Saturday, 9 November 2019

Ajigijaw membaca novel : Kami (Bukan) Jongos Berdasi by J.S. Khairen


Tak masalah jadi orang biasa-biasa saja.
Tidak kaya, tidak miskin. Tidak cantik, tidak jelek.
Tidak punya jabatan, namun tidak pula terlupakan.
Tidak genius, tidak pula bego-bego amat.
Menjadi biasa-biasa saja itu juga indah.
Yang masalah itu adalah tidak terbiasa menjadi orang.
Sebelum saya mengulas singkat buku ini, saya mau bertanya, Kalian lebih suka buku yang menceritakan hal yang jauh dari kenyataan atau hal yang dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari? 
Hal jauh dari kenyataaan itu seperti tipe buku yang menceritakan orang biasa saja terpaksa menikah tapi tau-tau dengan CEO keren. Atau menceritakan tokoh tajir melintir keluar negri terus jatuh cinta, dan cerita2 yang hanya akan dialami oleh sangat segelintir orang yang 'sangat beruntung'.

Nah buku J.S. Khairen ini berbeda, buku ini menceritakan hal yang dekat sekali terjadi di sekeliling kita, malah mungkin pernah dialami oleh salah satu kita di sini. Novel ini menceritakan pahitnya kenyataan, tapi itu bukan halangan bagi kita untuk tetap berjuang. Mengingat, berapa persen sih orang walau udah sarjana bisa langsung dapat kerja enak trus langsung dapet jodoh nikah, punya anak dan happily ever after?



Kami (Bukan) Jongos Berdasi ini menceritakan tentang sekelompok teman lulusan kampus UDEL. Mereka berjuang dengan hidupnya masing-masing setelah lulus dari tempat kuliah yang sama sekali tidak bonafid (bahkan kalau di Gooling pun ga akan ketemu πŸ˜…), malah kampusnya mau dibubarkan. Sania, Arko, Randi, Gala, Juwisa dan Ogi.

The Characters

Sania
, lulus kuliah diterima kerja di Bank EEK. Awalnya masih mencari jati diri, jadi anak pansos (panjat sosial) karena walaupun duitnya pas-pasan dan orang tuanya kerja di pasar, dia tetap bela-belain ikut teman-temannya nonton konser ke Singapura. Parahnya, duitnya dapat dari pinjaman online yang bunganya ga kira-kira 😱 Awalnya Sania karakternya rada nyebelin buat saya, mana masa lalunya pernah masuk rehab karena seisap dua isap. Tapi lama-lama karakternya berkembang dengan makin banyaknya ujian yang dialaminya. Memang karakter orang bisa berubah dengan banyaknya hal yang dilaluinya..

Arko, saat kuliah di UDEL dia memilih pergi ke Eropa mengikuti pameran foto. Pulang-pulang tidak jelas juntrungannya, jadi fotografer lepas, tinggal menumpang di kosan teman, kuliah juga tidak selesai. Belum lagi emaknya di kampung menuntut dia tinggal di kampung saja dari pada tidak jelas di ibukota..

Randi, ini yang paling bervisi walau tak muluk-muluk. Cita-citanya kerja yang bagus, agar bisa promosi dan naik gaji. Kemudian bisa menabung uang untuk nanti menikah. Di antara semua teman-temannya, Randi yang cukup mulus perjalanan karirnya. Tapi tidak dipungkiri, memang dedikasinya dalam bekerja patut diacungi jempol. Yang tidak mulus hanya rencananya untuk mendapatkan jodoh..

Gala, orang tuanya tajir melintir. Tapi sejak lulus dia memutuskan mandiri sendiri. Jadi guru, sambil nyambi jadi freelancer arsitek. Yang pertama menikah di antara semua geng mereka. Punya cita2 untuk membuat sekolah di daerah pedalaman, tapi terhalang modal dan rencananya untuk fokus agar bisa memiliki anak..

