Sunday, 14 March 2021

Abdullah Harahap dan Buku Kumpulan Budak Setan

Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan kumpulan cerpen yang menarik berjudul Kumpulan Budak Setan.

Suka banget sama cover-nya, aura horornya kerasa πŸ˜†πŸ˜

Bukan, ini bukan buku karya Abdullah Harahap. Awalnya saya tertarik membaca buku ini justru karena melihat nama Eka Kurniawan adalah salah satu penulis dari cerpen di buku ini. Buat yang belum tau, Eka Kurniawan adalah penulis lulusan Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada yang punya sederet prestasi mengagumkan di kesusastraan Indonesia. Buku-bukunya bahkan sudah banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Buku Kumpulan Budak Setan terdiri dari 12 cerita pendek dari 3 orang penulis. Yang unik adalah genre yang diambil. Gabungan antara horor dan kisah senonoh. Hubungan badan juga menjadi hal utama dalam penggerak cerita.

Oiya, buku ini berlabel dewasa. Jadi buat kamu yang di bawah umur dilarang membaca buku ini.

Ternyata, usut punya usut, ketiga penulis pada buku ini memiliki keterikatan yang sama dengan Abdullah Harahap. Jadi, mereka melakukan proyek membaca ulang buku-buku Abdullah Harahap, dan menulis cerpen-cerpem horor ini di tahun 2008. Dan akhirnya diterbitkan oleh GPU pada tahun 2010. Sehingga bisa dibilang, buku Kumpulan Budak Setan ini adalah persembahan untuk Abdullah Harahap. 

Abdullah Harahap


Saya tumbuh bukan di era kejayaan Abdullah Harahap, sehingga nama ini agak asing di telinga saya. Dari berbagai sumber, saya dapatkan informasi ternyata penulis ini dikenal dengan novel horor picisan di tahun 1970-1980. Status picisan ini lebih karena dianggap buku-buku beliau di luar kualitas sebuah karya sastra, karena lebih menjadikan bersetubuh sebagai bagian utama di ceritanya.

Saya pribadi belum pernah membaca satupun karya Abdullah Harahap, jadi saya tidak bisa memberikan pandangan subjektif atas tulisannya. Hanya bisa menduga-duga dari ceritanya yang seputar arwah penasaran, manusia jadi-jadian, atau percintaan dengan siluman. Mengingatkan saya dengan jenis-jenis film horor Suzana yang sempat hits di tempo dulu.

Namun, pada masanya buku-buku Abdullah Harahap sangat banyak peminatnya. Betapa pun orang bilang itu hanya karya stensil kacangan, karya beliau selalu laku di pasaran. Mungkin karena tema yang diangkat sangat merakyat dan selalu kental dengan nuansa lokal. Bisa dibilang ia adalah salah satu penulis cerita horor paling produktif di Indonesia.

Cerita Stensil Masa Kini

Kalau dulu tren ini dulu dikenal dengan novel-novel bercover wanita seksi, sekarang tren yang sama muncul kembali dengan media yang berbeda. Sekarang sarang cerita stensil lebih banyak di paltform menulis online, salah satunya wattpad. 

Banyak cerita-cerita di wattpad sekarang yang banjir pembaca justru yang mengedepankan kisah 17++. Padahal banyak juga cerita-cerita berkualitas lainnya, tapi sayang tenggelam dengan cerita dengan konten dewasa.

Ini memunculkan sebuah pertanyaan menggelitik di kepala saya, lebih baik karya bagus dan keren tapi tidak banyak pembaca, atau karya tipikal dengan label 'sudah dibaca jutaan kali di wattpad'? 

Buku Kumpulan Budak Setan  


Kembali ke buku Kumpulan Budak Setan, terlepas dari tema yang diusung, saya cukup menikmati dan merinding membaca kumpulan kisah ini. Cerita horornya kotor, beberapa membuat jijik, tapi saya suka dengan diksi yang dipakai, seperti ini:

Perjanjianku dengan setan menyeret kepada semesta lain yang sebelumnya tidak pernah kujamah. Ia membangun kehendak-kehendak yang tidak kukenali. Hasrat nista untuk diperlakukan semena-mena. Perempuan itu menulariku dengan penyakitnya. Timbul pertanyaan-pertanyaan yang tak berani aku ajukan namun terus menggelitikku. Bagaimana ia sampai disini, bagaimana seonggok makhluk mengerikan, serta mengapa, dengan cara apa, ia menjijikkan sekaligus menyedotku? Hal-98

Favorit saya adalah salah satu karya Intan Paramaditha berjudul Pintu. Cerita sebuah Mercy Tiger keluaran tahun 1982 yang berpenunggu, sehingga menyebabkan ditemukannya pemiliknya meninggal tanpa baju sehelai pun di dalamnya.

Jadi, tentu saja 4 bintang untuk buku Kumpulan Budak Setan.

Kumpulan Budak Setan
Penulis : Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-3364-9
174 halaman
Cetakan Februari 2010
Baca di Ipusnas
(Foto Canva edited by me)
Membaca buku Kumpulan Budak Setan ini membuat saya penasaran dengan buku Abdullah Harahap. Mungkin suatu saat saya juga akan mencoba membaca karya beliau. Bagaimana denganmu, apakah sudah kenal dengan karya-karya Abdullah Harahap sebelumnya? 

Sunday, 7 March 2021

Kisah Remaja dengan Gangguan Kejiwaan Mitomania pada Novel Ari Keling Terbaru

Pada beberapa waktu yang lalu, teman saya Abi pernah bertanya kepada saya, "Kamu tau yang namanya Ari Keling, ga? Nama dia muncul terus setiap pengumuman lomba..." Waktu itu kami mengobrol dengan gabungan antara rasa penasaran dan kagum sama penulis yang satu itu 😁.

Buat yang rajin ikut lomba-lomba menulis novel, mungkin cukup familiar dengan nama ini. Sampai sekarang, Ari Keling sudah menerbitkan lebih dari 20 novel, mulai dari penerbit Grasindo, Fiksi Laksana, Bhuana Sastra sampai yang terbaru di Penerbit Indiva Media Kreasi, sebuah penerbit yang berfokus menerbitkan  buku-buku keluarga, anak dan remaja. 

Mitomania Sudut Pandang

Berbekal dengan rasa penasaran -karena kebetulan belum pernah membaca karya Ari Keling sebelumnya- apalagi, buku terbarunya yang menang lomba menulis di Penerbit Indiva Media Kreasi baru saja terbit, yang berjudul Mitomania: Sudut Pandang. Akhirnya, tanpa ragu saya langsung pesan kepenulisnya yang kebetulan saya kenal di grup alumni GWP 3

Mitomania Sudut Pandang

Blurb
Kefiandira mendapat perundungan secara fisik, verbal, dan nonverbal dari Amanda, Lisa, dan Morgan. Dia melaporkan kekerasan yang dialaminya itu pada Pak Beni—kepala sekolah—dan Pak Joni—guru BK. Dia berusaha membuktikan kejahatan mereka dengan cerita yang dia tuturkan, dan dengan didukung bukti-bukti yang ada. Namun, cerita dari sudut pandangnya itu dibantah oleh Amanda, Morgan, dan Lisa, bahwa semua penuturannya itu adalah kebohongan. Setiap bagian cerita dari sudut pandang Kefi, bisa dibantah dengan cerita dari sudut pandang Amanda, Morgan, dan Lisa. Pak Beni dan Pak Joni berusaha mencari siapa yang benar karena setiap kejadian ada dua cerita yang berbeda. Mereka yang terus menganalisis semakin terkejut ketika mendapat dugaan penyakit kejiwaan kebohongan patologis paling ekstrem dari salah satu murid mereka. Pertanyaan yang muncul, siapa yang mengidap penyakit kejiwaan itu? Sementara keduanya tidak tahu ada hal lain yang lebih mengerikan di balik kejadian yang mereka analisis tersebut. Apa itu?

Awalnya...

