Friday, 1 May 2015

The Railway Children (Anak-anak Kereta Api) by Edith Nesbit

Buku The Railway Children ini adalah novel anak2 klasik. Berdasarkan informasi dari Goodreads, buku ini Orig Pub : 1906 dan Pub : 2000. Jadi mungkin maksudnya buku ini sudah ada sejak tahun 1906. Sedangkan buku yang saya baca adalah versi terjemahan terbitan GPU tahun 2010.

Setting yang di ambil di buku ini adalah masa2 perang dunia pertama di Inggris. Cerita ini menceritakan kehidupan 3 orang bersaudara yaitu Roberta, Peter dan Phyllis. Ketiga anak2 itu awalnya hidup bahagia. Mereka anak2 beruntung itu selalu memperoleh apa yang mereka inginkan : 
baju2 bagus, perapian yang hangat, kamar bermain yang penuh mainan, dan dinding kamar berlapis kertas dinding bergambar dongeng. Ibu yang selalu siap bermain dengan mereka, membacakan mereka cerita, membuatkan puisi. Dan tentu saja ayah yang sempurna, seorang Inggris sejati kalau kata mereka. 
Tapi pada ulang tahun Peter ke 10, ada beberapa orang yang menjemput Ayah mereka, dan sejak itu sang Ayah tidak pernah pulang. Mereka pun terpaksa memberhentikan semua pembantu, pindah bersama ibu mereka ke rumah yang lebih kecil dipedesaan, di sebelah stasiun dan rel kereta api, dan hidup dengan kondisi yang lebih sederhana. Sejak itulah petualangan mereka dimulai. 


Cerita di ceritakan dengan sudut pandang orang ke-3, yang sangat detail menggambarkan perasaan dan karakter mereka ber-3, dengan tetap mempertahankan keluguan khas anak2. Seperti bagaimana digambarkan mereka tidak pernah diberitahu kemana ayah mereka, dan mereka tidak dpt menebaknya. Padahal kalau kita orang dewasa pasti sudah bs menebak karena pada suatu kesempatan pembantu mereka pernah memarahi mereka dengan berkata "Kalian akan jadi anak2 jahat. Kalian anak2 tolol! Kalau tidak bisa memperbaiki kelakuan, kalian harus pergi ke tempat Ayah kalian berada sekarang. Nah, tahu rasa, kalian!" (Hal 21)

Pada awal membaca buku ini, saya tidak terlalu berharap banyak dengan ceritanya. Bagi saya yang pencinta fantasi, sempat berfikir, apa yang menarik membaca tentang kehidupan 'sehari-hari' anak2 kecil bermain. Tidak ada surat dari Hogwards, tidak ada pintu menuju Narnia, tidak ada tentangga hantu, bahkan tidak ada petualangan ala2 detektif atau 5 sekawan, dll, pokoknya murni sehari2. Apalagi buku ini cukup tebal untuk novel anak2 (307 halaman versi terjemahan). Tapi ternyata saya sangat menikmati menikmati membaca buku ini. Saya seperti ikut menemani petualangan mereka saat mereka melambaikan tangan ke setiap kereta api yang lewat, main di danau untuk memancing ikan, berjalan melewati terowongan kereta api untuk menyelamatkan orang, melambaikan2 bendera ke kereta api yang melaju untuk menyelamatkan kereta api dr kecelakaan, dan banyaaak petualangan lainnya. Dan tentu saja, upaya mereka untuk mengetahui keberadaan Ayah mereka.. Jadi tidak salah buku ini masih bertahan sebagai bahan bacaan sejak tahun 1906. 
Reaksi:

4 comments:

  1. Di samping melahap batjaan fantasi, saya termasuk penikmat klasik level pemula. Namun saya agak ragu untuk mengadopsi buku ini dikarenakan covernya kurang menarik untuk ukuran terbitan GPU *khusus klasik, cover does matter, untuk saya xD*

    Tampaknya buku ini lumayan juga ya? Auranya seperti buku-buku Enid yang selain detektif.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, lumayan kok bukunya.. Mirio Enid tp lebih panjang n detail aja..

      Delete
  2. Dunia anak-anak tidak pernah ada habisnya, apalagi ketika tidak ada ayah disisi mereka saat masih kecil. Melambaikan tangan pada kereta yang lewat, jadi ingat semasa kecil. Rumahku ± 200 meter dari rel kereta api, jadi setiap main dan mendengar suara kereta aku langsung mendekat. Entah apa sensasinya saat itu, yang pasti seru. Atau saat ada pesawat terbang lewat, kami akan melambaikan tangan dan memanggil-manggil "kapal minta uang, kapal minta uang" banyak kenangan saat anak-anak itu. Meski ceritanya tidak jauh berbeda dengan anak-anak pada umumnya, tapi mereka punya dunia masing-masing yang tidak bisa dimasuki oleh orang dewasa. Jadi, yang bisa mengerti hanya anak-anak sepantaran mereka saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seruu banget yaa.. Aku jg waktu kecil suka dadah2 sama peswat, pdahal mereka liat jg ga yaa.. Hahaha

      Delete