu semua demi bisa fokus mengabdikan diri untuk umat.
Selain itu banyak lagi cerita lain yang menggetarkan hati, pengen saya ceritain rasanya semuanya. Tapi mending kalian baca sendiri deh bukunya, saya ga mau spoiler banyak-banyak ntar malah mengurangi keseruan kalian saat baca 😁

Lihat postingan ini di Instagram
Alhamdulilaah... Setelah The Guide, bukunya sampai pula ke The Amir.. 😭🙏 . . Mas Amir inilah, yang kerapkali mencuri waktu saya dengan suami.. . . Membuat suami saya pulang terlambat ke rumah karena terlalu asyik berdiskusi selepas jamaah Isya.. . . Hingga menyerobot waktu lunch yang seharusnya menjadi jadwal lunch bareng saya dan suami.. 😆 . . Bahkan suatu hari, ketika Alma putri ketiga saya baru saja keluar dari rahim, baru saja diazankan, baru saja selesai diberitakan kelahirannya pada keluarga di Indonesia (dan masih di dalam ruangan bersalin!), mas Amir inilah orang pertama yang mendistraksi suami saya dengan telepon dan whatsapp bertubi-tubi. Tentu setelah doa dan ucapan selamat. . . Apa pasal, rupanya mereka berdua sedang berkoordinasi karena saat itu beliau sedang berkunjung dalam beberapa acara di Indonesia, sementara suami saya harus menunggui saya bersalin di Sevilla, Spanyol. . . Mengenal beliau, seperti mengenal manusia yang sungguh too good to be true. . . Mengetahui perjalanannya dalam mengabdi pada masjid, yang mengharuskannya menukar dunia gemerlap dengan sahaja (ada yang masih punya kardus nokia N93? silakan lihat ada gambar siapa 🙂), berjuang mendirikan rumah Allah yang selama 7 abad sempat lenyap dari bumi Andalusia. . . Tak habis rasanya inspirasi dan hikmah yang selalu didapat darinya. . . Ingin berkenalan lebih jauh? Silakan baca kisahnya yang menggetarkan jiwa dalam buku Menjejak Andalusia 😊 . . Dear #MenjejakAndalusia, welcome to another owner of you. The real owner.. . . --- . . Bisa didapatkan di Gramedia, gramedia.com, atau toko buku lainnya, juga melalui saya di DM/ whatsapp: 081282424245🙏 . . @menjejak.andalusia . . #bukuislami #bukuislam #bukumotivasiislam #motivasiislami #sejarahislam #muslimtraveller #andalusia
Sebuah kiriman dibagikan oleh Buku Menjejak Andalusia (@menjejak.andalusia) pada


Selain isi, saya cerita sedikit tentang penulisnya ya. Penulis buku ini, Riana Garniati Rahayu dan Ibrahim Kholilul Rohman adalah suami istri yang sempat tinggal di Sevilla, ibukota Andalusia, sejak Oktober 2013 sampai tiga tahun setelahnya. Mereka pindah ke Sevilla setelah sebelumnya menetap di Swedia karena sang suami mendapatkan pekerjaan di sana. Riana adalah teman satu almamater dengan saya. Pas tau dia menerbitkan buku, apalagi tentang Andalusia, saya langsung penasaran pengen baca. Jujur saya tidak berekpektasi tinggi degan buku ini. 'Jejak Islam di Andalusia' yang menjadi tema pada buku ini saya kira hanya sebatas cerita tempat-tempat peninggalan masa Islam, khas buku traveller lainnya. Jadi saat membaca buku ini, saya cukup suprised dengan isinya, beyond my expectation. Cerita muslim di sana sungguh menyentuh dan menggetarkan hati, auto membuat saya ngerasa ga ada apa-apanya padahal kita tinggal di negara yang paling banyak muslimnya. Kalau banyak travel blogger atau buku-buku lain berfokus bagaimana Islam 'pernah' jaya di Spanyol pada masa dulu, sedangkan buku Menjejak Andalusia adalah paket komplit. Tidak hanya cerita sejarah masa silam, tetapi bagaimana Islam masih berjaya saat ini di sana dengan caranya yang unik, dengan setiap minggu selalu ada saja yang datang ke mesjid untuk membaca dua kalimah syahadat.