Novel ini dibuka dengan seorang siswi SMA bernama Kefi yang mengadukan perundungan oleh teman sekolahnya ke guru (Pak Joni) dan kepala sekolah (Pak Beni). Akhirnya, permasalahan dibuka dengan mempertemukan Kefi dan tiga sekawan yang menjadi perundungnya di ruangan kepala sekolah. Lisa, seorang siswi yang dikalahkan oleh Kefi di lomba menulis, Morgan yang menyimpan rasa suka kepada Kefi, dan si tomboi Amanda yang menjadi dalang utama perundungan.  

Tiga orang itu masing-masing mempunyai motif untuk merundung Kefi, apalagi Amanda ternyata terlibat cinta segitiga antara Kefi dan Morgan. Namun, mereka bertiga tentu saja terang-terangan menolak tuduhan perundungan itu. 

Sedangkan di sisi Kefi, ia punya bukti-bukti berupa memar akibat perundungan teman-temannya. Namun ternyata, masa lalu Kefi yang mencurigakan sebagai murid pindahan juga memunculkan pertanyaan tersendiri. Bisa kah kata-kata Kefi dipercaya?

Di tengah penuturan di kantor kepala sekolah, tidak hanya perbuatan kepada Kefi yang harus dipertanggungjawabkan, tetapi persahabatan Lisa-Morgan-Amanda pun menjadi di ujung tanduk. 

Aku jadi bertanya-tanya. Apakah seseorang baru terlihat aslinya ketika terbentur masalah cinta? Ataukah memang aku yang tidak pandai melihat bagaimana sebenarnya kedua temanku itu? Jangan-jangan aku yang memang tidak tahu, kalau selama ini Morgan dan Amanda pernah bercakap-cakap membicarakan keburukanku di belakangku? - Lisa (hal 126)

Mitomania

Hasil analisa sementra Pak Joni dan Pak Beni adalah, ada yang berbohong dengan ceritanya. Bukan sekedar bohong biasa, tetapi sang pembohong sepertinya mengidap mitomania. Saya yang cukup asing dengan istilah itu mencoba mencari artinya dan menemukan kurang lebih seperti ini: 

Mitomania adalah gangguan kejiwaan yang membuat penderitanya berbohong tanpa sadar dan tanpa tujuan untuk menipu. Sebutan mitomania biasanya diberikan kepada orang yang sering berbohong dan menganggap kebohongan yang dilakukannya adalah nyata.

Jadi biasanya penderita mitomania sendiri itu tidak sadar kalau sebenarnya dia berbohong. Karena otaknya mencampuradukkan fakta dan imajinasi. Biasanya ada latar masa lalu yang pahit sampai membuat seseorang menderita gangguan ini. 

Pada cerita ini, sayangnya dua dari empat orang itu memiliki latar belakang yang dapat membuatnya menjadi mitomania. Ini makin membuat bingung kedua guru itu untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya πŸ˜†. 

Novel Remaja Psikologis

Buku ini adalah novel remaja, jadi walaupun membahas perundungan dan gangguan kejiawaan, kisah dituturkan dengan sangat ringan. Latar belakang konflik pun tidak dibuat terlalu rumit, sehingga cerita dapat dinikmati oleh semua usia. Saya pribadi sangat menikmati membacanya dan berhasil menyelesaikannya hanya dalam dua hari, ini rekor buat saya yang biasanya harus ngabisin berminggu-minggu untuk satu buku 😁. Perpindahan sudut pandang setiap bab, bergantian antara POV satu Kefi, Morgan, Lisa dan Amanda, atau kadang menjadi POV tiga serba tahu, tidak membingungkan sama sekali. Justru malah membuat kita ikut menyelami karakter masing-masing tokoh. 

Sebagai pencinta cerita anak dan novel remaja, saya juga suka dengan penyelesaian konflik pada ending buku ini. Mungkin bagi beberapa orang ending-nya akan terkesan biasa, apalagi dari tengah buku kita sudah dapat klu tentang akhir kisah ini. Namun, buat saya akhir kisah mereka terasa menghangatkan hati. Ah, remaja tidak perlu lah dikasi ending yang menggantung sok misterius, kan? 😁

Karena novel ringan ini sangat menghibur dan memberikan warna baru dalam fiksi remaja yang biasanya hanya fokus pada percintaan, saya beri 4 bintang untuk buku Mitomania: Sudut Pandang karya Ari Keling ini

Mitomania Sudut Pandang

MITOMANIA: SUDUT PANDANG 
Penulis : Ari Keling 
ISBN : 978-623-253-028-7
Harga :  Rp 65.000
Penerbit Indiva Media Kreasi
Cetakan Januari 2021
256 halaman
Apakah kamu pernah bertemu orang dengan gangguan mitomania? Atau justru baru dengar juga istilah ini seperti saya? 😁



Saturday, 6 March 2021

Kumpulan Kisah Kelam pada Buku The Cringe Stories


Halo semuanyaa... 

Tidak terasa ternyata sudah cukup lama juga saya tidak menayangkan tulisan berlabel KUMCER. Bukannya karena tidak membaca lagi buku-buku kumpulan cerita, baik fiksi maupun non fiksi, tapi sepertinya saya jarang sempat mereview di sini. Bilang aja males, Ca... πŸ˜†πŸ˜…

Padahal membaca kumcer itu menjadi favorit tersendiri bagi saya yang kadang susah meluangkan waktu untuk membaca. Kalau jadwal sedang padat-padatnya dengan urusan keluarga dan pekerjaan, saya biasanya lebih suka membaca kumcer dari pada novel. Karena dengan membaca kumcer, saya bisa suka-suka membaca sesempatnya tanpa khawatir kehilangan feel seluruh cerita. Saya juga tidak perlu merasa bersalah kalau tidak menyelesaikan sebuah buku.

Kumcer juga lah yang menyelematkan saya dari reading slump dulu setelah lama tidak berhasil menamatkan satu buku fiksi pun hampir bertahun-tahun di tahun 2014.

Baca juga postingan buku kumpulan cerpen: 

Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan sebuah buku kumpulan cerpen menarik karya Rijo Tobing yang berjudul The Cringe Stories. Bukunya tidak tebal, hanya 165 halaman dan terdri dari 9 kisah. Porsinya pas sekali buat saya yang suka mencari bacaan selingan di sela-sela kesibukan. 

The Cringe Stories Rijo Tobing

Blurb 
Tak ada yang setajam bilah
Menyemblih bak kata-kata
Menguak isi hati terdalam
Membongkar tabiat dan senyuman
Benak dan kalbu siapa yang duga
Semua laku ditunjukkan tangan 

Sesuai judulnya, kisah-kisah yang disajikan membuat kita bergidik dan mengernyitkan dahi. Bukan, bukan karena isinya cerita horor. Tapi karena isu yang diangkat.

Sisi Kelam Manusia

Dari 9 cerita, memang ada satu cerita yang nuansanya cukup horor berjudul Suara. Walaupun kita dibuat bertanya-tanya, apakah memang keluarga yang sudah mati itu datang atau hanya perasaan keluarga mereka saja.
Sisanya, buku ini lebih menganggambarkan sisi kelam manusia. Perasaan kesepian, cemburu, balas dendam, dan berbagai perasaan negatif lainnya yang memunculkan reaksi kelam, bahkan cenderung jahat.

Buku ini menggambarkan, bahwa memang kehidupan di dunia ini tidak melulu dihuni oleh orang-orang baik hati. Bahkan saat kita berbuat baik, belum tentu kita juga akan mendapatkan balasan kebaikan juga. Seperti pada sebuah cerita favorit saya pada buku ini yang berjudul Handphone. Mengisahkan tentang seroang anak kecil yang ingin berbuat baik pada anak-anak ojek payung, tetapi malah berakhir dengan menyedihkan.

Buku Indie

Buku ini adalah karya kedua dari Rijo Tobing dan diterbitkan secara indie. Untuk sebuah buku indie, penulisan buku ini cukup rapi walaupun terdapat beberapa tata bahasa yang tidak seharusnya. Namun, itu sama sekali tidak mengurangi keseruan saat membaca buku ini.

