Wednesday, 31 December 2014

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck by Hamka

Sudah lamaaa sekali saya ingin membaca buku2 karya Buya Hamka, dan akhirnya kesampaian jugaaa.. Yeyyy!! Hehehhe.. Nyari bukunya udah kemana2, mulai dr toko buku, pameran sampai online, tp malah nemunya di abang2 yang jual buku kaki lima di jembatan busway.. :D
Ini penampakan bukunya : 

Agar tidak mengurangi keseruan baca bukunya, saya sama sekali tidak mau membaca sinopsis atau review tentang buku ini dari dulu. Bahkan waktu film dengan judul sama dg buku ini di release tahun lalu saya sama sekali ga mau nonton, even only the thriler. Jadi saya mulai membaca buku tanpa mempunyai klu ini ceritanya tentang apa, and I love it!!

The Story
Cerita dimulai dengan seorang pemuda bernama Zainuddin di Mengkasar. Zainuddin adalah anak Pandekar Sutan, orang terbuang dari Batipuh, Sumatera Barat. Pandekar Sutan dulu di usir dari Batipuh karena demi membela diri jadi membunuh mamaknya (sebutan bahasa minang untuk saudara laki2 ibu). Tapi Pandekar Sutan sebenarnya adalah orang baik, mamaknya yang membuatnya di posisi sulit sehingga terjadilah pembunuhan tak disengaja itu. Pandekar Sutan yang baik budinya akhirnya menarik hati oleh seorang pemuka agama di Mengkasar yang kemudian menjodohkannya dengan anaknya. Pandekar Sutan menikah dan memiliki anak Zainuddin, tapi istrinya meninggal karena sakit sejak Zainuddin 9 bulan.

Ayahnya selalu menceritakan tentang keindahan tanah minangkabau dan adat istiadat masyarakatnya kpoada Zainuddin, apalagi dulu juga katanya Islam sampai ke Mengkasar juga berasal dari sana. Ketika ayahnya meninggal dunia dan Zainuddin hanya tinggal dengan ibu angkatnya (Mak Base), keinginan Zainuddin untuk kembali ke Batipuh semakin besar..

Zainuddin akhirnya berangkat ke Batipuh. Dengan semua bayangan indah2 tentang minangkabau seperti yang diceritakan ayahnya. Ketika sampai di Batipuh, memang benar keindahan minangkabau menarik hatinya, tetapi sayangnya ketika dia datang kesana, dia anggap orang lain, bukan saudara sekandung. Karena adat minang yang matrilineal berdasarkan garis keturunan ibu, yg tidak dilahirkan dari ibu orang minang, dianggap bukan orang minang dan tidak bersuku.. Walaupun ayahnya adalah Pandekar Sutan, Zainuddin tetap tidak dianggap saudara seutuhnya. Jadi dia tinggal di saudaranya yang sebenarnya mau menerimanya hanya karena dia memberikan uang untuk tambahan biaya hidup yang berasal dari kiriman Mak Base nya di Mengkasar.

Konflik mulai muncul saat Zainuddin jatuh cinta pada bunga Batipuh, kaya kembang desanya Batipuh gitu, Hayati. Padahal pacarannya cuma surat2an, bukan kecan jalan ber2 kaya orang jaman sekarang, apalagi melakukan yang aneh2.. Tapi sekampung kaya heboh gitu karena Hayati dan Zainuddin cinta2an dan surat2an, bukan karena Zainuddin bukan orang baik, tapi karena menurut ninik mamak Zainuddin bukan orang minang, tidak bersuku.. 
Di minang, yang paling memegang putusan paling tinggi adalah ninik mamak, keputusan ninik mamak bahkan di atas keputusan orang tua sendiri. Apalagi kondisinya di sini Hayati juga yatim piatu, makin aja ga ada yang belain kaaan.. Ini kata2 mamak Hayati yang ngena bgd waktu nasehatin hayati setelah dia mengusir Zainuddin secara halus dari Batipuh 
"Hai upik, baru kemaren kau memakan garam dunia, kau belum tahu belit-belitnya. Bukanlah kau sembarang orang, bukan tampan Zainuddin itu jodohmu. Orang yang begitu tak dapat untuk menggantungkan hidupmu, pemenung, pehiba hati, dan kadang-kadang panjang angan2. Di zaman sekarang haruslah suami penumpangkan hidup itu seorang yang tentu pencaharian, tentu asal usul. Jika perkawinan dengan orang yang demikian langsung, dan engkau beroleh anak, kemanakah anak itu akan berbako? Tidakkah kau tahu bahwa gunung merapi masih tegak dengan teguhnya? Adat masih berdiri dengan kuat, tak boleh lapuk oleh hujan, tak boleh lekang oleh panas?"