Juwisa, dijuluki ubin mesjid karena adem sekali setiap berbicara dengannya. Anak rajin dan penuh semangat mencapai cita-citanya. Anak tukang ojek online yang bermimpi bisa memperoleh beasiswa ke luar negri. Apapun dia lakukan bahkan jadi KuyClean pun dia jabanin agar bisa memperoleh uang untuk bisa les mempersiapkan beasiswanya. Tidak ada rasa malu atau gengsi bagi Juwisa bekerja jadi tukang bersih-bersih walau dia adalah sarjana. Tetapi sesuatu terjadi pada Juwisa yang membuat ubin mesjid itu retak se retak-retaknya. Sampai dia beberapa kali terpikir untuk mengakhiri hidupnya..

Ogi, drop out dari kampus Udel, tetapi kemudian pindah ke Amerika. Di sana dia bekerja di perusahaan yang memiliki google dan berhasil memgembangkan aplikasi di Silicon Valley dengan nilai evaluasi yang lumayan besar. Gempar menggelar pokoknya kemudian hidupnya..

Banyak kan karakternya? Belum lagi ada lagi mantan dosen konseling mereka dulu di kampus UDEL, teman2 Sania di Bank EEK, teman menyanyi Sania, istrinya Gala dan banyak lagi karakter lainnya. Semua bersatu membentuk suatu cerita kehidupan, bahwa dunia setelah lulus kuliah tidak lah seindah kata-kata motivator.

What Do I Think About the Book?

Jujur saya sebenarnya bingung bagaimana menggambarkan buku ini, saking banyaknya cerita dan padatnya tokohnya. Related banget, mungkin ini yang paling pas buat menggambarkannya. 😁 Kamu tim Krl berangkat pulang kantor harus berdesak-desakan di kereta? Kamu udah dapat kerjaan tapi ngerasa gajinya tidak pernah cukup? Kamu baru lulus kuliah dari universitas ternama dan merasa pantas gaji besar posisi bagus padahal belum punya pengalaman kerja? Udah kerja tapi kok ngerasa ga sesuai passion sementara kamu punya mimpi lain yang ingin diwujudkan? Udah mapan kok jodoh belum keliatan hilalnya? Pokoknya siapapun kamu, saya rekomen buat baca, yakin deh pasti ngerasa related banget pas baca ini.. Reading this book feel like talking with an old friends.

Hal lain yang saya suka dari buku ini adalah gaya bahasanya. Sangat unik, tidak baku tapi tetap membuat kita mengalir saat membacanya. Baru ini saya membaca novel dengan gaya bahasa seperti ini, membuat penulis jadi punya ciri khas sendiri dibandingkan penulis lain. Belum lagi metafora yang digunakan penulis unik-unik, seperti 'seisap dua isap' alih-alih menggunakan kata 'kecanduan narkoba'. Ajigijaw kalau memimjam istilahnya J.S. Khairen, gempar menggelar. Tidak jarang istilah yang digunakan membuat kita menyunggingkan senyum sampai tertawa. Jadi membaca buku ini sangat menghibur.

Seperti contoh metafora ini :
Juwisa lama-lama memang jatuh hati betulan pada Enggar yang sebelas dua belas dengan vokalis Noah itu. Ariel Noah sebelas juta, Enggar nol koma dua belas
Beban itu menumpuk tinggi di pundak Arko. Lebih tinggi daripada menara Eiffel digabung menara Pisa digabung Jam Gadang.
Buku ini lumayan tebal buat ukuran novel lokal jaman sekarang ya. Sampai epilog itu ada 409 halaman. Saya menikmati membaca cerita 6 sekawan ini, pertemanan yang unik dan nyata. Tidak selalu ada waktu mereka untuk berkumpul, tetapi saat dibutuhkan mereka selalu berusaha ada. Jangan bilang mereka ga pernah bertengkar, ada juga cekcok antara mereka. Toh tapi akhirnya mereka tetap bersama. Yang kurang buat saya hanyalah kurangnya kejutan dalam hidup mereka. Walau kadang susah kadang senang, kadang kere kadang berduit, semuanya sepertinya kurang ada kejadian yang klimaks (kecuali yang terjadi dengan Juwisa ya). Jadi saya merasa kurang mendapatkan kejutan saat membaca buku ini. Saat menutup buku pun saya merasa ada yang kurang, seolah-olah berpikir "setebel ini ga ada yang heboh lagi nih yang terjadi?"