Satu-satunya cacat logika yang saya temukan hanya pada sebuah cerita yang berjudul Rekening. Karena ini mengambil tema sebuah karyawan perbankan, yang merupakan makanan sehari-hari saya πŸ˜†. Jadi saya cukup tahu kalau membocorkan rahasia bank yang ceritakan di sini harusnya sudah masuk dalam ranah pidana, tapi pada cerpen ini digambarkan kalau itu masuk ke ranah perdata. Terlepas dari cacat logika, ide yang diangkat pada cerita Rekening menurut saya cukup menarik untuk diikuti. 

Baca juga postingan kumpulan cerita nonfiksi di buku: 

Karakter yang Bervariasi

9 kisah pada buku ini mengangkat karakter yang cukup beragam. Mulai dari anak kecil pada cerita Handphone, wanita metropolitan pada kisah Gendut, kakek tua pada kisah Mobil di Pengkolan, sugar baby pada kisah Cermin, dan berbagai karakter lainnya. Semua membentuk harmoni yang menghibur saat dibaca.

Menulis Cerpen

Menulis cerpen selalu memiliki tantangan tersendiri. Dengan batasan kata dan halaman, penulis harus mampu memberikan kejutan menarik pada setiap cerita. Jadi, pada postingan minggu depan, kita akan ngobrol bareng dengan Rijo Tobing membahas tips menulis cerpen. Yeeey! 😁 Sekaligus mengenal lebih jauh, siapakah sosok di balik The Cringe Stories ini.

Jangan lupa buat teman-teman yang ingin menitipkan pertanyaan, feel free tulis di komen yaa πŸ˜‰

Sampai jumpa minggu depan..

Judul: The Cringe Stories
Penulis : Rijo Tobing
Terbitan Oktober 2020
165 halaman

Wednesday, 3 March 2021

Buka-bukaan 10 Kesalahan Penulis Pemula dalam Menulis Novel

Hai semuanya...

Tidak terasa kita sudah memasuki bulan ke-3 tahun 2021 ini. Padahal rasanya baru kemarin kita berganti tahun, eh tau-tau sudah mau masuk triwulan kedua. πŸ˜†

Seperti biasanya, setiap bulan saya akan share tulisan mengenai Tips Menulis. Kali ini tips yang akan saya share masih kolaborasi bersama Dimas Abi seperti postingan sebelumnya.

Baca juga 5 Tips Menerbitkan Buku di Penerbit Indie Vs Penerbit Mayor
Pada postingan kali ini saya dan Abi akan membahas tentang 10 kesalahan yang sering dilakukan oleh penulis pemula dalam menulis novel. Ada yang sadar melakukan kesalahan ini, tapi sayangnya banyak juga yang tidak.

Oiya, ini sebenarnya kesalahan yang dibahas lebih untuk penulis yang memang ingin naskah novel karyanya dilirik penerbit yaa.. Jadi, mungkin tidak begitu relevan dengan kamu yang biasa menerbitkan karya di media online seperti blog atau platform menulis. Karena seperti saya sendiri, kalau nulis di blog lebih seneng yang suka-suka, jadi suka lupa dengan kaedah kepenulisan yang benar πŸ˜†πŸ˜….


Apa saja kesalahan itu? Mari kita bahas satu per satu...

1. Terlalu percaya diri dengan naskah pertama

Setiap penulis pasti merasa tulisannya bagus dan luar biasa. Bahkan saat ide cerita datang dan dituangkan menjadi sebuah novel dengan mengebu-gebu, rasanya karya itu akan menjadi sebuah masterpiece. Mereka membayangkan cerita yang ditulis akan menjadi best seller, bahkan bisa mengalahkan Ika Natassa atau Tere Liye. Salahkan itu? Tentu saja tidak...

Saat ide itu datang, tuangkan saja semua yang ada di kepala langsung ke sebuah cerita. Langsung selesaikan sebelum semangatnya padam.

Langsung tulis semua, sebelun semangatnya padam.

Yang salah itu adalah, saat cerita itu baru jadi kamu langsung mengirimkan ke penerbit. Untung-untung kalau diterima, tapi kalau tidak? Jangan sampai saat semangat sedang tinggi-tingginya, ternyata kamu malah menerima penolakan demi penolakan. Akhirnya malah membuat kamu down dan tidak bersemangat.

Saya punya tiga tips untuk kamu yang sedang menyelesaikan naskah, apalagi naskah pertama:

a. Atur Ekspektasi
Jujur saja, persaingan untuk bisa menjadi penulis yang dilirik editor itu sangat-sangat ketat. Hanya sebagian kecil orang yang berhasil menjadi penulis best seller, apalagi langsung di karya pertama. Jadi, lebih baik atur ekspektasi dari awal. Kalau naskah pertama kamu ditolak, jangan menyesal karena sudah menulis itu. Jadikan itu ajang kamu untuk belajar lagi untuk dapat menulis dengan lebih baik.

b. Diamkan naskah setelah selesai ditulis
Setelah kamu selesai menulis sebuah novel sampai tamat, diamkan naskah seminggu atau dua minggu. Sementara itu, lakukan hal lan yang tidak berhubungan dengan menulis. Nonton film, baca buku, jalan-jalan, apapun yang menyenangkan. Setelah itu, baru baca lagi naskah pertama yang kamu buat. Dengan pikiran yang lebih segar, kamu akan menemukan kekurangan-kekurangan dari cerita yang mungkin sebelumnya tidak terlihat.

Atau bisa sambil ngemil cemilan enak kiriman temen-temen blogger 😍

Makasi Mba Jane, rindu sama Bali bisa sedikit terobati dengan cemilan ini. 
And thank you for the sweet notes πŸ’–πŸ’–

Makasi cemilannya Mba Eno, tau aja saya orangnya manis kaya brownis #eh πŸ˜† Lebih manis yang ngirimin padahal yaa..


c. Beta Reader
Selain mendiamkan naskah, kamu juga memerlukan beta reader. Beta reader adalah orang yang dapat kamu percaya pendapatnya untuk memberikan masukan dengan cerita, sebelum naskah novel kamu dipublikasikan. Dengan dibaca orang lain, bisa jadi ada masukan perbaikan yang mungkin buat kamu sendiri tidak terpikirkan sebelumnya.

2. Terlalu menganggap ide bagus adalah segalanya, dan mengabaikan tata bahasa


Banyak penulis yang mengeluhkan, "ide saya sangat bagus, cerita saya sangat bagus, tapi kenapa selalu ditolak penerbit?"

Salah satu kesalahan yang banyak sekali terjadi adalah mereka lupa kalau editor itu tidak hanya melihat ide cerita saja tetapi juga eksekusi ide itu sendiri, termasuk salah satunya tata bahasa yang baik.
Sehebat apapun ide cerita kamu, kalau bahkan baru halaman pertama typo sudah bertebaran dimana-mana, kalimat tidak lengkap subjek dan prediketnya, dan tanda baca tidak pada tempatnya, yakin deh baru halaman pertama editor udah males duluan buat lanjutin baca πŸ˜† Boro-boro editor bakal baca sampe ke klimaks cerita...
Baca juga Tips Menulis Sinopsis Novel untuk Penerbit
Parahnya lagi, para penulis pemula ini ketika diberi masukan terkait ini, mereka merasa itu bukan masalah yang besar. Saya bukan ngomongin orang lain ya (walau banyak juga tulisan yang saya kasi masukan ini tapi malah dianggap angin lalu sama yang nulis, dan mereka lebih tertarik nanya masukan terkait isi cerita) , karena saya sendiri juga pernah di posisi ini πŸ˜‚πŸ˜‚

Waktu saya belum memulai menulis novel, dulu saya suka menulis cerita pendek. Waktu itu saya pernah meminta Abi buat baca cerpen saya, dan komentar pertama Abi adalah "Masih banyak typo-nya, ya..." 
Inget ga, Bi? Dan bodohnya saya dulu tidak menganggap itu hal yang krusial πŸ˜…. Padahal Abi yang udah menerbitkan banyak buku di penerbit mayor pasti lah udah lebih paham masalah ini..
Makin saya belajar, saya mulai mengerti kalau ingin menjadi seorang penulis yang baik tidak cukup hanya dengan memiliki ide-ide fantastis, tetapi juga bagaimana mengerti cara menulis yang baik dan benar itu sendiri.
Oiya, salah satu tips kalau kamu merasa belum mumpuni untuk tata bahasa ini, kamu bisa hire editor independen dulu... Sambil kamu tetap belajar menjadi lebih baik.