Catt = Babako maksudnya adalah kalau punya suami bukan orang minang, anak jd tidak memiliki keluarga bako (kluarga dari ayah) yang bisa dikunjungi  atau hal2 lain menurut adat

Waktu tau cinta mereka tidak direstui, saya kira mereka bakal kawin lari (kaya romeo n juliet) dengan kapal van der wijck yang kemudian tenggelam dan mereka mati berdua kaya film titanic. Ternyata ceritanya tidak sesimpel itu. Ceritanya jaaauuhhh lebih bagus dari romeo juliet n titanic digabung. (Agak lebay tapi bener kok ^^). Karena konfliknya jauh lebih panjang, banyak dan menarik.
Hayati disini digambarkan sebagai wanita minang walaupun sedang jatuh cinta, masih mencoba untuk rasional, tidak mungkin dia mengacuhkan begitu saja kata ninik mamaknya dan mencoreng nama nagari. Jadi waktu Zainuddin di usir dari Batipuh, Hayati tetap mencoba untuk move on walaupun berat. Sedangkan Zainuddin, tetap melanjutkan tujuannya untuk belajar Islam di Padang Panjang, mencoba tetap beratahan hidup dengan penyemangatnya adalah janji Hayati untuk setia seumur hidupnya kepada Zainuddin.. 
Akankah mereka akhirnya bersatu? Bisakah Hayati menentang ninik mamaknya? You better read by yourself, karena ceritanya terlalu baguuus buat saya ceritain... Hehehhe.. 

My opinion
Ini buku terakhir yang saya baca di tahun 2014, dan ini adalah buku TERBAIK yang saya baca di tahun ini. Ceritanya selalu keep suprising hampir di tiap babnya. Mungkin karena ini dulunya adalah cerbung di koran, jd tiap bagian selalu ada jalan crita yang klimak dan menarik. Caritanya kereeen, endingnya juga keren, dan berhasil membuat saya nangis bombay terakhirnya. Perasaan cinta dan pergolakan batinnya juga ngena banged, kalau mereka ga inget agama, udah berkali2 kayanya mereka mau bunuh diri.. Huhuhu..  
Gaya bahasa ringan ya menurut saya, ga tau kalau yang bukan orang minang menggangap sama atau ga.. Bagi saya yang orang minang (pure blood, bukan anak pisang kaya Zainuddin. Hehehe..) membaca ini benar2 membuat saya rindu kampung halaman, dan yang diceritakan ini memang dulu sering terjadi, sekarang kayanya udah mulai jarang ya.. Belum lagi penjelasan tentang adat minang, pantun2 dan bahasa2 minang yang banyak digunakan di buku ini, really feel like home!!


The movie
Buku ini sudah diadaptasi jadi film tahun lalu dan sepertinya cukup sukses n banyak peminatnya. Saya sendiri jujur baru nonton sebagian awalnya dan dari awal aja kayanya udah ga sreg karena agak beda dengan bukunya. Jadi aja malas melanjutkan menonton. Hehehe.. Apalgi dulu juga pernah kecewa salah satu buku Buya Hamka yang difilmkan "Di Bawah Lindungan Kabah" yang menurut saya agak lebay.. (Tapi belum baca bukunya jadi ga bisa ngebandingin)