Oiya, mungkin karena ini buku cetakan pertama jadi masih ada editing yang ga bersih. Typo sih minim ya, tapi salah nulis nama sering banget. Huhu. Halaman 130-131 yang paling parah, beberapa kali salah sebut nama Agnes menjadi Lina. Halaman lain juga ada tapi ga sebanyak halaman yang saya sebut tadi. Ya bisa jadi saking banyaknya karakter, editor nya sampe puyeng sendiri. Semoga di cetakan berikutnya (karena saya yakin buku ini akan cetak ulang!😁) Bisa lebih dirapikan.

Jadi 3.5 bintang buat Kami (Bukan) Jongos Berdasi


Oke saja kalau kamu sudah punya visi besar. Tapi, kuda kalau berlari sendiri, membawa barang yang berat, takkan sanggup. Sehebat, sekokoh dan segagah apa pun kuda itu. Sendiri takkan bisa. Harus segerombolan.
Judul : Kami (Bukan) Jongos Berdasi
Penulis : J.S. Khairen
Editor : MB Winata
ISBN : 9786022202882
Penerbit : PT. Bukune Kreatif Cipta
Tahun terbit : Oktober 2019 (cet. 1)
Format : vi + 414 halaman Bookpaper
Blurb
Alumni Kampus UDEL kini telah lulus. Masuk ke dunia nyata yang penuh tikus. Ada yang bertahan, ada yang sebentar lagi mampus.
Kerja di Bank EEK? Ada. Kerjanya pindah terus? Ada. Bimbang ikut keinginan orangtua atau ikut kata hati? Ada. Apa lagi pengangguran banyak acara, pasti ada. Namun, diam-diam ada juga yang karirnya lancar, gajinya mekar, dan jodohnya gempar menggelegar.
Mendapat intimidasi dari rekan kerja, lingkungan, dan keluarga itu sudah biasa. Mendapat cemoohan bagi yang ingin berkarya, jelas jauh lebih biasa. Menerima perlakuan semena-mena, hingga tertawaan dan hinaan adalah sarapan pagi.
Akankah mereka bertahan di dunia yang penuh intrik ini? Atau mereka harus jadi jongos berdasi, pura-pura mampu beradaptasi, dengan tantangan dunia yang terus gonta-ganti?
Buku ini wajib dibaca oleh pelajar SMA, mahasiswa, para orangtua, karyawan, petinggi perusahaan, para pencari kerja, mereka yang ingin berkarya, para pengambil kebijakan di berbagai institusi, hingga Presiden Korea Utara agar kita bisa memutuskan apakah besok libur atau kerja dan berkarya.
Buku kedua dari serial novel "KAMI (BUKAN) SARJANA KERTAS."
-------
"Tak apa rasa lelah hingga ke tulang.
Untuk tempat yang kita sebut pulang.
Hidup ini memang soal tualang.
Bukan soal siapa kalah siapa menang."
-------




4 comments:

  1. Kadang saya suka buku yang penuh hayal dan jauh dari kenyataan. Halu deh pokoknya. Tapi kadang juga suka buku yang berisi hal-hal yang dekat dengan kehidupan real.
    Intinya saya suka semua buku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaaa, aku juga pelahap semua, klo cerita biasanya tergantung mood 😁 asal bahasanya asik, pasti betah deh beresin bukunya, kaya buku ini😍

      Delete
  2. ya ampuunnn, kemaren saya liat buku ini di Gramed, ternyata bagus ya bukunya, lucu juga sih yang bikin tertarik hehehe.

    Tahu gitu beli ini kemaren, tapi malah cuman dilirik aja hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa baguus bukunya Mba Rey, komedi tapi satir juga 😁 buku pertama nya yg Kami (Bukan) Sarjana Kertas aja masuk ke 10 buku terlaris di Gramedia.

      Delete