3. Malas nenambah ilmu

Dulu saya pernah posting di tips menulis plot di sini, sebuah quote yang menurut saya cocok sekali dengan poin ini, yaitu:
The more you know, the more you learn, the more you realize how much you don't know.
Menulis sama dengan banyak hal lainnya, butuh belajar untuk menjadi lebih baik. Blessing in disguise, selama pandemi ini banyak banget kelas menulis online. Dari yang gratis sampai berbayar. Salah satunya kamu bisa ikut pantengin instagram alumni GWP 3 di @expertclassproject, atau ada juga tips yang suka dibagikan di instagram salah satunya ini: 




Selain itu, kamu juga bisa memanfaatkan clubhouse, media sosial yang lagi hits untuk mendengarkan sharing dari penulis-penulis terkenal.

Sedikit cerita, saya kebetulan punya grup alumni GWP 3. Banyak di situ penulis yang udah nerbitin banyak buku di penerbit mayor. Belum lagi setiap ada lomba, grup selalu tidak pernah sepi dengan ucapan selamat karena selalu ada anggota grup yang menang. Walaupun begitu, setiap minggu itu mereka selalu bikin dan ikut sharing session, kelas menulis, dll. Di situ kadang saya mikir, mereka yang sudah hebat-hebat aja masih semangat belajar lagi dan lagi. Masa saya yang cupu gini ga mau nambah ilmu, kan? πŸ˜†πŸ˜…

Jadi tips nya, tetap low profile dan jangan merasa hebat duluan. Dengan begitu kamu akan merasa perlu untuk menambah ilmu terus.
Baca juga Backstory: Tips Menulis Novel dengan Karakter yang Kuat

4. Kurang membaca


If you want to be a writer, you must do two things above all others: read a lot and write a lot. - Stephen King

Menurut saya, penulis bisa banyak belajar dari membaca. Mulai dari gaya bahasa, eksekusi konflik, dan bahkan mengenal tipe tulisan-tulisan yang dilirik oleh masing-masing penerbit. Selain itu, membaca juga bisa memberikan inspirasi saat kamu mengalami writers blocks

Sayangnya, banyak orang yang bercita-cita menjadi seorang penulis, tapi paling males membaca. Bahkan bisa jadi sudah tidak menamatkan buku selama berbulan-bulan. Ironic...

Saat saya menuliskan novel If I Met You First lalu, saya menamatkan membaca sampai 6 novel saat writer's block πŸ˜† Waktu itu saya mengalami kebuntuan ide karena konflik sudah beres tapi jumlah halamannya masih kurang dari yang disyaratkan penerbit. Dan ternyata dari banyak membaca, saya mendapat beberapa inspirasi tambahan dan akhirnya naskah bisa beres juga sesuai target. Yey πŸ˜†πŸ˜†.

5. Gampang nyerah

Gampang menyerah ini bisa dalam banyak hal. Tidak hanya gampang menyerah dalam menemukan penerbit yang mau menerima naskah, tetapi yang sering terjadi justru adalah cepat menyerah dalam menyelesaikan novel.

Mungkin salah satu cara untuk mengatasi perasaan gampang menyerah adalah dengan ada support system yang bisa menyemangati. Baik keluarga maupun teman-teman.

Ide ada, semangat nulis di awal, eh abis itu naskah ga beres-beres πŸ˜†. Terasa familiar? Hehehe..

Ini biasanya karena menyerah duluan saat ada hambatan dalam menyelesaikan naskah. Mulai dari hambatan writer's block, atau yang lebih sering terjadi, hambatan berupa rasa malas yang sering saya alami πŸ˜†πŸ˜…. 

Jadi, yuk kita semangat terus menulis. Jangan pernah menyerah mewujudkan mimpi πŸ’–πŸ’–.

🐰🐰🐰

Setelah bahas 5 kesalahan penulis pemula dalam menulis novel di sini, kita lanjut membahas 5 kesalahan lainnya di blog Dimas Abi ya. Yuk, saya udah penasaran juga apa saja kesalahan lain yang sering saya lakukan sebagai penulis pemula. 
Baca juga tulisan di blog Dimas Abi: 10 Kesalahan Penulis Pemula 

 πŸ°πŸ°πŸ°

Demikian tips menulis kali ini. Terima kasih sudah membaca πŸ˜‰. Kalau menurut kamu, apa kesalahan yang paling krusial dilakukan oleh penulis? Share di komen yaaa πŸ’–πŸ’–

 
 

Monday, 1 March 2021

Asmayani Kusrini, Penulis Novel Tentang Keluarga Campuran Etnis dan Agama

Halo semuanya! Bagaimana weekend kamu? Semoga akhir pekan kamu semua menyenangkan dan senantiasa diberikan kesehatan yaa πŸ’–πŸ’–

Akhir pekan saya juga menyenangkan karena berhasil menyelesaikan ngobrol santai dengan salah satu penulis. Kalau tempo hari saya posting tentang penulis luar, sekarang postingannya tentang penulis lokal, walaupun dia tinggal di luar negri. Yeeey, jadi kembali lagi di tulisan dengan label author 😁

Asmayani Kusrini

Sesuai janji pada postingan sebelumnya, kali ini kita akan ngobrol santai bareng dengan penulis Novel Siri' yaitu Asmayani Kusrini, atau yang pada wawancara ini akrab kita panggil Kak Rini.
Terima kasih untuk respon teman-teman pada postingan sebelumnya. Sekarang kita akan ngobrol santai membahas komen dan rasa penasaran teman-teman kemaren 😁. 
Baca juga postingan sebelumnya di : Novel SIRI', Sebuah Kisah Rumit tentang Cinta dan Kehidupan
Sebelum mulai ngobrol, yuk kita intipin dulu profile Kak Rini :

Asmayani Kusrini


Halo Kak Rini 😊
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk mengobrol 😁. Kita mulai dengan membahas novel Siri dulu, yuk.

Menurut Kak Rini sebagai penulisnya, sebenarnya novel SIRI' itu genre-nya apa sih? Karena ceritanya yang cukup kompleks, di postingan review tempo hari banyak yang main tebak-tebakan tentang genre-nya. πŸ˜† Ada yang menduga-duga mirip seperti cerita Detektif, ada juga yang bilang seperti genre thriller, bahkan ada yang menduga seperti history fiction. Aku sendiri menduga ini seperti drama dengan sedikit balutan romance. Jadi, genre novel Siri' itu apa dan sekaligus pertanyaaan dari Mba Eno, kenapa Kak Rini memutuskan untuk memilih genre ini?

Menurut saya, Siri' ini drama keluarga. Waktu menulis, saya tidak berpikir untuk memilih genre tertentu. Saya ingin menulis tentang keluarga campuran (etnis dan agama) dan masalah-masalah yang timbul karena keputusan-keputusan mereka.
Segala yang terjadi di Siri' (baik itu latar belakang sejarah, atau peristiwa yang dialami tokoh-tokohnya) ada karena tuntutan cerita dari tokoh-tokoh ini. Misalnya, mengapa kedua keluarga Bahjan dan Mayang menentang pernikahan mereka.
Tantangan ini tidak melulu karena mereka beda agama beda etnis, tapi juga ada alasan yang lebih berakar pada sejarah etnis Tionghoa di Indonesia, maka mau tidak mau, saya harus riset tentang etnis Tionghoa khususnya di Sulawesi Selatan. Demikian juga yang terjadi dengan Arimbi dan Samuel atau Arsyad dan Johanna, dan seterusnya.