Bab-bab di buku dipisah antara yang ditulis oleh Riana dan suaminya. Tulisan Riana lebih banyak menceritakan tempat-tempat bersejarah yang pernah mereka kunjungi. Cerita Riana ditulis dengan sangat deskriptif tentang kondisi tempat yang dikunjungi, ditambah dengan selipan sejarahnya. Selain itu, khas tulisan wanita, tidak lupa diselipkan bagaimana perasaan Riana saat berada di tempat itu. Otomatis membuat saya ikut membayangkan seolah-olah ikut berada di sana. Beberapa tulisan tersebut juga pernah di terbitkan di surat kabar. Berbeda dengan tulisan istrinya, tulisan Pak Ibra lebih banyak tentang hubungannya dengan orang-orang. Teman kantor dan tanggapan mereka tentang Islam, orang-orang Muslim yang mereka temui di mesjid, seorang tour guide muslim yang sangat inspiratif, dan banyak orang lainnya.

Jadi 4,5 bintang untuk buku Menjejak Andalusia




Review Buku Menjejak Andalusia

Blurb
From North to the South…. Goresan takdir membawa biduk kayuh kami untuk berlabuh di bumi-Nya yang lain kala itu. Masih di Eropa, tapi bergeser ke selatan. Ke daratan Andalusia. Tentu saja, nama Andalusia sendiri bukanlah nama yang asing bagi kami. Sebagai muslim, hampir pasti kita sering mendengar nama ini disebut-sebut sebagai bagian dari era kejayaan Islam di masa lalu. Di ibu kota Andalusia, Sevilla-lah, kemudian kami tinggal sejak Oktober 2013 hingga 36 bulan sesudahnya. Rasanya wajar, jika perasaan skeptis sempat menjalar di benak kami kala itu. Bagaimanapun, sejarah Islam di Andalusia hanyalah masa lalu. Kondisi saat ini tentu saja tak sama seperti apa yang ada dalam buku-buku sejarah. Sevilla dan seluruh daerah otonomi Andalusia kini hanya menyisakan sisa peradaban Islam yang dikagumi oleh jutaan wisatawan dari seluruh dunia. Tapi kami salah, kepindahan kami ke Sevilla hanyalah awal dari pengalaman hidup yang mengayakan. Di Andalusia, di tempat yang Islam pernah lama bercahaya, kami temukan kembali seberkas sinarnya.
Menjejak Andalusia
Penulis : Riana Garniati Rahayu dan Ibrahim Kholilul Rohman
Penerbit : PT Elex Media Komputindo - Quanta
Tahun Terbit : 2019
ISBN : 978-623-00-0691-3 dan 978-623-00-0692-0 (digital)

4 comments:

  1. Kebanyakan penulis buku keren itu, memang udah dasarnya suka nulis, ditambah riset detail, jadilah buku yang keren banget ya :D
    Dulu saya sering mikir, kenapa sih Asma Nadia harus keliling dunia biar bisa nulis, eh ternyata biar bisa lebih jelas menggambarkan suasana lokasi tokoh dalam tulisannya.

    Btw membaca kehidupan muslim di negara minoritas gini, bikin saya jadi tersadar, betapa saya menyia-nyiakan kemerdekaan dan kebebasan beragama di sini ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mba, riset dan apalagi klo mereka langsung mengalami sendiri. Makin kerasa deh feel bukunya.. 😁

      Iyaaa.. huhu.. mereka aja mau ibadah qurban harus ngumpet2 saking susahnya di sana..

      Delete
  2. Selalu suka dengan buku-buku yang berlatarkan tempat wisata apalagi berdasarkan pengalaman mereka langsung. Menjejak Andalusia masuk ke list buku yang pengen dibaca ini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku sebenernya jarang baca2 buku tentang tempat wisata gini, takut kepikiran saking pengennya ke sana tp keadaan belum memungkinkan. Hahahha..
      Tp ini buku bagus mba, setuju, masukin list bacaan ya 😁

      Delete