Waktu itu juga yang sempat heboh (apalagi di kalangan orang minang) karena cover movienya yang menggambarkan Hayati memakai baju tak berlengan kaya ini : 


Memang kalau orang minang, terutama pada masa itu, wanita lebih banyak pake baju kurung. Saat Hayati ke Padang Panjang, memang dibukunya dia tidak memakai baju kurung dan selendang seperti biasa, tetapi kebaya pendek (beda lah kebaya pendek sama dress tdk berlengan kaya di filmnya). Karena adat di minang ya yg terkenal dengan "adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah" (adat berdasarkan Islam dan kitab Allah), bahkan sampai sekarang pun, jarang sekali saya lihat orang lalu lalang di Padang Banjang pake baju tak berlengan, kalaupun ada biasanya cuma anak2 atau orang2 dari kuar kota. Jadi wajar kalau sempat diprotes gitu.. Harusnya kalau mau bikin film bikin reasearch dulu lah setidaknya yaa..


Oke, tulisan ini ditutup dengan kata2 Hayati saat akan melepas Zainuddin yang diusir dari Batipuh : 
"Dan selalu saya berkata, biar Tuhan mendengarkan, bahwa engkaulah yang akan jadi suamiku kelak, jika tidak sampai di dunia, biarlah di akhirat"

Jakarta,
Penghujung tahun 2014
Reaksi:

7 comments:

  1. wuih ga dsangka2 yah nemunya malah di abang kaki lima... seneng banget pasti :D
    saya blum baca & blum nonton jg :(
    jd penasaran bgt stelah baca review ini...

    ReplyDelete
  2. Iyaa, nyarinya udah kemana2 padahal. Hehehe.. Baca deh teh, klo penyuka cerita romantis pasti ga akan nyesel deh.. ^^

    ReplyDelete
  3. Ini buku kedua karya buya Hamka yang aku baca. Pertama baca "dibawah lindungan ka'bah" itu smp, meski agak berat untuk anak smp saat itu. Tapi aku membacanya, yang aku ingat banyak surat diceritanya, aku nangis dan susah move on. Aku pinjam buku itu dari perpustakaan sekolah apa daerah ya, aku lupa. Tapi aku juga membaca buku "tenggelamnya kapal van der wijck" itu saat kelas 2 sma, tahun 2007 atau 2008 an. Sampulnya berbeda dengan yang kaka punya. Menurutku sampul buku yang aku baca mewakili isinya. Gambar laut yang berombak-ombak dengan kapal kecil ditengahnya. Warnanya ungu apa biru, gelap gitu. Tulisannya kuning. Dan aku juga dibuat baper sama karya beliau yang ini juga. Aku juga dapat pinjam dari perpus sekolah. Dan kedua buku tersebut sudah difilmkan, tapi aku kurang berminat untuk menontonnya. Karena biasanya yang buku lebih menarik dan kompleks. Kadang biasanya yang ada dibuku itu tidak semua dituangkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah asiik banget udah baca dari dulu yaaa.. Aku baru kesampain ini bacanya. Hehehe..
      Iyaa, filmnya jaaauhh deeh, feel ny ga kerasa kaya bukunya..

      Delete
  4. Ya Allah kakak dapet karya HAMKA dimana????? Aku penggemar beratnya nih.... semua karyanya ciamik yang pasti nyastraaaaa banget. Butuh pemikiran yg tinggi buat menafsirkan jalan cerita beliau. Gilanya say trtantang banget sm karya2nya. Aduuuhh pengen bukunyaa 😂😂😂

    ReplyDelete
  5. Ya Allah kakak dapet karya HAMKA dimana????? Aku penggemar beratnya nih.... semua karyanya ciamik yang pasti nyastraaaaa banget. Butuh pemikiran yg tinggi buat menafsirkan jalan cerita beliau. Gilanya say trtantang banget sm karya2nya. Aduuuhh pengen bukunyaa 😂😂😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa bagus banget emank bukunya yaaa.. Hehehe.. Dapet di jembatan busway masa, aku jg ga ngira bakal dpt d situ. ^^

      Delete