Menceritakan kisah keluarga yang cukup kompleks ya, Kak Rini πŸ˜†πŸ˜†.

Dengan segala macam karakter, latar tempat yang beragam, kejadian-kejadian yang bersinggungan dengan dunia nyata, pasti dibutuhkan banyak sekali riset. Lanjut dengan pertanyaan dari Mbak Eno dan Mbak Ainun, berapa lama sih yang Kak Rini butuhkan untuk riset buku ini? Apa saja kendala saat melakukan riset?

Risetnya dilakukan sambil menulis. Jadi agak susah menghitung berapa lama waktu yang dihabiskan untuk riset. Saya mulai berpikir untuk menulis novel ini sebelum melanjutkan pendidikan master saya sekitar tahun 2014-2015. Sambil menulis sambil riset, khususnya tentang Papua dan komunitas etnis Tionghoa di Sulawesi Selatan. Kendala terbesar karena tidak banyak referensi buku tentang komunitas Tionghoa di Sulawesi Selatan dan karena saya tinggal di Brussel, saya harus merepotkan beberapa orang untuk bisa mendapatkan referensi yang saya butuhkan. 

Riset berarti memegang peranan penting dalam menyusun sebuah buku ya. Apalagi kalau kita ingin mengambil isu terkait kisah nyata. Setelah riset dan kemudian melanjutkan menulis, saya dan Mba Eno penasaran nih, apakah Kak Rini pernah mengalami writers block saat menyelesaikan novel ini?

Writer's block sering banget saya alami tapi menurut saya karena methode menulis saya yang serampangan. Saya menulis tidak memakai peta, tidak memakai rencana dan tidak terstruktur. Jadinya sering tersesat. Kalau tersesat, ya kena deh writer's block.

Pertanyaan dari Lia, apa yang menjadi inspirasi Kak Rini dalam menulis buku ini?

Saya selalu tertarik dengan isu-isu sosial budaya khususnya tentang identitas dan pertemuan / benturan / perbedaan budaya. Karena itu inspirasi saya bersumber dari ketertarikan terhadap isu-isu ini, Tokoh-tokoh dalam buku Siri' hampir semua mengalami dan menghadapi isu identitas yang berhubungan dengan lingkaran sosial budaya mereka.

Dengan mengambil inspirasi dari isu sosial budaya di sekeliling, Kak Frisca penasaran, adakah itu artinya cerita novel ini yang diangkat dari kisah nyata?

Sebenarnya setiap tokoh terinspirasi dari kisah nyata. Sebagian besar berdasarkan kisah dari teman-teman atau cerita yang aku dengar.


Wuaa, ternyata kejadian seperti Bahjan dan anak-anaknya ini memang ada kejadian yang mirip-mirip di dunia nyata yaa πŸ˜†

Pertanyaan berikutnya, apa alasan Kak Rini memilih Siri' untuk judul novel ini? Karena banyak yang salah, menduga Siri' yang dimaksud disini adalah nikah siri atau bahkan ada yang menduga siri yang ada di iphone πŸ˜‚

Seperti yang tertulis di kamus bahasa Indonesia, Siri' bagi masyarakat bugis adalah nilai-nilai mempertahankan harga diri dan martabat sebagai bagian dari anggota masyarakat. Nilai-nilai masyarakat yang dilanggar akan dianggap siri' (membuat malu, mencoreng nama keluarga).

Apa yang dialami keluarga Bahjan dan isu-isu yang diangkat dalam buku Siri' (termasuk kawin lari, ingkar janji karena menolak menikah dengan perempuan pilihan orang tua, hamil di luar nikah, korupsi, nepotisme, etc) adalah keadaan tertimpa malu itu. Karena itulah judulnya Siri'.
Menurut saya, menikah siri itu juga dilakukan untuk mencegah aib / menutup malu (siri') dan sering digunakan oleh banyak orang (walaupun tidak bisa disamaratakan) sebagai jalan mudah / jalan pintas untuk berhubungan dengan sah, setidaknya menurut agama.

Berarti kalau ada yang menebak tentang Nikah Siri' berarti tidak sepenuhnya salah juga yaa...
Sekarang saya mau menanyakan sesuatu yang agak personal, semoga Kak Rini tidak keberatan πŸ˜‰. Beberapa kali saya sempat melihat orang yang menyerah untuk menyelesaikan membaca novel ini, karena mereka menganggap terlalu berat. Saat mengetahui itu, apakah pernah Kak Rini merasa down atau menjadi tidak semangat untuk berkarya lagi?

Merasa down sih tidak. Saya maklum. Tanggapan-tanggapan pembaca justru jadi bahan renungan agar karya selanjutnya bisa lebih mudah dicerna walaupun mengangkat isu-isu sosial yang berat. Saya sedang belajar mengolah cerita dengan lebih baik lagi berdasarkan tanggapan dan kritikan yang saya terima.

Semangat terus Kak Rini!

Kak Rini, penerbit buku Siri' ini adalah MCL publisher yang merupakan penerbit Mayor baru, dan Siri' bahkan menjadi buku pertama yang diterbitkannya. Kalau boleh tahu, apa sih yang membuat Kak Rini yakin untuk menerbitkan buku di sebuah penerbit baru? Termasuk cerita singkatnya bagaimana bisa buku ini dipinang penerbit mayor sampai dengan terbit.
Karena pembaca blog ini selain teman-teman blogger yang senang menulis di blog, juga banyak temen-temen lain yang sedang berjuang menyelesaikan naskahnya agar bisa diterbitkan oleh penerbit. Jadi cerita Kak Rini bisa menjadi inspirasi mereka untuk semangat menembus penerbit mayor 😊

Saya kurang paham soal kategori penerbit mayor ini heheheh. Saya penulis baru dengan naskah yang (menurut banyak orang) tidak mudah dicerna. Ada penerbit (siapapun itu) yang mau menerbitkan buku ini saja saya sudah senang. Jadi saya tidak dalam posisi bisa memilih-milih penerbit. Naskah Siri' sampai di Mcl publisher itu sebetulnya kebetulan. Seorang kawan saya (yang punya synopsis dan tiga bab awal dari Siri') kenal dengan Ibu Ida pemilik Mcl publisher yang memang sedang mencari naskah baru. Ibu Ida membaca synopsis dan tiga bab itu, lalu meminta seluruh naskahnya. Beberapa hari kemudian beliau langsung bilang ingin menerbitkan. Syukuralhamdulillah.

Itu artinya memang rejeki bisa datang dari pintu mana saja ya. Jadi kita jangan pernah berhenti untuk berharap dan kerjuang πŸ˜‰

Apakah hal terberat dalam menyelesaikan novel ini. Apakah dalam proses riset, penulisan, mencari penerbit atau malah proses editing, atau justru proses promosi setelah terbit?

Seperti yang saya bilang di atas, walaupun memulai karir sebagai jurnalis, menulis fiksi adalah dunia baru bagi saya. Sebagai penulis baru, semuanya berat hahahaha. Menulisnya berat, mencari penerbit apalagi, dan promosi bahkan jauh lebih berat lagi karena saya pada dasarnya tidak suka bicara di depan publik dan saya tidak menyangka bahwa saya harus menjelaskan tentang karya saya setelah terbit. Hal yang paling berat juga (semuanya berat πŸ˜‚) menghadapi keraguan dan ketidakpercayaan diri terhadap naskah yang saya tulis.

Setelah ngobrolin buku, sekarang kita lanjut ngobrolin tentang kesibukan Kak Rini. Saya yakin banyak pembaca yang kepo siapa sih sebenarnya wanita hebat dibalik buku berjudul Siri ini 😁. 
Jadi, cerita dong tentang kesibukan Kak Rini sekarang...

Saya sebetulnya lebih suka disebut sebagai wartawan. Sampai sekarang saya masih menulis untuk media di Indonesia (walaupun sekarang makin jarang sejak pandemi). DI Brussel, saya kerja mengurus administrasi di sebuah perusahaan swasta. Selebihnya, saya biasa beraktivitas / mengurus / mengelola kegiatan seni di http://iniitu.net

Pertanyaan yang selalu saya tanyakan saat wawancara penulis di blog ini, please kasih kita 5 kata yang paling menggambarkan Kak Rini 😁


Asmayani Kusrini


Pertanyaan penutup nih Kak, apakah Kak Rini mempunyai pesan-pesan kepada pembaca blog ini baik tentang dunia literasi ataupun tentang perjuangan meraih mimpi?

Hmm, apa ya? Saya juga masih berjuang meraih mimpi hahahaha, jadi mari sama-sama berjuang πŸ˜‚πŸ’ͺ. 

Perbanyak referensi dengan membaca, menonton, mendengarkan, dan mengamati lingkungan sekitar, karena saya selalu yakin, selalu ada yang bisa dipelajari dari manapun.
Sebagai penutup, berikut salah satu tempat pada buku Siri'. Seperti yang pernah saya sampaikan di postingan sebelumnya, Buku Siri' banyak mengambil tempat, baik di dalam negri seperti Papua, Kepulauan Aru dan tentu saja, Buttabella di Sulawesi. Ada juga di luar negri seperti Yunani, pantai di Denmark, dan Amsterdam. Foto ini adalah sebuah tempat di Skagen (Denmark), tempat Ali Topan berada. Di pantai itu terdapat sebuah gereja yang sudah ratusan tahun tertimbun pasir. 


Demikian postingan author kali ini 😊 Kalau kamu, siapa penulis terkakhir yang kamu baca karyanya? 

Monday, 22 February 2021

5 Alasan Pecinta Fantasi Harus Membaca Buku Neil Gaiman

Halo semuanya 😁

Kembali lagi ke postingan dengan label authors. Penulis buku yang saya bahas pada postingan kali ini adalah penulis novel fantasi favorit saya, Neil Gaiman.
Pertama kali saya baca buku karya penulis ini dulu adalah yang berjudul Coraline, hampir sepuluh tahun yang lalu. Saat itu saya langsung jatuh cinta sekali dengan tulisannya, baik dari segi cerita dan gaya bahasa 😍.

Neil Gaiman adalah penulis yang lahir di Inggris, tapi sekarang menetap di Amerika. Pada awal karirnya, ia justru menulis beberapa buku nonfiksi seperti biografi. Pada tahun 1990, ia menerbitkan Good Omens yang ditulisnya bersama pengarang fantasi Terry Pratchett. Novel fantasi terkenal lainnya karya Neil Gaiman antara lain: Neverwhere (1996), Stardust (1998), American Gods (2001), dan The Graveyard Book (2008), The Ocean at the End of the Lane (2013), Norse Mythology (2017), dan beberapa novel lainnya.

Buku Neil Gaiman
Beberapa buku Neil Gaiman koleksi saya


Selain novel, Neil Gaiman juga menulis seri komik yang diterbitkan DC Comics berjudul
The Sandman. Buku ini telah terbit sejak tahun 1993 dan berlanjut sampai dengan saat ini, dan sudah mencapai 70an volume.

Neil Gaiman terkenal dengan cerita fantasinya yang dark, tapi memukau banyak pembaca. Buku-bukunya sudah banyak diterbitkan ke puluhan bahasa di dunia. Di Indonesia sendiri, buku Neil Gaiman diterjemahkan oleh pemerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU).

Buku Neil Gaiman
Foto Om Nail Gaiman dapet dari Wikipedia

Pada kesempatan kali ini, saya akan memberikan lima alasan, mengapa para pencinta fantasi seharusnya mencoba membaca buku-buku karya Neil Gaiman:

1. Cerita yang sangat magical dan unik


Alasan pertama mengapa saya merekomendasikan untuk membaca buku karya Neil Gaiman untuk pencinta fantasi tentu saja karena cerita-cerita yang diangkat pada buku itu sendiri. Menurut saya, cerita yang diangkat sangat unik dan magical.

Banyak cerita fantasi biasa berputar di sekitar kebaikan melawan kejahatan, dan ada super villain yang harus dikalahkan. Sedangkan cerita Neil Gaiman tidak seperti itu. Cerita dan permasalahan yang diangkat cukup unik, contohnya :

Coraline
Pada cerita ini dikisahkan seorang anak bernama Coraline yang baru saja pindah ke sebuah flat tua bersama orang tuanya. Coraline yang sering merasakan kesepian karena kesibukan orang tuanya, tiba-tiba menemukan sebuah lorong yang membawanya ke tempat yang persis sama dengan flatnya, lengkap dengan orang-orangnya (tapi bedanya orang-orang di sana bermata kancing). Bahkan di tempat itu juga ada other mother dan other father yang sangat baik. Tapi benarkah mereka baik?



Stardust
Buku yang menceritakan petualangan seorang pria mencari bintang jatuh dan ternyata bintang jatuhnya adalah seorang wanita yang sangat cantik. Mereka kemudian berpetualang di dunia peri lengkap dengan hutan ajaib, penyihir jahat, dan raja yang berkuasa.

The Ocean at the End of the Lane
Menurut saya buku yang ini sangat aneh dan unik πŸ˜…. Menceritakan tentang seorang pria yang yang datang ke sebuah rumah teman masa kecilnya. Di situ ia dihadapkan dengan kenyataan, ternyata ingatan masa kecilnya tentang kejadian yang membuat temannya menghilang bukanlah seperti yang diingatannya. Cerita ini juga melibatkan penyihir-penyihir yang sudah sangat tua, yang bahkan sudah ada sebelum bumi diciptakan


Graveyard

Buku ini yang menceritakan tentang seorang anak dari bayi yang dirawat oleh hantu-hantu di sebuah kompleks pemakaman karena orangtuanya dibunuh oleh seorang penjahat. Anak itu diberi nama oleh para hantu sebagai Nobody Owens 😁

Itu hanya sebagian kecil. Selain itu juga ada buku Neverwhere tentang kehidupan gelap misterius di bawah kota London, dan banyak buku-buku menarik Neil Gaiman lainnya.
Dari beberapa contoh ini ,kebayang kan betapa uniknya ide yang diangkat oleh Neil Gaiman pada bukunya πŸ˜‰


2. Buku untuk Berbagai Usia


Buku yang ditulis oleh Neil Gaiman ada yang untuk dewasa, tetapi ia juga banyak menulis buku anak. Selain Coraline dan Graveyard, ada juga buku yang bahkan bisa dibacakan bersama balita berjudul Fortunately, the Milk. Buku ini menceritakan seorang ayah yang harus pergi membeli susu untuk anak-anaknya makan sereal. Tapi sang ayah lama baru balik πŸ˜… Pas ditanya kenapa lama, ayahnya mengatakan yang membuat dia begitu lama adalah karena dia tiba-tiba diculik oleh alien, masuk ke piring terbang dan berhasil kabur dengan naik balon udara bersama seekor dinosaurus. πŸ˜‚ Buku ini ceritanya benar-benar absurd, tapi tetap saja saya sangat menikmatinya membacanya dan membacakannya buat anak-anak. 

Buku Neil Gaiman
Bukunya tipis, full ilustrasi juga. Jadi cocok buat baca bareng anak-anak.


3. Bukan Buku Berseri


Banyak dari buku fantasi yang beredar di pasaran saat ini adalah buku-buku berseri. Susah sekali menemukan buku fantasi yang berdiri sendiri atau stand alone. Padahal mungkin tidak semua orang mempunyai cukup waktu untuk menyelesaikan seluruh seri dari buku-buku tersebut.
Nah, untungnya buku Neil Gaiman ini sebagian besar bukanlah buku berseri. Jadi kamu bisa menikmati satu per satu bukunya tanpa perlu penasaran menunggu seri berikutnya terbit.
Oiya, yang berseri paling hanya komik Sandman yang diterbitkan DC Comics. 


4. Sudah Difilmkan

Kadang saat membaca suatu buku, kita penasaran Bagaimana visualisasi dari buku itu sendiri. Untungnya beberapa buku Neil Gaiman sudah ada yang diangkat ke layar lebar. Sehingga kamu bisa membayangkan visualisasi dari bukunya. 

Film animasi Coraline. 
Rating Imdb-nya 80an 😍

Film Stardust, dari buku Neil Gaiman berjudul sama


5. Rating Goodreads

Sampai tulisan ini diterbitkan, rating Goodread keseluruhan untuk Neil Gaiman adalah 4.12 dengan lebih dari 6juta pemberi rating. Dengan banyaknya orang memberikan rating di atas 4, pastinya kualitas dari tulisan dari Neil Gaiman sudah tidak diragukan lagi.

πŸ’–πŸ’–πŸ’–

Demikian lima alasan saya merekomendasikan untuk membaca buku karya Neil Gaiman, apalagi buat kamu pencinta fantasi.

Kalau kamu, apakah juga menyukai genre fantasi? Siapa penulis yang kamu rekomendasikan di genre favorit kamu? Share ceritanya di komen yaa πŸ˜‰

πŸ’–πŸ’–πŸ’–

Sumber gambar
Foto buku : koleksi pribadi
Animasi gif : giphy.com
Foto Neil Gaiman : wikipedia
Foto film : imdb.com

Friday, 19 February 2021

15 Fakta Unik tentang ITB

Ada beberapa kampus favorit di Indonesia, salah satunya adalah Institut Teknologi Bandung (ITB). Setiap tahun kampus ini selalu menjadi tempat favorit anak-anak yang baru menyelesaikan SMA, terutama yang ingin masuk ke jurusan teknik. 

Selain fakta sebagai salah satu kampus favorit dan berada di Bandung, terdapat beberapa fakta lain pada kampus ini yang mungkin tidak semua orang tahu, loh.



Jadi, pada kesempatan kali ini saya akan memberikan fakta-fakta unik ITB yang mungkin tidak semua orang tau. Siapa tau bisa menjadi inspirasi untuk para pembaca yang saat ini sedang mencari kampus setelah lulus SMA nanti. Eh, atau ada juga pembaca yang ternyata sealmamater dengan saya? Kalau ada, sekalian di postingan ini kita nostalgia bersama 😁.

 

1. Slogan Penerimaan Mahasiswa Baru

Pada penerimaan masahasiswa baru di bulan Agustus, ITB akan banyak memasang baliho besar-besar dengan tulisan "Selamat datang putra-putri terbaik bangsa". Sambutan selamat datang dari rektor dan mahasiswa atas juga tidak jauh-jauh dari ini. 

Kata-kata ini lumayan menaikkan percaya diri mahasiswa baru, apalagi yang sudah bersusah payah lolos masuk ITB dari berbagai penjuru Indonesia. Walaupun sayang, kepercayaan diri itu biasanya mulai rontok karena dihajar habis-habisan saat mulai kuliah. Hehehe... Dengan segala kesulitan saat tingkat pertama biasanya bikin mikir, 'ini bener ga ya masuk sini?' karena tiba-tiba berasa nyasar πŸ˜‚

2. Bunga Bermekaran

Selain bangunannya yang ikonik dengan tiang-tiang berbatu (yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu), yang unik di ITB adalah bunga-bunga yang bermekaran di seluruh penjuru kampus. Ada bunga kolecer dan Pyrostegua Venusta yang mekar di bulan Juli-September, sehingga seolah menyambut mahasiswa baru di bulan Agustus. Ada juga bunga tabebuia kuning yang mekar menjelang akhir tahun, penanda ujian tengah semester. 

Gerbang depan ITB bewarna cerah menyembut mahasiswa baru di bulan Agustus. 
Kalau bunga sedang tidak mekar biasanya warna gerbang ITB didominasi warna hijau

Bunga tabebuia kuning mekar di depan perpustakaan pusat, penanda ujian tengah semester dimulai
(Sumber gambar itb.ac.id)


3. Kampus Gajah

Bagi mahasiswa dan alumninya, ITB dikenal sebagai kampus gajah. Walaupun bagi orang luar mungkin lebih menganggap UGM sebagai kampus gajah. Hehehe.. Sebutan tersebut karena lambang ITB adalah Ganesha yang berbetuk gajah, dewa ilmu pengetahuan yang juga putra dewa Syiwa Parwati. 



4. Dona si Mata-Mata

Siapa bilang kalau di ITB isinya mahasiswa pintar semua? πŸ˜† Ada satu orang yang melegenda, wanita yang udah agak berumur bernama Dona. Sering mondar mandir di ITB dan mengobrol banyak hal berat dengan mahasiswa. Desas desusnya, ia adalah mata-mata atau intel pemerintah untuk mengawasi gerak-gerik mahasiswa. Kenyataannya, mungkin hanya orang stres yang suka diajak ngobrol sama mahasiswa. πŸ˜‚


Dona si mata-mata
(Sumber gambar : mfadhild.medium.com)



5. Institut Teknologi yang Punya Fakultas Seni Rupa 

Walaupun institut teknologi, di ITB juga ada fakultas seni rupa loh. Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ini punya banyak program studi, mulai dari Seni Rupa, Kriya, Desain Komunikasi Visual , Desain Interior sampai Desain Produk juga ada.


6. Jurusan bisnis yang suka diplesetkan Sekolah Biaya Mahal 

Selain Fakultas Seni, di ITB juga ada jurusan bisnis managemen. Baru berdiri sejak tahun 2004 dengan nama Sekolah Bisnis Managemen (SBM), dan suka diplesetin dengan Sekolah Biaya Mahal oleh jurusan-jurusan lain. Karena memang beda jauh baik dari bentuk dan fasilitas gedung, jalur masuk, uang semesteran, sampai dengan gaya hidup orang-orangnya. 

Saya waktu itu pernah diceritakan, betapa mahasiswa SBM kagum dengan temennya (yang jurusan lain) karena bisa mengupas mangga. "Jarang loh anak jaman sekarang bisa ngupas mangga..." katanya. Di situ kita merasa hidup di dunia yang berbeda πŸ˜‚ Saya di dunia yang kalau mau apa-apa harus ngusahain beli dan kupas sendiri, dia yang tinggal tunjuk mungkin semua sudah tersedia. 


7. Uang Sekolah Lebih Tinggi tapi Banyak Beasiswa 

Kalau dibandingkan universitas lain, sepertinya uang semester ITB tergolong lebih tinggi. Tahun 2020 saja, semesteran sampai di angka belasan juta Rupiah.

Tapi kita waktu itu disampaikan "Tidak ada yang boleh DO di ITB karena biaya..." Walaupun biayanya cukup tinggi, alhamdulillahnya  di ITB itu banyak banget beasiswa, terutama dari para alumni. Jadi kalau ada yang kesulitan keuangan, biasanya ada bantuan mulai dari uang sekolah sampai untuk biaya hidup.


8. Berusia 100 tahun

ITB telah berdiri sejak sebeum Indonesia merdeka, tahun 1920 dengan nama Technische Hoogeschool te Bandoeng. Ini menjadikan ITB sebagai institut tekonologi tertua di Indonesia. Sehingga sampai saat ini ITB telah berdiri lebih dari 100 tahun 


Indonesia tenggelam di tengah-tengah kampus ITB
Foto dari fb Joko Sarwono (dosen ITB)


9. Jaket Himpunan kebanggaan

Berbeda dengan kampus lain yang setiap acara dengan bangga memakai jaket almamater, mahasiswa ITB justru lebih bangga memakai jaket himpunan. Setiap jurusan (atau program studi) itu memiliki himpunan tersendiri dengan jaket himpunan yang berbeda warna. Misalnya Teknik Mesin dengan warna abu-abu, Teknik Sipil dengan warna hijau, dll. 

Kebanggaan menggunakan jaket himpunan ini menggambarkan solidaritas sesama jurusan yang sangat kuat. Makanya kalau orang luar bisa familiar dengan UI dengan jaket kuningnya, saya yakin tidak banyak orang tau jaket almamater ITB warna apa.. 😁


Adakah yang bisa menebak Mama Ica dulu jurusan apa? πŸ˜†
Jurusan yang jumlah wanitanya jadi kaum minoritas


10. Pasar Seni 

Salah satu event yang selalu ramai dan ditunggu banyak orang dan penikmat seni, bahkan oleh orang luar ITB adalah Pasar Seni. Acara ini diadakan setiap 4 tahun sekali, dan merupakan perhelatan seni se-Asia Tenggara dengan biaya sampai ratusan juta. 


11. Gudangnya Unit kemahasiswaan

Selain himpunan masing-masing jurusan yang aktif dengan segudang kegiatan, di ITB juga banyak terdapat Unit kemahasiswaaan untuk menyalurkan hobi dan minat. Mulai dari kesenian daerah, olah raga, perfilman keagamaan sampai musik. Kabarnya lebih dari seratus organisasi yang ada di ITB.

Jadi kalau ada yang dapet jodoh anak ITB juga, biasanya kalau ga temen sejurusan, ya biasanya temen se-unit. Hehehe.. πŸ˜† Soalnya kalau udah mau ada event, itu biasanya banyak waktu yang dihabiskan bersama-sama untuk menyiapkannya.  


Foto jadul Mama Ica saat jadi pemeran utama drama  di sebuah pagelaran seni unit kesenian

Kalau Papa Tommy dulu ikutnya unit basket. 
Yang udah baca Novel Nikah Muda, jadi tau kan inspirasi karakter Keno dari siapa 😁


12. Tidak ada KKN

Saat heboh-heboh cerita KKN di Desa Penari, saya hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya KKN, karena di ITB tidak ada KKN. πŸ˜†  Kita biasanya adanya Kuliah Praktek (KP) di tempat kerja 1-3 bulan. Itu kerja kaya kantoran atau di site, jadi bukan ke tempat penduduk seperti KKN. 


13. Ikatan Alumni yang Kuat

Alumni ITB diwadahi oleh IA (Ikatan Alumni) ITB, yang kebetulan juga sekarang sedang pemilu pemilihan ketua. Calon ketuanya mulai dari alumni yang sudah jadi Direktur di suatu perusahaan BUMN, sampai kepada ibu-ibu muda milenial. Anggotanya adalah semua lulusan ITB karena setiap alumni akan otomatis menjadi anggota IA ITB

Berbeda dengan IA ITB yang isinya lebih serius, ada juga ikatan alumni yang cukup kuat lagi di ITB yaitu ITBMotherhood.  ITBMotherhood itu isinya emak-emak gajah dengan pembahasan seputar parenting, memasak, share ilmu sampai berbagi berbagai keresahan emak-emak 😁. Tidak ketinggalan subgrup dengan berbagai kegiatan positf seperti Mama Gajah Berlari, ITBMh Cook & Baking, dan yang aktif saya ikuti belakangan ini Mama Gajah Bercerita yang berisi emak gajah yang suka menulis.

Pada ITBMotherhood ini saya juga menemukan banyak kenalan yang terasa dekat walaupun belum pernah ketemu. Bahkan saat serumah sempat sakit tahun lalu itupun, temen-temen ITBMh selalu support sampai mengirimkan makanan dan bantuan lainnya. 

14. ITB Receh

Selain akun instagram resmi ITB @itb1920, ada juga akun instagram @itb.receh yang isinya kurang lebih menggambarkan suara hati para mahasiswa ITB. Buat saya, scrolling akun ini bisa jadi hiburan dan bikin ketwa-ketawa sendiri karena perasaan nostalgia. 

Meme @itb.receh ini retaled banget (apalagi buat saya yang potterhead). Meme ini menggambarkan banget betapa dulu yang sering bikin shock saat awal saya di ITB, banyak yang bahkan di kelas pada tidur, tau-tau dapet nilai tinggi πŸ˜† 

15. Menerbitkan Buku

Waktu gegap gempita perayaan 100 tahun ITB tahun lalu, banyak para alumni yang membagikan kisah-kisah mereka selama di ITB. Akhirnya, muncul ide, kenapa tidak dibukukan saja? 😁 



Jadi, dalam rangka 100 tahun ITB dan 10 tahun ITBMotherhood, saya dan beberapa alumni ITB lainnya dalam grup Mama Gajah Bercerita menerbitkan buku yang berjudul Jejak Kenangan


Dulu saya sempat kasi sneak peek di postingan Wrap Up 2020

Sungguh menyenangkan ketika dugaan saya ternyata tepat. Dari tulisan-tulisan yang terkumpul saya menemukan banyak cerita inspiratif. Kisah mereka yang harus berjuang untuk  kuliah  dengan  hambatan  finansial,  seperti  yang diceritakan  oleh  Yanda  di tulisannya  yang  berjudul  “The Hope Rope”  dan Ayu Lazuardi dalam tulisannya “Kenangan Nol Rupiah”.  Kisah perjuangan untuk masuk ITB dengan berbagai tantangan. Ternyata bukan hanya sulitnya ujian saja yang menjadi tantangan, ada juga yang awalnya mendapat penentangan dari orang tua, seperti cerita Thessalivia dalam “Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater! Dan Papa!”. Ada kisah-kisah perjuangan kuliah ketika sudah menikah dan hamil, seperti dalam tulisan “Mama Muda Kampus  Gajah”  oleh  Rani  Nurzahidah  dan  “Pengalaman Itu Memantapkan Pilihan”  oleh Aulia Rahmatika. Lalu ada cerita-cerita  seru  saat  melaksanakan  kerja  praktik  atau kuliah lapangan, seperti yang diceritakan Detta Devia dalam “Gerimis”  dan Nova Virgiana dalam “Nice to Meet You, Alas Purwo”. - Kata Pengantar Jejak Kenangan oleh Tria Barmawi (Penulis belasan buku Gramedia) 

Karena awalnya tujuan buku ini hanyalah untuk membukukan Jejak Kenangan saat di kampus gajah, jadi kami cukup kaget saat penjualan pertama benar-benar melebihi ekspekasi. Bahkan keuntungan yang diperoleh juga sangat lumayan, mencapai jutaaan rupiah. Ini sangat membahagiakan bagi kami, apalagi keuntungan penjualan buku Jejak Kenangan nantinya akan diberikan untuk beasiswa mahasiswa yang kesulitan finansial di ITB. 

Bahkan Kak Aliya juga udah baca buku Jejak Kenangan

Pada buku ini terdapat 43 cerita beragam cerita. Ada cerita seru tentang mahasiswa SBM angkatan pertama (dengan segala keunikannya sesuai fakta no 6 di atas), cerita tentang unit kemahasiswaan (fakta 11), ada tentang romansa di kampus, perjuangan kuliah di tengah kondisi finansial (fakta 7) dan berbagai cerita lainnya. 

Saya sendiri di sini membagikan cerita yang cukup personal tentang kisah awal proses masuk ITB. Dengan berbagai kisah ini, saya harap Jejak Kenangan ini bisa menghibur para pembaca, atau syukur-syukur kalau bisa sekalian menginspirasi. Hehehe.. 😁

Jadi kita akan membuka PO ke-2 Jejak Kenangan. Kalau tadinya banyaknya pemasaran hanya ke internal, sekarang kita juga buka PO buat siapapun yang berminat membaca kisah ini. Insya Allah uang yang kamu keluarkan untuk membeli juga akan bermanfaat buat orang lain, karena sebagian keuntungannya akan kami gunakan untuk beasiswa S-1 ITB πŸ’—πŸ’—

Harga buku Jejak Kenangan adalah Rp100.000,- dan PO dibuka sampai 9 Maret 2021. Kalau ada yang berminat, bisa langsung wa ke reseller kami di 085710334500 (Sari). 


Atau kalau ada yang mau pesan lewat saya juga bisa, email saya aja ke mywonderfulbooklife@gmail.com, atau dm di instagram saya di @thessalivia

Demikian postingan tentang fakta unik di ITB kali ini. Manakah fakta yang paling menarik buat kamu? Share juga fakta unik di kampus atau sekolah kamu dulu yaa... Saya juga penasaran dengan sharing teman-teman yang pasti juga seru-seru 😍